Summer Love

Summer Love
Ch 67. Malam bersama debur ombak


__ADS_3

Suara deburan ombak yang merdu disertai angin malam yang dingin menyapu wajahku dengan halus.


Mataku terkejap dengan bayang-bayang Fauzan menari-nari di benakku.


Ini.... dimana? Batinku agak aneh saat melihat hamparan laut lepas tengah ada didepanku lewat pintu balkon kamar hotel yang terbuka, sepertinya, sebab aku tak ingat apa yang terjadi tadi siang.


lebih-lebih saat kurasakan baju batik dan celana hitam panjang yang kukenakan tadi siang sudah berganti menjadi celana pendek dengan baju pantai.


aku menggelengkan kepala beberapa kali, berharap ini hanya mimpi. di gelapnya kamar hotel yang pekat, dan hembusan angin dingin yang masuk menerobos pintu balkon hotel, aku hanya sendirian, mungkin suara merdu dari deburan ombak adalah temanku saat ini.


tiba-tiba rasa takut menyerang ku, aku baru sadar kalau pencahayaan terbatas. hanya gordeng putih yang tertiup angin lah yang membuatku bisa melihat hamparan laut didepan.


aku masuk dibawah selimut, berusaha mengingat dan mengsugesti diri bahwa ini hanya mimpi. benar, mungkin karna pikiran aneh tentang fauzan aku bisa bermimpi seseram ini.


Namun, tak ada artinya aku mengsugesti diri bahwa ini mimpi. tatkala kudengar suara pintu dibuka, dibarengi dengan langkah kaki seseorang.


ya Tuhan...


semoga aku baik-baik saja.


ceklek...


suara saklar yang diiringi dengan menyalanya lampu, membuatku semakin berdiam diri dan menahan napas.


"Ck perasaan udah ditutup" decak seseorang sebelum menutup pintu balkon.


aku mengeluarkan kepala dan menatap laki-laki didepanku, dia tertegun sebelum wajah begonya itu dirubah menjadi senyuman manis.


"sayang kamu udah bangun?" Fauzan menghampiri ku.


"Ko nggak di kenyataan, nggak dimimpi sih? aku ketemu dia terus!" ucapku dengan kesal, entah aku masih menganggap ini mimpi atau memang nyata.


"ini nyata sayang..... kita lagi ada di Magelang" Fauzan duduk disampingku dan merengkuh tubuhku agar mau dipeluk.


"mas, ini cuma mimpi kan! mana mungkin aku yang tidur bisa pergi kesini? aneh" gerutuku bingung.


"bisa dong, tadi siang kan kamu aku bius" kekehnya.


"bius? bius apa?" otak pintar ku tiba-tiba lemot, aku semakin penasaran kenapa aku bisa ada di Magelang?

__ADS_1


"iya dibius!" tekannya sabar.


aku mendorong tubuh tebapnya dan menatapnya dalam, aku menyentuh leherku dengan perasaan aneh. setelah itu aku membuka setengah bajuku dan melihat ada cup*ng di kedua dadaku.


"dasar! Kamu bius aku, terus ngelakuin itu ha?!" aku melempar bantal kearahnya.


"duh nggak dong, masa aku mau ngelakuin itu? iya aku ngaku. tadi aku main-main sama dada dan leher kamu, cuma nggak sampe bawah aja!" bantahnya.


Aku terdiam dan memijat kening yang pening, "mas, mau kamu apa sih? bisa-bisanya kamu bawa aku kesini? dalam keadaan aku dibius lagi!" kesalku gusar.


"aku mau honeymoon sayang, dua harian kita dimagelang. terus kita ke solo, dan baru kepalembang" celotehnya.


"kok gitu?" aku cemberut.


"terus maunya apa? ke Papua sekalian?" dia mencubit pipiku gemas.


"ya enggak lah! aku kesel aja kenapa kamu gitu?" aku melengos dan memainkan jari jemari ku.


"gitu gimana?"


"ya kenapa kamu nggak ngajak aku kepalembang nya pas tadi siang? sekarang malah disuruh nunggu 2 atau 5 harian kayaknya" jelasku masih dengan perasaan sebal.


aku menghempas tangannya kasar, "nggak mau!" tolakku keukeh.


