Summer Love

Summer Love
Ch 41. Mengulang


__ADS_3

"Istirahat!, katanya... istirahat" goda Fauzan yang masih setia memantau istrinya.


Zhari menatapnya kesal, "gimana aku bisa tidur? Kamunya aja ngeliatin terus?!"


"Aku tahu loh, kamu itu tadi cuma pura-pura kan? Biar bisa lepas dari aku? Percuma mau kamu ngomong bakal ngajar disekolah juga, aku udah tau jadwal ngajar kamu Za!" Jelas Fauzan gamblang.


"Kamu ngambil jadwal aku?!" Tanya zhari menatapnya tak percaya.


"Iya! Lagian kamu itu mahkluk terceroboh yang baru aku temui! Kalau gak ada aku, buku-buku, absensi, dan jadwal ngajar kamu bisa dibuang ditempat sampah" jelas fauzan yang sekarang mendekati istrinya.


"Maksudmu apa?" Tanya zhari heran.


"Kamu itu kalau naro buku, absensi, sama jadwal ngajar jangan sembarangan! Kemarin bi iyem ngiranya itu buku udah gak dipake, untung ada aku!"


"Oh okay makasih" jawab zhari melengos.


Fauzan menarik lembut tubuh zhari sampai masuk kedalam pelukannya, dia sejujurnya sudah ingin tidur. Karna tadi malam, wktu tidurnya dia habiskan untuk mengerjakan pekerjaan kantor.


"Mas kamu mau apa?" Tanya zhari setelah Fauzan benar-benar memeluknya.


"Tadi malem aku begadang, temani aku tidur" jawab Fauzan yang langsung menutup matanya.


***


Tok...Tok...Tok...


Zhari dan Fauzan terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ketukan pintu yang keras.


"Sial! Kamu ngapain aku lagi mas!" Ucap zhari mendorong Fauzan setelah melihat kancing dasternya terbuka dua.


"Apa? Aku ngak ngapa-ngapain kamu!" Jawab Fauzan Sambil mengucek matanya.


"Ck alasan!" Tuduh zhari dan beranjak dari ranjang.


Zhari membuka pintu dan terkejut mendapati kedua maminya yang sedang memperhatikan zhari dari atas sampai bawah.


Zhari sedikit risih, "kok Dateng gak ngomong?" Tanyanya.


"Harus ngomong ya kalau mau Dateng kerumah kalian? Lagian mami udah nelfon kamu! Tapi kamu gak angkat-angkat, mas Ozan nya juga sama. Sebenarnya apa kalian itu.... ekhem, ini udah siang loh. kalian masih dikamar terus, apa sedang eum..." mami Nanda terus berceloteh sampai zhari menutup mulutnya Dengan tangan kecilnya.

__ADS_1


"Mana mas Ozan nya?" Tanya mami Lia yang wajahnya juga terlihat penasaran.


Zhari menggaruk kepala belakang nya, antara kesal, marah dan tak enak campur aduk dihatinya.


"Apa sih mih" Fauzan keluar dengan rambut acak-acakan, pria itu sedang mengusap-usap wajahnya dengan kasar. Masih merasa enggan untuk beranjak dari ranjang, hanya saja saat mendengar itu mami dia memaksa matanya untuk membuka.


"Kamu gak kekantor?" Tanya mami Lia heran sambil menatap si bungsu dari atas sampai bawah.


"Tadi malem pekerjaan kantor udah aku kerjain kok mih, aku mau dirumah. Capek!" Dalil Fauzan.


"Capek, capek! kalian itu lagi usaha buatin mami cucu ya? Ayo ngaku?!" Mami Nanda menyenggol zhari dengan penasaran.


Mata Fauzan membuka sempurna, sial! Usaha membuatkan maminya cucu? Anaknya saja merasa marah saat dia sentuh! Saat ini hanya satu dipikiran Fauzan, membuat zhari cepat-cepat mencintainya! Hanya itu yang mampu membuat hatinya tenang.


"Iya mih" jawab Fauzan berbohong sambil mendekati istrinya, dia mengaitkan lengannya di lengan zhari.


"Iya kan sayang?" Tanya Fauzan mesra kearah zhari, sambil alisnya itu naik turun.


Zhari hanya bisa melotot kesal, sial! Apa yang bakalan dilakuin Fauzan kalau nanti maminya pergi? Zhari merasa bulu kuduknya berdiri serempak.


"Iy-iya!" Jawab zhari terbata enggan.


