
"Wah ini mah gak bisa dibiarin mas! 6 bulan lagi kita harus ngajuin mereka ke KUA, toh mereka juga sudah punya KTP, sudah bisa menikah" putus sang papi pada akhirnya.
"Apa?!" Fauzan terlonjak kaget, dia tak menyangka hal ini justru berbalik dengan ekspektasi nya, alih-alih memundurkan pernikahan sampe umurnya 25 ini malah memajukan pernikahan.
"Iya mas! Keputusan udah papi ambil" ucap sang papi serius.
"Pih o-ozan bohong! Kami hanya 4 kali bukan 6 kali!" Putus Fauzan pada akhirnya, jika kebohongan membawa petaka lebih baik dia jujur.
"Heh jujur juga pih!"ucap mas firman penuh sarkasme.
"Ist apa sih mas!" Fauzan menatap kakanya dengan tajam, lantas mata itu menatap papinya dengan sayu. "pih! Aku gak tau alasan apa yang membuat kalian menjodohkanku dengannya, tapi... jujur saja kalau kalian memang cuma pengen zhari yang jadi istriku, it's Okey aku turutin. Tapi tolong..... tolong izinkan kami meraih cita-cita dulu" mohonnya.
Papi mengurut dagunya dengan serius, "nanti papi bicarain lagi sama papi alfy ya?!" Putusnya.
Fauzan hanya bisa menghela nafas sedih, bagaimana janjinya dengan gadis itu? Alih-alih menempati janji dan membuatnya senang, Fauzan justru seperti menghianatinya dan menjerumuskan ke lembah pernikahan, apalagi yang paling dia tidak inginkan. Gadis itu membencinya!
"Yaudah papi sama mas firman mau ngecek kantor dulu mas" ucap papi saat melihat arloji nya.
"Weekand masih kerja?" Tanya fauzan.
"Yah kamu perlu banyak belajar dunia berbisnis sama mas firman" jawab papi lantas pria itu mengeloyor pergi menyisahkan fauzan yang hanya diam seribu bahasa.
"Tanyakan hatimu dek!" Bisik mas firman seraya menepuk pundak fauzan dan pergi.
Fauzan menghembus kan nafas gusar, lalu laki-laki itu keluar dari ruang kerja sang papi.
"Enaknya weekand itu jalan-jalan, ini malah diintrogasi" ucapnya sembari melihat sekeliling.
***
"Nih dek, jangan heran ya sama kedekatan mami lia dengan mami Nanda. Ada banyak kisah loh didalamnya" ucap mami Amelia saat aku sedang menyirami bunga-bunga yang baru beliau tanam.
"Apa mih?" Tanyaku penasaran.
"Ya dulu tuh, mami Lia sama mami Nanda adalah anak rantau. Kami sama-sama berasal dari solo, bedanya mami Lia merantau hanya untuk bekerja, tapi mami Nanda merantau untuk bekerja sekaligus kuliah kedokteran. Kami satu kontrakan saat itu, kami juga sering bersusah senang, mudik bareng... apa-apa bareng" mami Amelia tersenyum tipis saat menceritakan kisah ini.
Aku menghentikan aktivitas ini dan menatap beliau dengan penasaran, jujur sih aku juga penasaran sama kedekatan dua wanita ini.
"Sampe mami lia dapet kabar kalau mami Nanda itu mau menikah sama seorang pengusaha disini, yang tak lain papi kamu - papi alfy. Saat itu mami Lia merasa senang, ya gimana gak senang dek? Kami selalu berduka cita bareng-bareng dan dari mami Nanda lah mami Lia bisa dapet papi Hendrik" tambah beliau.
"Mmm jadi maksud mami, papi alfy itu udah temenan sama papi Hendrik gitu?" Tanyaku penasaran.
"Bukan temen sih dek, tapi lebih ke... rekan bisnis, nah iya rekan bisnis! Saat itu mami Lia sama papi Hendrik pacaran selama 3 bulan dan kami memutuskan menikah" jawabnya dengan gamblang.
__ADS_1
Aku mulai paham antara kedekatan mereka, jadi... awal mulanya adalah nasib yang mempertemukan!
"Nah coba dek zhari ceritain bagaimana awal mula nya bisa Deket sama mas Ozan?" Tanya mbak lili yang tiba-tiba membuatku ingin ngeloyor pergi.
"Ee... so-soal itu" aku bingung harus menjawab apa pertanyaan ini? Sedangkan kami saja waktu pertama kali bertemu sudah ribut terus.
"Ayo dek..." mami menyenggol tanganku.
"Wa-waktu itu, aku lagi......"
Ucapanku terpotong oleh suara seseorang yang hendak kuceritakan, "oh kamu disini Za!" Ucapnya.
