Summer Love

Summer Love
Ch 44. Not suprise, But me honey


__ADS_3

"Mau kemana sih mas?" Tanyaku aneh saat dia menuntunku keluar dari rumah Tante Laras.


"Gak kemana-mana" jawabnya cuek sambil masih berjalan didepanku.


Aku menghentikan langkah dan menepuk punggungnya keras, "kamu suka bikin aku bingung! Mau kemana sih?" Protesku kesal.


Dia membalik badan, "bisa gak nurut aja? Gak usah banyak protes!" Semprotnya.


"Kamu mas...." aku menatapnya berkaca-kaca, sudah agak lama Fauzan tak pernah seemosi ini. Dan hubungan kami sudah agak membaik, kenapa dia tiba-tiba memarahiku? Apa pertanyaan ku mengusiknya?


Aku hanya bisa menahan isakan tangis, kenapa aku selalu terluka? Suamiku kenapa memarahiku? Memang aku selalu memberontak dan sering semena-mena Macam istri gak tau diri, cuma kan... dia juga gak harus memarahiku?


"Maaf mas" ucapku lirih sambil menunduk, mending milih diam daripada debat bareng suami sendiri. Udah lelah batinku, ditambah lelah fisik saat berhadapan bareng murid-murid yang membangkang.


"Yaudah ikut!" Jawabnya dingin alih-alih meminta maaf.


Aku hanya menghela napas sedih, ya Tuhan... mana Fauzan yang dulu? si rese yang selalu membuatku tenang? Aku merasa melihat dua kepribadian yang berbeda dari dalam diri Fauzan, apa sebenarnya dia itu laki-laki yang selalu berpura-pura? Sejak kemarin sikapnya aneh!


Fauzan menyuruhku masuk kedalam mobil, aku hanya menurut sambil terus menunduk. Sesekali menatap jalanan dengan sedih, saat hatiku telah benar-benar yakin mencintainya, kenapa dia malah merusaknya? Membuat luka di hatiku? Kembali ingatanku menangkap kejadian 11 tahun lalu. Apa semua laki-laki benar-benar sama? Apa benar? Bukankah suamiku pernah bilang dia bukan seperti itu? Kenapa sekarang dia malah menjadi dingin? Memarahiku? Dan bersikap aneh?


Suasana mobil tampak mencekam, hanya keheningan yang ada. Aku tak mau berbicara apalagi menatap matanya, terlalu sakit hatiku. Maaf aku agak terbawa perasaan, tapi.. tolong kata-kata nya disaring?!


perjalanan rupanya agak jauh, dari sejak jam delapan sampai hampir jam setengah sembilan mobil ini belum juga berhenti, apalagi hatiku sudah was-was dan lagi ini jalan mengarah kemana? Aku gak tau!. Bukannya tujuan awal aku kerumah Tante Laras buat ngerayain ulang tahun Arya ya? Kenapa jadi kaya gini? Aku hanya bisa meremas jari jemariku.


Aku memberanikan diri melirik Fauzan, bukan hanya melirik tapi langsung menatapnya. Wajah pria itu amat serius, matanya dingin menatap jalanan. Aku langsung melengos, tadinya bibirku sudah terbuka berniat bertanya. Namun aku urunkan, lebih milih diam daripada disakiti lebih dari kata-kata.


'kenapa jadi begini?' batinku sedih.


Tak terasa pipiku basah oleh air mata, aku adalah wanita yang sensitif. Rasa trauma membuat hatiku rapuh, memang kadang aku terlihat kuat, tapi nyatanya hanya diriku yang tau bagaimana keadaan sebenarnya.


Aku segara mengusap air mataku, dalam kondisi genting aku tak perlu memperlihatkan kerapuhanku didepan pria ini. Bisa jadi dia menyakitiku dengan semena-mena


Kembali hatiku makin sakit saat kuingat aku telah memberikan kehormatanku padanya, kalau aku hamil bagaimana? Apa aku Sudi mengurus anak pria ini? Duh kok aku sensitif banget ya? Itukan cuma kata-kata biasa! Kenapa aku sedih? Apa jangan-jangan aku.... hamil?!


Ingin rasanya aku teriak tapi bagaimana? Melihat mata Fauzan saja sudah membuatku takut, perasaan selama lima setengah tahun aku bareng dia, dia gak pernah sedingin ini. Paling dia dingin pas aku berontak, sisanya dia bersikap lembut!


Karna lelah aku hanya bisa menutup mataku, bodo amat! Ujung-ujungnya aku pasrah, mau disakiti yaudah. Mau dibawa kemana yaudah, daripada aku terlena dengan rasa khawatir.


 ***

__ADS_1


Sayup-sayup aku mendengar suara ombak, udara pun rasanya dingin tapi kok aneh. Kaya ada orang yang meluk aku? Baunya juga kaya gak asing, apa ini Fauzan? Aku dimana?


Aku memaksa membuka mata, tapi rasanya susah, duh sebenarnya aku dimana sih? Jam berapa ini? Kembali aku ingat kejadian tadi malam. Hatiku makin tak karuan, Fauzan lagi ngapain aku sih? Tadi malem dia bawa aku kemana?


"Ma-mas?" Ucapku terbata, takut ini bukan fauzan.


