
Aku ingin mengubur diriku didalam tanah, malu betul diri ini!
Ya Tuhan yang maha esa... nama baikku sudah tercoret gara-gara aku nyerocos bak kaset rusak, aku tau ini bukan sepenuhnya salah ku. Ini juga salah si rese - Fauzan
Tapi... kontribusi terbanyak kan dariku?
Aku menunduk malu, sesekali aku melihat kearah samping. Dimana pak Asep sedang menjelaskan materi pelajarannya.
Sedikit rasa sesak memenuhi hatiku, ingin rasanya ku menangis. Tapi malu dengan Fauzan... ya sekarang aku cuma malu dengan satu orang ini, entah hal apa yang membuatku mulai aneh.
Bahuku terguncang sedikit, akhirnya aku mulai menangis. Tapi air mataku hanya keluar beberapa bulir, dan itu langsung aku usap.
Si rese memperhatikan ku dari waktu ke waktu, tangannya masih memegang telingaku halus, sedangkan tanganku memegang telinganya dengan sedikit penekanan.
Mungkin emosi menguasaiku?
Teman-teman ku dibelakang seperti sedang berbisik-bisik, biasalah mereka bergosip ria sambil sesekali melirik kearah pa Asep. Mungkin takut kaya aku ya?
Aku tersenyum pahit, okeh cukup! Untuk satu kali seumur hidupku aku dihukum! Terimakasih Fauzan ku, teman tampanku yang menjengkelkan dan rese! Aku sedikit bangga bisa berteman dengan kamu, masalah kepelikan hidupku. Aku curahkan lewat cerocosanku saat berdebat denganmu.
"Baik itu saja materi dari bapak, kalian paham kan? Dan sekarang kerjakan tugas dari bapak" suara tegas pak Asep berikutnya, membuatku terkesiap.
Tentu aku mendengarkan materi dan penjelasannya, tapi untuk berfikir langsung mengerjakan tugas. Sangat.... sangat menjengkelkan!
Tanpa sadar aku menjewer telinga Fauzan lebih kencang, sial! Aku mulai menjadi gadis aneh.
Fauzan sedikit meringis, tapi dia tidak membalasku, justru tangannya malah mengelus-elus telingaku dengan lembut, mungkin dia paham jika aku sedang berada di fase - emosi.
Setelah pak Asep memberikan arahan pada teman-teman ku yang lain, beliau menghampiri kami berdua.
"Apa kalian sudah merasa capek?" Tanya beliau yang langsung diangguki kami berdua.
"Lain kali, jangan suka nyerocos didepan guru. Paham?!" Beliau menatapku dengan tajam, aku meneguk Saliva lantas mengangguk cepat.
"Silahkan kalian duduk kembali, dan kerjakan tugas dari bapak"
Kami menurunkan kaki dan tangan kami dengan cepat, tampaknya Fauzan sedang mengusap telinga bekas jeweranku itu, oh ampun.... maafkan aku, akhir-akhir ini aku mulai aneh.
Kami berdua mulai duduk dan aku mengeluarkan bolpoin dari tasku, lantas kutatap Fauzan yang masih mengelus telinganya.
"Maafkan aku.." lirihku pelan seraya menunduk malu.
__ADS_1
"Stt..." dia malah menempelkan jari telunjuknya di bibirku, mungkin dia tau kalau pak Asep masih memperhatikan kami.
Saat bel pulang sekolah berbunyi, aku buru-buru menata diri ini untuk menatap Fauzan.
"Maafkan aku... karna aku, kamu-kamu pasti sakit ya? Kamu-kamu juga pasti malu kan baru jadi anak baru tapi udah dihukum? A-aku maafkan aku.." aku nyerocos tak jelas.
Lantas dia malah menutup mulutku dengan tangannya, "gak! Bukan salah kamu juga, udah mending cepet pulang. Kerjain tugas dari Bu Eva, nanti kita gabungkan tugas itu" suaranya melembut.
Aku mengangguk linglung, langsung saja aku berdiri dari dudukku, "terimakasih" ucapku pelan seraya pergi dari hadapannya.
Aku berjalan dengan tergesa-gesa, namun otakku berfikir beribu kali lipat. Apa aku salah ya menilai seseorang? Rupanya pandanganku melenceng sedikit tentang fauzan, lantas kuhampiri mbak mila yang sedang menungguku digerbang sekolah, rupanya dia sedang ada waktu luang - maksudku dia sedang tidak mengajar.
