
setelah berbelanja dan mengantar Laila sampai kerumah, aku dan Fauzan kini tengah berhadap-hadapan didalam mobil. memang aku menyuruh Fauzan berhenti dipinggir jalan, bukan untuk sesuatu hanya saja tiba-tiba aku ingin sesuatu.
"mas beliin aku pempek dong...." ucapku mesra sambil merebahkan kepala dipundaknya.
"nanti cari ya dipasar malam kan biasanya ada" jawabnya mengelus pucuk kepalaku.
"lho? aku pengennya sekarang!" rengekku mengerucutkan bibir ini.
"yaudah cari dulu makannya" Fauzan mengusap bibirku Dengan jempolnya.
"aku mau yang langsung dari Palembang nya, kita ke Palembang yuk?" ajakku antusias.
"dih kok gitu amat? emang pempek disini sama yang dari asalnya beda ya?" gerutunya tak senang.
"ya nggak tau! aku pengennya langsung dari Palembang mas!" aku menjauh darinya dan merajuk.
"ya ampun sayang, ngidamnya aneh banget sih? berarti kalau mau papeda, aku harus ke Papua gitu?!" ucapnya tak habis pikir.
"iya kali!" timpalku memalingkan wajah.
"duh yang lain aja deh, di Jakarta juga banyak makanan. enggak usah jauh-jauh, kalau tempatnya solo sih ayok. sekalian silaturahmi sama budhe." ucapnya berusaha membujuk ku.
"aku udah bosen sama makanan disana! lagian kalau kita ke solo, jarak solo ke Palembang cuma 2 jam, ya tetep harus kepalembang dong!"
"yaudah makannya, jangan pengen yang aneh-aneh" dia mengacak rambutnya frustasi.
"lho siapa yang aneh-aneh? bumil emang wajar mas! kalau nggak mau nyariin, yaudah sana jangan jadi suami aku! nyesel aku..." jawabku ngegas, aku hanya bisa melipat bibir sedih dan menatap jalanan.
__ADS_1
"duh jangan gini dong, masa kamu gitu aja ngambek? laki apa perempuan sih yang ada diperut kamu dek? sinis banget sama Dady nya" ucapnya sambil menunjuk perut.
"apa? sinis? mau laki apa perempuan yang di perutku, aku tetep mau pempek! Kalo nggak, seminggu aku nggak mau makan, nggak mau ketemu kamu, dan nggak mau denger suara kamu!" ucapku ngawur.
"Lho kok ngegas? kan sekarang kamu masih ketemu aku, masih denger suara aku. yakin itu yang dibilang 'nggak mau" ganggunya dengan wajah gemas.
"menurut bapak fauzan!" tekanku gusar, sumpah cuma perkara pengen pempek. kenapa seriweh ini sih?
"aduh mbak zhari kalau lagi gini gemes banget deh" Fauzan memainkan anak rambutku.
"duh nyesel aku hamil anak kamu! kalau nyatanya yang jadi bapak nya kaya gini, mending aku nyari suami baru!" aku makin ngawur dan segera melepas seat belt.
Namun, sebelum aku keluar mobil. Fauzan mencekal lenganku. tatapannya dalam, sedalam lautan, wajah dengan rahang tegasnya mendadak semakin kaku.
"ngomong sekali lagi?" ucapnya sambil terus mengunciku.
"apa?" aku tak fokus, tatapan dalamnya seperti menghipnotis. melembutkan hatiku yang tak karuan.
"apa sih?" aku makin tak fokus pada pertanyaan nya.
"zhari, jangan bikin aku nidurin kamu disini ya! coba ulangi lagi omongan bait belakang tadi?" dia menarik daguku, agar menatapnya.
"mau cari suami baru!" jawabku setelah menggeleng pelan.
"oh jadi gelas mau punya banyak teko iya? nggak pantes sayang..." jelasnya mesra.
"ngomong apa sih? teko-teko, gelas segala! aneh" aku memiringkan kepalaku kearahnya, sebab bingung dengan penjelasannya.
__ADS_1
"istri itu ibarat gelas, dan suami adalah teko. saat gelas memiliki 2 teko, itu nggak pantes untuk dijadikan suguhan. kecuali teko yang memiliki banyak gelas, itu lebih pantas!" ujarnya panjang lebar.
aku langsung mendelik dan memukul lengannya keras, "oh aku paham! Kamu pengen punya istri lagi iya? iya?! ngaku kamu mas?" berondongku emosi.
"emang iya ya, kamu masih suka sama mantan kamu itu. yaudah sana nikahin dia, cerein aku! daripada poligami, mending aku mundur!" tegasku bak orang kesetanan.
"lho kok malah marah?" dia makin menggoda ku.
aku menggigit bibir dengan gusar, "cepet pulang!" ucapku sambil mencubit pahanya.
"iya bumil!" dia mulai mengendarai mobil hitam ini.
mendadak mood ku turun, nggak ada lagi istilah pempek. nggak ada lagi istilah ingidam, benar kata Fauzan aku nggak pantes punya suami banyak, hakekatnya istri itu gelas. kemana-mana hanya menerima air dengan volume tertentu, bisa dibayangkan bagaimana wujud teko? tentu ukuran teko lebih besar, lebih banyak airnya. jadi pantas kalau air itu ditaruh di banyak gelas.
pikiranku berkecamuk, hatiku tak luput dari Zia. ya apa suamiku mau menikah lagi? kok nggak rela banget ya? iya lah nanti nggak ada suami rese, nggak ada suami yang siaga setiap hari. bisa dibayangkan bagaimana aku kalau itu terjadi, mungkin stress berkepanjangan.
Karna badmood, sampai rumah aku langsung menuju kamar, mengunci pintunya dari dalam sebelum Fauzan berhasil masuk kedalam.
"tidur diluar!" ucapku dari balik pintu kamar.
"lho kok sampe kaya gini? perkara pempek doang dek! jangan dikunci Napa!" jawabnya menggerutu.
aku diam dibalik pintu, bukan menangis tapi hanya bisa menghela napas berkali-kali. Mami cucu kalian ngeces nggak ya kalau aku ngidamnya nggak keturutan? ya jangan salahin aku, salahin mantu mami! batinku masih dengan perasaan kesal.
...Bersambung........
yuhuuu..... author bisa up nih😍
__ADS_1
maaf ya cuma bisa up sedikit, soalnya di real life nya, pikirannya lagi mumet. lagi banyak kegiatan, habis pas langsung ada porak, ada kegiatan ekskul dan ada kegiatan kemanusiaan (penggalangan dana korban bencana alam)😞
jadi nggak sempat banyak mikir, sekali ada ide langsung mentok segini ;) tapi, untuk yang masih stay terimakasih ya😊🙌