
Sayup - sayup aku mendengar suara ribut-ribut dari balik pintu kamar ini.
Aku membuka mataku yang terasa masih berat, dan kuedarkan pandangan ini kesegala arah.
Tiba-tiba mataku membola tatkala kulihat selimut ini telah menutupi tubuhku, dan tasku telah tergantung rapi disamping tas Fauzan.
Aku bangun dari tidurku, dan kuberusaha mengumpulkan nyawa ini. Ingin mendengar suara ribut-ribut apa diluar.
"Ozan kan udah bilang sama mami! Jangan biarin kita berdua-duaan terus! Aku udah ngasih tau kebenarannya, mami masih gak percaya!" Tampak suara Fauzan sedikit dingin.
"Mami gak percaya sama kamu! Kamu pasti udah ngelakuin hal aneh-aneh ke dek zhari kan?" Sekarang suara mami Amelia yang terdengar, dia tampak kecewa.
"Mami masih gak percaya ya sama Ozan? Ozan kan udah bilang zhari itu cuma ketiduran! Bukan ditiduri Ozan!" Suara Fauzan sekarang lebih dingin dari yang tadi.
"Mami gak percaya! Kamu pasti udah ngelakuin macam-macam kan sama dia?" Suara mami Amelia terdengar lagi.
"Ngak mih! Demi Allah aku gak pernah macam-macam sama zhari! Aku gak pernah ngelakuin hal aneh-aneh mih!" Suara Fauzan sekarang bergetar.
Hatiku kok ikut tersayat-sayat ya? Aku buru-buru bangun dari dudukku. Dan kuhampiri suara ribut-ribut diluar kamar ini.
Cklek..
Suara knop pintu membuat dua orang yang ribut itu menoleh kearah ku.
Aku menatap mereka dengan sayu, lantas aku berjalan kearah mami Amelia.
"Mih, yang dikatakan Ozan itu benar! Dia gak ngapa-ngapain aku kok, aku aja yang gak sengaja ketiduran di kamarnya" aku berusaha membela Fauzan.
"Tuh kan mih!" Fauzan menatap maminya Dengan mata yang sudah berembun.
Dituduh meniduri seorang gadis itu sangat menyakitkan ya?
"Ya mami percaya!" Jawab mami Amelia dengan sedikit rasa bersalah.
__ADS_1
"Yaudah kalian berdua makan siang bareng yuk dibawah, udah ada mas firman sama mbak lili dibawah" tambah beliau.
Aku menampilkan wajah bingung dan menggaruk pipiku yang tak gatal. Siapa pula mas firman dan mbak lili itu? Aku gak tau, keluarga ini berasa keluarga teraneh yang baru aku temui.
Seperti paham dengan gerakan ku, mami Amelia langsung tersenyum canggung. "Hehe belum tau ya siapa mas firman sama mbak lili itu?" Tanya beliau yang seketika aku mengangguk.
"Mas firman itu mas nya Ozan, dan mbak lili itu istrinya mas firman. Mereka baru nikah 3 tahun, tapi belum dikasih keturunan, makannya satu tahun lagi kalian langsung nikah, biar bisa cepet ngasih kami cucu" penjelasan beliau langsung membuatku tercekak.
Bagaimana tidak? Satu tahun lagi...
"Yaudah yuk kebawah" ajaknya sopan.
Aku hanya manut, sambil sesekali melirik Fauzan yang terlihat sedang mengejekku, oh apa dia bahagia akan membuatku ada di genggamannya? Tidak sudi aku!
"Nanti malam dek zhari nginep ya dirumah mami? Mami Nanda juga udah ngijinin kok, kalo soal baju. Mami Nanda udah nyuruh sopir buat nganterin" mami Amelia terus berceloteh ditengah jalan, gak nyadar apa kalo aku - si calon mantunya udah muak sama semua ini.
Kami bertiga telah sampai dimeja makan, tampak makanan kesukaan ku sudah berbaris disana, sepertinya keluarga ini sudah menganggap ku seperti keluarga ya?
"Mas firman, mbak lili kenalin nih. Dek zhari" mami Amelia memperkenalkan ku kepada dua orang ini.