Aku menengok sumber suara, tampak Fauzan sedang berjalan kearah kami.
"Mas Ozan! Suka bikin mami kaget aja" ucap mami sambil menatap si bungsu dengan tajam.
"Heum maaf mih, Ozan cuma mau ngajak zhari aja" jawab Fauzan.
"Kemana?" Tanyaku Bingung.
"Adalah nanti kamu tahu" celetuknya, lantas lelaki itu menarik tanganku.
"Awas loh jangan sampe kaya tadi ya!" Teriak mami gamblang, seperti takut kalau aku dan dia - fauzan akan melakukan perbuatan yang aneh-aneh.
"Ada yang mau aku omongin.... please maafkan aku ya?!" Dia akhirnya melepaskan tanganku saat kami sudah sampai dihalaman depan rumah.
"Apa sih?" Tanyaku makin aneh.
Dia menghembuskan nafasnya gusar lantas dia mencengkal bahuku kuat-kuat, "mari kita berusaha buat bebas dari hal konyol ini?" Ucapnya tiba-tiba.
Wajahku tiba-tiba pias, apa ini ada hubungannya dengan Fauzan yang dibawa papi Hendrik sama mas firman?
Aku kok jadi deg-degan kaya gini sih?
"Apa yang terjadi?" Tanyaku yang langsung paham.
"Kita disuruh nikah 6 bulan lagi!" Fauzan menarik-narik rambutnya frustasi.
"Apa?!" Aku terlonjak kaget.
Sial! 6 bulan?..... kami saja baru selesai melaksanakan ujian sekolah? Keluarga gila! Kutukku dalam hati.
"Bagaimana caranya?" Aku gusar sendiri, sembari bolak-balik gak jelas.
__ADS_1
"Cuma satu za!" Jawabnya yang langsung membuatku makin berdebar.
"Apa?" Tanyaku penasaran.
"Do'a!" Dia terduduk di batako halaman rumahnya sendiri.
Aku tertegun, hah? Do'a? Ya aku selalu berdo'a biar hidupku bahagia, tapi... please otaknya gak bisa mikir cara yang lain apa? Do'a? Itu sudah pasti dodol!
Asemmm bener sih harus Deket sama dia!
"Jangan bercanda zan!" Geramku sembari menatapnya tajam.
"Gak bercanda Za! Kita harus apa? 6 bulan... kalau kaya gini mending 1 tahun aja!" Jawabnya penuh frustasi.
"Ih... ayolah kamu cari solusi! Katanya kamu pinter!" Ucapku sambil menarik-narik lengan bajunya.
"Za! Please deh aku emang pinter disekolah! Tapi soal hal konyol gini aku bodoh!" Jawabnya dengan menatapku tajam.
"Kita harus apa?" Aku terduduk disampingnya, ya Tuhan.... tahun ini adalah tahun terpelik yang pernah aku alami.
"Gak tau!" Jawabnya cuek.
"Zan!" Aku menarik bahu laki-laki ini agar menatapku, "jangan bilang kamu itu bahagia bisa menikah denganku? Jangan bilang kamu itu mau mengekangku! Mengorbankan impianku!" Racauku dengan mata yang sudah berembun.
"Please deh Za! Gak ada niat seperti itu di hatiku!" Jawabnya dengan menahan teriakan, agaknya dia sedang menahan emosi.
"Gue benci ini!" Ucapku frustasi sembari menundukkan wajahku.
Lebih enak memilih menangis daripada berdebat dengan satu orang ini, tiba-tiba hidupku berubah 180 derajat dalam waktu satu hari!
"Za..." panggil Fauzan dengan suara pelan, tampaknya dia merasa bersalah.
"Jangan tahan aku!" Ucapku sembari menepis tangan nya yang hendak menghapus air mataku.
"Za...." dia memanggil ku lagi, suaranya begitu halus, tulus dan penuh kelembutan. Aku merasa hatiku sedikit tenang.
Dia meraih daguku dan menariknya pelan-pelan, netra kami bertemu satu sama lain. Perlahan-lahan dia menghapus air mataku, matanya menatap ku dengan kelembutan.
"Mari kita berusaha!" Ucapnya lembut sembari tersenyum halus.
Aku merasakan ada kehangatan menjalari hati ini, ya! Fauzan adalah laki-laki teraneh... terlembut... tertulus yang pernah aku temui, apa aku terima saja ya perjodohan aneh ini? Tampaknya aku pun tak rela berpisah dengan satu orang ini.
Aku mengangguk pelan, rasanya beban dipundak semakin hari semakin berat saja. Andai jika yang dijodohkan dengan ku bukan Fauzan, mungkin... aku sudah memilih melompat dari jembatan!
__ADS_1
...Bersambung........