Summer Love

Summer Love
Ch 72. Menghancurkan sebuah kepercayaan


__ADS_3

Aku menunjukkan wajah tegarku pada Zia, berusaha tersenyum kendati hatiku berombak.


"Udah mbak, gak usah difikirin. Aku tau kok maksud mbak apa, tapi kayaknya Fauzan gak mungkin selingkuh. Buktinya dia pergi bawa laptop, mungkin kerumah mas firman. Nggak mau bangunin aku, mungkin ada urusan perusahaan yang penting" ucapku lagi, selain membuktikan kalau aku tegar dihadapan Zia, ucapan ini juga untuk meyakinkan diriku sendiri.


"Tapi kamu baik-baik aja kan? Ini kamu yakin bukan Fauzan? Aku bukannya mau bikin kalian ribut, bahkan sampe pisah. Cuma aku nggak mau kamu disakiti, aku udah tau gimana rasanya sakit hati ditengah kondisi hamil" Zia menundukkan wajahnya, mungkin teringat masa lalunya yang kelam.


Aku menepuk bahunya, "nggak papa mbak, semuanya tergantung kita. Aku yakin kok bukan Fauzan" aku tersenyum kearahnya.


"Dek aku belum yakin, coba kamu telfon dulu. Masalahnya laki-laki kalau sudah sekali berani selingkuh, dia akan kecanduan. Ujung-ujungnya, aku nggak mau mikir kesana" Zia menatapku dengan memohon, tampak jelas diwajahnya kalau dia sangat khawatir.


Baiklah daripada terus didesak seperti ini, lebih baik aku menelfon Fauzan.


Satu deringan, dua deringan, tiga deringan. Sampai lima deringan, Fauzan tak juga mengangkat panggilanku.


Sedikit rasa khawatir bercampur sakit hati mulai bermunculan, semua perkataan Zia seakan-akan menari-nari di pikiranku.


"Mungkin sekali lagi diangkat" gumamku sambil mulai memanggil untuk yang ke enam kalinya.


Tapi tetap, tidak ada yang mengangkatnya. Mataku mulai memanas, aku berusaha untuk tetap tagar didepan Zia. Aku terlalu malu kalau menangis didepannya, dia kan orang yang sering aku judesin juga.


"Kayaknya lagi sibuk deh mbak, mungkin kalau emang dirumah mas firman. Dia nginep disana kali" aku masih berusaha berfikiran positif.


"Kalau gitu mending kita kerumah nya mas firman, aku bawa mobil sendiri. Yuk?" Ajaknya.


"Udah mbak, nggak usah. Palingan besok juga pulang" aku masih menolak dengan semua ajakannya.


"Dek lebih baik kita periksa, Yuk?"


Aku menatap matanya, dia begitu tulus. Baiklah karna aku penasaran juga, akhirnya aku mengangguk mengiyakan.


Tapi sebelum pergi aku menghampiri pak Ryan yang tengah berjaga malam, "pak mau nanya, mas ozan pergi dari rumah jam berapa ya?" Tanyaku menatap beliau.


"Kalau nggak salah, jam setengah 12 Bu" jawabnya.


"Dia nggak ninggalin pesan buat saya pak? Maksudku, mas ozan nggak ngasih tau mau kemana dia?" Berondongku tak sabar.


"Bapak nggak ngasih tau mau kemana dia Bu, dan saya juga nggak berani nanya"


"Oh okeh, saya mau keluar bareng temen pak. Nah misalnya mas Ozan pulang sebelum saya pulang, tolong telfon saya ya pak?" Pesanku yang langsung diangguki pak Ryan.


Akhirnya kami berdua pun pergi kerumah mas firman menggunakan mobil Zia.


"Semoga emang bener, suami kamu dirumah kakaknya" ucap Zia yang tak kubalas apa-apa.

__ADS_1


Beberapa menit perjalanan, kami telah sampai didepan rumah mas firman. Karna scurity rumah mas firman tau aku, beliau langsung membuka gerbang untuk mobil Zia masuk.


