
"Udah baikan?" Tanya Fauzan sambil melirik zhari yang sedang meminum air putih.
Tangisnya sudah mereda, menyisahkan mata sembab dan pipi kemerahan, mereka duduk saling membelakangi. Ditepi kasur pengantin yang bertaburan bunga.
"Ya, makasih udah membantuku mengeluarkan emosi" ucap zhari pelan, kadang masih sesenggukan.
"Kalo kamu capek, bilang aja ke aku. Nanti aku tambahin emosimu biar meledak, biar cepat sembuh" timpal Fauzan sambil mengeluarkan lipatan kertas dari dalam sakunya. "baca nih!"
"Apa nih?" Tanya zhari heran.
"Aturan dasar pernikahan?" Eja zhari aneh pada kertas pemberian Fauzan.
Zhari menoleh dengan cepat, "maksudnya apa?"
"Bukankah kamu meminta pernikahan kita dibuat surat kontrak? Dan ya itu aku kabulkan, kalo gak ada yang setuju. Coret dan ganti!" Usul Fauzan sembari mengubah posisi duduknya, kali ini mereka bersebelahan.
Mereka berpandangan, "Deal!"
Zhari kikuk dan langsung menunduk, beda Dengan Fauzan yang masih asik menyelusuri wajah cantik istrinya, yakin tak ada rasa? Tak mungkin sebagai lelaki normal yang bersuami wanita seayu zhari, Hasratnya tak bergetar, apalagi mereka telah bersama selama lima setengah tahun. Namun, Fauzan masih waras tak memaksa kehendak apapun.
Kontrak pernikahan Azhari dan Fauzan.
Tri Azhari sebagai pihak pertama dan Fauzan Nur Arkan sebagai pihak kedua.
Pihak kedua tak perlu membuat kontak fisik dengan pihak pertama, kecuali atas kesepakatan bersama.
Pihak pertama harus memanggil pihak kedua 'Mas' dan pihak kedua harus memanggil pihak pertama 'Dek' demi tidak menimbulkan kecurigaan dikalangan para orang tua.
Pihak pertama dan kedua tidur terpisah dikamar berbeda.
Pihak kedua tidak akan melarang pihak pertama dalam urusan pekerjaan. Sebaliknya, pihak pertama harus wajib mengikuti pertemuan dan pesta antar pembisnis. Demi menjaga nama baik pihak kedua.
Pihak pertama harus memasak demi kelangsungan hidup pihak kedua.
Pekerjaan rumah dikerjakan pelayan tanpa campur tangan pihak pertama dan kedua.
Gaji berasal dari penghasilan pihak kedua sebagai suami, pihak kedua takkan mencampuri urusan keuangan pihak pertama.
Pihak pertama tak berhak menolak pihak kedua yang akan mengantar dan menjemput nya kesekolah, demi tidak menimbulkan kecurigaan orang-orang sekitar.
Pihak pertama harus berpenampilan tertutup, anggun, sopan dan santun terutama saat pihak kedua mengajaknya ke acara antar pembisnis. Agar Tidak menimbulkan tercoret nya nama baik pihak kedua.
Kedua belah pihak tak berhak mencampuri privasi masing-masing.
Peraturan lain harus ditambahkan sesuai situasi dan kondisi.
Pelanggar aturan harus dikenai sanksi yang berlaku, bisa berupa materi maupun lainnya. Tergantung kesepakatan bersama.
"Waiit!" Tahan zhari dengan tangan teracung, "pasal dua manggil 'Mas? Ngak mau! Aku maunya didepan ortu doang! Dan kamu manggil aku 'Dek? Kita kan seumuran!"
"Yakin gak mau? Kalo keceplosan gimana? Mau dipaksa buat tidur satu ranjang? Dan untuk 'dek? Itu tak beralasan, karna umurku jauh satu tahun diatasmu!" Jelas Fauzan.
Zhari bergeming, "kalo tidur satu ranjang kan serem.." batinnya.
"Tapi aku gak bisa zan!" Ceplosnya menyerah.
"Coba dulu" suruh Fauzan sabar.
__ADS_1
"N... M - Mas? Mas!" Zhari terbata malas.
