
Aku mendekati nya, dia sekarang hanya diam. Tidak menjauh ataupun menolak, hanya saja tatapan matanya masih penuh dengan kebencian.
Saat sudah ada didepan matanya, aku membuka pakaianku. Ya ini memang gila, aku benar-benar gila jika terus melanjutkan kesalahpahaman.
"Mau apa? Mau nunjukin hasil karya simpananmu?" Tuduhnya lagi, aku tak menggubris.
Setelah pakaian atasku lepas, aku menarik tangannya. Menaruhnya untuk menyentuh dadaku yang bedebar kencang, "lihatlah dan rasakanlah, disini tidak ada nama yang terukir selain namamu" ucapku, aku semakin mencekal lengannya dengan erat saat merasakan dia ingin menarik tangannya.
"Dek, percayalah. Wanita yang kamu lihat di club waktu itu, bukan simpananku. Apalagi wanita yang tidur denganku, dia Irene. Anak Tante Laras, adiknya Arya sama Surya. Kamu tahukan dia? Dia yang masih Duduk dikelas 11, ya kalau kamu gak inget pun sama wajahnya. Kamu pasti inget kayak apa dia" jelasku berusaha memberinya pengertian.
Dia diam, tapi aku bisa merasakan tangannya yang kugenggam ini sedikit mendingan dan gemetar.
"Tadi malam, jam sebelas. Aku dapet telfon dari rekan kerja, katanya data kerja sama antar perusahaan sedang ada yang meretes. Karna Aku memiliki kemampuan di bidang IT, akhirnya aku menyanggupi untuk memperkuat sistem data perusahaan. Nah jam setengah dua belas, barulah aku pergi. Tanpa membangunkan atau menitipkanmu pesan, aku yakin kamu gak akan bangun. Dan aku juga yakin, aku hanya sebentar.
Tapi nyatanya pas aku pulang lewat club malam itu, aku liat Irene lagi nangis. Katanya habis dipaksa mabuk-mabukan sama pacarnya, karna tak tega dan khawatir masa depannya terancam. Aku berusaha menenangkan nya, setelah dia tenang. Irene memintaku untuk menghajar pacarnya, aku menyanggupi. Tidak ada salahnya juga kan? Tapi alih-alih menghajar pacarnya, Irene malah meluk aku. percayalah dek, aku tak segila itu. Aku tak akan segila yang kamu pikirkan, aku sudah memiliki bidadari semanis kamu. Sudah mau memiliki malaikat kecil yang akan mewarnai hariku nanti, malaikat kecil yang akan menyambutku pulang kerja. Malaikat kecil yang telah aku harapkan, aku tak akan segila itu. Apalagi kamu tahu 'kan aku yang sudah menantikan anak selama ini?" Aku menatapnya yang tengah menundukkan wajah.
Sekarang aku merasakan, tangannya menggenggam ku dengan erat. Bahunya sedikit tergoncang, pasti menangis? Tapi sekarang karna apa lagi? Aku benar-benar kurang peka.
"M-mas?" Dia mengangkat wajahnya.
"Ya?" Aku tersenyum kearahnya.
"Maafkan aku...... aku kira, aku kira kamu itu bejad" dia memelukku, aku balas memeluknya.
"Sstttt mami tidak pernah mengajariku untuk mencintai dua hati, apalagi menyakiti salah satunya demi membahagiakan yang lain. Aku pun memiliki prinsip hidup, aku hanya mau menikah dengan satu wanita sampai tutup usia. Dan Tuhan memberikan wanita yang akan menemani masa tuaku, adalah kamu. Tetaplah menetap dek, aku enggak akan pernah mematahkan hatimu. Aku mencintaimu bukan lagi untuk selamanya, tapi aku mencintaimu karna Allah. Anna uhibbuki fillah" aku mengecupi keningnya.
Dia mempererat pelukannya, "aku juga mencintaimu mas, jangan patahkan hatiku. Jangan tinggalkan aku, jangan pernah berpaling dari aku! Tetap bersamaku mas. Kamu adalah pangeran yang telah memberiku warna, maafkan atas semua keegoisan ku. Maafkan atas semua hal yang aku ucapkan." Air matanya luruh dengan deras, aku merasakan itu saat bahuku basah.
"Ya, aku pangeranmu dan kamu bidadariku. Lupakan semua permasalahan ini, sebentar lagi kita akan jadi orang tua. Aku yakin jika anak Kita nanti perempuan, dia akan secantik dirimu" aku melepaskan pelukan dan mulai menciumi Perutnya.
"Dan jika dia laki-laki, dia akan setampan dirimu mas" zhari mengelus pucuk kepalaku.
Lega, akhirnya kesalahpahaman ini selesai juga.
Aku berdiri dan menggendong nya ala bridal style, "lalu bagaimana dengan kompensasi ini?" Aku menaruhnya di ranjang.
__ADS_1
"Hmm tidak ada!" Jawabnya memalingkan muka.
"Hoh benarkah? Yakin? Enggak mau nih? Sekaligus ngecek gitu, ini dipake orang lain apa engga?" Godaku berusaha mencairkan suasana.
Dia melotot, "gak mau! Itu cuma omongan modus kamu aja kan? Ckck aku paham kok, nih rasain!" Zhari tiba-tiba mencubit Perutku, lagi-lagi perutku yang jadi korban.