Tingnong.....


Aku memencet bel dan menunggu pemilik rumah keluar.


Mbak lili membuka pintu sambil tangannya itu tengah memegang botol susu, sepertinya Hya terjaga dimalam hari untuk minum.


"Eh dek, malem-malem kok kesini. Dan...." mbak lili terdiam saat melihat Zia disampingku.


"Eh mbak mau tanya, mas Ozan jam setengah 12 kesini nggak? Soalnya dia pergi gak bilang-bilang" tanyaku langsung, tanpa memperdulikan mbak lili yang mau bertanya. Ah mungkin soal Zia.


"Oh nggak tuh dek, gak ada tamu siapa-siapa. Apalagi Fauzan, emangnya dia nggak ngasih tau kamu dulu?" Mbak lili menatapku bingung.


"Oh , mas firman-nya ada mbak? Boleh aku ngomong sama dia?" Pintaku.


"Ada, yaudah dek masuk dulu. Mbak mau ngasih susu ke Hya, terus manggil mas firman." Mbak lili mempersilahkan kami duduk diruang tamu.


Setelah mbak lili naik kelantai atas, mas firman turun kebawah. Dia menghampiriku dengan wajah bingung, "ada apa ya dek?" Tanyanya.


"Mas, kata mbak lili. Mas Ozan ngggak kesini ya? Kalo gitu, aku mau tanya. Kan mas firman udah balik keperusahaan lagi, nah apa ada masalah perusahaan ya mas? Soalnya dari jam setengah 12 Fauzan keluar rumah, laptopnya dibawa. Cuma dia nggak bangunin aku bahkan nitip pesan" ujarku panjang lebar.


"Wah perusahaan sih baik-baik aja dek, emang fauzan nggak bisa dihubungin ya?" Mas firman menatapku.


Mataku mulai memanas lagi, apa benar fauzan selingkuh? Tidak mungkin bukan?


"Wa'alaikumsalam, hati-hati dek. Nanti kalo mas tau fauzan, mas hubungi kamu" sepertinya mas firman mengerti dengan perasaanku.


"Iya mas, makasih" akhirnya aku dan Zia pergi dari rumah mas firman.


"Bagaimana? Apa kamu mau cek langsung ke lokasi?" Ujar Zia tiba-tiba.


"Lokasi apa?" Suaraku mulai bergetar, air mata pun perlahan mulai turun dari lipatan mata.


"Tadi pas jam setengah satu, aku lagi mau pergi kerumah temen. Mau nitip naya, tapi nggak sengaja pas lewat depan club malam yang ada diseberang mall. Aku liat Fauzan dan ya seperti yang ada difoto" terang zia.


"Naya itu anaknya mbak ya?" Tanyaku bingung, masih sempat-sempatnya.


Zia mengangguk, "ya sekarang Naya udah dirumah teman aku, Untung aku punya mbak fifah. Aku tau nomor kamu, jadi kita ke lokasi? Kalo nggak juga gak pa--"


Ucapan Zia langsung aku potong, "lokasi aja mbak" selaku.


"Oke" akhirnya Zia mengalah, dia menjalankan mobilnya menuju club malam diseberang mall.

__ADS_1


Hatiku tak karuan, antara percaya dan tidak. Tapi tidak mungkin bukan? Benar, mungkin saja Fauzan pergi keperusahaan. Ah kenapa aku tak mengecek perusahaan?!


"Mbak keperusahaan aja dulu, mungkin dia disana" ucapku tiba-tiba, aku tak mau berspekulasi kalau Fauzan selingkuh. Masih ada satu tempat, yaitu perusahaan. Jika tidak ada pun, mungkin rumah mami?


"Baiklah" Zia memutar mobilnya dan meluncur keperusahaan.


Saat sampai disana, aku menghampiri scurity perusahaan. "Assalamualaikum pak, mau tanya apa bapak Fauzan ada diperusahaan?" Tanyaku saat menghampiri mereka berdua.


