Summer Love

Summer Love
Ch 9. Kejujuran yang mencenangkan


__ADS_3

Kami bertiga memasuki ruangan guru, tampak beberapa guru menatap kami dengan bingung.


"Kalian duduk disini" ucap pak Asep saat dia mulai pergi kemeja kepala sekolah.


Jantungku berdebar kencang, sanksi apa yang akan diberikan sekolah pada kami?


Aku meremas ujung baju olahraga ku, sambil sesekali mengusap keringat dingin didahi ini. Kalian gak tau aja ya? Kalau aku adalah anak yang paling terpandang disekolah ini karna Aku adalah siswa yang paling menaati aturan.


Tak berapa lama ibu etin - kepala sekolahku, menghampiri kami berdua dan duduk disalah satu sofa.


"Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya beliau dengan halus, emang beda banget sih ibu etin ini dari guru-guru lain.


Dia orang tegas, tapi lembut juga. Jadi gak terlalu berdebar-debar nih jantung.


"Kalau kami jujur apa yang akan dilakukan sekolah Bu?" Tanya Fauzan yang sedari tadi hanya duduk diam.


Dia tampak tenang, dan itu membuatku heran.


"Kalau kejujuran kalian tidak melanggar aturan sekolah, kalian cuma mendapatkan peringatan. Tapi jika sebaliknya kalian akan dimutasi dari sekolah" ucap beliau tegas, seketika membuatku menelan ludah ini.


Tampak Fauzan merenung sebentar dengan menerawang ke segala arah.


"Baik kami akan jujur Bu" ucapnya setelah beberapa detik merenung.


"Silahkan" beliau mempersilakan kami untuk berkata jujur.


Fauzan menghela nafasnya, "jujur Bu masalah ini bukan sepenuhnya seperti yang ibu kira, saat itu. Saat kami berdua sampai dikelas, ada seorang anak lelaki yang masuk dan menghampiri kami, kalau tidak salah namanya - Naufal. Saat itu dia memanggil zhari dengan sebutan 'beb', jujur saja aku ini seorang anak lelaki normal, aku juga mencintai zhari. Dan tentunya aku cemburu saat melihat Naufal memanggilnya dengan kata romantis."


Aku dan Bu etin hanya diam membisu, kata-kata dibait terakhirnya seperti membuat jantungku melonjak-lonjak tak karuan, dia.... mencintaiku? Mungkinkah?


Tapi aku memilih tidak mempercayai nya! Dia membual!

__ADS_1


"Saat itu zhari menyuruhnya untuk jangan memanggilnya lagi Dengan kata 'beb' namun Naufal malah memasang ekspresi menyedihkan, aku bukan orang munafik Bu. Jujur saja saat itu aku langsung mentertawakan nya, lantas zhari malah memelototi ku. Mungkin dia tak tega melihat Naufal hendak menangis, akhirnya zhari membiarkan Naufal memanggilnya 'beb'." Fauzan menghentikan ucapannya.


"Lanjutkan" ucap ibu etin yang melihat Fauzan seperti merenung lagi.


"Jika saya jujur akan satu hal lagi, apa ibu tidak akan menyebarkan berita ini? Khusunya disekolah! Ini hanya pembicaraan kita bertiga saja Bu! Ibu harus menjaga rahasia yang ini" Fauzan menatap ibu etin dengan serius. Tiba-tiba Jantungku berdebar kencang lagi, hatiku pun seperti tersayat-sayat.


A-apakah Fauzan hendak jujur soal perjodohan kami...?


Intinya wajahku tiba-tiba menjadi pucat pasi.


"Ya saya berjanji" ibu etin menatap ke sekeliling, untungnya bel tadi sudah berbunyi dan satu persatu guru keluar dari ruangan ini dan mulai memasuki kelas mereka untuk mengajar.


"Saat itu aku merasa jengkel dengan zhari, lantas zhari menyuruh naufal pergi dari hadapan kami. Dan setelah anak itu pergi aku hendak melontarkan sebuah kata yang akan menggemparkan satu sekolahan ini, namun saat itu zhari langsung membungkam mulutku." Fauzan menghela nafasnya.


