Summer Love

Summer Love
Ch 48. Kacau


__ADS_3

"Duh Ema kok rendang aku tinggal sedikit sih? Perasaan banyak deh!" Teriakku kesal setelah melihat rendang yang kubuat susah payah tinggal sedikit.


"Eh ibu tadi bapak makan, katanya dia mau ngelembur Bu! Beliau juga lagi diruang kerjanya. Ibu bisa kesana aja, hehe maaf ya Bu kan bapak juga majikan saya. Masa saya larang-larang" Ema menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Yaudah makan aja rendang sisanya, aku udah gak pengen lagi" aku berdiri dari dudukku dan pergi keruang kerja Fauzan.


Bruk..


Pintu ruangan ini aku buka dengan kasar, tampak Fauzan mendongak dari laptopnya dan menatapku heran. "Kenapa?" Tanyanya lembut.


Aku berjalan kearahnya dan memukul lengannya keras, "kamu suka makan punya orang! Rendang aku buat susah payah mas! Aku lagi pengen! Kamu malah enak makan seenak jidat!" Teriakku.


"Duh hak ku juga dong makan makanan yang dimasak istri, kenapa jadi gini sih. Yaudah beli aja gak usah masak sendiri, atau suruh Eva buat masak rendang, dia kan dari minang pasti lebih enak" keluhnya menangkap tanganku.


"Ck gak sesimpel itu!" Aku menyilangkan kedua tangan didepan dada.


"Ayolah masa perihal rendang aja marah? Udah berapa kali aku ngalah? Udah dong sayang.... kamu mau apa" Fauzan mematikan laptopnya dan menarik-narik tanganku.


"Duh kamu ngalah? Perasaan aku yang selalu ngalah mas? Kamu mecahin parfumku yang dari Paris aku ngalah kamu gak ganti! Sekarang perihal rendang siapa yang ngalah? Aku kan? Aku gak jadi makan jadinya?!" Aku melengos.


"Yaudah mau kamu apa? Apa perlu aku yang turun kedapur?" Tanya Fauzan ragu sambil menatap mataku.


Aku tersenyum aneh kearahnya, kayaknya ini deh hal yang bagus buat ngerjain pria rese kaya dia!


"Iya! Kamu yang harus masak! Biar rasain gimana rasanya buat makanan susah payah!" Jawabku senang.


"Aduh kenapa aku yang jadi senjata makan tuan?" gumam Fauzan pelan yang masih bisa kudengar.


"Ekhem cepet!" Dehemku menghentikan lamunan ragunya.


"Bisa gak aku liat resep dulu? A-aku gak pernah masak rendang" jujurnya sambil membuka ponsel dan memasuki aplikasi G**gle.


Aku masih berdiri sambil memandangi nya yang tengah menggulir ponsel, membaca setiap tulisan dilayar. Beberapa kali juga dia menghela napas, agaknya dia merasa berat harus memasak rendang.


"Okay aku bakal kedapur, tapi nanti kalo gak enak jangan salahian aku ya? Okay?" Dia berdiri, menyimpan ponselnya disaku sambil menatapku ragu.


"Yaudah cepet" pepetku.


Kami berdua berjalan kearah dapur, tampak bi iyem, Eva dan ema memandang kami dengan heran.


"Loh Bu tumben bapak kedapur?" Tanya bi iyem, menghampiri ku.


"Mau belajar masak katanya" alibiku tersenyum.

__ADS_1


Kami berempat memandang Fauzan yang tengah memakai celemek, Dia membuka kulkas dan mengambil daging sapi juga bumbu-bumbu rendang.


"Za bisa gak mereka jangan disini?" Dia berbisik ditelingaku, agaknya mungkin malu kali ya?


"Emm kami mau kedepan dulu bu" pecah Eva yang mungkin paham dengan gerakan Fauzan.


"Iya" aku mengangguk kearah mereka bertiga.


Lantas aku membalik kepalaku dan menatap Fauzan, "yaudah cepet masak!" Selorohku pergi dari hadapannya, mengambil gelas dan menyeduh kopi.


"Tau gini mending aku gak makan rendang kamu! Ck kayanya mending beli aja!" Gumamnya kesal, sambil masih memotong-motong daging sapi.


"Suruh siapa?" Jawabku cuek dan menyeruput kopi.


Sekitar setengah jam-an Fauzan selesai memasak rendang, peluh keringat badannya dan tangannya pun agak bergetar saat menaruh piring rendang itu diatas meja.


"Menurut kamu enak gak ya?" Tanyanya menatapku ragu.


"Mm gak dicicipin?" Aku menatapnya balik.


Aku mengambil sendok dan mulai mencicipinya, cicipan pertama awalnya tak berasa apa-apa. Tapi saat cicipan kedua aku ingin muntah, sial! Ini masakan apa? Gak enak!


Aku berlari kearah wastafel dan mulai muntah, "Mas kamu bisa gak sih masaknya?" Omelku.


