Summer Love

Summer Love
Ch 42. Rasanya ya gitu


__ADS_3

Tri Azhari POV


Jadi begitu ya rasanya malam pertama? Awalnya bagiku itu menyakitkan, aku merasa ada hal yang hilang dalam diriku. Tapi saat ku ulang lagi seperti siang kemarin ternyata semuanya tak harus disesalkan. Toh aku juga sebenarnya menikmati hal itu!


Selesai bercinta aku menutup wajahku dengan selimut, bukan mau menangis seperti waktu pertama kali melakukan nya. Hanya saja aku merasa malu, gengsi woy!


"Za kamu nyesel lagi?" Terdengar suara serak Fauzan yang seketika membuatku membuka selimut.


"Ngak mas, aku capek!" Ucapku sambil tersenyum, jujur aku gak tega juga kalau ngeliat Fauzan selalu mengalah dan malah membenci dirinya sendiri.


"Oh yaudah istirahat, aku mau mandi dulu. Terimakasih ya, i Love You" Fauzan mencium keningku, mengambil celana boxer nya dan memakainya.


Aku hanya diam dan masuk kedalam selimut, mau langsung mandi. Tapi, rasanya mager.


***


Keesokan harinya seperti biasa, sebelum Fauzan pergi kekantor. Pria itu mengantarku dahulu, aku menatapnya sebelum keluar dari mobil.


Dia menatapku balik, "kenapa?" Tanya Fauzan aneh.


"Bisa gak biarin aku pergi sendiri? Aku mau naik motor mas! Gak enak juga sering dianter jemput, please... aku juga pengen mandiri" aku memelas.


"Ngak! Kamu gak boleh naik motor sendiri atau pergi kesekolah sendiri! Ingat kontrak pasal 7!" Jawab Fauzan tegas.


"Persetan Dengan kontrak! Kamu aja udah ngelanggar!" Aku melempar powerbang kearahnya.


"Au" dia meringis sembari memegang bahunya.


"Za... ayolah sampe kapan kamu marah-marah terus?" Fauzan mencekal lenganku.


Sudah biasa kami debat didepan sekolah, aku menatapnya dengan gemas. "Sampe aku diberi kebebasan bapak Fauzan yang terhormat! Sampai.... ah persetan kontrak! Kamu udah ngelanggar satu kali! Gantian aku juga bisa!" Kesalku.


"Aku emang ngelanggar, tapi itu ketidaksengajaan Za!" Bantah Fauzan.


"Iya! Ketidaksengajaan! Kerja sama bareng kanzha juga ketidaksengajaan ya?" Aku mulai mengajak debat sengit.


"Please! Kita bakal makan apa kalau aku aja gak bisa ngurus perusahaan papi?" Fauzan menatapku serius.


"Atau kita makan pakai gaji guru kamu?" Tambahnya.


"Ya enggak lah! gunain skil kamu yang lainnya juga bisa! Apa susahnya! Kamu aja pinter dalam bidang sejarah, yaudah jadi guru!" Saranku malas.


"Oh rupanya ibu Azhari yang tercantik ini pengen suaminya jadi guru ya? Biar bisa berangkat - pulang bareng?" Pepet Fauzan.


Aku diam, sial! Senjata makan tuan!


"Ngak!" Bantahku dingin.


"Ayo ngaku.... ngaku..." Fauzan mendekat kearahku, aku hanya menatapnya tajam.


"Gemesin loh muka kamu kalo ngambek, bener deh" dia mencubit kedua pipiku.

__ADS_1


"Au" aku menampek tangannya, "gantian nih!" Ucapku sebelum mencubit perutnya.


"Au.... ampun" rintih Fauzan.


"Nah bapak Fauzan juga kalau lagi sakit begini bikin aku gemes" ucapku girang sambil mengelus pipinya dan keluar dari mobil.


Aku keluar mobil sambil terkikik sendiri, agak lucu sih bersikap macam anak-anak. Tapi entah hari ini hatiku bahagia, apa benar aku sudah menerimanya? Sudah mencintainya? Entahlah aku masih bimbang.


Aku mulai memasuki gerbang sekolah, terlihat Laila tengah menghampiri ku. Aku tau apa yang bakal diomongin satu anak ini.


"Za Lo berangkat bareng suami Lo?" Tanyanya.


Aku menatapnya malas, "please semenjak kapan Lo manggil Fauzan suami gue? Panggil Fauzan aja kali, kita aja dulu satu kelas, satu alumni juga" jawabku.


"Ehhe ya gimana ya, lagian dia udah jadi suami Lo. Kalo ngomong nya suami gue kan gak mungkin ya?" Dia nyengir kuda.


Aku melotot, "ya jelas gak mungkin! Yang dia nikahi kan aku!" Ucapku ngegas.


"Loh kok marah? Kamu cemburu? Masa sih?" Laila menatapku dengan aneh.


"Ng-ngak tuh!" Bantahku cepat.


"Masa sih? Gak percaya aku! Si bidadari biru udah percaya cinta? Kamu udah cinta dia?!" Laila semakin menatapku intens.


