
Sesampainya dirumah, Fauzan memanjakanku hingga aku nyaman dan tertidur. Memang aku kelelahan karna semalaman tidur dikursi menemani papi. Tidur nyenyak dalam pelukannya dan terbangun saat Indra penciumanku mengendus aroma jeruk.
Aku melek dan kulirik jam, pukul 14.05 siang. Cuaca masih setia dengan summer, ternyata Fauzan sudah memakai tuxedo, menyemprot minyak wangi beraroma jeruk dan menata rambutnya yang sudah berantakan. Oh benar, aku tadi menjambakinya. Bukan dalam rangka hubungan panas, tapi karna dia menciumku dengan panas. Hingga aku tak kuasa menahan hasrat.
Hanya berciuman tak sampai adegan itu, karna Fauzan masih belum yakin kalau 'bermesraan' ditengah kondisiku yang hamil itu baik bagiku dan anak kami.
"Kamu mau kemana?" Tanyaku sambil menguatkan mata yang berat.
"Tidurlah dek, aku mau meeting" ujarnya Pelan sambil mengelus kepalaku.
"Ngak boleh, diluar masih panas. Nanti kamu item" ucapku manja dan lemas.
Fauzan mengelus kepalaku penuh sayang, "aku meeting dikantor, kalau diluar pun paling diresto. Ngak akan item, dek. udah ngak usah khawatir, tidurlah." Suruhnya sambil menuntunku berbaring dan menutupi tubuhku dengan selimut.
"Lama?" Tanganku manja, sumpah. Aku kayak kerasukan hantu ganjen.
"Kenapa sih? Ngak rela pisah dariku?" Dia duduk disebelahku dengan mata nakal.
Aku memeluk punggungnya, terkadang aku menunjukkan kelemahanku dan kadang masih waspada. "Wanita yang namanya fifah itu siapa sih mas? Kok dia bisa kerumah kamu, bareng Zia lagi" tanyaku penasaran.
"Oh dia kakaknya Zia, sebenarnya sih mami sama fifah ngak ada hubungan spesial. Cuma fifah itu orang yang udah jadi investor diperusahaan papi, aku juga baru tau pas megang jabatan direktur" jawabnya.
"Kalo fifah nyuruh kamu nikah sama zia gimana? Buat jadi ayah dari anaknya? Nanti aku gimana? Dimadu gitu?" Tanyaku ngawur, tapi serius cemas.
"Ngak mungkinlah, dek!" Tepisnya sambil tersenyum, mungkin karna pertanyaan ku ngak masuk akal.
Namun, pertanyaan ku bukan tanpa landasan. Masih masuk diakal kok "kalau diancem ngak bakal nginves diperusahaan lagi gimana? Kalau perusahaan bangkrut gara-gara kamu gimana? Nanti kamu ujung-ujungnya dipaksa papi buat nikah sama dia...."
Dia mendorong kecil kepala bodohku, "Ckck, pikiran kok sinetron amat. Bangkrut bukan masalah, itu emang udah biasa dalam dunia bisnis. Papi juga ngak bakal nyuruh aku nikah lagi, apalagi istriku kamu. Wanita yang udah disayang kaya anak sendiri dari jamannya sma."
"Kamu dewasa juga?" Pujiku ngambang.
Fauzan membingkai wajahku dengan kedua tangannya, "jangan ngelantur, tidur sana! Disiplin, waktunya tidur. Ya, tidur. Daripada aku tidurin ntar!" Ancamnya nakal.
Kupukul gemas punggung kokohnya, "mesum ngak ilang-ilang! Udah sana" usirku kasar, kudorong punggung nya menjauh.
"Aduh-aduh... baru juga manis, udah keluar aja taringnya" decak Fauzan heran.
"Mass berangkat dulu ya dek!" Pamit Fauzan gemas.
"Oke! Jangan lupa pulangnya bawain aku martabak sinar bulan ya mas, aku pengen..." aku menghempas lagi kasur yang berantakan.
