
Tok tok tok...
Pintu kelas diketuk tiga kali, lantas aku mendongak dan melihat seorang remaja lelaki masuk kedalam dan menghampiriku.
"Maaf ibu saya mengganggu, kata kepala sekolah ada tamu yang menunggu ibu diruang guru" ucapnya seraya menunjuk jalan dengan ibu jari, teramat sopan anak ini.
"Baik makasih ya" jawabku tersenyum dan dibalas senyuman oleh remaja itu.
Lantas aku membereskan buku dan absen - absen ini dimejaku seraya berdiri dan menatap semua murid-murid ku yang tengah fokus menulis.
"Ibu pergi sebentar ya" ucapku pada mereka.
"Iya Bu..." jawab mereka kompak.
Aku berjalan dengan santai kearah ruang guru, seraya menyapa guru-guru atau staf yang tengah berlalu lalang. Tak jarang juga ada murid yang mencium tanganku.
"Assalamualaikum" ucapku sebelum memasuki ruang guru.
"Wa'alaikumsalam" jawab orang yang ada didalam ruangan ini.
Langkahku terhenti saat kutatap lelaki yang tengah duduk disalah satu sofa ruang guru, lelaki itu teramat tampan dengan tuxedo yang melekat di badannya. Ya jika kalian mengira lelaki itu Fauzan, kalian benar!
Aku berjalan kearahnya dan duduk di sofa yang berhadapan dengannya, "ada perlu apa?" Tanyaku ramah, walaupun hati ini sudah ingin meledak-ledak.
"Jam berapa kamu pulang?" Tanyanya seraya melihat arloji.
"Masih ada 2 jam pelajaran lagi" jawabku.
"Oh lama ya? Gak bisa izin dulu gitu?" Dia menatapku dengan tidak sabar, pria ini... batinku ingin memukulnya.
"Mau apa sih?" Tanyaku heran.
"Mau apa? Kamu gak inget ya kita mau fitting baju?" Ucapnya sembari memelototi ku.
Aku menelan ludah, "ya kan setelah Dzuhur bisa!" Tolakku yang masih ingin terus disekolah.
"Zhari! Zhari! Bisa gak sih sekali aja nurut? Mami terus ngomel!" Kesalnya dengan melempar ponselnya kearahku.
Kuambil ponsel itu dan membukanya, tampak banyak pesan wa dari mami Lia dan mamiku, agaknya keluarga kami benar-benar sudah tidak sabaran.
__ADS_1
Aku menghela nafas pasrah, "oke! Tapi aku mau izin dulu" ucapku yang diangguki olehnya.
Lantas aku berdiri dan berjalan kearah kepala sekolah, meminta izin untuk tidak bisa mengajar dua jam kedepan. Setelah itu aku keluar ruang guru untuk mengambil buku-buku dan absensi dikelas X ips3, tak lupa aku mengintruksikan tugas kepada satu kelas yang akan kutinggal itu.
Pada akhirnya aku tetap tak bisa lepas dari perjodohan lima setengah tahun lalu, sudah banyak usaha yang aku lakukan. Hasilnya tetap nihil, dan keputusan dulu tetap tak bisa diganggu gugat.
Tapi untungnya aku telah berhasil menggapai mimpiku, menjadi seorang guru ips disekolah sma yang dulunya tempatku menimbah ilmu.
Yah mungkin inilah jalan hidupku, selama lima setengah tahun, hidupku selalu bergantung dengan Fauzan. Berangkat kuliah, pulang kuliah, sampai saat kumengajar saja. Dia yang selalu mengantar dan menjemput ku, padahal aku bisa membawa motor sendiri. Dan satu lagi padahal lelaki itu teramat sibuk dengan pekerjaan kantornya, karna memang selama satu tahun kedepan dia menjadi direktur utama di perusahaan papi Hendrik, semuanya tak beralasan. Hanya saja tiga Minggu lalu mbak lili melahirkan seorang bayi perempuan, yang telah menjadi penantian mereka selama 8 tahun.
Sejujurnya aku agak terharu dengan pernikahan mereka, selama 8 tahun mereka menyabarkan hati tanpa memiliki masalah pelik dirumah tangganya dan hal itu membuahkan hasil. Karna itulah mas firman menyerahkan jabatannya sementara untuk Fauzan, alasannya karna ingin memandikan putrinya, bermain dengan putrinya.
Aku menghela nafas gusar setelah mengambil buku-buku dan absensi dikelas X Ips3 dan setelah mengintruksikan tugas dikelas XI Ips1.
Aku membereskan semuanya dimeja ku dan mengambil Sling bag yang tergeletak dikursi, seraya berjalan ke arah Fauzan.