Bukan hanya mami Nanda yang penasaran, tapi mami Lia juga sama. Bahkan wanita ayu itu langsung membuka pintu kamar lebar-lebar, dan dia mendapati ranjang yang berantakan. Padahal ranjang berantakan bukan karna dua orang itu telah melakukan hubungan suami-istri, tapi karna memang kaki mereka saat tidur tak pernah bisa diam.


"Eum... hehe mbak udah Yu pulang, udah nunggu kabar baiknya aja, lihat tuh kamarnya berantakan. Udah Yu katanya mau punya cucu" mami Lia buru-buru menarik tangan mami Nanda.


"Eh iya, awas loh ya kalian bener buatin mami cucu!" Teriak mami Nanda sebelum beliau benar-benar turun kelantai bawah.


Setelah mendengar mobil yang dikendarai maminya pulang, zhari cepat-cepat melepaskan kaitan lengannya Dengan Fauzan.


Dia menatap suaminya kesal, "kamu bohong mas! Terus kalo udah berbulan-bulan aku gak terbukti hamil? Apa yang dilakuin mami?!" Tanya zhari emosi.


"Yaudah lakuin aja yang bener" jawab Fauzan santai, sambil pria itu memasuki kamar zhari lagi.


"Mas! Ka-kamu.... ini kan cuma ekting! Dan lagi, ini... ah sial! kamar kamu disebelah! kenapa kamu mau tidur di kamarku lagi?" Zhari masuk kekamarnya sambil mengomel.


Fauzan membalik badan dan melihat istrinya itu sedang melotot kearahnya, merasa tak berdaya Fauzan menghampiri zhari. Bukan untuk apa-apa atau untuk keluar dari kamarnya, justru pria itu malah mengunci pintu kamar dan membuang kuncinya kesembarang arah.


Zhari makin melotot, "apa yang mau kamu lakuin mas?" Tanyanya.

__ADS_1


"Kamu bilang tadi ekting kan? Iya ekting tapi nyaman! Kamu itu nyaman Za! Aku tau raut wajah kamu!" Jelas Fauzan sambil pria itu membopong tubuh zhari yang membeku.


"Ayolah kita lakuin lagi? Are you okay? Yang penting kita bisa membuat cucu!" Bisik Fauzan setelah menaruh istrinya diatas ranjang.


"Aku belum siap hamil mas!" Lirih zhari pelan, dia sejujurnya merasa benar-benar sudah mencintai Fauzan.


Fauzan menatapnya aneh, "kamu udah cinta sama aku Za? Benarkah?" Fauzan memiringkan kepalanya.


"Kayaknya enggak!" Ceplos zhari melengos.


"Ayolah, I love you za, i love you...." Fauzan makin menggoda istrinya.


"Oh please, kamu terlalu absrut!" Tekan zhari malas.


"I Love You! I Love You!, I Lov you, i love you!" Fauzan terus mengulang kata itu sampai benar-benar membuat zhari jengkel.


"Bisa diem gak!" Zhari melotot.


"Ngak! Setiap setengah jam aku bakalan ngucapin kata itu sama kamu!"


"Please aku bisa hipertensi!" Gumam zhari lirih.


"Kamu itu lebih imut kalau lagi kesel tau gak?" Fauzan memiringkan kepalanya setelah hening beberapa saat.


"Biasa aja tuh!" Jawab zhari tersenyum pahit.


"Iya loh, pipi kamu merah.... lihat lah dicermin ibu sejarah yang paling cantik!" Tekan Fauzan pada kata cantik sambil menaik turunkan alisnya.


"Maaf bapak Fauzan yang terhormat, Ceo cerdas yang masuk jurusan ips juga! Please Keluar dari kamar aku!" Ucap zhari tanpa daya, dia merasa hatinya akan meledak kalau Fauzan terus menerus menatapnya.


"Aku bakal keluar kalau kita udah nurutin apa kata mami!" Jawab Fauzan yang langsung menindih tubuh istrinya.


Zhari sedikit gemetar, "please jangan kaya gini? Aku belum siap..." ucap zhari.


"Yakin belum siap?" Fauzan mendekati wajah istrinya, dia mencium setiap inci wajah itu. Sedangkan zhari hanya bisa menahan napas sambil menikmatinya.


"Are you okay? Kita lakukan lagi? Kamu ikhlas kan?" Bisik Fauzan hangat ditelinga istrinya.


Zhari tak menjawab, reaksi tubuhnya begitu menikmati sentuhan kecil Fauzan, yang akhirnya membuat mereka mengulang siang kemarin.

__ADS_1


...Bersambung........


__ADS_2