"Okay Za" balasnya pendek sambil berjalan keluar.
Sepeninggalnya, kutatap kasur disisiku. Bekas geliat tubuhnya tadi, mungkin mulai malam ini dan selamanya kami akan tidur seranjang bersama. Tapi kalau aku lagi ngak malu dan gengsi.
"Mas" tahanku saat dia hendak menutup pintu kamar.
Benar sekali, bukannya tidur. Aku malah menyusul fauzan keluar kamar, aku masih tak rela melepaskannya meeting di cuaca panas ini. Aku masih kangen berat.
Fauzan menatapku lembut, "kok ngak tidur?" Tanyanya.
Aku hanya bisa menggaruk tembok salah tingkah, ngak bisa menjawabnya. Mungkin ekspresi pengenku, udah cukup 'ya?
Dia tampak nyambung dengan pikiran kotor ku, "iya santai, aku bakal cium kok" ocehnya manis sambil mendekat kearahku dan mencium keningku.
Setelah dia pergi, aku melangkah riang menuju dapur. Daripada tidur, mending mempersiapkan makanan untuk Fauzan. Makan malam enaknya apa 'ya? Oh iya isi kulkas masih penuh ngak ya? Aku lupa belanja, selain Ema yang belanja. Fauzan belanja ngak ya? Soalnya dia pernah belanja bahan pokok sendirian di supermarket demi memenuhi isi kulkas, dia mau mempermalukan diri sendiri demi aku. Tepatnya, demi cinta.
__ADS_1
"Bikin pesmol ikan aja deh" putusku karna Melihat sekantung ikan didalam kulkas.
"Lho bu tumben masak? Ngak kita aja?" Tanya Eva yang datang dari pintu belakang sambil membawa sekeranjang pakaian kering.
"Eh" aku terhenyak saat tangan ini tengah mengambil kresek ikan, "iya va lagi pengen aja" jawabku.
"Oh yaudah Bu, kalau ada apa-apa panggil aja kita" pesan Eva yang hanya kubalas meseman.
Maka dimulailah olahragaku didapur, demi menyalurkan hobi masak disela mengajar. Untuk saat ini sekalian memenuhi perut suami, ah. Suami ya? Kenapa sekarang beda saat mengucapkan hal itu? Berasa ada hawa manisnya gitu.
Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri. Kayak orang gila di lampu merah, mencintai Fauzan seperti candu.
****
Senja yang indah menemani soreku, kurasa aku mulai menyukai summer. Semenjak rasa menyebalkan tentang summer luruh begitu saja, ternyata summer yang kubenci membawaku pada orang yang tepat.
Aku sudah mandi dan wangi, rambutku telah basah baru disampo aroma stobery. Seharum badanku yang wangi buah-buahan.
Bukan tanpa alasan aku berdandan sesegar ini, sebab. Aku ingin menyenangkan Fauzan dengan memandangku.
Malam nanti aku ingin menggodanya, untuk bermain cinta dan keintiman. Entah karna apa, padahal Fauzan masih ragu bermesraan denganku diatas diriku yang hamil. Tapi aku ingin bermain manja bersamanya, gawat. Aku mulai rusak, apakah ini tanda krbejadan pikiran? Memikirkan hal kotor seperti ini, eh tapi. Dia kan suami Sendiri.
Sudahlah, mari nikmati saja! Seperti saat aku memandang puas badanku didepan kaca. Bagaimana tidak, tubuh kurusku telah manis dalam tampilan mini dress bebungaan warna putih. Rambutku tadi yang basah sudah kering karna hairdryer, sudah di blow dan sedikit diberi sentuhan Curly pakai catokan. Imut gitulah, ah! Narsis.
