
Semalam setelah ingin 'bermesraan' dengan Fauzan tapi gagal, aku tidur sendiri. Kami tak ingin saling mengganggu, paginya aku merasakan mual-mual dan muntah macam kemarin. Tapi bedanya kemarin aku dikelilingi banyak orang tak termasuk Fauzan, sekarang aku hanya bisa menikmati masa kehamilanku sendirian.
Aku hanya bisa menyenderkan badanku di tembok saat aku sudah lelah muntah untuk keberapa kalinya, Fauzan sama sekali tak mau masuk kekamar apalagi pria itu menengok ku. Aku makin menyesal, kenapa aku mengecewakan hatinya?
Tapi. sebuah ketukan pintu membuatku beringsut dan segera membukanya, kuharap itu fauzan.
Sesaat aku ragu untuk membukanya. Namun, aku harus siap dengan segala hal yang akan Fauzan lakukan. Aku pantas menerima nya!
Aku membuka pintu dan mendapati pria itu tengah membawa nampan berisi makanan, tak lupa ada susu ibu hamil, juga vitamin, hatiku sedikit mencelos. Semalam dia memang kecewa, tapi dia masih peduli padaku! Dia masih memperhatikan pertumbuhan anakku!
"Makanlah" dia menyodorkan nampan kearahku.
"Mas..." sebuah kata tertahan sesak keluar dari bibirku, sesaat aku tak bisa melanjutkannya. Aku merasa bisa merasakan kekecewaan Fauzan, beginikah sakitnya?
"Makanlah, aku mau kekantor... maaf untuk semalam aku sempat membentakmu, buka pesan ku dan dengarkan Baik-baik" dia berbalik dan pergi dari hadapanku setelah aku menerima nampan makanannya.
Ya, dia pergi begitu saja setelah mengucapkan beberapa kata. Aku hanya bisa melongo dan segera ingat apa yang diperintahkan nya, buru-buru aku masuk kekamar. Menaruh nampan makanan diatas nakas dan segera mengambil ponsel, gegas ku buka pesan yang dia maksud.
"Mulai sekarang aku ngak akan menyiksamu Dengan segala hal yang aku mau atau hal yang membuatmu tak nyaman, aku sadar selama ini aku telah menghilangkan kemandirianmu. Mulai sekarang kamu bebas mau bertindak apa, tapi tolong terima anakku dan jaga dia baik-baik. Akan ku usahakan menjaga nama baikmu sebagai nyonya Arkan didepan rekan-rekan bisnisku, aku akan membelamu kalau-kalau ada orang yang ingin menyakitimu." Hatiku bergetar hebat saat mendengarkan penuturan panjang yang ternyata voice notes dari suaranya itu.
"Aku sadar, cintaku yang berlebihan membuatmu sesak, Azhari. Aku tak akan melakukannya lagi, menjaga jarak sedikit darimu. Mulai menempati kontrak pernikahan kita, mungkin aku memang ngak bisa naklukin kamu. Tapi tolong.... aku akan tetap mencemaskanmu dan anak kita, aku akan peduli padanya. Hanya aku minta tolong jaga dia, walaupun aku masih belum bisa menggenggam hatimu." Giliran napasku yang sesak sekarang, dadaku kembang kempis.
"Mungkin keinginanku Memiliki anak terlalu murahan bagimu, aku menyerah bukan karna aku tak mau berjuang. Tapi aku sadar kapan saatnya berhenti, tak ada gunanya memaksa perasaan." Suaranya terdengar sangat putus asa dan itu membuatku semakin kecewa pada diriku sendiri.
__ADS_1
"Sikapku yang lembek dan kekanakan serta tak tegas, mungkin mencoreng citra ku sebagai seorang ceo diperusahaan. Aku sering mencoreng citra ku karna sering tak menempati janji pada rekan kerjaku, dan aku sadar mulai sekarang. Mungkin tindakan anehku karna jatuh cinta tak sesuai prinsip hidupmu, karna sebenarnya aku hanya bisa bersikap dingin dihadapan publik tapi lembut pada pasangan adalah salah bagimu" pungkasnya menyakitkan.
