Summer Love

Summer Love
Ch 58. I do love you


__ADS_3

Bruk! Tubuhku dihempaskan Fauzan diatas kasur, tidak kasar. Hanya sedikit mengandung emosi, napasnya tersengal. Dan aku hanya menunduk pasrah. Kulirik Fauzan yang memijit keningnya.


"Kenapa za? Kenapa?!" Sentakan tertahannya keluar.


"Aku gak sengaja jatuhin kertas itu saat ketemu Zia" jawabku lirih. Sadar akan kesalahan dan hanya bisa menundukkan kepala.


"Harusnya kamu simpan rapi dirumah!" Ucapnya pelan, sadar akan bentakan tertahan pertamanya. Mungkin teringat akan diriku yang tengah hamil.


"Biasanya juga gitu! Cuma kebawa aja!" Bantahku tak mau kalah, aku menatapnya dengan buram.


"Situasinya udah kaya gini, aku udah ngecewain orang tua lagi" Fauzan meninju keningnya dengan kepalan tangan, dia terlihat amat frustasi.


"Ya sama, papi sama mami juga udah kecewa sama aku mas!" Balasku lesu, gairah hidupku kendur. Dan satu air mataku jatuh.


"Kenapa kamu se--" Fauzan tak melanjutkan kalimatnya lagi, pandangan matanya kosong.


"Bodoh itu?" Potongku emosi.


Fauzan menghempaskan tubuhnya disebelahku, dia memangku tangannya yang terkepal. "Harusnya semuanya tersimpan rapi, sampai kita seperti pasangan normal pada umumnya." Sesalnya lirih.


"Aku memang bodoh, termasuk saat mengakui cinta padamu" ucapku pelan, air mataku makin luruh deras.


"Tidak usah menyesal, aku tidak akan terpengaruh ucapanmu. Za! Pernyataan cinta tadi hanya untuk menguasai situasi." Fauzan berkelit tanpa mau melihatku.


Aku menatap rahang tegasnya dari samping, "kalau tadi aku jujur, apa kamu akan percaya?" Telisikku ingin mengejar hatinya.


"Ngak Za! Aku ngak mau bahas perihal perasaan sama kamu, yang ada makan hati" Fauzan menatapku lurus, air mukanya keruh.


Aku berdiri beberapa langkah didepannya, mataku tak lepas dari wajah tampannya yang acak itu. "Aku sungguh-sungguh, jujur! Saat lima setengah tahun lalu, saat kamu masih jadi anak baru disekolah. Aku udah suka sama kamu! Jantungku selalu berdebar, hatiku pun berdesir mas. Tapi aku hanya tak percaya cinta, aku hanya trauma! Dan... dan aku hanya gengsi, lagi saat kita melakukan hal itu pertama kali. Aku tak menyesal, aku pun melakukannya karna cinta." Keluar semua pengakuan ku dimalam ini.


Sorot matanya menajam, hidungnya kembang kempis karna menahan sabar sambil memandangku kecewa. "Lantas kenapa? Kenapa kamu masih angkuh dan mempermainkan hatiku?" Tunjuk nya kehidungku.


"Aku gak yakin mas! Aku gengsi" jawabku keras.


Fauzan diam, pandangannya menunduk. Matanya tak terarah. "Itu cuma sekedar sweet talk mu kan? Untuk menipu ku lagi?" Tudingnya tak percaya.


Ku hela napas panjang sebelum mengatakan kalimat setelah ini, sebab pengakuan ku akan terdengar naif. "Kamu gak pernah kasih aku teori apa itu cinta, namun kamu membuatku mengalaminya langsung. Aku merasakannya lewat pedulimu, sentuhanmu, belaianmu, perhatianmu dan kerelaanmu demi kenyamananku."


Fauzan ingin menyanggahku, tapi aku terus membeo. Tak peduli apa tanggapannya, aku hanya ingin jujur. "Jadi apa itu cinta? Banyak rasa, adalah sesuatu yang tidak bisa dibatasi dengan kata. Dia hanya bisa dirasakan, saat kita mengalaminya langsung. Dan kamu membuatku menjalani pengalaman-pengalaman itu." Uraiku masih berlanjut.


"Sampai pada akhirnya aku berkata, I do love you, Fauzan Nur Arkan!" Pungkasku tegas, kutatap wajahnya. Kuterima apa keputusannya.


