
Suasana ramai terlihat disebuah rumah berlantai dua berhalaman luas, tampak acara pernikahan akan berlangsung sebentar lagi. Didepan rumah sudah ada dua buah janur kuning besar yang melengkung kebawah, tak hanya itu. Jejeran karangan bunga bertuliskan "Happy wedding Fauzan dan Azhari" terlihat memenuhi sepanjang jalan itu.
Sudah jelas pernikahan siapa, zhari dan Fauzan. Dipagi yang sudah memunculkan teriknya ini, keduanya akan menikah. Bahkan semenjak subuh, zhari sudah dirias dengan riasan adat Putri solo. Guru muda itu sangat cantik sekali, berulang-ulang dapat pujian dari sana sini.
Namun, kesibukan itu berbanding terbalik dengan suasana hati zhari yang terasa sepi, dia merasa sepi ditengah riuhnya suasana. Setelah dirias, dia lebih suka menepi ditepi jendela kamar. Tak banyak meminta sesuatu ataupun bersuara.
Dia hanya ingin hening berteman dengan air matanya.
Iya, memang betul air mata zhari tak hentinya mengalir. Matanya yang sembab itu menatap nanar kearah langit yang tengah merayapi kamarnya dengan cahaya mentari nya, agaknya musim panas tahun ini benar-benar membuat hati zhari semakin membencinya. Hari ini adalah harinya melepas masa lajang, sepuluh menit lagi pukul 8 pagi. Fauzan akan mengucapkan ikrar pernikahan didepan penghulu.
Hari ini, dia mengubah status lajang menjadi seorang istri. Semuanya karna pernikahan bodoh, yang dibenci zhari sejak lima setengah tahun lalu. Rengekan dan ancaman yang dulu dia berikan tak berpengaruh pada pernikahan ini.
Walaupun kendati hatinya memiliki rasa pada pria itu, zhari tetap tidak ingin mengakuinya. Sebelum Fauzan sendiri yang menyatakan cinta padanya, terlalu gengsi akan hal itu.
"Kenapa harus ke aku?" Gumam zhari sedih setelah menghela napas panjang.
Air matanya deras, hatinya sendu berbanding terbalik dengan cuaca yang cerah. Dia tak ingin memikirkan hal lain selain menangis. Namun, sebuah suara menyebalkan terpaksa mengubah nuansa hati zhari. Dia menoleh dan melihat ada wanita anggun berkebaya merah sedang berjalan menuju arahnya.
"Dek?" Buyar kamila dengan wajah datar.
Zhari menatap sang kakak setengah hati, "apa mbak? mau manas-manasin hati aku kaya mas zidan?" Tebak zhari kesal.
Kamila mengubah wajahnya menjadi raut simpati, "are you okay? Pengantin emang wajar menangis dihari pernikahannya, sih" ujar Kamila agak sarkas.
"Kaya mbak pernah nikah aja" seloroh zhari ironi.
"Emang ngak, tapi mbak kan dulu pernah masuk ke gerbang pernikahan. Bedanya aku gagal, namun itu benar Za. Itu teori" jelas Kamila sabar, tak ada gunanya berdebat dengan adiknya yang sedang kacau.
"Sudahlah" tepis zhari enggan. "Bagaimana dengan hadiah langkahanku? Suka?" Alih zhari sembari matanya menunduk kebawah.
"Mantel bulu Perancis, ya? that's okeylah" jawab Kamila.
Zhari mengangkat kepalanya seraya mengangguk, "okey"
"Loh mbak kok kamu disini? Tadi mami manggil loh" Zidan masuk dan menghampiri mereka.
"Eh dek kok kamu nangis sih?" Tanyanya saat melihat sang adik bermata sembab.
"Kenapa sih ngak mas aja yang nikah dulu? Hamilin siapa kek!" Alih-alih menjawab, zhari malah menunjuk kakak laki-lakinya dengan kesal. Saking stres nya.
"Dek! Gak mungkin mas nyebarin ****** sembarangan! Ngaco kamu!" Zidan tak percaya dengan adiknya, adiknya yang pendiam itu telah berani berkata seperti itu.
"Ngomongin apa sih kalian? Kamu juga Zidan! Gak usah nyebarin ****** kaya gitu! Cukup satu wanita!" Ucap Kamila dengan melotot kearah adiknya.
