
Selesai mandi, aku turun kebawah dan duduk diruang tamu. Menunggu kedatangan Fauzan, entah ada dua alasan aku mau menunggunya, yang pertama karna takut bi iyem Adalah mata-mata mami. Yang kedua karna hatiku sedikit merindukannya, ya memang betul aku merindukan si rese itu. Sudah landing kah dia? Semoga saja perjalanan nya lancar dan selamat sampai tujuan.
Aku menghela napas gusar, harusnya sebentar lagi dia sampai. Bodohnya aku! Kenapa aku mau menunggunya? Kalau dia bertanya apa alasannya? Aku frustasi sendiri.
Akhirnya aku memutuskan untuk tidur, lagipula mataku sudah berat. "Eva... nanti kalau bapak pulang suruh makan aja ya? Aku ngantuk" ucapku saat melihat Eva - pembantu berumur 32 tahun yang sedang lewat.
"Eh iya bu" jawab Eva yang hanya kubalas dengan anggukan.
Aku menaiki anak tangga dan masuk kekamar, menyembunyikan seluruh badanku didalam selimut hangat ini. Sehangat pelukan badan fauzan yang dulu pernah aku rasakan.
Jika mengingat pelukannya, aku kok semakin merindukannya saja sih? Rasanya sepi juga hatiku tanpa si rese.
***
Aku terbangun saat mendapati mataku yang tak merasakan adanya pencahayaan ditambah aku mendengar suara - suara aneh, entah suara itu membuat bulu kuduk ku berdiri serempak.
Lantas aku membuka mataku yang masih sedikit berat ini, melihat sekeliling dan menemukan bahwa lampu kamar telah mati! Sit! siapa yang mematikan lampu kamar? Aku tak suka gelap! Sial tidur saja lampu selalu aku nyalakan, Pantas saja aku merasa terusik!
Aku memberanikan diri untuk bangun, sembari tangan ini meraba-raba nakas. Mencari ponsel, berharap dengan adanya benda itu aku bisa merasa lega dengan pencahayaan.
Setelah menemukan nya, aku menyalakan lampu di ponsel ini, dan turun dari ranjang perlahan. Jantungku berdebar kencang, hati tak karuan dan napas tersengal.
Apalagi saat kukibaskan gordeng, melihat keluar dan semakin mendengar suara bisik-bisik itu, apa rumah ini ada maling? Sudah tak aman kah? Ya Tuhan... aku takut!
Jantungku makin berdebar, napasku makin pendek apalagi kakiku makin bergetar saat memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, sial! Jam berapa ini? Aku tak sempat melihatnya diponsel karna benda ini lebih dulu mati, aku lupa mencharger nya! dan menyisakan kegelapan yang amat pekat.
"Mami, Papi... Fauzan....." aku terisak dan terduduk dibawah jendela. Aku paling takut gelap! Dan rumah sebesar ini hanya kutinggali sendirian, memang ada Ema, Eva dan bi iyem. Tapi mereka tidur dilantai bawah, dan aku dilantai atas!
"Fauzan apa kau sudah pulang? Dimana kamu? Aku takut gelap..." racauku makin menderaskan air mata.
__ADS_1
Dengan 0,01% keberanian, aku berdiri dan berjalan kearah pintu. Agak gak kuat menopang tubuh, karna kakiku sudah bergetar hebat.
Saat sudah sampai didepan pintu, aku awalnya ragu-ragu untuk membukanya akhirnya Aku memberanikan diri membuka pintu ini perlahan dan keluar mengendap-endap, sembari mataku terfokus pada lantai bawah. Walaupun dilantai atas pun tak kalah seramnya Dengan dibawah.
Hatiku makin mencelos saat ada seseorang yang menepuk pundak ku saat aku hendak turun kebawah.
"Ahhh... hiks... hiks" aku berteriak kencang dan menangis sejadi-jadinya, seceneng ini kah zhari? Si pemberani dan mandiri ini sudah hilang saat dihadapkan dengan kegelapan. Memang kelemahan ku hanya satu, yaitu gelap!
"Za..." suara lembut seseorang perlahan membuat rasa takutku berkurang, isakanku pun mereda.
Aku membalik badanku dan menemukan sosok laki-laki yang teramat aku harapkan tadi, dia berdiri dibelakang ku sembari matanya terfokus pada netraku.
"Mas aku takut...." aku menghambur kedalam pelukan laki-laki ini dan terisak sejadi-jadinya. Tak tau nasibku bagaimana jika Fauzan tak datang, apakah aku akan mati konyol karna takut? Agak sarkas!
"Kamu takut gelap?" Tanyanya heran sembari mengangkat badanku kedalam gendongannya.
"Ini jam berapa? Aku takut!" Aku balik bertanya dan membenamkan wajahku didalam dada bidangnya.
"Tidurlah aku mau turun kebawah, ini kayaknya cuma konslet listrik." Dia berdiri dan hendak keluar.
Aku mencengkal lengannya erat, "tolong jangan tinggalin aku.... aku takut, please!" Mohonku padanya.
"Sebentar Za!" Dia melepaskan cekalanku dengan halus.
"Please zan! Ini demi kebaikan kamu, tadi aku gak sengaja denger suara-suara aneh" jujurku sembari masih memohon padanya.
"Suara aneh?" Fauzan menatap netraku.
Aku mengangguk cepat, "ya aku takut, aku takut kamu kenapa-kenapa.... aku takut itu maling" jawabku dan menarik tangan laki-laki ini agar lebih dekat.
__ADS_1
Bodo dengan kontrak pernikahan pasal satu! Yang jelas hatiku tenang.
"Maling?" Dia menatapku dengan bingung.
"Iya aku takut itu maling, peluk aku.... aku takut, aku hampir mati!" Tanpa persetujuan nya aku memeluk laki-laki ini dengan erat.
"Yaudah tidurlah" dia mengelus-elus punggungku Dengan lembut.
"Peluk aku.... kita tidur bareng, Are you okay?" Tanyaku padanya.
"Okay" dia pun manut dan kami tidur bersama sambil berpelukan, sesekali aku masih terisak.
***
Pagi harinya aku terhenyak kaget, saat pinggang ini ada yang memelukku dengan posesif.
Aku mendongak dan menatap wajah tampan Fauzan, dia masih nyenyak dalam mimpinya. Mungkin perjalanan dari Singapur ke indo membuatnya lelah? Atau karna banyaknya pekerjaan? Entahlah.
Aku bergeliat kecil karna merasa tak nyaman saat ku ingat kebodohan ku tadi malam. Sit! Untung tadi malam tak menjadi saksi aku menyerahkan kesucian ku padanya, Untung kami hanya tidur biasa! Sial! Semuanya gara-gara mati lampu!
Sejujurnya aku nyaman dengan pelukan ini, apalagi saat menelusuri wajah tampan Fauzan. Namun, aku pun harus cepat-cepat mandi. Agaknya pembalut yang kupakai ini sudah penuh, memang aku sedang haid.
Aku meronta sedikit, terdengar suara serak Fauzan yang membuatku berhenti meronta. "Temani aku dulu" ucapnya tanpa membuka mata.
Akhirnya karna tak tega melihatnya lelah, aku hanya manut.
...Bersambung........
***
__ADS_1
Fobia zhari gelap nih readers, kalo fobia kalian apa? wkwk jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya readers, semoga kalian selalu diberikan kesehatan❤
Thanks you👋