Fauzan terdiam sampai dia mengangkat wajahnya yang tak terdefinisikan. "Jadi kamu sudah mengerti?" Tanya Fauzan lembut sambil memandangku.


"Hemm" aku berdehem. "Ternyata semua hal yang kamu ajarkan itu namanya cinta, saat kesal padamu saja, aku tak pernah bisa berhenti memikirkan mu" timpalku yang makin membuat matanya melunak.

__ADS_1


"Zhari" panggil Fauzan lembut, "pertemuan kita digerbang sekolah dulu adalah pandangan pertama kita, sadarkah kamu?" Tanyanya sentimen.


"Sadar! Jangan jauhi aku! Jangan abaikan aku! Jangan...!" Aku terbata menahan tangisan. "Aku mulai candu padamu, walau sikapku tinggi. Tapi aku menyukai setiap sentuhan mu!" Ucapku seperti pujangga kesiangan.


Keluar semua isi hatiku, runtuh sudah dinding gengsi dalam imajinasiku. Berceceran sama dengan air dimataku, semua terbuka dimalam ini. Semua ini kemudian ditanggapi Fauzan dengan berjalan cepat kearahku lantas menyentuh tengkukku.


Dia membingkai wajahku dengan mata teduhnya yang berkaca-kaca, si ceo menye-menye yang melakonis karna itu terlihat lega. Hatinya merah muda, itu karenaku, aku telah ditaklukkan olehnya.


"Kemana saja kamu, Za?" Bisiknya lembut seraya menyentuh bibir bawahku dengan jempol.


Aku memandang mata indahnya sambil tersenyum sedih, "menunggu, menunggu waktu yang tepat. Dan kamulah sang waktu" bibirku lantas dikunci olehnya.


Dia menciumku lembut, disamarnya gelap malam. Kami berciuman didekat jendela, sinar rembulan bertabur tiupan angin yang lembut menjadi saksi kami bertaut bibir yang sesungguhnya. kami berdua diantara kata berucap, lebih dari sekedar cinta.


Dia manusia yang mengerti isi hatiku tanpa aku berkata. Dia, aku mencintainya.


"I do love you, sebuah kata cinta yang lebih tepat daripada sekedar 'I love you." Ucap Fauzan disela bibirku.


"Kamu tahu itu?" Tanyaku pelan sambil menatap bibirnya.


"Hem" dia berdehem, "karna itu bermakna selamanya, bukan hanya saat ini. Aku ingin selamanya mencintai dan bersama mu"


"Selamanya lama lho, serius?" Aku melepaskan pelukan dan menyodorkan kontrak kedepan wajah Fauzan. "Bagaimana dengan kertas kecil ini?" Ganggu ku mulai mencairkan suasana.


Aku mulai menguasai suasana, "tanggung jawab atas kontrak ini?" Kulepas pelukannya dengan mundur satu langkah, kubuat mataku bergerling nakal.


Fauzan mengejarku dan menyambar kertas laknat berisi tulisan rapinya itu, dia merobeknya. "Persetan dengan ini!" Kutuknya sebelum mendorong tubuhku pelan.


Dia menimpahkan tubuh besarnya pada tubuh ramping ku, kami berguling diatas kasur Sambil tersenyum lega, bertukar jemari untuk menghapus air mata. Fauzan mencium perutku dan menempelkan telinganya, "nak baik-baik ya didalem, jangan buat mommy repot." Ucapnya penuh dengan nasihat.


"Nanti kita periksa lagi ya kedokter, sekaligus kasih tau orang-orang kalau kamu hamil" tambahnya dengan mencium hidung kecilku, kubalas dengan manis.


Setelah itu dia mulai menjelajahi leher dan yang lainnya. Membuatku merasakan percikan asmara lagi, mataku hanya bisa terpejam dan terbuka berulang-ulang. Dia mampu mengatur ritme napasku menjadi tergesa-gesa, tidak peduli ada perang dunia diluar sana, kami hanya ingin bergelirya sendiri.


Saat tangannya mulai bermain di dadaku, dia tiba-tiba berhenti dan mengingat sesuatu. "Kenapa mas?" Tanyaku heran.


"Ah aku lupa, tubuhmu akhir-akhir ini lelah. Aku gak mau kamu sama anak kita kenapa-kenapa" jawabnya penuh khawatir, dia beringsut dan menjauh dariku.