"Oh cantik ya mih, wah Ozan beruntung nih" celetoh mbak lili.
Ternyata beliau yang kelihatannya anggun itu, bisa kaya ibu-ibu pada umumnya juga 'ya?
"Iya nih mas Ozan beruntung loh... apalagi nih mbak cita-cita nya dek zhari mau jadi guru" puji mami dengan bangganya.
Aku hanya tersenyum canggung, lantas malah membuat senyuman selebar gua terbit dibibir mbak lili.
"Wah mau jadi guru apa dek? Mbak juga dulu sempat pengen jadi guru Tapi sama keluarga disuruhnya masuk kedokteran" ucapnya dengan sedikit kepahitan terlihat dimata itu.
Aku hanya mengangguk canggung, "jadi mbak itu dokter ya?" Tanyaku basa basi.
"Iya mbak lili itu dokter bedah dek, nah pas tiga setengah tahun lalu. Mas firman masuk rumah sakit karna kena peluru dan yang ngoprasi mas firman itu mbak lili, jadilah mereka menikah" sela mami Amelia.
__ADS_1
"Apa-apaan sih mih, mending kita makan siang aja dulu" mas firman tampak malu akan ucapan maminya, mungkin ada moment memalukan yang melekat diingatannya.
"Yaudah ayo makan, dek zhari jangan sungkan-sungkan. Kami juga nanti jadi keluarga adek" ucap mami yang melihat wajah canggung ku.
"Mih papi masih dikantor ya?" Tanya Fauzan saat kami semua sedang menyendok makanan.
"Masih mas, kata papi hari ini lembur" jawab sang mami dengan tangan cekatan yang masih mengambil nasi.
"Oh emang mas firman gak bantuin papi ya?" Sekarang pertanyaan untuk mas firman meluncur.
"Ya bantu lah dek, tapi jadwal mas gak sepadat papi. Mas kan cuma wakil direktur, kalau kamu udah lulus kuliah bisnis nanti baru papi pensiun dan kamu yang bakalan jadi wakil direktur" jelas mas firman.
"Oh, terus kenapa sih aku harus masuk jurusan ips? Kan gak harus ketemu dia" ucapnya jujur sembari melirikku yang sedang menyendok pesmol ikan.
Tiba-tiba wajahku pias saat mendengar kejujuran nya, haruskah dia begitu jujur di depanku?
"Namanya juga jodoh dek" jawab mbak lili dengan senyuman manisnya.
"Hus ngomong apa kamu mas! Udah ah kalo jodoh mau kalian lari ke ujung dunia pun, kalian pasti bakalan jodoh" mami menegur Fauzan karna tak enak melihat wajahku yang sedikit pias.
Selesai makan siang, aku diajak mbak lili berbelanja ke mall. Tentu saja aku menolak, hatiku teraduk karna kejujuran Fauzan yang menyakitkan.
Apa aku ini hanya terlihat sekedar membenci dia? Benci... dan cinta itu sangat beda tipis, aku tidak tau rasa apa ini. Apa ini cinta? Mungkin, namun hatiku terlanjur sakit untuk mengakuinya.
Aku mengurung diriku didalam kamar Fauzan, ya mami Amelia menyuruhku untuk tidur dikamar fauzan, sedangkan lelaki itu? Dia sedang belajar dunia berbisnis dengan mas firman.
Yang jelas semuanya karna dia salah jurusan!
Aku berdiri di balkon kamar laki-laki ini, tampak hujan sedang mulai turun. Aku sedang melamun, merindukan hari-hari normalku di pendatang bulan April.
Apakah dibulan April - dimusim panas - musim yang aku benci ditahun ini aku benar-benar terikat dengan perjodohan aneh macam ini? Aku harap itu tidak akan ada! Cukup musim panas yang aku benci!
Tanpa sadar air mataku menetes, aku buru-buru mengusapnya. Apa aku sudah memulai hal yang bernama cinta? Apa iya? Aku tak begitu percaya akan kata itu.
__ADS_1
Namun, seperti nya rasa ini berhubungan dengan kata itu. Aku akhir - akhir ini mulai aneh!
...Bersambung........