
Aku turun dari lantai dua dan duduk dimeja makan, ada Fauzan yang tengah menikmati sarapannya juga.
"Eum mas?" Aku menatap Fauzan bingung.
"Ya?" Fauzan balik menatapku, matanya lebih membingungkan Dari mataku.
"Kata mami, lusa kita harus ngadain acara empat bulan mas. Kamu lusa nggak sibuk kan?" Aku menatapnya ragu.
"Aku usahain enggak, jadi gimana? Mami yang nyiapin semuanya? Kan harus ada ketupatnya" Fauzan mendekat kearahku dan duduk dikursi sampingku.
"Ya tadi mami bilang biar mami yang urus, tugas kamu cuma ngundangin tetangga biar Dateng" aku tersenyum.
"Itu doang? Sepele banget" decak Fauzan sedikit tak senang.
Aku tercenung sebentar, memikirkan ucapan mami lia. "Semua soal makanan biar mami yang urus, tapi yang harus beli bahan makannya mas Ozan, dek. Itung-itung itu hukuman dia yang sering ninggalin kamu, oh iya satu lagi. Selain mas Ozan yang belanja, dia juga harus ikut masak bareng mami sama tante-tante nya" ujar mami saat aku baru pulang dari Perancis kemarin lusa.
"Kalo bisa sih, dek. Kamu buat mas Ozan biar belanja sendirian, mami udah denger cerita mami Lia. Biar kapok tuh suamimu, dek." Timpal mami Nanda emosi, pada saat itu aku hanya bisa menampakkan wajah bodoh. Bingung mau menjawab apa, tanpa ditemani pun. Fauzan tetap nggak malu belanja bahan dapur, kan dia yang sering belanja untuk isi kulkas walau ada Ema sama Eva.
"Masih ada sih mas, tapi kamu yakin mau nurutin perintah mami yang ini?" Aku menatapnya ragu.
"Apa dulu perintahnya?" Fauzan mulai penasaran.
"Kata mami kamu yang harus belanja bahan makanan nya, terus kamu juga harus ikut masak bareng mereka. Nah yang jadi permasalahan nya, apa kamu nggak malu? Maksudku belanja kali ini kan banyak banget, nggak kaya biasanya yang cuma buat isi kulkas doang. Terus juga apa kamu nggak sibuk? Bukannya mas firman masih belum keperusahaan ya?" Berondongku sambil menatap matanya.
"Pffft kamu bilang aku malu? Ya nggak lah dek! Kaya nggak biasanya belanja bahan dapur aja, ada-ada aja kamu ini" Fauzan menggelengkan kepalanya pelan.
"Soal perusahaan, udah dari tahun lalu mas firman ikut meng-handle juga. Pas waktu ada masalah tuh" lanjutnya sambil tersenyum.
"Oh kirain" aku tersenyum malu.
"Udah ah jangan banyak mikir, mas mau kerumah mami dulu" fauzan mengacak rambutku dan bangkit dari duduknya.
"Mau ngambil daftar belanjaan?" Tanyaku yang diangguki singkat olehnya.
"Ikut dong, aku mau ketemu mami sama Hya. Pasti Hya lagi bareng mami kan? Mas firman diperusahaan dan mbak lili nya dirumah sakit." Aku ikut bangkit dari dudukku.
"Iya siap-siap aja" akhirnya kami berdua pun mulai berdandan untuk pergi kerumah mami Lia.
Saat sampai dirumah mami, bukannya sambutan manis yang kami dapatkan Karna membawa oleh-oleh dari Perancis. Justru Mami Lia malah memukuli sang bungsu.
"Aduh ampun mih!" Fauzan meringis saat tangan ibunya terus memukuli punggung nya kasar.
__ADS_1
"Biar kapok kamu mas! Udah berapa kali kan mami bilang, jangan sering ninggalin zhari malem-malem. Kamu nggak nurut! Kalo ada apa-apa sama mantu dan cucu mami, salah siapa?" Ucap mami dengan napas tersengal.
"Ck mih, mih. Gitu aja kok dipermasalahin. Aku ninggalin dia bukan karna ada urusan kerjaan, tapi mau beli obat!" Bela Fauzan sambil membenahi penampilan nya yang sudah acak-acakan.
"Ya mami denger kok kamu beli obat, tapi obat apa dulu?" Tanya mami penasaran.
"Pereda mual" jawab Fauzan singkat.
"Oh, kirain zhari punya permasalahan serius. Yaudah maafin mami mas, nih daftar belanjaan nya. Udah sana cepet belanja, biar istri kamu sama mami disini" mami mengusir Fauzan dengan halus, entah karna malu atau memang apa.
"Banyak banget mih? Nggak sekalian setoko nya?" Fauzan menatap malas kearah daftar belanjaan.
"Ya emang segitu, terus harus berapa? Ayam 150 kilo juga masih kurang sebenarnya. Kayak nggak punya saudara banyak aja, udah sana cepet pergi" mami mengibaskan tangannya jengah, dari sini aku paham sifat fauzan itu copyan dari siapa. Dari mami Lia!
"Iya, Assalamualaikum" Fauzan mencium tangan maminya dan berpindah mencium keningku.
"Hati-hati dek, awas kalo mami ngapa-ngapain kamu. Telfon aja" bisik Fauzan yang masih kedengaran mami.