"Apa sih mbak!" Zidan menatap kakaknya dengan sorot tajam juga.
Ketiga saudara itu terus berdebat, namun debatan mereka tak pernah nyambung. Gak ada sinkron-sinkron nya, semuanya tak beralasan. Hanya saja Kamila - dosen pintar itu tak mengerti akan cinta.
"Eh dek! Budhe udah capek-capek ngerias, kan itu luntur..." budhe Irma masuk dan menghampiri zhari.
Guru muda itu mendongak dan menatap budhe keduanya dengan sayu, lantas budhe Irma mendorong tubuh dua keponakan nya agar menjauh.
"Sana kalian kebawah aja!" Titahnya yang hanya diangguki dua saudara itu.
__ADS_1
"Uh pengantin emang wajar nangis, tapi gak kaya gini juga..." budhe Irma mulai merias ponakannya lagi.
Zhari hanya menurut, menghela nafas berkali-kali dan matanya terus menunggu kearah pintu. Berharap teman karibnya dulu - Laila benar datang ke pernikahan nya.
Dan benar saja pintu dibuka dengan sedikit ketidak sabaran, Laila masuk dengan terengah-engah kearah zhari.
"Za gue gak nyangka Lo bakal nikah sama Fauzan" dia nyerobot untuk memeluk zhari yang membuat budhe Irma terdorong sedikit.
"Do'ain aku ya la! Gak tau harus gimana" jawab zhari lirih.
"Are you okay? Slow aja! Nanti aku temenin kamu kebawah" bisiknya menguatkan sang teman.
Zhari mengangguk dan melepaskan pelukan mereka, karna tak enak saat melihat wajah budhe nya yang berkali-kali menghela napas, tampak lelah.
"Mas ozan sudah siap?" Tanya pak penghulu sambil menjabat tangan tegap Fauzan, keduanya ada diruang tengah rumah itu. Fauzan sudah tampan dengan balutan beskap warna putih lengkap dengan blangkon batik.
"Pengantin perempuan nya?" Tanya Fauzan lirih.
Semua hadirin yang mendengar tertawa, lalu sang papi menimpali. "Nanti mas Ozan, sabar kalau sudah sah. Dek zhari nya bakal turun kok"
"Oh" sahut Fauzan malu, wajah tampan nya itu terlihat memerah.
Sebenarnya. Dia hanya Takut jika zhari kabur dari pernikahan, mengingat pemberontakan yang wanita itu keluarkan membuat hatinya tak nyaman. Untungnya wanita itu aman.
"Baik silahkan jabat tangan saya ya mas!" Ucap papi alfy tegas.
Fauzan mengangguk dan diam saat mendengarkan papi zhari mengucapkan naskah ijab Kabul, "saya nikahkan engkau dengan anak kandung saya, Tri Azhari binti alfy hawari dirfansyah . dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan seberat 200 gram dibayar tunai!"
Fauzan menata napas dan suaranya, "saya terima nikah dan kawinnya Tri Azhari binti Alfy hawari dirfansyah dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!"
"Sah!" Jawab saksi 1.
"Sudah sah!" Timpal saksi 2.
"It's legal!" Sahut yang lainnya.
"Alhamdulillah....." ucap semua para hadirin diruangan itu.
"Cobaan apa lagi ini?" Gumam zhari lirih setelah mendengar fauzan resmi menikahinya.
Dia makin cemas saat sang mami berjalan kearahnya, "ayo nak!" Sang mami memapahnya keluar ruangan untuk menemui sang suami.
Zhari hanya manut, walaupun hati wanita itu sudah ingin meledak-ledak.
"Mbak Azhari yang cantik dalam balutan kebaya brokat putih dengan riasan Putri solo dan rangkaian melati wangi yang menjuntai telah siap menyambut uluran tangan sang suami. Semoga bisa saling bahu membahu mengurai rumah tangga."
Sang pembawa acara niatnya menyanjung zhari, agar gadis itu menyunggingkan senyuman manisnya di wajah kacaunya. Namun alih-alih menyunggingkan senyum, dia malah tampak tak bahagia.
"Silahkan dicium tangan mas Ozan, mbak Azhari!" Sang mc memberikan pengarahan.