Pemandangan yang sama tampak dari atas meja makan, nasi putih yang masih hangat. Ditumpuk dengan pesmol ikan yang banyak daun bawangnya, harum dan sedap dengan tambahan sayur sop iga sapi didalamnya, tak lupa susu coklat hangat kesukaan fauzan.
Aku sudah siap menyambut kedatangannya. Lagi, kupandang puas makanan yang ada dimeja. Ternyata memasak buat orang lain - sebut suami - itu menyenangkan, memang awal menikah udah pernah masakin buat dia. Tapi ngak sampai seseneng ini, sekarang semacam melaksanakan tanggung jawab gitu.
"Hemm suara mobilnya fauzan" gumamku sambil berjalan kearah ruang tamu.
Benar dugaan ku, Fauzan datang dan berjalan santai kearah pintu.
Langkahku tertahan saat ingin menyambutnya, sepertinya dia sedang menerima panggilan telepon. Benar, saat aku memastikannya dari balik jendela. Fauzan sedang memegang ponsel entah berbicara dengan siapa, yang jelas wajahnya sangat curam dan tak nyaman.
"Udah ku bilang! Jangan nelpon aku lagi ya!" Lanjutnya dengan mata curam.
Ya? Ya siapa yang dia maksud? Zia?, Sudah jelas. Di circle Fauzan yang kukenal dengan panggilan 'ya' merajuk kepada zia, wauw. Jadi mereka masih sering bertelepon ria? Kamu ketahuan Zan!
Mendadak hatiku menjadi hampa, semacam ada balok yang meledak. Sakit Kena jepret karet! Sakitnya ngeliat suami Nerima telpon mantan, ingin rasanya pergi kemana gitu.
Fauzan berkacak pinggang dan masih terus mengomel, "berani kamu telpon aku lagi? Aku bongkar aibmu didepan fifah!" Ancamnya yang masih terus masuk ke kupingku.
"Aku ngak peduli mau kamu habis kena rampok atau anak kamu sakit! Itu bukan urusanku!" Ketusnya kemudian.
"Jangan telpon aku lagi!" Suruhnya galak sambil memencet dan meremas ponsel.
Telpon ditutup, menyisahkan wajah kesal diwajah fauzan. Mungkin wajah aneh padaku juga, pandanganku kosong dibalik pintu ruang tamu. Saat sadar Fauzan masuk kerumah dengan wajah yang sudah berubah nyaman, aku tetap tak beranjak. Sampai pada sebuah suara berbunyi ceklek, tuas pintu dibuka dan Fauzan memergoki ku yang tengah mengupingnya.
"Hei dek, ngapain kamu dibelakang pintu? Mau ngagetin aku 'ya?" Fauzan terlihat kaget walau berpura-pura sumringah, wajahnya terhempas badai dan dipaksa diberi pelangi.
"Perubahan wajah yang aneh" sindirku pelan.
Fauzan memburu perhatianku karna melihatku pergi menghindarinya, "Karna Aku seneng kamu udah ngak gengsi lagi, Biasanya kamu ngak mau nyambut aku." Bujuknya setengah manja.
"Heh" aku ngeloyor kemeja makan.
"Kok sewot gitu sih? Lapar 'ya kamu? ini aku udah bawain martabak sinar bulannya" Godanya berusaha menghiburku.
__ADS_1
Aku menghempas kursi, "aku ngak selera lagi! aku udah masak meski ngak masuk seleramu!" Ucapku dingin, Fauzan langsung duduk. menaruh kresek martabak dan meraih gelas susunya. Dia meminum dengan Senyum terus terulas.
"Tapi kayaknya kamu udah kenyang dapet telpon barusan" imbunku mengejutkan Fauzan, dia tersedak susu hangatnya Dengan wajah kacau.
"Kamu..... denger?" Tanyanya pelan nan terbata.
"Dengan teramat jelas bapak, Fauzan!" Jawabku terdengar sinis.
"Za.... aku...." bujuknya yang tak ku tanggapi.