"Aku baik-baik aja mas!" Ucapku menghampirinya, niat hati ingin menyenangkannya karna sudah menjadi istri yang durhaka dari awal kami menikah.


"Ngak Za, nanti kamu kenapa-kenapa" ucap Fauzan keukeh, kedua tangannya memijit kepala sebagai obat hasratnya yang tak tertular.


"Masa sih.." godaku dengan mengelus-elus lembut punggungnya.


"Please jangan kaya gini za, aku gak mau kebablasan" dia meraih tanganku.

__ADS_1


"Emang laki-laki kaya gitu ya? Gak bisa nahan?" Tanyaku aneh sambil tersenyum.


"Namanya juga normal, ya wajar" dia menurunkan tanganku lembut dan menjauh dariku.


"Mas aku gak papa, fisikku masih kuat kok..." aku menghampirinya lagi.


Fauzan tercenung sebentar, "tapi aku gak mau nyakitin kalian, aku takut gerakan ku kasar dan malah bisa buat kamu keguguran" dia menatap ku.


Aku tersenyum lagi, mulai paham arti dari ucapannya. "Dalam waktu 34 Minggu kita bakalan jadi orang tua mas, in sya Allah aku gak akan keguguran. Kalau kamu masih takut, mending kita tanya dokter pas periksa nanti" aku merebahkan kepalaku dipangkuannya.


"Maafin aku ya yang terlalu pengen punya anak" dia mencium bibirku sekilas.


"Maafin aku juga yang sering ngecewain hati kamu" tanganku mengelus lembut wajah tampannya.


Dia mencium tanganku dengan lembut, "tak pernah terbayang olehku untuk bisa memiliki anak darimu, aku pikir pemberontakan mu selama bertahun-tahun tanda pernikahan ini akan hambar" ucapnya lesu tapi menampilkan sebuah senyuman tipis.


"Aku jadi ingat pas kamu narik tanganku di gerbang sekolah saat kita belum kenal, menarik tanganku sampe nyentuh pipimu, mendengarkan curhatan sedihmu dan menyeretmu saat pak Asep menghukumku. Lagi kita pelukan dipagi hari sampe masuk bk, lucu gak sih?" Aku terkikik sendiri mengingat kebodohan kami dulu.


Dia tak kalah terkikik, "siapa yang selalu nyeret aku kehukuman nya pak Asep? Kamu kan yang sering nakal! Pembuat onar dan ngabisin kesabaranku" dia mencubit hidungku dengan gemas.


"Kalau tau begini, dari dulu aku mau Deket sama kamu." Aku menyenderkan kepaku didada bidangnya.


"Kamu itu si mekar yang kek selamet sebut, waktumu sekarang za, bukan dulu. Lupakan masa lalu" dia memelukku erat.


"Hmmm aku rindu Fauzan dulu" ucapku lirih.


"Apa aku yang sekarang berbeda?" Tanyanya melepaskan pelukan kami.


"Iya! Aku rindu omelanmu dulu, kamu bilang lupakan masa lalu. Tapi aku tak bisa, kau tau kesukaanku saja sejarah, bahkan aku sudah menjadi guru sejarah. sejarah negara dan dunia aku korek habis-habisan, Sekarang kenapa aku harus menghapus sejarah kita....." aku menatap matanya.


"Kamu benar" dia mencubit pipiku gemas.


"I do love you..." lirihku lagi sambil mengelus-elus dada bidangnya.


"Emm" dia berdehem dan hanya mengelus pucuk kepalaku.


...Bersambung...........


Hallo readers........


akhirnya author up juga setelah dibuat pusing 2 hari, sejenak ngopi dan melanjutkan cerita☕ setelah itu melanjutkan kemumetan dikepala karna ulangan semester masih berjalan😭. do'akan author agar selalu sehat dan bisa menjalankan ulangan semester dengan lancar🔥. semoga readers sekalian juga diberikan kesehatan dan kemudahan, Aamiin.....


oh iya menurut kalian gimana nih ceritanya? Fauzan sama zhari udah baikan, udah ngak gengsian. terus kedepannya kayak apa ya hubungan mereka? ada yang bisa menerka?☺ okelah jangan lupa tinggalkan jejak, vote, komen, like, hadiah dan favoritkan ya😌


Thanks you👋

__ADS_1


__ADS_2