Summer Love

Summer Love
Ch 69. Memory akhir tahun


__ADS_3

Hujan deras mengguyur negara Perancis, membasahi kaca jendela hotel tempatku menginap. Memang diakhir tahun ini aku dan sang suami tengah ada dinegara favorit ku, didepan hotel terlihat dengan jelas menara Eiffel yang menjulang tinggi.


Aku memandang puas kearah kota Paris ini, berharap ini adalah akhir tahun yang menyenangkan bagiku.


"Sudah puas?" Tanya Fauzan yang langsung memelukku dari belakang.


"Makasih"aku menarik tangannya agar lebih erat memelukku.


"Andai gak hujan, kita bisa jalan-jalan sepuasnya" ucapnya dengan menumpu wajah tampannya pada pundakku.


"Tanpa jalan-jalan sepuasnya juga, aku masih bahagia...." jawabku berusaha menahan tangisan.


"Bersamamu sudah cukup!" Lanjutku, mataku sudah memanas dan kristal bening pun akhirnya jatuh membasahi pipi.


"Menangis lah kalau ini bahagia, dek" Fauzan menggenggam tanganku dengan erat.


"Ternyata dulu saranmu sangat bagus" aku tersenyum getir setelah sekian lama menangis.


"Hmm saran mana?" Tanya fauzan, entah dia pura-pura atau memang lupa.


"Saran yang dulu, pas kita mau dinikahin muda" jawabku dengan menggaruk pipi, tiba-tiba canggung saat kuingat kejadian-kejadian yang pernah kami lalui.


"Dari dulu aku emang udah suka kamu, dek. Tapi liat kamu yang bawaannya judes, aku langsung mundur dan ikut judes juga" urainya.


"Masa?" Aku menatap wajah nya dengan dalam.


"Iya!" Fauzan merasa risih.


"Eum ganteng banget sih Dady nya nesa kalo lagi risih" aku mencubit gemas pipi Fauzan.


"Nesa?" Fauzan menatapku bingung.


"Ekhem, ya kata mami pas liat posisi perutku, dia bilang aku hamil anak perempuan. Yaudah aku kasih nama nesa, Nesa nur Arkan!" Jelasku yang malah membuat tawanya meledak.


"Kenapa sih malah ketawa?" Tanyaku heran.


"Kamu masih percaya ramalan orang Jawa dek? Ckck gak ngotak amat, menurutku kamu itu hamil kembar! Masa iya perut belum genap 4 bulan udah Segede itu" Fauzan berhenti tertawa dan tersenyum tipis kearahku.


"Yaudah kalo kembar perempuan, kasih nama nesa dan nisa aja. Gitu aja susah!" Aku mendorong tubuh fauzan dan berjalan kearah ranjang.


"Aduh gitu aja ngambek, cantiknya ilang lho dek." Candanya berusaha membujukku.


"Emang udah nggak cantik kok!" Balasku sewot.


"Lho lho kata siapa nggak cantik? Semakin perut kamu besar, semakin seksi di mataku, dek" Fauzan mendekat kearahku.


"Oh jadi bumil diluar sana juga menarik gitu?" Aku makin dibuat kesal, sudah tau hormon istrinya naik turun. Eh malah bercanda.


"Ya enggaklah, cuma kamu yang menarik dimataku dek" Fauzan merengkuh ku, dia menciumi kening dan pipiku bertubi-tubi.


"Eum risi!" Kudorong badan tegap nya agar menjauh dariku.


"Duh duh ibu guru kalo ngambek suka bikin gemes deh" alih-alih menjauh dia malah lebih erat menempel pada tubuhku.


"Aku minta sesuatu boleh mas?" Tanyaku setelah sekian lama diam.


"Ya, mau apa?" Fauzan menatapku dengan penasaran.


"Nesa lagi nggak pengen sama kamu mas, dia risih katanya. Ekhem coba aja tanya" alibiku sambil memejamkan mata sebentar.


"Modus, mana ada dia mau ditinggalin dady nya?" Jawabnya percaya diri.


"Bener! Aduh nempel sih boleh mas, tapi jangan gini juga. Aku risih....." aku mulai gusar, sebenarnya suka sih dipeluk sama dia. Hanya saja aku tiba-tiba merasa mual saat mencium aroma shampo dirambutnya.

__ADS_1


"Nggak mau, dek" balas Fauzan, dia makin erat memelukku.


"Eummm...." aku menutup mulut dan kudorong kasar badan fauzan sampai pria itu jatuh diatas ranjang.


"Hoeek..... hoeek..." semua makanan yang kumakan tadi sore, keluar sudah.


Fauzan memijit kecil tengkukku, "kamu nggak papa kan za? Apa perlu ke dokter?" Tanyanya dengan khawatir.


