
Aku masih diam membisu dengan seribu pikiran liarku, haruskah aku melakukan cara bunuh diri agar diri ini bebas? Tapi.... aku takut juga sih, takut jika semua orang tak ada yang mencegahku, dan membuatku malah ragu akan bunuh diri.
"Nanti kita bicarakan dirumah" putus papi Hendrik setelah beberapa kali dia menghela nafas.
Aku diseret dua pria ini dan aku tak menolak, hari ini keputusan harus Keluar dari bibir mereka! Ya jika aku tak bisa pergi dari perjodohan ini maka setidaknya aku bisa menikah diusia 24 tahunan!
Kami semua kembali kerumah Fauzan dengan menggunakan dua mobil.
Saat sampai dipelataran rumah Fauzan, aku diseret kembali sama mas Zidan. Gak ngerti sama jalan pikiran semua orang, aku merasa seperti tahanan.
Aku didudukkan disalah satu sofa tunggal, membuat diri ini semakin merasa seperti akan disidang.
"Dek kami bukannya memak......" ucapan papi Hendrik langsung aku potong.
"Maaf sebelumnya, mau itu kalian anggap pemaksaan atau bukan. Aku tetap tak ingin menikah muda! Tak ingin punya anak diusia muda! Dan aku belum siapa akan tugas-tugas seorang istri!" Tegasku lugas.
"Jadi apa yang kamu inginkan?" Tanya Mamiku menatapku Dengan kekecewaan.
"Aku ingin perjodohan ini batalkan saja! Aku ingin mengejar impianku, karier ku dan mengejar semua hal yang mampu membuatku bahagia" aku tersenyum tipis.
"Membatalkan perjodohan sama saja membatalkan keparis" ucap papiku sembari menatapku dengan serius.
Aku merasa hatiku semakin sakit saat sang papi mengucapkan kalimat itu, lantas aku hanya diam membisu memikirkan jawaban apa yang membuatku membatalkan perjodohan ini 'tanpa' harus membatalkan liburan ku keparis?
__ADS_1
"Aku....." ucapanku terpotong oleh suara Fauzan yang tengah turun dari lantai atas. Oh pantes saja aku tak melihatnya disini, ternyata dia sedang ada diatas?
"Zhari masih bisa keparis tanpa uang dari papi juga" ucapnya seraya memasukkan tangan kirinya kedalam saku celananya.
Hah?
Aku tertegun akan ucapannya, apa.... maksudnya? Aku kurang faham!
Semua orang menoleh kearah Fauzan yang tengah santai berjalan kearah kami, duduk disalah satu sofa dan menyilangkan kakinya, sepertinya dia juga kehilangan akal kali ya? Sampe bersikap macam gitu didepan Banyak sepuh!
"Ngomong apa sih mas?" Tanya mami Lia sembari menatap sang bungsu dengan bingung.
"Yah anggap saja, perjodohan ini batal. Dan aku yang akan membawa zhari keparis, lagian aku juga punya banyak tabungan. Well kita impas" jawabnya santai sembari menenggak susu anget itu dengan khidmat.
"Ngomong apa kamu mas?! Jangan sembrono!" Pungkas papi hendrik dengan matanya yang tajam menatap sang bungsu.
Tiba-tiba tanganku mulai dingin lagi, darahku mendidih kaku karna takut pilihan Fauzan itu memposisikan diriku pada hal yang sulit, alih-alih membantu.
"Pilihan macam apa?" Tanya mas Zidan yang tampaknya sejak tadi tak sabaran.
"Yah pilihan pertama adalah batalkan perjodohan ini dan bawa zhari liburan keparis. Atau......." dia menjeda kata-katanya membuat kami semua menoleh termasuk diriku.
Huh pilihan pertama menempati ku pada posisi benar, tapi pilihan kedua.... apa? Hatiku masih dibuat was-was.
__ADS_1
"Pilihan kedua kalian batalkan pernikahan muda ini dan menganggap perjodohan kami masih berlangsung, kalian pun diharuskan membawa zhari liburan keparis. Seperti janji papi alfy sebelum perjodohan ini dimulai, dan satu lagi selagi perjodohan ini masih belum terputus, kalian tidak akan pernah bisa memaksa kami untuk menikah sebelum kami sampai pada titik impian kami! Atau sebelum kami siap akan dunia pernikahan" Tegasnya yang membuatku sedikit lega, walaupun kenyataannya harus tetap menikah Dengan satu makhluk ini!
Tampak hening menyapa, terlihat papi Hendrik yang tengah mengurut dagunya sedangkan papi Alfi sedang menghela nafas berkali-kali, gak tau keputusan apa yang bakalan mereka ambil.
Lantas kedua lelaki setengah baya itu saling tatap-tatapan dan mengangguk mengiyakan.
"Kami sudah putuskan, jadi kami memilih pilihan yang kedua. Tapi ada satu syarat..." putus papi Hendrik setelah tatap-tatapan dengan papi alfy.
"Syarat?" Ucapku dan fauzan kompak.
"Ya syaratnya simple, jika kalian sudah mendapatkan impian masing-masing, tapi belum siap-siap juga untuk menikah. Maka terpaksa kami harus memaksa" ujarnya lagi yang membuatku menelan ludah.
Baiklah karna keputusan telah diambil, dan sedikit nya mampu menguntungkan ku, aku terima! Apalagi aku bisa keparis ditahun ini! Yuhu.... Paris i'm coming.
Aku meronta girang dalam hati ini, sungguh Fauzan benar-benar bijak! Dia lebih banyak diam tapi tindakan nya teramat benar, well aku tinggal berfikir untuk membatalkan perjodohan ini sepenuhnya setelah aku berkunjung keparis.
Paris i'm coming..... hatiku terus mengulang-ulang kalimat menyenangkan ini.
...Bersambung........
***
Menurut kalian pilihan Fauzan bijak gak? hemm gimana ya tanggapan Fauzan sama zhari tentang syarat dari papi Hendrik? yuk guys pantengin aja ya😉
__ADS_1
maaf sebelumnya kalo novel author masih banyak kekurangan, setidaknya semoga kalian terhibur. jangan lupa like, vote, komen dan hadiahnya ya, semoga readers selalu diberikan kesehatan❤
Thanks you👋