Aku memejamkan mata gusar, tanpa sadar beberapa air jatuh dari pelupuk mataku. Kalimat panjangnya seperti tercetak tebal diotakku, sampai hapal diluar kepala. Rupanya itu motif Fauzan tak membalas kecupan ku, serta dia telah berhenti membuatku jatuh cinta. Bukan menyerah tapi karna sudah tau kapan saatnya berhenti.
Aku mengelus perutku dengan beribu perasaan penyesalan, aku tak menyesal telah mengandung anaknya. Aku tak pernah menyesali itu! Justru aku menyesal karna tak bisa mengerti perasaan nya! Hanya saja gengsi selalu memperkokoh diriku, aku kadung malu!
Jadi, tibalah waktu yang kutunggu itu. Sekarang aku bisa bebas bekerja dan bersenang-senang dengan teman-temanku, tanpa dibatasi sosok yang bernama suami. Serius nih? Baiklah, tibalah hari kemenanganku. Tapi.... kenapa hatiku merasakan sakit yang luar biasa? Jadi begini rasanya dibalas datar oleh Pasangan? Dan udah berapa kali aku ngelakuin itu sama Fauzan?
"Mas..." lirihku pelan, dia adalah penyembuh luka lamaku dan sekarang pergi meninggalkan ku! Mungkin dia peduli padaku Hanya karna aku mengandung anaknya, jika tidak... mungkin dia tak akan memperhatikan ku lagi.
Segumpal penyesalan dan kalimat panjangnya yang penuh kekecewaan muncul di kepalaku, kenapa aku seperti ini? Kenapa aku tak menerima dia? Kenapa!
"Maafin aku..." aku menatap foto pernikahan kami dinakas sambil berderai air mata aku mengambil foto itu.
Kesedihanku terbuyarkan saat sebuah deringan ponsel menghenyak ku sedikit, aku menatap ponsel dengan malas. Terlihat tulisan 'Mamer memanggil'....
Buru-buru aku usap air mataku, dan mengangkat panggilan beliau.
"Assalamualaikum mih" salamku halus dengan ciri khas suara bindeng. Mungkin karna aku terlalu sedih.
"Wa'alaikumsalam, dek kamu masih di Jatim ya? Terus juga kok suara kamu bindeng gitu sih? Kamu sakit?" Beliau menghujaniku dengan pertanyaan.
"Ng-ngak mih, aku cuma flu aja. Aku juga lagi dirumah, Oh iya ada apa ya mami nelfon aku?" Aku menutupi segala kepelikan dalam rumah tanggaku.
__ADS_1
"Lho dirumah? Gimana sih mas ozan, dia ngomong kalau kamu lagi di Jatim! Dasar!"
Eng... Fauzan membuat sandiwara barukah? Kenapa gak jujur? Batinku gamang.
"Ngak mih aku dirumah, oh iya mami juga mau ada perlu apa?" Tanyaku sangat halus.
"Loh mas ozan belum ngasih tau ini juga? Ck awas ya dia!" Decak beliau kesal pada si bungsu.
"Ngasih tau apa mih?" Tanyaku balik.
"Dirumah ada acara, Dek. Penting sekali, Selametan 1000 harinya kek selamet. Gimana ya dek? Bisa gak?" Tanya mamer penuh harap.
Fauzan geblek!
"Hmm bisa mih, maaf mih aku gak tau kalo ada acara gitu. Kapan ya waktunya" tanyaku tak enak sendiri.
"Bareng aja sama mas ozan, dek. Nanti siang selepas dzuhur, tidak usah terburu. Istirahat aja kalo capek, asal adek datang ya?" Ujar mami Lia Dengan sabar.
Setelah mamer nelfon, kekalutanku lenyap sudah. Sumpah ini satu pria gak bisa diajak kerja sama apa? Ck kecewa sih boleh! Tapi jangan bikin aku uring-uringan dong... apalagi sampe mami, papi sama sesepuh lainnya tau kelakuan kami!
N*fsu makanku hilang, dan penyesalanku pergi entah kemana. Aku hanya bisa merebahkan tubuhku diatas ranjang dengan sedikit kesal.
...Bersambung........
__ADS_1