Aku menolaknya Dengan pandangan cuek menunduk, kuaduk nasi didepanku walau tidak n*fsu. "Yaudah makan aja, kalo ngak doyan. Ya jangan dimakan" putusku gusar.
Aku menyendok daging ikan berbalut bumbu kuning ini, tidak enak. Sekarang hambar, kenapa sih hatiku ini? Kok rasanya aneh. Semacam sakit gitu, berdebar. Tapi, kecewa. Namanya apa ya?
"Kok sewot? Kenapa sih? Cemburu, ya?" Ganggunya polos.
"cemburu? aku aja ngak tau arti cemburu!" kilahku dingin.
"ya kayak kamu sekarang nih, manyun dan judes. Kamu ngak suka aku Nerima telpon dari Zia barusan 'kan?" bahasnya gamblang.
"menurut bapak Fauzan?" tudingku curam.
fauzan menahan tawa gemasnya, "aduh imut sekali sih mbak zhari kalau marah" Fauzan mencubit pipiku dengan tawa berderai.
"apaan sih! ngak tau ya kalau aku sedang kecewa!" semprot ku tak suka.
"kenapa sih, dek? gitu aja kok dibuat ribut. kamu dengar sendiri kan aku marah-marahin dia?" bujuknya melancarkan aksi.
Fauzan menyentuh tanganku, tapi aku menepisnya dengan kasar. pandangan tajamku menghakiminya, "bukannya gitu, yang dipermasalahkan kenapa kalian masih teleponan? jadi, dibelakangku kalian masih kaya gitu? masih hubungan juga kan?"
"jangan nuduh! aku ngak pernah nanggepi dia setelah kita dijodohin! dia aja yang ngebet" suara Fauzan sedikit meninggi.
aku tertawa sinis, "siapa yang jamin kamu jujur? ngak ada!" aku menunduk, mataku tak terarah.
"kalau aku macem-macem, Hp ngak akan tergeletak santai dimeja! pasti sudah kesembunyikan terus, logika. dek!" belanya dengan menunjuk kening.
"Kamu paling jago, muter balikan fakta. mainkan logika ku, kebodohan ku cuma satu! aku gampang percaya kamu!" putusku kesal sambil membanting lap makan.
"Kamu ngak percaya aku?" suara Fauzan meninggi, emosinya terpancing.
"aku ngak tau isi hatimu!" tudingku Alot, kami berhadap-hadapan dengan kacau.
karna tak kuasa melihat wajah menyakitkan nya, aku beringsut dari hadapannya. "dek, mau kemana?" tahan Fauzan memegang lenganku.
"ayo makan dulu" ajaknya.
aku menghempas tangannya kasar, "makan aja sendiri! aku ngak lapar!" tolakku.
aku beringsut masuk kamar, ini yang namanya cemburu? kok rasanya beda saat aku mencemburui Fauzan dengan khanza, padahal mereka hanya rekan bukan? aku merasa kecewa. tak percaya penjelasannya, mungkin saja Fauzan lengah. atau masih bermain api dibelakangku, bisa jadi mereka sering berhubungan selama ini. Tuhan, ampuni dosaku yang menuduh Fauzan bukan-bukan.
apa aku terlalu mudah menjatuhkan hatiku padanya?
tubuh kecewa ku terhempas kekasur, aku meringkuk dan memeluk guling. menatap tembok datar sambil menahan panasnya mata, air mulai menuruni lipatan mata dan membasahi bantal. aku menangis gara-gara hal sepele?! bukan aku banget!
jatuh cinta membuat ku berubah.
...Bersambung........
__ADS_1
hei readers.....
mohon maap author baru up, soalnya lagi banyak kegiatan di real life nya😥, mohon dukungannya ya geng. author juga lagi ngalamin kecewa nih🙇 kecewa karna beberapa masalah yang menyangkut perasaan. aduh malah curhat nih, yaudah mohon maaf sekali lagi ya geng🙏