Aku merasa risih, "bisa gak jangan kaya gitu?" Ucapku tanpa daya.


"Ngak! Aku jadi kepo sebenarnya eum kalian tuh, udah...." aku menutup mulutnya dengan gemas, kan pembicaraan nya merajuk kesana lagi.


"Eumm...." ronta Laila.


Aku melepas tanganku di mulutnya dan tersenyum aneh kearah laila, "gila! Pantes aja dulu Fauzan ngatain Lo psikopat! Lo gila ya? Gue hampir gak bisa napas!" Ucapnya terengah-engah.


"Loh napas kan lewat hidung? Masa sih gak bisa napas?" Aku tersenyum lebar dan mencubit pipi Laila.


"Arghh!" Teriak Laila tertahan, karna malu sudah ada beberapa murid yang masuk kedalam sekolah.


***


Drtt..


Drtt...


Ponsel yang bergetar membuatku mau tak mau mengambilnya, terlihat nomor tanpa id memanggil. Aku mengernyit, nomor siapa kah ini? Apa Fauzan? Walau kami udah nikah Hampir dua Minggu, aku gak pernah nyimpen nomor Fauzan semenjak tau perjodohan aneh ini! Lebih tepatnya semenjak lima setengah tahun lalu.


Lagipula Fauzan sering gonta-ganti nomor, yang makin membuatku malas untuk menyimpan nya.


"Siapa?" Tanya Laila menatapku bingung, sambil guru itu masih meminum es bobanya.


"Hallo.." ucapku lembut setelah mengangkat panggilan.


"Za nanti kamu pulang dijemput Jhony ya? Soalnya jadwalku padet" suara Fauzan terdengar, kan ini nomor suami rese ku!

__ADS_1


Aku menggaruk pelipisku dengan pusing, "udah aku bilang kan, aku mau berangkat pake motor sendiri! Jadinya ngerepotin


Jhony!" Omelku.


"Ya kan aku takut kamu nanti kecapean! Kalo kecelakaan gimana? Inget loh kita itu udah melakukan penukaran benih, kalo kamu hamil gimana?" Ucapan Fauzan kali ini langsung membuat punggungku menegang.


"Bisa gak jangan bahas itu?" Wajahku berubah 180 derajat.


"Iya iya, aku udah Ngomong sama Jhony nya! Nanti kamu tinggal tunggu aja, I love you my dear... bye i miss you!" Ucap Fauzan mesra sambil menutup panggilan.


Aku menaruh ponsel malas, dan memainkan sedotan es bobaku. Tanpa sadar ada seseorang yang tengah menatapku usil.


"Heh Lo udah ngelakuin itu?" Tanya Laila tiba-tiba.


Aku terhenyak kaget dan mendapati anak itu tengah duduk disampingku sambil matanya menatapku penasaran, sial! Aku gak sadar kalo dia pindah duduk disampingku!


"Ngak!" Bantahku.


"Ayo ngaku! Disini sepi kok" Laila celingukan.


"Ngak la!" Bantahku memelan, wajah pun sudah bersemi merah. Teringat b*k*ng sintal Fauzan yang pernah kuremas, sial! Aku mulai amoral!


"Ayo ngaku kamu! Kalo belum ngelakuin kenapa wajah kamu merah?" Laila menyenggol lenganku.


"Eng-enggak la! Fauzan cuma lagi becanda, biasa dia kan rese" alibiku sambil menyelusupkan anak rambut ditelinga.


"Heh gue tau Lo bohong, ayo ngaku! Jangan buat gue penasaran Za! gimana sih rasanya?" Laila terus menyenggol-nyenggol lenganku.


"Ck! Ya gitu rasanya!" Celposku pada akhirnya.


"Gitu gimana?" Laila mendekati wajahku dengan penasaran.


"Duh kok Lo jadi kotor gitu sih? Yaudah sana sikat aja pak agus. Nanti tau juga kok gimana rasanya, lagipula pak Agus masih muda loh"


"Wah jadi bener nih Lo udah cinta sama dia? Gimana sih rasanya! Ayolah gue mau tau, bisik-bisik aja... disini sepi, gak ada murid kok" Laila kembali celingukan.


"Rasanya ya gitu la! Gak bisa diucapin kata-kata!" Kesalku sambil mengerucutkan bibir.


"Duh kok ibu zhari yang penyabar ini jadi judes si sama gue? Mana sih zhari yang dulu?" Goda Laila.


Aku menatapnya kesal, "penyabar pala lu la! Dari dulu gue emang judes" sergahku.


"Ayolah gimana gitu, nikmat? Apa sakit? Katanya ya pas pertama tuh sakit, bener gak sih?" Wajah Laila terlihat serius.


"Gimana ya, dibilang nikmat sih Nikmat tapi bener sakit juga" jujurku malu sambil berdiri hendak pergi dari kantin.


"Za..." teriak Laila.


"17 menit lagi aku ada kelas" teriakku sebelum benar-benar menghilang dari hadapannya.


...Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2