Summer Love

Summer Love
Ch 34. Memasak untuknya


__ADS_3

Keesokan paginya saat aku membuka mataku, aku dikagetkan dengan wajah tampan seseorang, ya siapa lagi kalau bukan pria yang kunikahi kemarin.


Wajah tampan nya itu sedang mendekati wajahku, jarak wajah kami hanya beberapa centi. Aku menahan napas sambil sesekali berfikir apakah ini mimpi?


"Selamat pagi sayang..." ucap Fauzan dengan mesra sembari tersenyum kearahku.


Aku semakin menahan napas dengan ucapan mesranya, sial! Pagi-pagi hatiku sudah dibuat teraduk-aduk!


"Menjauh!" Teriakku gemetar dan mendorong dadanya.


Lantas aku terduduk dan mundur, hingga badanku mentok dikepala ranjang.


"Mandi lah, sebentar lagi subuh" ucapnya dan beranjak dari ranjang.


Aku hanya bergeming, tak mengangguk ataupun mengiyakan. Jadi? Selama aku tidur dia memperhatikan ku? Sit! Benarkah?


Akhirnya Tampa pikir panjang aku turun dan pergi mengambil pakaian ku dilemari. Sembari mataku tak luput melirik Fauzan yang terus memperhatikan gerak-gerik ku dari sofa.


Selesai mandi aku mengambil mukenah dan kami sholat subuh berjamaah.


"Cium tangan!" Ucap Fauzan saat kami sudah selesai melaksanakan sholat subuh.


"Ngak mau!" Tolakku keras dan melepaskan mukenah.


"Dek! Kamu tuh harus cium tangan suami!" Nasihat nya sembari tangan kekar itu dia sodorkan kearahku.


"Plak" aku menepuk tangan Fauzan keras dan menariknya untuk aku cium.


Lantas apa yang lelaki itu lakukan? Dia mendekat kearahku dan mencium kening ku, aku mematung dengan seribu ekspresi.


 ***


"Huh kenapa sih harus pindahnya sekarang? Lagian aku gak berani sendirian!" Ucapku pada mami saat keluarga besarku dan Fauzan menggiringku kedalam rumah berlantai dua, yang mereka bilang itu adalah hadiah pernikahan kami!


"Ada bi iyem juga kok dek! Kamu gak bakal sendirian. Lagipula mas Ozan cuma 2 hari kok disingapur nya" jawab mami yang masih memegang tanganku untuk masuk kedalam rumah ini.


"Kasian nganten baru harus pisah dulu!" Goda mami Lia sembari mata nakalnya itu menatapku dan Fauzan bergantian.


"Apa sih mih?" Jawab Fauzan kesal.


"Yaudah kalo barang-barang kalian udah ditaro dikamar. Mending kita cepet kebandaranya, takut mas Ozan sama mas firman telat" pecah papi Hendrik seraya melihat arlojinya.


"Yaudah ayo berangkat...." Fauzan mendekat kearahku dan mengaitkan lengannya didalam lenganku.


"Pake mobil siapa?" Tanya Fauzan saat kami berdua sudah berdiri disamping mobil Fauzan.

__ADS_1


"Kami pake mobil sendiri aja, mas Ozan sama dek zhari berdua" usul papi Hendrik yang mau tak mau kami setujui.


Dalam perjalanan aku hanya diam seribu pikiran, rasanya bahagia sih ditinggal Fauzan. Tapi kok aneh, disaat menjadi pengantin baru. Suamiku - Fauzan malah meninggalkanku, hatiku makin kacau saja saat suara Fauzan menusuk lamunanku.


"Kau bahagia?" Tanyanya tanpa melihatku.


"Untuk?" Aku menoleh dan mengangkat alis.


"Ditinggal diriku?" Jawabnya dengan cuek.


"Biasa aja tuh, gak bahagia gak sedih juga" bohongku dengan menatap jalanan kembali.


"Oh yaudah nih" dia menyodorkan kartu kearahku.


Aku menatap kartu itu dengan aneh, dan memiringkan kepala, "gak mau!" Tolakku.


"Dek! Ayolah terima oke? Biarkan pernikahan ini berjalan sewajarnya dek!" Nasihat nya dengan mesra.


"Ngak mas! Gak mau!" Tolakku masih keukuh.


"Za! Aku gak habis pikir sama pikiran mu, yaudah kalo kamu gak mau pake uang dikartu ini. Setidaknya kamu terima saja! Syukur-syukur kamu bisa menggunakan uang ini, ayolah kalau mami tau aku gak kasih kamu nafkah. Bisa habis aku!" Jelasnya panjang lebar.


Aku tercenung sebentar, "okay, tapi ini cuma tipuan mami kan?" Jawabku mengambil kartu itu.


 ***


"Inget ya jangan lupa makan, jangan stres. Kalo sepi pergi aja kerumah mbak lili, atau mami" ucap Fauzan sembari mengelus pucuk kepalaku saat kami sudah sampai dibandara.


Aku menatap matanya dengan lembut, "iya mas hati-hati dijalannya. Kabarin kalau udah sampe" jawabku penuh dengan cinta walau hati ini sudah muak.