"Gak Sudi!" Berontak zhari dalam hati.
"Dek!" Raut wajah zhari berubah saat sang mami menegurnya.
__ADS_1
"Iya mih" jawab zhari lesu.
"Salim dek!" Sang mami terus mengode zhari Dengan ekor matanya.
"Hehe blank karna grogi nih" ralat pembawa acara rupanya mencairkan suasana.
Akhirnya zhari menyerah, gadis itu menerima uluran tangan jenjang Fauzan yang mengamatinya dari atas sampai bawah. Lelaki yang berkopyah putih itu agak berdebar Karna sudah menjadi suami zhari. Tangannya yang panjang dan berotot yang dilapisi jam tangan mahal kesayangan nya itu pertama kalinya dicium zhari dalam status suami dan istri.
Dia berusaha tenang kendati hatinya berombak.
Bagaimana tidak, fauzan nur Arkan serasa takjub dengan kecantikan zhari. Wajahnya yang manis tak pernah bosan dipandang, walau mereka sering terlibat perdebatan dan dialog tak penting. Hati Fauzan tetaplah terpanah, pekerjaan rumah pentingnya sekarang adalah menaklukkan hati zhari agar percaya adanya cinta.
Membuat perasaan nya dan perasaan zhari menjadi sama dan satu, saling cinta.
"Jadi gini aroma tangannya Fauzan? Sama kaya aroma badannya!" Batin zhari kacau.
Ternyata dalam diam dia juga memikirkan Fauzan yang sedang ada didepannya, dia hanya gengsi saja. Namun rasa aneh itu masih ada dan menelusup ke relung hatinya.
"Silahkan mencium pengantin perempuannya mas!" Suruhan mc kontan membuat mereka saling berpandangan.
Ciuman? Apa itu tak terlalu berlebihan? Walaupun mereka pernah terlibat kontak fisik semacam itu, tapi semuanya karna unsur ketidaksengajaan dan sudah berlalu sejak lima setengah tahun. Dan sekarang? Jangan ditanya, sama-sama berdebar. Tapi gengsi ketinggian, hal itu juga bisa jadi penghalang.
Zhari memandang Fauzan lurus, seolah berkata "jangan lakukan itu!"
"Don't" ceplos zhari lirih.
"What?" Fauzan memiringkan kepalanya untuk mendengarkan perkataan zhari barusan.
"Kiss! Kiss! Kiss!" Teriak kecil beberapa tamu, rerata teman-teman zhari dan Fauzan yang masih muda-muda.
Para sesepuh hanya tersenyum malu sembari menutup muka, tingkah zhari dan Fauzan tak lebih menggemaskan dari bayi yang baru berjalan.
"Cup" sebuah suara terbentuk dari bibir Fauzan yang bersatu dengan pipi merona zhari.
Zhari membeku, Fauzan tidak. Lelaki itu tampak tersenyum santai, seperti pernikahan ini terjadi karna cinta. Seolah tak ada yang menyangka jika mereka menikah karna perjodohan.
"Huu..." teriakan bahagia dari para tamu undangan, sedangkan bagi orang tua. Masih tersipu malu saja.
Bagi mereka, Tri Azhari dan Fauzan Nur Arkan adalah perpaduan yang Sempurna. Satu guru, satu Ceo, satu cantik, satu ganteng. Sama-sama berwajah khas Indonesia, manis tak bosan dipandang. Padahal kisah mereka seperti anjing dan kucing.
Banyak yang sudah membayangkan, seperti apa rupa anak mereka kelak.
"Aku emang pernah nyium dia! Tapi itu semua karna terpengaruh bibir seksinya, dan sekarang? Perasaan apa lagi ini? Aku benci hari ini!" Batin zhari berontak.
"Wellcome Mrs Arkan!" Bisik Fauzan menyebalkan Dengan senyuman licik.
"Wathever" ceplos zhari sekenanya.
...Bersambung........
***
Wah fauzan sama zhari udah nikah aja ya ☺, yuk guys pantengin kisah mereka. maaf ya kalau ceritanya masih agak gaje 😄🙏
__ADS_1
Ouh iya jangan lupa vote, komen, hadiah dan like nya ya😉, semoga kalian para readers diberikan kesehatan❤
Thanks you👋