"Oh ibu, nggak ada. Dari pas karyawan bubar, nggak ada yang Dateng keperusahaan. Apalagi bapak, yang udah satu mingguan cuti" sontak hatiku teraduk kembali, jawaban scurity lagi-lagi membuatku kepikiran.


"Oh baik pak, makasih ya" aku tersenyum kearah mereka dan segera masuk ke mobil.


"Gimana? Ada?" Zia menatapku, aku menggelengkan kepala.


"Benar kan za, suami kamu selingkuh!"


Aku hanya diam dengan penuturan Zia, masih saja kupasang kepercayaan besar pada Fauzan walaupun hatiku sudah mulai tak enak. Karna masih ada tempat lain dia bisa pergi, mami Lia! Aku harus menelfon beliau. Tapi, apa itu tidak mengganggu? Ah persetan! Yang penting aku tau suamiku.


"Assalamualaikum mih" salamku pada mami, Untung saja pada deringan kedua mami langsung mengangkat nya.


"Wa'alaikumsalam dek, ada apa malem-malem nelfon mami? Mas Ozan ninggalin kamu lagi ya?" Tebak mami tepat sasaran.


"Maaf mih menganggu, aku cuma mau tanya. Apa mas Ozan pulang kerumah mami? Soalnya dari jam setengah 12 dia pergi, dan sekarang udah hampir jam 2. Dia belum pulang" suaraku sedikit bergetar.


Agaknya mami menangkap sesuatu, "dek, kamu baik-baik aja kan? Apa perlu mami ikut cari suami kamu? Dek?" Nada suara mami mulai khawatir.


"Nggak usah mih, palingan pagi pulang. Assalamualaikum" aku menutup panggilan sepihak.


Pelan-pelan tapi pasti, mataku sudah meluruhkan banyak air mata. Sebenarnya kemana kamu mas?


Zia menepuk pundakku, "jadi?" Tanyanya, aku mengangguk mengiyakan. Karna tak ada tempat lagi yang aku percayakan, tak mungkin suamiku pulang kerumah mertua tanpa diriku.


Akhirnya mobil Zia meluncur ke club malam, beberapa kali aku menarik napas dalam-dalam. Berusaha dan berusaha tetap mempercayai Fauzan.


Sekitar 6 menitan, kami sampai didepan club. Club itu tampak ramai, sejujurnya aku nggak mau masuk ke tempat- tempat kaya gitu. Dan ini juga yang membuatku ragu, seumur hidup, yang aku tau kenakalan Fauzan sejak zaman sekolah. Cuma bolos, dan sisanya ngggak ada! Karna dia lebih sering main ke rumahku. Lagipula anak mami kaya fauzan, nggak akan berani menjamah pergaulan bebas. Buktinya, karna pacaran dia dihukum sampai 3 tahun.


"Masuk?" Zia membuyarkan lamunanku, aku mengangguk.


Kami berdua memasuki club, pencahayaan remang-remang. Membuat ku sedikit pening, tapi. Punggung tegap yang tengah membelakangiku, membuat rasa penasaran ku membesar.


Aku menghampiri pemilik punggung itu, namun tak kusangka sebuah hal senonok menyapu mataku. Fauzan, tengah.... memeluk seorang wanita!


Hatiku tersayat-sayat, pipiku sudah basah. Orang yang aku beri kepercayaan, kini telah menghancurkannya? Mas kamu kenapa?

__ADS_1


...Bersambung.........


wah wah siapa tuh yang dipeluk babang Fauzan? Kalo dia beneran selingkuh. kayanya harus dipotong ya juniornya wkwk😂, ini udah ada yang bisa nebak enggak siapa wanita itu? kalo bisa nanti satu hari (cuma sehari) author bakalan up 3 bab😍. yuk yang jiwa-jiwa sinetronnya peka, coba komen 😌


__ADS_2