"Bagus!" Fauzan melipat bibirnya hingga membuat lesung pipinya terlihat manis, "Dek Za!" Balas Fauzan girang.
"Oh please..." zhari memutar matanya malas, "pasal dua, check!"
Dia kembali membaca tulisan rapi Fauzan diatas kertas itu.
"Pasal lima, No!" Tolak zhari keras. "Aku yang masak? Ogah! Mending kamu nyewa chef buat masak, atau masak sendiri-sendiri! Sekaligus menjawab pasal keuangan. Aku belanja kebutuhanku sendiri pakai uangku, dan kamu pakai uangmu!" Putus zhari semena-mena.
Fauzan mendelik, "Are you crazy? Pernikahan macam apa itu, Za? Aku yang harus nafkahi kamu!" Putusnya alot.
"No! Aku gak mau lagi bergantung sama kamu!" Ujar zhari ngeyel.
"Oh come on, biarkan pernikahan ini berjalan sewajarnya za, udah kewajiban ku menafkahimu secara materi. Meski secara batin kamu gak mau" bujuk Fauzan.
Zhari berfikir, nafkah batin apa? Mungkinkah itu..... pernukaran benih?, Pikiran zhari mulai kacau. Bulu halusnya berdiri serempak.
"Absolutely no! Gak usah mikir nafkah batin segala!" Tegas zhari dingin.
Fauzan melengos dan membuang napas, berusaha sabar.
"Oke, terserah kamu aku tetep gak mau pakai uangmu!" Putus zhari kemudian dengan keras kepala.
"Yaudah aku yang belanja bulanan, kamu tinggal pakai!" Putus Fauzan.
"Ngak mau!" Tolaknya kukuh.
"No excuse!" Tolak Fauzan tegas.
Zhari menyerah, akhirnya dia hanya melipat bibir tipisnya dengan sedih. Dia lelah memberontak, "pasal lima, check!"
"Hmm nanti aku pikirin" jawab fauzan enteng.
"Nanti?.... what! Oke, abaikan. Pasal delapan, check!" Ucap zhari menahan kesal.
"Pasal sembilan, penampilan sopan, dan anggun macam apa yang kamu maksud? Emang kamu pernah liat aku pakai bikini doang? Atau ngeliat aku bertelanjang? Ngak kan!" Semprot zhari emosi.
"Sikapmu Za! Kamu harus bersikap anggun dan sopan santun, selayaknya kamu sama aku menikah karna cinta!" Jelas Fauzan gamblang.
Zhari tercenung sebentar, memahami penjelasan gamblang fauzan. "Check! Oke"
"Ada yang aneh di pikiranmu tentang aturan ini?" Tegas Fauzan.
"Sementara enggak" jawab zhari lesu, dia meletakkan kertas yang dicoretinya itu diatas kasur.
Mereka terdiam, menata kalimat apa yang selanjutnya perlu dibahas. Hidup bersama sebagai pasangan suami istri yang masih berhati kabur itu membutuhkan penyesuaian.
"Tentang tekadmu yang itu? Apa kamu masih serius?" Buka zhari setelah hening beberapa saat.
"Yang mana? Membuatmu percaya cinta?" Sambung fauzan sambil melihat langit-langit kamar.
Zhari mengangguk ragu, "ya!"
"Tentu karna aku akan memulainya" Fauzan tersenyum aneh lagi.
Zhari bertanya apa maksud senyuman aneh Fauzan itu. Namun, tak ada jawaban. yang ada sikap badan fauzan yang makin condong pada zhari, wajahnya yang tampan itu makin mendekat.
__ADS_1
"Menjauh! Ingat pasal satu!" Cegah zhari gemetar.
"Ada yang terlewat Za! 'atas kesepakatan bersama' bukankah kamu tak pernah menolak tekadku yang satu itu? Membuatmu percaya cinta, manja dan candu padaku, ingat?" Fauzan menatap zhari dengan licik.
"Sial! Kenapa aku tertipu dengan kalimatnya?" Kutuk zhari dalam hatinya.
"Jangan mendekat! Aku bisa menggigitmu atau berteriak!" Ancam zhari gusar.
