Summer Love

Summer Love
Ch 53. Kecewa


__ADS_3

Fauzan Nur Arkan POV


Tri azhari alias teri adalah satu spesies manusia yang tak ada hentinya membuatku kepikiran. Sejak semalaman aku dibuat uring-uringan sama zhari, kata gadis itu dia merasa merinding kaya ada makhluk halus yang lagi ngincer dia. Setelah istriku menelfonku, aku jadi begadang semalaman. Masa sih wanita macam zhari diincar makhluk halus? Kayaknya enggak kan?


Pagi harinya aku makin khawatir, apa yang aku pikirkan benar kenyataan. Dia sakit! Pasti karna malamnya kedinginan, buru-buru aku pergi ke Buperta.


Sesampainya Disana kulihat istriku tengah menekuk kedua kakinya, wajahnya menahan meringis entah dia sedang menahan apa, sakit kah? Namun anehnya saat aku sentuh dahi dia, suhu tubuhnya tak panas sama sekali.


Hal yang paling membuat otakku berfikir lama, adalah... zhari hamil? Laila ngomongnya iya! Duh sebenarnya hamil gak sih istriku? Kalo ngeliat bawaan zhari semalam yang ngerasa diincar makhluk halus. Kayaknya iya deh!


Aku menatap istriku yang tengah menutup Mulutnya dengan satu tangan, tangan satunya memegang ponsel dan menggulir sesuatu dilayar itu.


"Periksa ya?" Ucapku padanya.


Zhari menggeleng, entah tiba-tiba gadis itu menangis yang makin membuatku kacau saja.


Aku menghentikan mobilku dipinggir jalan, dan menatapnya. "Kenapa za?" Tanyaku lembut.


Zhari menaruh ponselnya dipaha nya, setelah itu dia mengambil keresek dan muntah.


Aku hanya menatapnya aneh, muntah? Tak biasanya dia muntah kalau naik mobil. Duh sebenarnya istriku masuk angin apa hamil sih?


"Sayang periksa yuk!" Aku mengusap air matanya saat dia tengah mengusap sudut mulutnya dengan tisu.


"Ngak mas" bantahnya lemah.


"Udah ayo periksa aja, daripada kamu sakit!" Paksaku.


Zhari hanya membisu yang membuatku makin merasa aneh, diperjalanan tak henti-hentinya gadis itu muntah. Sebenarnya kenapa sih? Masa masuk angin sampe segitunya? Rasanya mobil ini lamban untuk sampai didepan rumah sakit.


Sekitar 30 menitan aku melihat rumah sakit, langsung saja dibelokkan mobil ini dan masuk ke halamannya.


"Mas gak mau!" Ucap zhari saat aku mematikan mobilku.


"Gak! Pokoknya kamu harus periksa!" Paksaku yang langsung keluar dari mobil.


"Jalan sendiri apa aku gendong?" Aku menatapnya saat kubuka pintu mobilku.


"Jalan sendiri aja!" Dia menampek tanganku.


Kami mengantri diruang dokter kandungan, cukup lama aku membujuk istriku untuk mau diperiksa di dokter kandungan. Firasatku udah yakin kalau dia itu hamil!


Aku membusungkan dadaku bangga, kayaknya percintaan ku dua Minggu lalu membuahkan hasil. Percintaan tanpa alat kontrasepsi!


Mami, papi kalian sebentar lagi bakal punya cucu. Batinku senang, tentu saja anak siapa yang dikandung istriku? Ya anakku lah! Dia kan hanya tidur denganku.


Aku mengetuk-ngetuk kursi kosong disampingku, merasa tak sabar menunggu antrian ini selesai.


"Nomor antrian 36 silahkan" suara itu akhirnya membuyarkan ku yang tengah melamun.


Aku memapah zhari masuk kedalam, lantas gadis itu disuruh berbaring di bankar. Aku menunggunya di sofa yang menghadap tv yang menyala.


Mataku tak henti-hentinya menatap zhari yang tengah diolisi gel diperutnya, lantas benda yang macam olekan itu digerak-gerakkan diatas perutnya.

__ADS_1


Aku masih menunggu dengan was-was, duh semoga saja istriku beneran hamil!


"cukup kuat" ucap dokter tiba-tiba yang membuatku terpengarah.


"Jadi istri saya hamil dok?" Aku buru-buru menghampiri mereka.


"Iya pak, coba lihat deh... ada titik seukuran biji kacang, itu janin kalian" dokter tersenyum.


"Ja-jadi saya hamil ya dok?" Tanya zhari yang wajahnya itu seperti tak memperhatikan ketertarikan.


"Iya Bu" dokter itu memapah zhari duduk dan menuntunnya turun dari bankar.