"Kata terkutuk apa yang akan menggemparkan sekolahan ini?" Tampak ibu etin menaikan alisnya karna heran.


"Aku hendak mengatakan lebih tepatnya mengingatkan zhari bahwa dia itu sudah dijodohkan dengan saya Bu." Ucapnya yang seketika membuat ibu etin diam membisu.


Tampak ekspresi ibu etin tampak tercengang, "Ka-kalian beneran dijodohkan?" Tanyanya tergagap heran.


"Ya" jawab kami serempak, takut jika yang menjawab hanya Fauzan. Dikiranya kami berbohong.


Ibu etin memijat keningnya pening, "lalu apa lagi setelah itu?" Tanya beliau.


"Zhari membungkam mulutku dengan tangannya, aku berusaha melepaskan tangan kecil itu. Tapi tenaganya begitu kuat, sampai-sampai badan kami sudah sangat dekat karna aku meronta. Setelah beberapa usaha, mulutku lepas dari cengkraman tangannya. Lantas aku ingin membalas hal itu dengan memeluknya Bu, jadi jika ibu ingin menyalahkan orang itu! Salahkah saja saya!" Ketegasan Fauzan membuatku terpana.


Oh Tuhan.... apakah calon suamiku ini beneran seorang bijaksana?


"Melihat keseriusan kalian, kalian memang seperti tidak berbohong. Tapi ibu Ingin memastikannya lewat orang tua kalian, mohon kalian hubungi orang tua masing-masing" akhirnya ibu etin sedikit mempercayai kami, walau tak sepenuhnya.


Kami berdua mulai menghubungi orang tua masing-masing, aku menghubungi Mamiku dan sebaiknya Fauzan pun menghubungi maminya.

__ADS_1


Tak berapa lama, sekitar 20 menitan kedua wanita cantik itu datang ke sekolah. Mereka langsung memelukku, mencium pipi kanan dan kiri ku, begitu pula Fauzan dia seperti diriku.


Lucu juga ngeliatnya, kekehku dalam hati.


"Mohon maaf ibu, hal apa yah yang membuat anak beserta calon mantu saya masuk kesini?" Tanya Mamiku to the poin.


Hehe ini adalah akal bulus ku, aku memang menghubungi mami lewat chat, jadi bisa aku ceritakan semuanya. Eit tapi gak sampe cerita kalo aku sama si rese ini pelukan, bisa menggemparkan kalo itu terjadi. Mungkin mami juga sudah berkolaborasi sama mami Amelia, liat saja kan mereka datang-datang langsung memelukku.


"Oh ja-jadi bener ya anak kalian sudah kalian jodohkan?" Tanya ibu etin masih dengan mode tergagap.


Mungkin dia merasa aneh 'ya? Masih anak SMA eh udah dijodohin segala!


"Iya ibu! Mohon maaf atas keanehan keluarga kami" ucap dua wanita itu kompak.


Aku tampak mengulas sebuah senyum tipis, berbeda dengan Fauzan dia tampak terkejut. Ya gimana gak terkejut coba? Kedua wanita ini mengucapkan kalimat sama diwaktu bersamaan.


"Oh begitu ya Bu, baiklah karna ini tidak seperti yang saya kira sebelumnya, saya akan memberikan peringatan untuk mereka berdua. Jika mereka melakukan hal seperti itu lagi, maka mutasi ancamannya" ucap Bu etin akhirnya dia menyerah.


"Baik Bu terimakasih, jadi sekarang anak-anak kami bisa mengikuti pelajaran?" Tanya Mamiku.


"Iya Bu silahkan" beliau mempersilakan kami keluar dari ruang guru.


"Terimakasih Bu" ucapku dan Fauzan penuh terimakasih.


Kami berempat keluar bersama-sama.


...Bersambung........


***


wah ibu etin nya aja shock ya? Kalo satu sekolah tau gimana menurut kalian Reaksi mereka?😁 tapi semuanya juga bener loh, karna kejujuran akan selalu melegakan tapi tak luput juga membawa kepahitan, namun disanalah letak kebenaran sifat seseorang ada. setuju gak nih readers?

__ADS_1


yuk lah pantengin aja, jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya. semoga kalian selalu diberikan kesehatan❤


Thanks you👋


__ADS_2