"Silahkan, aku bisa menahan gigitanmu! Berteriaklah, tidak ada yang bisa menolong mu dek! Semakin kamu melawan. Aku semakin semangat melakukan nya Azhari!" Fauzan makin intens menganggu nya.
"Please, don't aku takut!" Kartu as zhari terbuka, menunjukan kelemahan nya didepan Fauzan.
"Jangan seperti ini!" Pinta zhari memelas, sebab melawan tenaga Fauzan tak ada gunanya.
Fauzan tersenyum puas dan usil, "kamu menutup matamu Za!"
Zhari kontan membuka matanya, "kamu ngerjain aku!"
"Hahahaha" Fauzan tertawa puas.
"Psiko! Gila! Sialan!" Zhari memukuli punggung fauzan tanpa ampun.
Lelaki tampan itu pasrah merasakan sentuhan kasar dari istrinya. Bahkan dia membalik badannya tanpa disadari zhari, dia menangkap tangan zhari dan menariknya kearah dada. Sadar dengan kejadian yang berlangsung, zhari mengelak. Namun, gadis itu kalah tenaga dengan Fauzan.
Zhari sudah berada diatas badan fauzan, sikap badannya yang potensial untuk sebuah adegan intim lawan jenis. Mereka beradu pandang diatas ranjang bertabur kelopak bunga yang wangi, mata terkunci dan mulut membisu. Tapi entah hati pergi kemana.
"Damn ternyata dia secantik ini? Sumpah aku bakalan naklukin kamu!" Batin Fauzan tak fokus.
"Manusia kurang ajar!" Kutuk zhari dalam hatinya, "tapi hatiku kenapa sih? Kok rasanya aneh?!" Keluhnya kemudian.
"Apa yang kamu rasakan?" Tanya Fauzan lembut, "setelah melakukan kontak fisik barusan? Berdebarkah?"
"Enggak!" Bentak zhari cepat, karna tau fauzan lengah. Dia duduk menjauh dari lelaki menyebalkan ini.
Fauzan menangkap wajah zhari, "aku tahu lho! Pengalamanku soal kontak fisik lawan jenis lebih banyak."
Zhari memincingkan matanya dengan gemas, "oh iya aku percaya kok kalau kamu pengalaman. grep-grepnya lebih banyak, udah berapa cewek mas?"
"Apa?"
"Yang kamu tiduri!"
"Hahaha" Fauzan tergelak, kemudian merenggut lagi. "Nihil" jawabnya sewot.
Gantian zhari yang tertawa, "ngak mungkin!"
"Kamu Kira aku penjahat kelamin?"
"Melihat bawaaanmu yang mesum, ditambah pergaulan bisnis mu. Bukankah itu iya? Apalagi modal tampang udah nyangkut cewek!" Zhari mulai mengajak debat sengit.
"Teri! Teri! Gue cuma pernah satu kali pacaran! Bertahan selama dua Minggu! Dan Lo tahu itu kan? Lagian Aku cuma mau mesra sama pasangan ku apa salah?" Debat Fauzan tak mau kalah.
"Kita bukan pasangan!"
"Terus yang kunikahi tadi pagi siapa?" Pepet Fauzan kesal.
Zhari terdiam, dia kalah lagi. Kenapa dia tak diam saja? Menyerah seperti biasa? Bukankah dia sudah biasa menghadapi situasi pelik macam ini? Seperti saat ada murid yang membangkang? Atau ada orang tau murid yang ngeyel akan kinerja anaknya? Anggap saja Fauzan begitu. Tidak bisa, terlanjur punya rasa yang lain. Mungkin itu yang sedang terjadi pada zhari.
__ADS_1
Kembali kepalanya terasa seperti dipukul benda berat, sah-sah saja Fauzan melakukan kontak fisik dengannya. Mereka suami istri, meski terkait kontrak. Tapi Fauzan membuat celah dengan alasan 'membuatmu percaya cinta, dan kecanduan hal itu' Dan otomatis sentuhan fisik diperbolehkan. Mungkin zhari yang harus menyekat jarak diantara mereka, termasuk debar aneh dalam hatinya.
...Bersambung......