"Emangnya mami Monster ya mas? Udah sana lama banget!" Emosi mami mulai terpancing lagi.
"Iya iya!" Fauzan pun akhirnya menurut untuk membeli bahan dapur.
"Mami sama dia sering gini juga ya kalo nggak ada aku?" Tanyaku penasaran.
***
Lusa paginya, dirumahku sudah banyak orang-orang yang tengah mengerjakan pekerjaan dapur, rerata semuanya kerabat mami Lia. Kalau untuk kerabatku, yang Dateng cuma budhe Siti, itupun karna kebetulan budhe nggak sibuk.
"Aduh nggak nyangka, kamu udah mau punya anak aja nduk" budhe Siti menciumi pipi kanan dan kiri ku, beliau bahkan mengelus-elus perutku.
"Alhamdulillah budhe" aku tersenyum manis kearahnya.
"Eh yaudah kamu duduk aja, biar budhe ikut masak sama yang lain" budhe menepuk pundakku pelan sebelum berlalu pergi.
"Lho dek?" Budhe Siti kembali lagi kearahku, mata beliau tak luput dari dapur.
"Ya budhe?" Aku menatapnya bingung.
"Suamimu kok didapur? Ikut masak? Kok bisa?" Budhe mengucek matanya, berusaha melihat Dengan jelas kalau itu bukan Fauzan.
"Iya budhe, itu emang fauzan" jawabku sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ya Allah nduk! Suamimu lagi nggak kenapa-kenapa kan? Dia lagi nggak kesambet kan? Kok mau didapur sih?" Budhe masih belum percaya rupanya.
"Eum itu disuruh mami sih budhe, yaudah deh budhe jangan mikir yang aneh-aneh. Kalo kesambet juga nggak mungkin kedapur" ucapku nyengir kuda.
"Ah iya ya" budhe siti akhirnya tidak memusingkan perkara Fauzan lagi, beliau berlalu pergi kedapur untuk membantu yang lainnya juga.
****
Suara lantunan ayat suci menggema merdu mendinginkan hati berasal dari ruang depan. Semoga mampu menyehatkan dan memberi keselamatan untuk Ku dan bayi yang ada di perutku, terkadang aku merasa insecure dengan wanita shalihah diluar sana. Dimana tujuan akhir mereka bukan lagi dunia, tapi akhirat. Bahkan mereka berbondong-bondong mempelajari beribu-ribu cabang ilmu agama Islam, sedangkan aku? Yah begitulah. Mungkin aku harus banyak-banyak belajar agama juga, bukannya madrasah pertama seorang anak itu ibu ya?
Lamunan ku terbuyarkan saat mami Nanda menyenggolku, beliau menyodorkan segelas air putih padaku. "Minum dek, air do'a" ucapnya.
Aku mengangguk dan menenggak air ini sampai tandas, semoga saja air yang sudah dibacakan beberapa surat Al-Qur'an ini mampu menyehatkan bayi yang ada di perutku.
Setelah acara do'a selesai, kini dilanjut acara makan-makan. Biasanya makanan yang disuguhkan untuk acara empat bulanan adalah ketupat dengan sayur kuning, ah aku lupa apa nama sayurnya. Intinya warna nya kuning!
Karna waktu sudah sore, semua hadirin bubar. Hanya ada keluarga inti saja.
"Aduh dek, kalian baru nikah berapa bulan udah langsung dikasih anak. Berapa kali sih ngelakuinya?" Tante Laras datang dengan pertanyaan senonok.
"Eeh...." aku bingung mau berkata apa, haruskah hubungan ranjang dibicarakan dengan ringannya? Apalagi didepan banyak saudara. Itu agak menggelikan.
"Oh jelas dong tan, kami ngelakuinya malam sampai pagi. Ya nggak sayang?" Jawab Fauzan dengan ringan, dia maju dan langsung memelukku. Didepan banyak saudara! Sungguh ingin sekali aku mencekik lehernya.
Wajahku memerah, untuk keberapa kalinya aku dipermalukan sama dia! Awas saja kamu mas, rumah sepi langsung aku cekik!
"Ekhem" dehem papi Alfi berusaha mencairkan suasana yang canggung akibat jawaban gamblang suamiku.
"Eh yang belum makan, makan dulu aja" mami nanda mengalihkan perhatian semua orang.
Sedangkan aku menarik tangan suamiku agar menjauh dari kerumunan, "rasain ini!" Ucapku sambil mencubit perutnya keras.
"Auwww, iya iya dek! Aduh sakit. Aku nggak bakal ngomong aneh-aneh lagi deh" mohonnya berusaha melepaskan tanganku.
"Udah tau Tante Laras orangnya kaya gitu, nggak usah dijawab juga nggak papa! Daripada buat aku malu!" Aku melepas cubitan diperut Fauzan dan menarik napas dalam-dalam.
"Duh nggak perut rata atau perut gendut, masih aja nyubit perutku" gerutu Fauzan membuka sedikit bajunya, terlihat perut samping kirinya itu berwarna merah karna cubitanku.
"Salah siapa?!" Aku melengos dan berlalu meninggalkannya.
...Bersambung........
__ADS_1
yuhuu udah chapter 70 aja nih😍, tetap stay ya man teman..... masih lumayan banyak bab nya, jangan bosan-bosan buat like, komen, vote, dan hadiahnya😊
thanks you👋