"Nggak usah! Ini gara-gara kamu kan!" Ucapku sewot, kutepuk kasar punggung tangannya.


"Iya iya, mending keluar hotel Yu dek? Liat malam tahun baru diluar. Kayaknya rameh tuh" Fauzan menujuk jendela, memang banyak orang dibawah sana.


"Nggak mau ah, Lebih enak dikamar aja mas" aku berjalan kearah ranjang dan duduk disana.


"Yaudah mana yang pegel? Aku pijit ya?" Fauzan meluruskan kaki ku dan segera memijatnya.


"Aduh mas ko nambah pusing ya? Aneh" gerutuku bingung, kupijat kening dengan pening.


"Makannya, kan aku nyuruh ke RS aja. Kamu nggak mau!" Tampak helaan napas keluar dari mulutnya.


"Ini kan udah malem, udah jam 11.39 juga" aku menyalakan layar ponsel dan menatapnya.


"Yaudah tungguin disini, aku mau kebawah. Kamu mau apa? Nanti aku beliin" Fauzan turun dari ranjang dan mengambil jas nya.


"Harus banget ya turun ke bawah pake pakean kantor?" Aku mencebikan bibir kesal, mungkin dari tatapanku orang lain bisa mengira kalau aku mau mencekiknya.


"Sekalian dek, mau ganti dulu nanti lama kan?" Fauzan menatapku lembut.


"Yaudah jangan keluar kemana-mana, aku mau turun sebentar. Oh ya walau TOEFL kamu nilainya diatas 700, kamu juga jangan mau ngomong sama orang asing kecuali terpaksa" nasihatnya panjang lebar.


"Ck kaya baru pertama kali aja kesini? Yaudah sana turun" aku mengibaskan tangan dengan jengah.


"Hemm aku cuma sebentar" dia mencium keningku yang kubalas dengan ciuman tangannya.


"Iya iya" Fauzan Keluar dari kamar, menyisahkan aku sendirian. Nggak tau dia turun mau kemana, yang penting nggak macem-macem aja.


"ahhh enaknya" aku berguling-guling diatas kasur sambil menatap layar ponsel.


"tumben mami nggak nelfon? di indo udah jam setengah 6 pagi kan? hmm apa aku nelfon duluan ya?" gumamku sambil menggulir layar ponsel dengan bimbang, antara ingin menelfon mami Nanda dan mami Lia.


"eh ini nelfon" aku bangkit duduk dan segera mengangkat panggilan Vidio call dari mamer.


"Assalamualaikum mih" salamku halus.


"wa'alaikumsalam, dek. Kamu belum tidur? cepet tidur, disana pasti udah jam setengah 12 kan? gak baik begadang lho" mami Lia langsung memulai mode ceramahnya.


"ehehe bentar mih, masih setengah jam an lagi ini tahun baru. mau liat suasananya, kalo tidur kan harus nunggu akhir tahun depan" bantahku halus sambil nyengir.


"hmm kebiasaan, mana mas Ozan nya? disana dia masih sibuk kerja juga? Ck gak bisa banget ngambil waktu" mami Lia menggelengkan kepalanya tak habis pikir pada sang bungsu.


"mas ozan lagi keluar mih, nggak tau mau kemana. tapi katanya sebentar"


"keluar? malem-malem ninggalin kamu sendirian, dek? Ckck dasar dia ya. Kalo tau gini mami ikut kalian, kalo kamu ada apa-apa gimana? nanti cucu mami gimana? sekarang dia udah balik belum?" Mami lia sudah terlihat emosi, aku hanya bisa menggaruk pipi bingung. eum sebenarnya ini bukan perkara apa-apa, baru juga berapa menit Fauzan keluar. kan gak harus se khawatir itu kan?


"bentaran paling mih, udah ah jangan marah-marah. masih pagi lho mami disana, apa kata papi?" aku berusaha meredakan amarahnya.


"Papi udah tau, dari tadi dia disamping mami" mami mengarahkan kameranya kearah papi Hendrik yang tengah mengopi.


"oh"


"dek, kalo mas Ozan nya pulang kabarin mami lagi ya?" ucap mami lia yang membuatku terhenyak kaget.


"eh itu orang nya mih baru Dateng" aku mengarahkan kamera belakang pada Fauzan yang tengah menutup pintu.

__ADS_1


"kasih hp nya sama dia, dek" titah mami yang hanya bisa kuangguki tak enak.


"ekhem, mas mami mau ngomong sama kamu" ucapku menyodorkan hp padanya.


"Mami Lia? mau apa?" Fauzan menaruh paper bag kecil disampingku dan mulai mengambil ponselku.