"Auwhh iya iya! Ini modus, modus kok. Mau nengok anak aja nggak boleh ya? Gitu banget sih?" Gerutuku tak senang.
"Ihh ngeselin deh" dia duduk dan menekuk wajahnya.
"Aduh cantik banget sih, jadi makin pengen...." godaku merangkul bahunya.
"Emmm jangan dirumah mami" ucapnya malu, dia memalingkan muka.
"Terus? Yaudah ayok pulang, kayak gak punya rumah sendiri aja. Malu ihh udah gede masih ngadu ke orang tua" sindirku.
"ya ngadu ke siapa lagi? Mau pulang kemana lagi? Kalau bukan orang tua, ya siapa? Kamu kan tahu. Aku gak punya tabungan, kalo pake duit kamu. kamu tahu dong nanti aku nginep dimana, lagian aku juga gak mau pake duit kamu" jelasnya.
"Oh jadi gitu, yaudah nih tabunganku. Buat kamu semua, aku rela kok gak punya uang asal masih punya kamu" aku mengambil lima kartu atm dari dompetku.
"Ck gak usah gitu juga kali, aku juga mau beli apa. Semua nya kan sudah kamu penuhi, kartu yang kamu kasih aja. Baru dipake sekali." Dia mendorong kartu atmku.
"Yaudah dong, mandi gih. Muka kamu kucel gitu, nangis terus ya? Takut aku beneran selingkuh?" Godaku lagi.
"Apa sih? Emang itu candaan ya?" Dia menampek tanganku yang hendak mengelus kepalanya.
"Iya iya maafin aku, udah dong cepet mandi. Terus pulang kerumah, nggak bisa nahan nih" aku terus menggodanya.
"Ck" decaknya kesal, dia bangkit dan turun dari ranjang.
****
Jam empat sore, aku tengah menarik dua koper istriku dari lantai atas. Agak menggelikan sebenarnya, masalah sepele bisa jadi besar gara-gara salah paham.
Mas zidan datang, entah dia merasa bersalah atau gimana. "Biar aku bantuin dek, maaf ya aku lancang udah ngomong gitu ke kamu" ujarnya mengungkit pesan tadi pagi.
__ADS_1
"Gak papa mas" jawabku sambil tersenyum, aku menyerahkan satu koper padanya.
Setelah sampai dibawah, mbak Mila datang menghampiriku. Dilihat dari wajahnya, dia juga merasa bersalah Ckck. "Eh, dek. Maaf ya mbak udah lancang nampar kamu, mbak udah ngomong yang enggak-enggak." Ucapnya merasa bersalah.
"Ya namanya juga perempuan, udah biasa gitu mbak. Gausah dipikirin" jawabku sedikit malas, karna mbak Mila kali ini keterlaluan.
"Emmm yaudah deh, iya... hati-hati dijalan nya" dia pergi setelah melambaikan tangan.
Zhari turun dan menghampiriku, wajahnya tampak celingukan. "Nyari apa?" Tanyaku.
"Mami sama papi mana ya mas? Mau pamit" matanya menatap mas Zidan.
"Dikamar kayaknya, kalian beneran gak nginep ya?" Mas Zidan sedikit merasa aneh.
"Enggak katanya terlanjur malu" aku melirik istriku.
"Oh yaudah, pamit sana. Biar mas yang naro kopernya" mas zidan mulai menarik dua koper zhari.
Kami berdua pergi kekamar mami yang ada dilantai bawah, mengetuk sekali dan langsung disambut wajah lelah papi.
"Mau pamit?" Tanya papi sambil mengusap wajahnya.
"Iya pih, Riri mau pulang. Papi sehat-sehat ya, kalo emang lelah jangan maksa bantuin mas Zidan?" pesan zhari yang tak di iyakan atau di tidakkan oleh papi.
"Lain kali, kalo punya kesalahpahaman. Dibicarakan dulu nduk, jangan kayak gini lagi. Semuanya harus dengan kepala dingin, kamu enggak mau 'kan rumah tanggamu hancur?" Mami memberikan kami wejangan.
"Mmm iya mih, kan Riri terbawa emosi" Zhari menundukan kepalanya.
"Yaudah, hati-hati dijalan nya. Jangan lupa minum vitamin dari dokter, jangan sering bolak-balik tangga. Kalo perlu, kalian pindah aja kamarnya dibawah. Semakin hari, kandungan Riri makin besar. Nanti ada apa-apa lagi sama cucu mami, udah jangan stres-stres dek!" Mami memeluk anaknya dengan lembut.
"Jaga pernikahan kalian sampai tutup usia, godaan pernikahan lebih berat daripada godaan sebelum menikah" papi menepuk pundakku.
"Iya pih" aku hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah itu kami mencium tangan mereka dan pamit pergi dari rumah, sedikit kebahagiaan menyinari hatiku lagi. Semuanya sudah normal, istriku sudah tidak berprasangka buruk lagi. Lagipula aku tak akan segila itu, mencintai dua hati dalam satu waktu? Hanya bisa aku lakukan pada mami dan istriku. Untuk wanita lain, Tidak ada tempat!
__ADS_1
...Bersambung.........
akhirnya kesalahpahaman mereka selesai sudahđ, Mon maaf ya man teman. author lama up nya, soalnya banyak kegiatan. biasalah mau akhir tahun wkwk. jangan lupa tinggalkan jejak like nya ya, thanks youâ¤