
Tak terasa lima hari lagi aku menikah, ditanganku terdapat tumpukan undangan pernikahan kami. Kutatap nanar undangan ini, kata mami H-4 lebih tepatnya besok undangan ini harus disebarkan didalam sekolah, maksudnya undangan ini harus aku bagi pada guru-guru disekolah tempat ku mengajar.
Aku menghela nafas gusar sembari membawa setumpuk undangan ini dan menaruhnya diatas nakas.
Aku diam duduk ditepi ranjangku, melihat kearah tempat tidur. Dimana lima setengah tahun lalu, pria itu - Fauzan pernah merebahkan tubuhnya di atas kasur ini, akankah hari Senin nanti pria itu benar-benar akan menguasai kamarku?
Atau.... apakah kami benar-benar akan hidup dengan rumah sendiri? Kata mami ya! Karna rumah lima tahun lalu yang sudah mereka siapkan untuk pernikahan kami, nyatanya sudah direnov ulang menjadi rumah yang amat indah dan besar. Katanya itu adalah hadiah pernikahan kami, cuih! Gak bakalan seneng kayaknya hidupku setelah satu atap dengan Fauzan.
Lamunan ku terbuyarkan saat suara deringan ponsel menghenyak ku sedikit.
Ku lihat nama dilayar itu, 'mas zidan' ada apa lagi kakak laki-laki ku ini? Aku rasa ingin membanting ponselku karna kesal!
"Halo mas" ucapku memulai panggilan dengan malas.
"Dek kamu lagi dirumah ngak?" Tanyanya.
"Ya ada apa mas?" Aku balik bertanya heran, tak biasanya.
"Oh kalo dirumah, coba deh dek pergi keruang kerja papi. Atau cari papi aja lah, bilang sama papi dimana berkas map biru yang dari PT.Astra jaya abadi" jelasnya yang membuatku mengangguk paham.
"Oke nanti aku cari papi dulu" jawabku mengiyakan, mungkin mendesak kali ya? Biasanya kalo ada barang ketinggalan mas zidan selalu nyuruh asisten nya yang ngambil, apa ini karna pernikahan ku nanti ya dia jadi sibuk?
"Makasih dek ngerepotin, nanti kalo udah Nemu berkasnya. Anterin ya minta sopir" ucapnya lagi yang hanya aku jawab dengan 'ya, setelah itu panggilan tertutup.
Aku menuruni anak tangga dan mencari papi yang tengah bersantai diruang keluarga, sembari membaca koran dan menyesap kopinya perlahan.
"Pih kata mas Zidan, papi naro berkas map warna biru yang dari PT.Astra jaya abadi dimana ya pih?" Tanyaku pada beliau.
Dia menurunkan korannya, "cari aja dek diruang kerja papi, ditumpukkan berkas warna merah. Cuma ada satu map warna biru kok, tapi liat dulu nama PT nya, dibaca!" Jelasnya yang langsung ku angguki paham.
"Oke?" Aku manut dan naik lagi kelantai atas, tepatnya ruang kerja papi ada.
Aku memasuki ruangan itu, agaknya setelah papi melepas jabatan direktur nya buat mas Zidan, beliau lebih banyak santai daripada bekerja. Cuma ya sekali-kali dia akan bekerja ikut membantu mas Zidan yang masih kewalahan.
__ADS_1
Lantas aku mencari map biru itu di tumpukan map merah, aku baca isi didalamnya dan mengangguk. Entah mengangguk karna apa diri ini? Yang jelas aku menemukan map yang dicari itu.
Aku keluar dari ruang kerja papi, memasuki kamar sendiri dan mengambil Sling bag, kalau bukan aku yang mengantarnya siapa? Bukannya aku gak percaya sama sopir, tapi takutnya ada satu lembar kertas yang jatuh. bisa bahaya kan? Jelasnya ini berkas penting, macam penandatanganan kontrak kerja begitu.
Aku pun turun sembari mencari pak Parjo, yah beliau masih setia bekerja didalam keluarga ku. Walaupun usianya sudah memasuki 40 tahunan, seumuran sama papi. Mungkin beliau betah bekerja disini.
"Pak anterin aku ke perusahaan" ucapku pada beliau yang tengah minum kopi dan bercanda ria dengan pak tejo - scurity rumah.
"Oh iya neng" beliau berdiri dan berjalan kearah mobil yang terparkir didepan bagasi itu.
Setelah beliau menghampiri ku, Aku masuk kedalam dan mobil pun berjalan Dengan kecepatan stabil.
10 menitan mobil ini sampai diperusahaan papi, memang gak jauh kok perusahaan papi dari rumah. "Pak tunggu ya" suruh ku pada pak Parjo yang hanya beliau balas dengan meseman.