"oh iya dek, itu aku beliin kamu obat. baca aja ya panduan minumnya, eh tapi itu pake Bahasa Perancis. kamu bisa kan?" tanya Fauzan.


"bisa sedikit" jawabku yang langsung membuka paperbag kecil pembawaannya.


"mas Ozan! tadi kamu ngomong apa? obat? siapa yang sakit? zhari sakit?" berondong mami Lia setelah mendengar fauzan membelikan ku obat.


Fauzan duduk disampingku, "duh mami, zhari nggak papa. lagian mami masih pagi udah marah-marah aja" balas fauzan.


"wajar kalo mami marah, misalnya istri kamu kenapa-kenapa siapa yang bakal repot? kalian itu lagi dinegara orang! ada cucu mami juga disana" mami menarik napas berkali-kali.


"ya dari dulu mami nggak pernah ngekhawatirin aku, selalu saja zhari. anak mami siapa sih? aku apa zhari?! terus juga selalu saja nyalahin aku kalau ada Apa-apa sama anakku, ya dia anak ku mih. Ck" Fauzan tak mau kalah, dia jengah dengan hidupnya.


"Udah mas" aku mengelus punggung Fauzan Dengan lembut, nggak ada manfaatnya berdebat dengan orang tua.


"iya dia anak kamu, zhari istri kamu. dan mami mertua sama nenek dari dua orang itu! sudahlah mas kamu dinasehatin malah kayak gitu, awas aja lusa kalian harus pulang!" Mami menutup panggilan sepihak.


"Siapa sih anak mami yank? kamu apa aku?" tanya Fauzan mengembalikan ponselku.


"ya kamu anaknya, kan aku cuma menantu" aku mengangkat bahu acuh, berusaha bodo amat walau hati ketar ketir ingin ketawa.


"hemm udah diminum obatnya?" tanyanya sambil menatapku.


"kamu beliin aku ini tau dari mana? aku kan cuma mual biasa mas? nanti juga reda sendiri. ya nggak aku minum lah" aku tersenyum dan menaruh paperbag obat pada nakas.


"Ck diperhatiin malah kaya gini" Fauzan memutar mata malas.


"hemm salah siapa?" tanyaku yang ikut memutar mata malas juga.


"beberapa menit lagi tahun baru lho, dek. Kamu beneran nggak mau kebawah? buat apa kita nginep di hotel yang deket menara Eiffel kalo pas akhir tahunnya nggak liat keseruan dibawah" gerutunya tak senang.


"nggak mau ah, disini juga enak kok" aku menatap ponsel yang menunjukkan pukul 23.57 berarti 3 menit lagi tahun baru.


"hemm yaudah, liat aja yuk di balkon?" ajaknya yang kuangguki setuju.


Duarrr.....


setelah tiga menit, kembang api dan berbagai petasan dinyalakan. dibawah temaramnya malam dan dinginnya udara, orang-orang dikota paris sangat antusias dalam menyambut tahun baru. meriah sekali, baru kali ini aku merasakan tahun baru di negara Perancis. negara yang dulu membuatku putus asa.


Fauzan memelukku hangat dengan senyum terus mengembang, "seneng nggak? dulu ini impian kamu kan?" tanyanya.


"iya, dulu aku mau nerima perjodohan ini cuma karna mau ke Perancis. tapi Tuhan baik padaku, semuanya berubah" aku menyenderkan kepala pada pundaknya.


"memory akhir tahun yang indah" gumam Fauzan sambil mengecupi pucuk kepalaku.


"ini udah tahun baru lho?" aku mantap matanya.


"ya tahun baru, bukan berarti lembaran baru. pernikahan kita sudah wajar, kita sudah mau menjadi orang tua. kamu tetap menjadi wanita aneh dimataku, dek." jawab Fauzan.


"aneh? apanya yang aneh?" aku bingung.


"ah sudahlah, nikmati saja. jangan difikirkan" Fauzan semakin memelukku dengan erat dari samping, aku menghirup udara malam dengan perasaan lega.


terimakasih tuhan, atas skenario yang kau rancang untuk hidupku. jika aku tau takdir akan membawaku pada cinta sejati, mungkin aku sudah menggenggam cinta ini sejak bertemu dengannya. lagi-lagi ini hanya Perkara Waktu.


...Bersambung........


Huwaaa.....

__ADS_1


Tidaqq ada yang menyangka kan mereka bakal kayak gini😭, ahh author ketar-ketir pengen nangis pas nulisnya ini. untungnya aja inget kalian, jadi nangisnya ditahan😌 tunggu ya readers selain chapter nya berjudul memory akhir tahun novel author juga bakalan bisa jadi memory akhir tahun kalian, wkwk mengpede dulu aja yekan ;). tetap stay ya readers, masih banyak bab nya lho. thanks you👋❤


__ADS_2