
Mobilku masih terparkir didepan rumah mami Nanda, berharap salah satu anggota keluarga mau keluar rumah.
Benar saja, kulihat pintu gerbang dibuka. Tampak mobil warna putih - mobil yang biasa mbak Mila gunakan itu perlahan-lahan hendak keluar, hanya saja jalan nya terhalang mobilku.
Tinn...
Mbak mila terus membunyikan klakson nya, aku tak peduli. Aku harus bertemu istriku, aku harus tau keadaannya.
Akhirnya aku keluar mobil dan berjalan kearah gerbang, scurity rumah langsung menghadang ku. "Maaf pak Anda tidak boleh masuk" ucapnya.
"Ck" aku berdecak kesal.
Mbak mila keluar dari mobil dan menghampiriku, aku kira dia mau memperbolehkan ku masuk. Tapi alih-alih begitu, mbak Mila menampar wajahku dengan keras.
Aku shock dengan kelakuannya, "mbak?" Ucapku bingung.
"Dasar bejad kamu dek! Aku nggak percaya kamu kayak gitu, kamu udah nyakitin adik aku. Walau dia nyebelin, tapi aku tetap sayang sama dia. Jangan temui dia lagi! Cukup." Mbak mila mengusap air matanya.
Alih-alih sakit karna tamparan nya, aku malah sakit karna ucapannya. Bejad? Kenapa semua orang berkata aku bejad? Apa kesalahanku? Menyakiti zhari? Perasaan seumur hidup aku bareng dia, Nggak pernah aku nyakitin dia.
"Mbak ngomong apa? Apa salahku?!" Aku berusaha bertanya, ingin tahu hal apa yang membuat semua orang menjauhiku bahkan membenciku.
"Pikir sendiri!" Mbak mila mendorong kecil tubuhku dan masuk kedalam mobilnya lagi.
Karna gerbang sudah dibuka sepenuhnya dan mobilku hanya menghalangi setengah jalan, Akhirnya mobil mbak Mila berhasil keluar.
__ADS_1
Aku masih tertegun, berusaha berfikir apa kesalahanku? Karna gerbang sudah hampir ditutup lagi. Aku langsung masuk kedalam seperti orang kesetanan.
"Pak!" Scurity mengejarku.
Aku berhasil ditangkap scurity saat sudah sampai didepan pintu, "lepas!" Ucapku dingin padanya.
"Maaf pak, Anda tidak boleh masuk!" Bantah scurity.
"Zhari! Kamu didalam kan? Dek, jangan bikin aku khawatir. Kamu disini kan? Dek!" Teriakku sudah macam orang gila.
"Pak! Anda tidak boleh masuk" scurity masih berusaha menarikku.
"Dek, sumpah aku nggak tau alasan kalian membenciku. Percayalah aku khawatir dek," saat ini air mataku sudah ingin menetes lagi, hatiku rapuh. Hancur dan hampa, seperti tidak ada kehidupan didalamnya.
"Duh mami! Usir dia, aku nggak mau liat dia lagi..." suara zhari dari dalam membuat harapanku memuncak.
"Pak Anda harus keluar" scurity terus menarikku, tapi karna tenagaku sudah bertambah. Aku mendorong tubuhnya.
"Mami, buka pintunya mih! Aku mau liat istriku...." aku mulai menggedor-gedor pintu.
"Pergi aja kamu mas, anak mami nggak mau lagi sama kamu! Daripada makan Ati. Mending kamu pergi dari sini" suara mami Nanda semakin membuatku seperti orang gila.
"Mih buka pintunya! Apa salahku mih? Selesaikan Dengan kepala dingin, jangan pada main keroyokan" aku mulai gusar, lidahku berucap tanpa arah.
Hening, tidak ada lagi suara dari dalam. Bahkan scurity sudah pergi entah kemana, aku hanya berusaha meyakinkan mereka kalau aku tidak salah, ya tidak salah. Karna Aku pun tidak tahu kesalahanku apa.
__ADS_1
Karna beberapa usaha, mami Nanda akhirnya membuka pintu. Mata beliau tajam dengan gurat kekecewaan yang mendalam, aku tidak tahu akan ada drama apa lagi ini?
Aku langsung menyambar tangan beliau, aku menciuminya seperti orang gila. Ya saat ini aku memang gila.
"Mih jelasin, apa kesalahanku! Aku nggak tau kalian membenciku karena apa. Mih aku tersiksa....." mohonku.
"Mih keluargaku sendiri bahkan membenciku, apa salahku mih? Izinkan aku bertemu istriku! Please mih...." akhirnya air mata yang selama ini aku tahan, tumpah sudah.
"Anak mami nggak mau liat kamu lagi, mami juga nggak mau buat dia semakin sedih. Apapun itu alasannya, untuk sementara kamu berikan ruang untuk zhari sendirian. Jangan buat dia down, ingat mas. Dia lagi hamil anak kamu" jawab mami dengan memalingkan muka.
"Alasan apa mih? Aku aja nggak tau apa kesalahanku?!" Aku semakin bingung.
"Kamu enggak tau apa kesalahanmu mas?" Suara mami mulai meninggi, tanpa sadar aku melepas tangan beliau dan mundur selangkah.
"Mungkin kamu memang sengaja atau tidak sadar, intinya. Saat ini! Jangan dulu temui zhari, biarkan dia menikmati waktunya. Menikmati kesendiriannya, tolong renungkan mas!" Mami Nanda masuk dan langsung menutup pintu.
Aku tertegun, perlahan badanku ambruk seketika. Kakiku lemas, entah sekarang apalagi yang akan aku perjuangkan. Haruskah aku memberi ruang untuk istriku? Haruskah aku menyerah tanpa tahu alasannya? Tidak, dalam kamus hidupku. Tidak ada kata menyerah, benar. Jika aku harus dihajar papi Alfi bahkan mas Zidan, aku akan tetap memperjuangkan istriku. Bagaimana pun dia adalah separuh hidupku, dia napasku.
Namun, tidak ada gunanya aku berusaha untuk mengembalikan keadaan. Tenagaku tiba-tiba hilang semua, kakiku seperti jeli. Untuk menopang tubuh saja rasanya susah, haruskah awal tahun aku merasakan kehampaan yang luar biasa?
Yang ada difikiran ku hanya satu, apa kesalahanku? Semuanya seakan menghilang dariku. Aku merasa tidak memiliki apa-apa, uang? Itu hanya deretan angka yang tak mampu memberiku kebahagiaan.
Aku menghela napas panjang, dengan sedikit merangkak. Aku berhasil duduk dan bersender pada tiang rumah mami yang besar, aku akan menunggu. Menunggu semesta membelaku, agak sedih juga sebenarnya. Aku terlihat menyedihkan dengan penampilan acak-acakan.
Bahkan sekarang aku tidak memikirkan kesehatanku, pikiranku hanya dipenuhi istri dan anakku. Huft haruskah masalah rumah tangga melibatkan dua keluarga besar? Bahkan haruskah aku yang benar-benar disalahkan? Sepertinya agak menggelikan.
__ADS_1
...Bersambung.........
wah wah, sebenarnya babang fauzan selingkuh engga sih ges? ada yang bisa nebak?😌