Summer Love

Summer Love
Ch 38. Fizya fahriki


__ADS_3

Tiga hari berikutnya, terlihat Aku sedang membolak-balikan dompetku. Melihat isi didalamnya, sambil menahan kesal aku melempar benda ini kelantai.


Sial! Gaji guruku tak seberapa ditambah keperluan ku yang menggunung membuat isi dompet itu hanya tinggal beberapa lembar uang pecahan seratus ribu.


Kalau aku pakai uang Fauzan, gengsi woy! Dan lagi atm ku yang dikasih papi udah disita sama mami semenjak aku menikah. Katanya aku sudah tak berhak menggunakan uang dari papi, aneh!


"Arghhh!" Aku menjatuhkan badanku diatas ranjang, sembari merutuki kebodohan ku. Kenapa aku milih guru sih? Duh kok aku rada nyesel yaa?


"Za kamu gak papa?" Terlihat Fauzan masuk kedalam kamar dan menghampiri ku.


Aku bangun dan menatapnya dengan kesal, "mau apa kamu masuk mas? Mau ngetawain aku?" Tuduhku.


"Ngetawain apa sih Za? Aku masuk ya karna aku khawatir denger kamu teriak" jawab Fauzan.


"Eh!" Aku membalik badan dan tengkurap lagi diatas ranjang.


"Kamu lagi kenapa sih? Pms?" Tanyanya bingung.


Setelah itu ntah apa yang terjadi dengan Fauzan, intinya hatiku makin kesal saat kudengar makhluk itu tertawa terbahak-bahak.


"Uangmu hanya tinggal Rp. 300.000?" Dia melempar dompetku disampingku.


Aku membalik badan dan menatapnya tajam, "ya! Apa kamu bahagia mas? Ngeliat aku sengsara dan bergantung sama kamu?! Arghh kalau atm dari papi gak disita, aku gak bakal kere!" Ucapku frustasi.


"Yaudah pake aja atm dari aku, itu kan hak kamu Za" jawabnya menghentikan tawa renyah itu.


"Ngak mau!" Bantahku keukeh.


"Pake aja! Apa gunanya kartu itu kalau kamu gak mau pakai? Lagian atm kamu disita karna mami sama papi pengen kamu benar-benar dapat nafkah dari aku Za!"


"Ih udah aku bilang ngak! tidak! Dan ngak!" Kesal ku sambil tengkurap lagi diatas ranjang.


"Yaudah kamu butuh apa? Biar aku yang beliin" ucapnya setelah hening.


"Ngak mas" bantahku pelan, sudah sakit tenggorokan karna terus teriak.


"Za kamu mau terima atau...." ucapan Fauzan kali ini kontan membuatku membalik badan.


Namun sayang saat ku balik badanku, badan fauzan sudah menindihku lebih dulu.


"Ma-mau apa kamu mas?" Tanyaku gemetar.


"Kalo kamu tetap gak mau pakai uang di kartu itu! Sekarang juga aku ambil kehormatan mu Za" ucapnya mesra.

__ADS_1


Aku menggeleng cepat, "ngak mas aku takut..." bantahku pelan.


"Are you okay, aku gak segila pikiranmu Za! Aku hanya akan mengambilnya saat hatimu benar-benar siap. Dan lagi biarkan pernikahan ini berjalan sewajarnya, biarkan aku yang memenuhi kebutuhan mu za!" Dia mengusap keringat dikeningku, lantas lelaki itu mencium kening ku bertubi-tubi.


Aku hanya bisa menahan napas sambil sesekali berfikir, sebenarnya apakah Fauzan itu mencintai ku? Batinku menerka-nerka.


***


"Aku bisa kesini sendirian mas! Yang penting aku udah terima nafkah kamu!" Ucapku saat Fauzan terus mengekoriku yang tengah memilih-milih secincare ditoko kosmetik.


"Aku mau mastiin kamu pake uang dikartu itu apa ngak!" Jawab Fauzan.


"Kan kamu bisa cek juga! Gak usah kaya gini! Aku gak terbiasa"


"Yaudah biarkan aku ngekor terus, agar kamu terbiasa" ucapnya santai.


Plak!


Aku memukul lengannya dengan kesal lantas aku kembali memilih-milih secincare dan makeup di depanku ini.


Drtt....


Drtt...


"Lanjutin aja, aku angkat telfon dulu" ucapnya yang langsung mengambil benda itu didalam saku.


"........"


"Oh sekarang banget ya? Gak bisa besok?" Terdengar suara Fauzan yang sedikit kecewa.