Ya mbak ku seorang dosen!
"Mbak..." sapaku padanya.
"Dek cepet pulang yok, kata papi. Kamu mau gak ikut dia jalan-jalan" ucap dengan tergesa-gesa.
"Kemana mbak? Tunggu lima bulan lagi napa? Sekarang lagi banyak tugas yang numpuk" keluhku dengan lelah.
"Iya nanti jalan-jalannya lima bulan lagi, tapi syaratnya kalau kamu setuju dengan satu hal" sekarang wajah mbak ku mulai serius.
"Apa sih mbak pake syarat-syarat segala?" Aku mencebikan bibir ini dengan kesal.
Sekitar 15 menitan mobil yang dikendarai mbak mila telah sampai didepan halaman rumahku.
Aku berjalan mendahului mbak mila, "Assalamualaikum..." ucapku saat sudah melangkahkan kaki ini menuju kedalaman rumah.
"Walikumsallam... eh adek gimana sekolahnya?" Tanya seorang wanita cantik, ya itu Mamiku.
"Gak ada apa-apa mi, biasa kayak gitu deh" jawabku cuek. "Mi katanya papi mau ngajak aku jalan-jalan ya? Kemana sih pake syarat segala!" Cemberut ku.
"Papi mau ngajak kamu keparis dek!" Ucapnya sembari tersenyum.
Mataku tiba-tiba membola, oh itu negara yang ingin ku kunjungi dari kecil! Tapi tak pernah aku berkunjung kesana.
"Serius mi?" Tanyaku antusias.
"Ya tapi bener kata mbakmu ada syaratnya dek, nanti kalo papi pulang bakalan dikasih tau kok syaratnya." Beliau mencubit pipiku gemas.
"Mami gak ada jam dirumah sakit ya? Kok tumben sih jam segini dirumah?" Tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Mami lagi pengen cuti aja dek, yuk cepet ganti baju dan makan siang. Oke?"
"Oke!" Aku manut sama titahnya.
Kuseret kaki lelah ini untuk menaiki anak tangga, sambil sesekali berfikir syarat apa yang bakalan papi sama mami ucapkan?
***
"Mih aku pulang" ucap Fauzan yang sudah sampai dirumahnya dengan motor gedenya itu.
"Wah, gimana hari keempatnya? Kamu udah Deket sama cewek siapa gitu..." tanya sang mami dengan antusias.
"Ada sih mi, cewek rempong... ngomong-ngomong mami kenapa ngomongin cewek sih? Jangan bilang sekarang mami mau aku pacaran ya?" Selidiknya dengan penasaran.
"Ngak, mami cuma mau ngasih tau kamu aja. Nanti malem ada tamu yang bakalan Dateng kerumah, kamu jangan keluar rumah ya? Spesial loh tamunya."
"Oh oghey" Fauzan tampak malas, dia mencium tangan maminya dan segera memasuki rumah megahnya itu.
***
Malam harinya, papi, mami, aku dan mbak mila sedang ngumpul diruang keluarga, hanya satu yang kurang - mas Zidan, oke dia kan masih kuliah di Amrik.
Lupakan!
"Jadi apa syaratnya pih" tanyaku antusias betul.
"Kamu dandan dulu gih, pake baju apa aja. Nanti mbak mila make-up in kamu juga, nurut aja oke? Kalau mau keparis" tutur papi, membuatku heran. Tapi aku mengangguk manut.
Lantas aku dan mbak mila menaiki anak tangga menuju kamarku, aku mengganti piyama ini dengan jumpsuit warna hitam.
Mbak mila me make-up wajahku, rambut panjang ku diuraikan olehnya. Lantas aku disuruh menggunakan sepatu hak tinggi.
Baiklah aku manut, demi keinginanku keparis.
Aku melihat diriku didepan cermin, rasanya kok aneh ya? Berasa macam ada firasat buruk, apakah syaratnya aneh? Kok aku jadi merinding ya?
Aku turun kebawah dengan mbak mila. Saking senengnya dengan keinginan keparis, aku gak tau syarat apa ini walaupun firasat sudah menerjang, yang jelas impianku harus terwujudkan.
"Yuk dek, masuk mobil" ucap mami padaku, saat aku sudah menuruni anak tangga.
Lagi-lagi aku manut, gak tau kalau ada sesuatu aneh yang tetiba muncul dibenak tiga orang ini.
__ADS_1
...Bersambung........