Kami berdua duduk berhadapan dengan dokter, "pak ini vitamin untuk istri bapak, kehamilan kembar sangat rentan biasanya pak! Jaga pola makannya ya Bu" ucap dokter sembari menyerahkan catatan vitamin.


"Eh dok kalo mual-mual muntah gitu apa ada hubungannya ya sama kehamilan?" Tanyaku ragu bin penasaran.


"Iya pak, biasanya itu dinamakan morning sickness.... kondisi dimana ibu hamil akan merasakan mual dan muntah dipagi hari, tapi tenang aja pak biasanya hal ini bertahan cuma di trimester pertama." Jelas dokter gamblang.


"Okay terimakasih dok" aku berjabat tangan dengan dokter, sekarang wajah yang ceria adalah aku! Jelasnya aku yang sudah menantikan kehamilan zhari!


Setelah mendapatkan vitamin dari depo farmasi, kami berdua melanjutkan perjalanan kerumah.


Aku melirik si teri yang wajahnya udah kacau balau, apalagi gadis itu tak henti-hentinya mengusap pelipis, hidung kecilnya dan telinga. Seperti benar-benar menganggap kehamilan ini tak ada.


"Sayang makasih ya" ucapku kearahnya.


"Kok aku bisa hamil ya mas? Perasaan kamu ngelakuin nya pake k*ndom deh! Duh kamu pasti ya curi-curi! Ngaku kamu!" Jawabnya sambil melotot.


"Duh perasaan dua Minggu lalu kita ngelakuin nya gak pake k*ndom! Ya wajarlah kalo kamu hamil, udah ah jangan marah-marah. Nanti semua orang seneng loh kalo tau kamu Hamil, apalagi kembar!" Aku berusaha merayunya.


Aku sejujurnya agak kecewa, kalau dia saja menolak anakku bagaimana Denganku? Tentu jangan ditanya itu adalah salah satu bukti kalau dia tak menganggap ku ada!


Saat sampai rumah, aku masih berusaha membujuknya makan. Menyuruhnya minum vitamin, tapi gadis itu lagi-lagi menolak.


"Ngak mas! Aku capek, kamu jangan terlalu girang... testpack aja bisa salah, usg juga sama" ucapnya.


"Za! Kamu itu sebenernya udah cinta Aku belum sih? Kamu mnganggap kehamilan ini tak ada? Yang jelas-jelas usg menunjukkan kalau kamu itu hamil! Kondisi tubuhmu yang mengalami morning sickness tak bisa bohong Za!" Akhirnya kesabaran ku sudah habis, aku benar-benar kecewa sama dia.


"Ck aku gak hamil mas!" Zhari masih menolak kenyataan.


"Terserah!" Aku pergi dari kamar dengan keadaan kacau, rasa senangku karna akan menjadi seorang Daddy kandas hanya karna zhari menolak kehamilan nya!


***


Tri Azhari POV


Semenjak pak Hery Ngomong kalau aku hamil, aku udah nebak sebenarnya karna aku juga udah telat menstruasi. tapi aku agak kesal kalau benar fauzan curi-curi dariku! Kenapa gak terang-terangan aja sih?


Aku masih menolak kalau aku hamil, walaupun hatiku merasa udah yakin aku hamil. Sejujurnya aku seneng sih hamil, mana ada perempuan yang ngak seneng coba kalau hamil? ya kecuali perempuan yang hamil diluar nikah. cuma aku pengen tau seberapa besar cinta pria itu padaku, kalau cintanya besar pasti! Dia bakalan sabar ngadepin aku! Nyatanya dia gak sabar dan ngeloyor entah kemana.


Hatiku udah Nerima dia, aku udah jujur kangen sama dia. Tapi egoku melarang aku yang akan menerima kehamilan ini didepan Fauzan.


Aku hanya bisa menahan kesal dan sedih ku, gini amat sih orang hamil? Bawaannya sensitif banget!

__ADS_1


Malam harinya aku masih menunggu fauzan yang tak kunjung masuk ke kamar, tadi sore pria itu masih nyuruh aku buat makan. Kok sekarang gak masuk-masuk ya? Apa dia diruang kerjanya? Ini udah jam 11 malem kan? Masih ngelembur? Atau dia kecewa?


Akhirnya karna penasaran aku turun kebawah, melihat lampu ruang kerja fauzan yang masih menyala. Pasti pria itu ada didalam.


Aku awalnya ragu-ragu, tapi aku yakin dia pasti gak ngelakuin hal-hal nekat kan?


Ceklek...