"........"


"Yaudah iya, kamu urus dulu berkasnya dit" Fauzan menghela napas dan berjalan kearahku setelah mengangkat panggilan itu.


"Kenapa?" Tanyaku cuek tanpa melirik ataupun melihatnya.


"Ada meeting dadakan, kamu bisa aku tinggal?" Jawabnya yang seketika membuat hatiku berbunga.


"Yaudah sana pergi, aku pulang pake taksi kok"


"Janji ya uang dikartu itu dipakai?!" Dia menatapku dengan serius.


Aku balik menatapnya dengan pasrah, "uangku tinggal Rp. 300.000 dan kamu masih percaya aku gak bakal pakai uang kamu? Harga scincere nya aja udah lebih dari 300.000 kamu aneh mas"

__ADS_1


"Kirain dek! Yaudah" dia menyodorkan tangannya kearahku.


Aku mencium tangannya dengan malas, dan lelaki itu membalasku dengan mencium keningku "kalo udah selesai langsung pulang ya? Jangan kelayaban!" Pesan Fauzan.


"Iya mas!"


Setelah fauzan pergi aku kembali memilih-milih secincare dan makeup lagi, hingga seorang anak perempuan yang menabrakku langsung membuat ku menoleh.


"Eh hati-hati dek!" Ucapku sembari memapah anak itu berdiri.


"Makasih Tante" jawabnya.


"Kamu sendirian disini? Mana namanya?" Aku berjongkok, meratakan tinggi badanku dengan anak perempuan ini.


"Mm mamah ya Tante? Mamah ad...."


Ucapan anak kecil itu terpotong oleh suara wanita yang mampu membuat telingaku sakit, "dasar anak bandel ya! Udah dibilangin jangan jauh-jauh dari Mama! Kalo tau gini mending Mama gak ngajak kamu!" Ucap wanita itu sembari menjewer telinga anaknya.


"Au sakit mah" rintihan anak kecil itu membuatku iba.


Aku menatap wanita di depanku ini, "kalau tidak bisa memberinya kebahagiaan, jangan memberinya kesakitan!" Ucapku padanya.


"Dan apa urusannya Anda dengan anak saya?" Jawab wanita itu.


"Ck dimana moral seorang ibu? Kau adalah wanita! Dan akupun sama! Hanya saja kamu tak lebih baik dari hewan! Jika kesalahan ini saja kau anggap besar dan menyakiti nya, lantas bagaimana dengan kesalahan yang besar? Apa kau akan membunuhnya?" Aku menatapnya tajam.


Wanita itu menyipitkan matanya dan tersenyum kearahku, "oh pantes saja aku tidak asing dengan wajahmu, kau istri dari Fauzan ya? Iya iya... ternyata pria itu benar-benar memilih wanita rendah seperti mu"


Aku menatapnya aneh, "jika aku rendah, apa dirimu tak lebih rendah dariku? Dan lagi mengapa kau membawa suamiku?"


Wanita itu melepaskan tangannya dari telinga anaknya, dia mengulurkan tangan putih itu kearahku. "Aku adalah fizya fahriki! Lebih tepatnya Zia! Aku adalah mantan suamimu!" Ucapnya bangga.


Aku menampek tangan putihnya, "oh apa ini anak yang pernah kau tuduhkan pada Fauzan? Benar-benar murahan!" Ucapku penuh dengan sarkasme.


"Asal kau tahu saja nyonya fauzan! Aku dulu memang buruk dan tak bisa mendapatkan suamimu karna terhalang peraturan aneh keluarga nya, hanya saja eum mungkin setelah pertemuan ini aku bisa mendapatkan suamimu!" Ancamnya yang hanya kubalas dengan garukan pelipisku, benar-benar tak berguna jika terus meladeni satu makhluk ini. Walaupun hatiku merasa sedikit jengkel juga.


"Mah aku mau pipis" anak perempuan itu menarik-narik baju Zia.


"Ck!" Zia berdecak kesal dan kembali menatapku, "ingat ancamanku!" Dia berbalik dan pergi.


Aku hanya menatap seluit nya dengan malas, fizya fahriki? Jadi wanita yang terbiasa dipanggil Zia itu adalah mantan suamiku, aku jadi heran. Kenapa dulu Fauzan mencintai orang semodelan Zia? Namun aku tak ambil pusing, karna itu hanyalah masa lalu! Biarkan lah! Apa yang ingin dilakukan wanita itu?! Aku tak tahu!


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2