"Gak enak ya?" Teriak Fauzan yang tak kubalas apa-apa.


"Kan aku udah bilang, beli aja! Kenapa nyuruh aku yang masak? Kan jadinya gini!" Ucapnya kesal setelah dia selesai muntah.


"Duh perasaan pas aku belajar masak rendang gak sekacau ini! Udah buang aja, buang!" Racauku pusing sambil memijit kening.


"Yaudah maaf, mending beli aja!" Dia berlalu pergi, mengambil piring rendang dan membuang isinya.


***


"Kan aku jadinya gak makan! Duh kamu sih kenapa gak bisa masak? Buatin aku jus alpukat campur susu beruang aja kamu pas! Kenapa sekarang kacau sih?" Aku masih mengomelinya bahkan setelah kami sholat magrib bersama.


"Duh bisa gak sih gak ngomel? Yaudah ayu makan di luar aja! Salah siapa juga nyuruh aku masak!" Dia balik mengomel.


"Ck yaudah cepet! Aku udah laper" aku gusar sendiri dan mengambil handbag secepat kilat.


"Aduh gini banget sih udah nikah! Perasaan enak ngeliat orang-orang pada nikah, kok aku malah gini sih?" Dia bergumam kecil sambil berjalan disampingku.


Aku menatapnya setengah hati, "ck kaya orang paling menderita aja! Sampai segitunya" sindirku.

__ADS_1


Kami berdua makan di restoran seefood yang agak jauh dari rumah, tampak Fauzan menatapku ragu. "Yakin bisa makan sebanyak itu?" Tanyanya heran.


"Bisa lah!" Jawabku yang langsung membaca do'a dan memakan makanan di depanku ini.


Beberapa saat kemudian, Fauzan masih bergeming dan menatapku yang tengah memakan salad sayur. "Kenapa?" Tanyaku risih.


"Aku heran perasaan badan kamu kecil, kok bisa ya makan sebanyak itu?" Tanyanya yang menatapku dari atas sampai bawah. Bahkan matanya itu menelusuri piring-piring di depanku yang sudah kosong.


Aku semakin risih, "ck yang banyak makan tuh orang kurus daripada orang gendut!" Selorohku.


"Iya iya ibu Azhari aku percaya!" Dia menyeruput susu coklat nya lagi.


Selesai makan kami kembali kerumah, lagi-lagi Fauzan melirikku. Aku merasa buronan saat menatap matanya.


"Bisa gak sih jangan gitu?" Kesalku.


"Kayaknya engga deh! Aneh aja kok bisa ya?" Sindirnya.


Aku balik menatapnya, "aneh juga ya, kok bisa pria pintar macam bapak Fauzan ini gak bisa masak? Bahkan masakan nya kacau, aneh, dan buat aku muntah!" Aku tak mau kalah.


"Ck masak bukan skil ku!" Jawabnya.


***


Saat malam tiba, tepatnya jam 10 malam aku langsung merebahkan tubuhku diatas kasur. Lantas tiba-tiba aku terbangun saat kuingat ada sesuatu yang ku lupa.


"Mas kamu belum nyopot cctv nya?" Tanyaku saat melihat Fauzan yang tengah mengibas-ibaskan sofa untuk tidur.


Dia menatapku, "belum, tuh liat!" Tunjuknya kearah ponjok kamar.


Aku langsung gusar, "tidur di ranjang! Jangan di sofa lagi!" Teriakku.


"Duh kenapa sih? Bukannya kita harus tidur pisah ya? Gimana sih kamu? Ingat pasal 2 kontak pernikahan! Karna kamar yang bisa kebuka dirumah ini cuma satu, terpaksa aku harus tidur di sofa kamar kamu! Daripada di sofa ruang tamu" jelasnya gamblang, yang mungkin sedikit risih juga.


"Persetan kontrak! Udah berapa kali kita ngelakuin itu? Hah! Masalahnya bukan itu! Mami pasti liat! Dia kan mantau cctv juga! Kamu sih kenapa masang cctv dikamar ku juga?" Aku mengacak rambut frustasi, udah capek harus berontak sama orang tua kalau lagi-lagi mereka tau kelakuan ku dan Fauzan.


"Ck ya!" Dia beranjak dan menghampiri ranjang.


"Bawa dong bantalnya!" Ucapku kesal.


Setelah mengalami hari yang kacau, akhirnya aku tidur satu ranjang bareng suamiku, dia menarik tubuhku pelan kedalam pelukannya udah biasa kami begini. Kadang aneh sebenarnya mau apa malu sih? Aku juga nyaman kalo tidur seranjang gini, cuma kadang gengsi aja.


"Nanti aku copot!" Suara serak Fauzan dan hembusan nafas hangat nya menyapa telingaku.

__ADS_1


Aku tak membalas, hanya bisa bergumam pelan dan masuk ke dunia mimpi.


...Bersambung.........


__ADS_2