"aduh.... dek jangan ngidam aneh-aneh lagi dong, kasihanilah Dady mu ini. liat tuh mommy cemberut terus." Fauzan membalik badanku agar menatapnya, dia mendekatkan wajahnya kearah perutku.


"nyesel nggak bikin aku hamil?" tanyaku dengan bibir mengerucut.


"nyesel buanget! tapi nggak papa, seenggaknya aku punya aset yang lebih berharga" dia mencium bibir mengerucut ku.


aku mengusap bibirku kasar, "sana! Kalo mau kelaut sendirian aja, kalau perlu malam-malam renang disana" aku mulai gusar, hormon kehamilan yang berubah-ubah membuatku hanya bisa merajuk.


"mau kamu apa? hm, coba ceritain Za. jangan bikin aku uring-uringan" Fauzan memelukku dan menghujaniku dengan ciuman bertubi-tubi.


air mataku luluh, entah perasaan apalagi yang aku rasakan sekarang. jadi rasanya Hamil itu kayak gini ya? "jangan pernah berfikir meninggalkan aku mas!" lirihku.


"ya enggaklah Za, kamu hanya satu-satunya wanita yang menjadi istriku" jawabnya berusaha menenangkan ku.


"tapi..... kenapa kamu nggak nurutin aku! aku kan pengen pempek, itu udah lama pengennya. dari pas selamatan 1000 harinya kek selamet" aku menggebuk kecil punggungnya.

__ADS_1


dia meringis, "kenapa nggak jujur?" tanyanya.


"Kamu kan kecewa sama aku! ya aku malu kalo minta sama kamu, hiks...." akhirnya semua hal yang aku sembunyikan, terungkap sudah.


"yaudah, sttt.... nanti mau apa? maafin aku, aku usahain beliin makanan yang kamu sukai. jangan nangis gini dong dek, cantiknya ilang" godanya berusaha membuat ku tersenyum.


"hiks..... hiks.... jangan abaikan aku mas!" aku mengeratkan pelukan kami.


"ssttt, disini sepi. sok kamu mau teriak-teriak juga boleh, cuma suara ombak kok yang bakal denger" Fauzan masih berusaha menenangkan ku.


"mau ke pantai...." ucapku manja setelah beberapa menit hening.


"yaudah ayok kebawah, kamu mau aku gendong apa jalan sendiri? kita ada dilantai tiga" tawarnya.


"gendong" aku melepas pelukan dan menatapnya dengan manja.


"hemm manjanya ibu guru" Fauzan tersenyum dan segera menggendong tubuhku ala bridal style.


saat sampai dibawah, kami berdua langsung menuju ke pantai. Jam masih menunjukkan pukul 19.48 wita (waktu Indonesia bagian tengah).


kami berdua menyelusuri jalan di sepanjang pantai, menikmati kebersamaan di gelapnya malam yang berpadu debur ombak merdu. terkadang pikiran takut melintas di benakku, akankah kebersamaan kami sampai tutup usia? mas ozan kamu cinta pertamaku. kamu anugerah terindah yang tuhan berikan padaku, kamu manusia yang paling membuat ketertarikan ku terusik.


aku sangat mencintaimu mas!


setengah jam berlalu, aku mulai lelah. apalagi dari tadi siang aku belum makan, akhirnya Fauzan membawaku ke resto dan menyuruhku makan sebanyak-banyaknya.


"mas terimakasih...." ucapku padanya setelah makan malam selesai.


"ya?" fauzan menatapku bingung.


aku tersenyum bodoh kearahnya, "makasih udah bawa aku kesini, ya walaupun dengan cara salah" jawabku berusaha menyembunyikan niat awal, agak malu juga kalo aku berkata 'i do love you' untuk yang kedua kalinya.


"santai dek, ini emang kewajiban ku memberimu kebahagiaan materi dan waktu. Udah yuk kamu nggak dingin?" dia menggandeng tanganku, memberikan kehangatan pada cela-cela jemariku.


"iya mas!" balasku tersenyum manis kearahnya.


hari ini bukan hanya ngidamku yang tidak terkabulkan, tapi hari ini juga adalah hari dimana untuk kedua kalinya aku dibawa Fauzan dengan cara yang salah.


Oke baiklah, intinya hatiku bahagia. mencintai Fauzan seperti candu bagiku, entah sudah berapa kali aku jatuh dipelukannya.

__ADS_1


...Bersambung........


__ADS_2