Aku mengedarkan pandanganku, dan berhenti saat kulihat suamiku tengah tidur disofa. Smart Tv ruangan ini masih menyala, air mataku luruh saat kulihat apa yang sedang ditampilkan dilayar tv, Jadi... Fauzan itu beneran pengen punya anak? Sampai dia ngeliat video bayi-bayi lucu di YouTube?


Buru-buru aku menghampiri suamiku, aku memeluk kaki kokohnya dan merebahkan kepalaku dipangkuan nya, aku menangis tersedu-sedu, satu hatiku bukan batu! Karna Aku juga mencintainya. Aku merasa iba ngeliat dia kaya gini.


Jadi dia benar-benar ingin seorang anak yang terjalin dari hubungan cinta, dia hanya lelaki normal yang ingin dicintai dan mencintai. Dia hanya ingin mereda rumah tangga yang bahagia denganku, Namun kenapa aku angin-anginan? Kenapa sikapku aneh? Memberontak sekeras karang, dan bermanja selembek kerupuk basah! Kenapa!


Ya, kenapa baru ku sadari sekarang. Pagi itu, dia melepas benihnya karna cinta. Kalau cuma bersenang-senang kenapa dia tak mempersiapkan k*ndom dan sejenisnya, bahkan kalau dia cuma senang-senang aku saranin dia pake k*ndom pasti dia langsung nurutin, tak ingin aku mengandung. Jelas dia ingin keturunan, bukan untuk mengekangku. Dia ingin membina rumah tangga seutuhnya, tapi... kenapa saat benih yang dia tabur telah tumbuh menjadi janin egoku menolaknya? Kenapa!


Ternyata Fauzan yang kerap judes dan pemaksa itu nyatanya hanyalah manusia biasa! Dia pantas merasa kecewa, merasa sedih. Sayangnya kenapa harus aku yang mengecewakan hatinya? Kenapa egoku menolaknya? Sudah banyak hal yang pria itu korbankan, dan dia hanya meminta keturunan. Kenapa aku tak bisa membuat hatinya senang? Sekali menerima bisa? Kenapa!


"Maafkan aku mas..." lirihku pelan.


"Kamu...." fauzan bangun dari tidurnya dan menatapku heran.


"Mas maafin aku..." aku bersimpuh dikakinya, kalau dipikir-pikir aku ini udah jadi istri durhaka semenjak kami baru nikah.


"Udah kenapa sih?" Fauzan mendudukanku disofa.


"Maafin aku.... hiks hiks" aku memeluknya sambil menangis, tapi sayang dia tak membalas pelukanku.


"Udah sana kamu tidur" ucapnya mendorong sedikit tubuhku.


"Mas..." aku menatapnya dengan air mata, dia udah gak peduli lagi sama aku? Apa dia kecewa?


"Mas maaf aku ngecewain kamu, mungkin karna aku belum siap" jelasku memegang tangannya.


"Bukan salah kamu, hanya aku yang terlalu berharap kamu menerimaku. memang benar berharap sama manusia ujung-ujungnya kecewa, udah sana aku masih ada kerjaan" dia bangkit dari sofa dan duduk di kursi kerjanya.


Aku menghampirinya dan membalik kursinya kasar, lantas pandangan ku mengunci pandangan Fauzan.


"May i kiss you?" Tanyaku sangat berani, entah kemana pikiranku.


"Apa?" Tanya Fauzan yang tak percaya dengan lonjakan sikapku.


Tanpa banyak bicara, kutuntun tengkuknya mendekati wajahku. Sesaat kupejamkan mataku sebelum bibirku menyentuh bibirnya dengan berani, kukecup Fauzan sama seperti dia melakukannya padaku. Kecupan yang sama saat dia memaksaku agar aku segera hamil.


Anehnya Fauzan tak membalasku. Tak ada gerakan dari bibir dan tangannya saat ini, dia tampak pasrah seperti sedang melakukan ciuman pertama. Jujur aku merasa aneh, apa dia berubah?apa dia sudah berubah rasa karna aku mengecewakan nya? Pikiranku berkelana liar kemana-mana.


"Udah sana tidur" dia melengos dan memutar kursinya lagi kearah laptop.


"Gak mau!" Tolakku kekeuh yang sekarang nekat duduk dipangkuan nya.


"Ini udah malem tidur!" Bentak Fauzan tertahan sambil pria itu mengangkat tubuhku dari pangkuannya.


Aku makin menderaskan Air mata, dia beneran kecewa sama aku? Setelah banyak hal yang kita lalui? Benarkah?

__ADS_1


Aku hanya membalik badan dan pergi dari hadapannya setelah dia meminta maaf sesaat, mungkin dia lagi pengen sendirian.


...Bersambung........


__ADS_2