Lelaki itu berdiri dan berjalan di depanku seraya memainkan kunci mobil ditangannya.
Aku memasuki mobil lelaki ini bersamaan dengan nya juga yang memasuki kemudi, lantas aku menyenderkan punggungku dikepala kursi seraya wajah cantik ini mendongak keatas, menatap langit-langit mobil.
"Kalau tau begini dari dulu aku pergi" ucapku dengan mengusap sudut mata yang berair.
Aku menoleh dan menatapnya tajam. "Dan apa gunanya gue disini? Jadi korban keluarga? Atau disuruh ngandung cucu laki-laki?" Racauku tak jelas.
"Ya lo sebentar lagi disembelih, siap-siap!" Fauzan menjalankan mobilnya.
"Ck dasar mesum!" Aku melipat tanganku didepan dada dan menatap jalanan.
"Mesum Lo bilang? Dan apa selama ini gue mesum?" Fauzan memiringkan kepalanya sedikit kearahku sambil mata itu terfokus kembali pada jalanan.
Aku bungkam, Fauzan memang tak pernah mesum. Namun, fikiran orang siapa yang tahu? Mungkin saja selama ini dia selalu berfikiran liar tentangku? Hanya saja dia berhasil menyembunyikan hal itu, bukan?
"Pada akhirnya kita tetap menikah" ucapku setelah hening beberapa saat lalu.
"Gimana lagi? Daripada kita nikah diusia muda kaya dulu? Lagian dulu lo amat senang menyetujui usulan ku" jawabnya yang membuat otakku memutar memori lima setengah tahun lalu.
Aku tak membalas dan dia pun tak melanjutkan pembicaraan nya, pada akhirnya hati kami mungkin akan terjalin erat satu sama lain. Saling bergantung dan tak terpisahkan macam yang diinginkan para sepuh.
Perjalanan kebutik tak sehambat yang kukira, karna jam masih menunjukkan pukul 9 pagi, tak terlalu macet.
__ADS_1
Aku turun dari mobil sembari menatap butik ini dengan lesu, amat merasa enggan untuk melangkah.
"Masuk" ajaknya menyenggol lenganku.
"Hmm" aku manut dan mengekor dibelakangnya.
Kami sampai didalam butik, tampak mamiku sedang meraba-raba kebaya putih yang masih setia melekat di badan manekin.
Aku memutar mataku malas, seabsrut itu Mamiku?
"Eh mas udah nyampe, dek ayo cepet dicoba" mami Lia menarik tanganku, sembari meminta pelayan butik untuk melepas kebaya dimanekin itu.
Aku diseret kedalam ruang ganti, mengganti pakaian mengajarku dengan kebaya putih ini. Aku agak risih sejujurnya, apalagi pas ngeliat baju ini sedikit memperlihatkan belahan dadaku.
Aku keluar ruang ganti seraya menutup belahan dadaku, malu betul diri ini! Apalagi pas ngeliat mata Fauzan yang tak berkedip saat menatapku, aku melengos malu.
"Heum mbak kayaknya kurang pantes deh" Mamiku mengomentari seraya memutari badanku.
"Iya yah, dadanya agak kelihatan. Yaudah ganti aja" putus mami Lia yang membuatku lega.
"Mas Ozan gimana?" Tanya dua wanita itu sembari mulai menatap Fauzan.
"Eh" Fauzan terkaget dari lamunan kotornya, ya aku selalu mengira jika mata lelaki melihat area terlarang wanita dia akan berfikiran kotor.
"Iya mih ganti aja" putusnya juga, yang membuatku kembali lega.
Setelah disetujui, akhirnya aku mendapatkan kebaya brokat yang tak memperlihatkan bagian dadaku, well aku menerimanya.
"Mas jangan pulang dulu, kerumah mbak lili dulu ya? Mami mau liat hya" ucap mami Lia girang betul ingin bertemu cucunya.
"Iya mih" jawab Fauzan manut sembari mata itu tetap focus pada jalanan.
...Bersambung........
***
Wah ternyata dua orang ini gak bisa lepas dari perjodohan lima tahun lalu ya.... hemm menurut kalian gimana ya kisah mereka kalo udah nikah? bakal kaya anjing sama kucing gak? atau apa zhari bakalan terus berontak? Kalo mau tau yuk guys pantengin aja ya kisah Fauzan sama zhari😉
sebelumnya maaf ya kalo cerita ini masih sedikit kurang pas 😁, jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya readers😌. semoga kalian selalu diberikan kesehatan❤
__ADS_1
thanks you👋