"Iya, jaga kesehatan ya dek! Mas cuma dua hari kok disingapur nya" dia mencium kening ku Dengan penuh cinta.


"Uh nganten baru udah mesra-mesraan aja!" Pecah mami Lia yang selalu usil akan hubungan kami.


Kami tak menghiraukan nya, malah kami berpelukan dengan penuh cinta walau hati entah kemana.


Aku mencium tangan lelaki ini dan melambaikan tanganku saat dia dan mas firman menghilang dari pandangan, mereka tak tahu saja kalau kami hanya sedang berakting!


"Cie.... udah malam pertama belum sih kalian? Kelihatannya ekhem" mami menyenggol lenganku dengan gemas.


Aku memincingkan mataku sedikit kesal, "si ngebet pengen punya cucu gak sabar bener ya!" Sindirku pada beliau.


"Kamu bisa aja dek! Yaudah biar mobil mas Ozan dibawa papi Hendrik aja, kamu gabung sama mami" ajaknya yang hanya kuangguki kecil.


 ***

__ADS_1


Dua hari telah berlalu, harusnya hari ini Fauzan pulang kerumah. Entah jam berapa intinya hatiku merasa tak karuan, apalagi saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 17.26, ditambah suasana rumah ini yang teramat sepi membuatku makin tak nyaman saja.


Lamunanku terbuyarkan saat bi iyem - pembantu rumah menghampiri diriku, "bu buat makan malam mau dimasakin apa?" Tanya beliau lembut.


Aku menoleh dan tersenyum, "gak usah bi, biar aku aja yang masak. Hari ini kan mas Ozan pulang" jawabku setengah hati.


"Oh yaudah Bu, nanti kalau ada apa-apa panggil bibi aja ya? Atau panggil Eva sama Ema" ucapnya yang hanya kuangguki kecil.


Aku menaiki tangga dan masuk ke kamarku, mengambil ikat rambut dan duduk didepan meja rias. Sembari menatap wajah ini didepan cermin.


'kenapa hatiku tak karuan sih? Duh aku lupa lagi si bi iyem kan pembantu yang dipekerjakan mami! Kalau bi iyem jadi mata-mata mami gimana? Mana lagi barang-barang Fauzan masih di kamarku! Kalau tau gini mending gak usah punya pembantu! Duh buat apa dong kontrak pernikahan kalau jadinya tetep seranjang?' fikirku penuh frustrasi.


Hatiku makin tak karuan saat deringan ponsel menghenyak ku sedikit.


Aku mengambil benda itu dan menatapnya lama, lama sekali... sampai deringan itu menjadi panggilan 3 kali.


Aku mengangkat nya saat panggilan keempat, "ya halo!" Jawabku cuek.


"Dek kamu lagi apa? Baik-baik aja kan?" Suara Fauzan terdengar khawatir.


"Apa urusanmu?" Aku berpura-pura tak ingin diperhatikan kendati hati ini teramat senang.


"Dek! Aku udah mau landing nih, jaga diri baik-baik sampe aku pulang oke?" Jawabnya.


"Hmm" aku mematikan panggilan ini sepihak, gak guna juga menunggu kedatangan nya walaupun aku sudah berencana memasak makanan untuk nya.


Aku mengikat rambutku, lantas aku berjalan turun kedapur. Memakai celemek dan Mengambil bahan-bahan didalam kulkas, rencananya aku ingin memasak makanan kesukaan fauzan. Entah rasanya ingin saja aku memasak makanan kesukaan dia.


Sekitar satu jam lima belas menitan aku selesai memasak, makanannya gak banyak juga kok. Kesukaan si rese itu teramat gampang, dia hanya menyukai sambel goreng Ati, pesmol ikan, gudeg nangka, pepes ikan mas dan udang asam manis.


Aku menatap makanan itu dengan penuh kebanggaan, berbangga lah sama diri sendiri yang sudah bisa memasak beberapa macam masakan. Walaupun gak banyak juga yang kubisa.


"Wah beruntung nya bapak bisa nikah sama ibu, masakan nya harum banget" ucap Ema - pembantu kedua rumah ini.


"Eh bisa aja kamu em" aku melambaikan tangan kearahnya, malu betul kalau dibilang pinter. Padahal aku aja masih banyak kekurangan.


"Ah ibu suka merendah" Ema tersenyum dan berjalan kearah wastafel. Wanita berumur 35 itu mulai mencuci alat-alat masak yang telah aku gunakan tadi.


"Aku mandi dulu ya em, awas jaga-jaga kalo ada kucing" titahku sebelum aku berdiri dari dudukku.


"Siap Bu!" Ema membalik badan dan mengangkat satu tangan nya didepan kening, seperti gerakan hormat saat upacara.


"Iya" aku hanya tersenyum dan pergi begitu saja, hatiku yang tak karuan tadi menjadi sedikit berbunga. Entah akupun tak tahu, mungkin ini efek dari memasak bukan? Atau... ini efek dari memasak makanan untuk Fauzan? Entahlah yang penting hatiku sedikit tenang.


...Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2