Aku memasuki kantor itu sambil sesekali disapa para karyawan, aku menuju lift dan memencet lantai 24. Tepatnya di lantai paling atas.
Tanpa basa-basi lagi aku mengetuk pintu, tampak dari dalam terdengar suara 'masuk' kubukalah pintu ini.
"Eh dek cepet juga" ucap mas Zidan setelah mendongak melihat diriku.
Beliau manut dan membacanya dengan seksama, lantas ku tatap Rayhan - asisten pribadi mas zidan yang tengah berkutat dengan laptop nya juga.
"Lengkap kok dek, makasih ya" mas Zidan menaruh mapnya lagi sembari menatapku.
"Hmm. Aku pulang dulu" jawabku mencium tangannya.
"Yah jaga-jaga kesehatan dek! Kamu harapan mami sama papi loh, awas jaga-jaga kalo fauzan minta lebih" bisiknya ditelingaku yang membuatku bergidik ngeri.
"Apa sih mas! Ngaco kamu!" Aku berbalik dan pergi dari hadapannya.
***
Keesokan paginya, aku berangkat ke sekolah menggunakan motor. Karna kata mami kami sedang di pingit, gak boleh saling ketemu satu sama lain. Yaudah aku manut lagian ini hari terakhir ku disekolah, karna besok aku cuti, selama satu Minggu - empat hari sebelum menikah dan tiga hari setelah menikah.
__ADS_1
Dipaper bag kecil berwarna coklat sudah ada setumpuk undangan untuk para guru-guru disekolah, gak tau gimana reaksi para guru yang pernah menjadi guruku dulu. Macam pak Asep, Bu Yanti dan pak abdul, ketiga guru itu masih setia mengajar karna memang waktu aku sekolah dulu, umur mereka masih seperti diriku, sekitar usia 23 tahunan.
Dan dugaan ku benar saja, reaksi ketiga guru itu tak percaya. Apalagi ibu Yanti, beliau adalah guru yang pernah mendekatkan ku dengan si rese Fauzan!
"Ini beneran dia?" Tanyanya sembari menatap undangan itu.
Aku agak mengernyit, apa beliau tak pernah memperhatikan pria yang sering mengantar jemput ku kesekolah? Yang pernah menjemput ku secara dadakan karna hendak fitting baju? Oh mungkin beliau gak nyangka kali ya? Kan wajah si rese itu lebih berbeda dari yang dulu, lebih cool dan tampan, Ku akui!
"Iya ibu! Gosip waktu dulu semuanya itu hoax! Dan alasan kami dekat, ya karna kami udah dijodohin" jelasku dengan dada sedikit sesak ketika mengingat lima setengah tahun lalu.
"Oh jadi zhari itu beneran keluaran almamater sini ya? Kok bapak gak tau, apalagi Fauzan!" Ucap pak Abdul, bingung. Yah kulupa beliau kan tak pernah mengajar dikelas ku!
"Eh iya pak" jawabku yang ikut bingung.
"Wah gak nyangka kalian beneran jodoh setelah lima tahun, gak sia-sia bapak sering ngehukum kalian!" Ucap pak Asep sembari tersenyum menatapku.
Aku mencebikan bibirku kesal, guru ini! Gak waktu masih perjaka, gak waktu sekarang selalu saja membuat darahku mendidih, Fauzan kedua! Batinku.
"Iya gara-gara bapak kami jadi makin Deket! Dan perjodohan ini malah dilanjutin" protesku padanya.
"Wah dek zhari masa sekolah sering dihukum? Benarkah?" Tanya sebuah suara yang membuatku menoleh.
"Eh" aku menunduk malu saat melihat kepala sekolah - ibu risa sedang menatapku.
Uh aibku terbongkar gara-gara pak asep!....
"Iya Bu dia dulu murid saya, suka buat ulah sama fauzan - calon suaminya itu, yaudah namanya juga jodoh! selamat menempuh hidup baru..." pak Asep menepuk pundak ku seraya ngeloyor pergi.
"Yang penting itu masa lalu dek! Ibu juga sering dihukum kok dulu" ibu risa nyengir kuda seraya duduk kembali di mejanya.
"Wah kalo tau gini ibu juga bakalan sering-sering ngehukum kalian buat bersihin toilet, kaya lagi waktu dulu." Ucap Bu Yanti menampilkan wajah kecewa dengan waktu.
"Yah ibu, udah berlalu" jawabku ngeloyor pergi dari hadapan beliau, agak gak sopan sih tapi gak sanggup kalo ngebahas hal macam dulu. apalagi tentang perjodohan yang selalu membuat hatiku kesal.
__ADS_1
...Bersambung.......