"Tidurlah, maafkan aku" suara seseorang yang sangat aku kenal mampir di telingaku, suaranya lembut. Suara yang bisa menghipnotis ku, aku agak ragu dan hati pun makin tak karuan saja. Kalau suara Fauzan selembut ini, terus yang tadi malem siapa dong? eh ini udah pagi belum sih? Jangan bilang Fauzan dirasuki setan! aku merasa Bingung sendiri.


"I-ini kamu mas?" Tanyaku terbata, masih belum bisa membuka mata.


"Hmmm ya" jawabnya tampak malas.


"A-aku dimana mas?" Tanyaku lagi, yang sekarang berusaha lepas dari pelukan Fauzan.


"Hmmm ini udah larut, kamu mau kemana sih?" Fauzan balik bertanya sambil tangannya lebih erat memelukku.


Setelah beberapa kali usaha membuka mata, aku akhirnya bisa membuka mataku juga. Aku menatap fauzan yang tertidur lelap sambil memelukku, dan aku menatap sekeliling dengan bingung.


Cottage? Gumamku aneh.


"Ma-mas lepas!" Aku berusaha melepaskan pelukan Fauzan saat ingat kejadian tadi malam, males betul aku harus ingat dia memarahiku!


Aku menatapnya tajam, "kamu bawa aku ke cottage? Ka-kamu...." aku gak bisa berkata-kata, niat hati ingin protes kenapa tadi dirumah Tante Laras dia memarahiku? Tapi aku urunkan karna hatiku terlalu sakit.


"Bisa gak nanti aja protes nya? Aku ngantuk!" Dia mengacak rambutnya dan kembali merebahkan tubuh itu.


"Ck dasar!" Gumamku pelan sambil turun dari ranjang.


"Mau kemana kamu?" Tanya Fauzan setelah melihat ku turun dari ranjang.


"Mau pulang!" Ceplosku dingin.


"Mau kemana hemm?" Tiba-tiba sebuah tangan mengunci tubuhku saat aku baru beberapa langkah berjalan, aku agak gemetar.


"Ma-mau apa kamu mas?" Tanyaku terbata.


"Kamu kenapa sih hemm?" Fauzan menunpu wajahnya dipundakku.


"Mau pulang! Aku benci kamu!" Jujurku sambil menahan isakan tangis.

__ADS_1


Dia membalik badanku dan menatapku, "kenapa kamu membenci ku za? Apa karna omonganku dirumah Tante Laras tadi?" Tanyanya mesra.


"Pikir sendiri!" Aku melengos.


"Ayolah jujur, kamu kenapa?" Dia menarik daguku pelan.


"Kamu jahat mas! Kamu menghancurkan kepercayaan ku!" Teriakku sambil mendorong tubuhnya.


"Kamu hanya terbawa perasaan Za! Tadi aku gak niat marahin kamu! Itu semua karna aku pengen ngajak kamu kesini" jelasnya.


"Gak harus gitu juga! Aku gak percaya!" Bantahku ngeyel.


"Ck, ayolah masa kamu kaya gini? Kamu lagi kenapa sih? Sensitif banget" Fauzan membuat ekspresi konyol diwajahnya.


Aku menatapnya datar, dalem hati kok lucu ya? "Kamu yang kenapa?" Tanyaku balik.


"Kan aku udah bilang, aku gak sengaja! Aku pengen ngajak kamu kesini" jelasnya lagi dengan sabar.


"Oh jadi mau buatin aku suprise gitu?" Aku menatapnya setengah hati, "iya suprise! Tapi cuma dirumah Tante Laras surprise nya!" Aku berjalan, melingkup gorden dan keluar dari kamar outdoor ini.


"Duh kok jadinya gini sih? Bener Za aku gak niat marahin kamu!" Dia mengejarku.


Aku menatapnya kesal, "kamu udah bikin aku kepikiran yang aneh-aneh mas! Kamu bikin aku sakit!"


"Kamu cuma terbawa perasaan! Kamu akhir-akhir ini sensitif Za, apa jangan-jangan...." dia menatapku intens.


Aku merasa risih sendiri, "jangan-jangan apa?! Kamu mikir aneh-aneh!" Aku melengos, sebenarnya udah tau sih apa yang mau ditebak Fauzan. Tapi males rasanya!


"Ayolah kita periksa yuk! Kalo kamu hamil gimana?" Dia mendekatkan tangannya kearah perutku.


"Sayang kamu baik-baik aja kan didalam? Papi janji pulang dari sini mau periksa kamu" ucapnya sambil mengelus perutku.


Aku menampek tangan itu dan menatapnya tajam, "niat kamu apa sih mas? Bawa aku kesini?"


"Udah aku bilang aku mau buat kejutan! Duh kok jadinya gini sih? Ayolah kalo anak kita kenapa-kenapa gimana? Jangan marah-marah terus dong" Fauzan gelagapan sendiri, dia menatapku dengan sayu.


"Please ekspresi nya!" Gumamku pelan sambil menahan senyuman geli, duh ini emang bukan suprise tapi tetap saja semarah-marahnya aku sama dia! Aku tetap sayang sama dia!


Jadi ini yah yang disebut 'Not suprise, but me honey?'

__ADS_1


...Bersambung........


__ADS_2