Summer Love

Summer Love
Ch 24. Summer menyebalkan!


__ADS_3

Empat bulan tiga Minggu telah berlalu, terlihat Aku sedang menatap keluar jendela kamarku, ujian telah selesai aku lakukan. Musim panas pun telah datang.


Aku menumpu wajahku sembari memikirkan cara apa yang bisa membuatku keparis 'tanpa' menerima perjodohan aneh ini.


Sesaat kulirik telfonku yang berkedip, terlihat ada beberapa pesan masuk dari grup kelas. Mungkin itu cuma info tentang seputar universitas, well aku gak peduli!


"Dek! Siap-siap nanti kita kerumah mas Ozan" teriakan Mami diiringi suara pintu terbuka membuatku terhenyak kaget.


"Ke-kenapa?" Aku tergagap, apakah ini menyangkut 6 bulan yang dulu pernah papi Hendrik putuskan? Apa.... apakah papiku - papi alfy menyetujui pernikahan muda ini?


Hello... bi - bisakah jangan secepat ini? Aku belum siap akan dunia pernikahan, apalagi soal hal yang pernah mbak Mila sama mas Zidan omongkan dua bulan lalu, tentang 'penukaran benih'.


"Mbak kenapa ngak mbak aja yang nikah dulu? kan kasihan Riri! mbak gak liat ya dia sama Fauzan tuh suka ribut, nah mana pantes buat nikah? apalagi diusia muda" suara telpon dari mas Zidan dikamar mbak mila- kamar sebelah ku memulai pincingan mataku yang tengah belajar untuk ujian.


"mbak? kamu aja dulu, mbak belum siap dunia pernikahan. apalagi soal penukaran benih" jawab mbak Mila terdengar sewot.


"Halah alesan! selalu aja pake teori. coba pake logika, mbak ngomong gak siap buat penukaran benih ya? coba aja pas udah nikah pasti suka" ceplos mas Zidan kesal.


"suka? hello..... kamu tau begituan dari mana dan? jangan bilang kamu disana jadi Casanova ya? ngaku kamu! kalo ngak mbak bakal laporin sama mami papi!" bantah mbak Mila menggebu-gebu.


aku menghentikan aktivitas dan menempelkan telingaku didinding kamar, "kalo mbak aja belum siap, lah gimana Riri mbak?" tukas mas Zidan tak kalah sewot.


"ya gatau! mbak aja pusing!" Ucap mbak Mila sedikit pelan.


setelah itu tak terdengar perdebatan lagi dari keduanya, aku duduk dan memainkan bolpoin. ucapannya mas zidan berasa seperti menusuk hatiku. saking terbawanya, sampai kalimat itu tercetak tebal dikepala.


"Kenapa?" Mami mengangkat alisnya heran kearahku setelah aku tercenung sebentar, "kita mau syukuran wisuda mas mu loh" jelasnya.


Aku menghela nafas lega, baiklah tak masalah kalau soal ngerayain atau biasa disebut dengan kata - syukuran.

__ADS_1


"Oke aku mau siap-siap dulu mih" ucapku yang langsung diangguki mami, dan beliau pergi.


Memang satu Minggu lalu mas Zidan berhasil meraih gelar S1 di Amrik, untungnya waktu satu Minggu itu aku baru selesai melaksanakan ujian dan aku tentunya ikut ke Amrik buat ngadirin wisuda mas Zidan.


Aku siap-siap mengambil pakaian yang ada didalam lemari, hemm enaknya pake pakean apa ya? Gamis kah? Kalo syukuran sih biasanya gamis, oke aku putuskan pake gamis!


Setelah sekian menit berdandan aku keluar dari kamarku, tampak diri ini menggunakan gamis bermotif bunga, berwarna biru muda berpadu dengan hijabnya. Ditambah aku memakai sepatu kets berwarna putih dan sling bag warna putih juga.


Aku menuruni anak tangga, nampak didepan pintu masuk udah terlihat mbak Mila, mas Zidan dan mami. Mungkin papi lagi ngeluarin mobil dari bagasi kali ya


Lantas aku menghampiri mereka, "cuma syukuran aja kan ini? Gak aneh-aneh?" Tanyaku sembari menatap ketiganya bergantian.


"Iya cuma syukuran aja kok dek!" Tegas mami yang sedikit membuatku percaya, tapi tentu saja tak sepenuhnya.


Tinn...


Terlihat papi keluar dari mobil yang masih menyala itu, lantas beliau menepuk pundak mas Zidan, "kamu yang nyetir mas" ucapnya.


"Oke" mas zidan manut.


Kami bertiga memasuki kursi belakang, sedangkan papi duduk didepan, di pinggir mas Zidan.


Mobil yang dikemudikan mas Zidan ini pun melaju meninggalkan pekarangan rumah.


Sekitar 24 menit mobil ini berhenti didepan pelataran rumah Fauzan, sebenarnya aku agak malas bertemu satu makhluk ini. Selama 5 bulan penuh kami dipaksa selalu bersama, gimana gak jengkel coba? Sampe kami benar-benar dianggap pacaran sama satu sekolah!


Kami berlima disambut dengan senyum lebar dari para penghuni rumah ini, aku udah biasa ngadepin macam ginian. Apalagi dua Minggu ful aku pernah nginep disini, dan yah rasanya mirip dirumah sendiri, tapi bedanya ada satu makhluk yang membuatku jengkel. Well jangan bahas hal ini lagi.


"Dek zhari makin cantik loh kalo pake gamis dan jilbab" ucap mami Lia sembari mencium pipi kanan dan kiriku.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum kikuk, tak enak gimana gitu rasanya kalo dipuji, apalagi pakaian sehari-hari yang kugunakan tidak tertutup, alias menampilkan paha mulusku sih kadang-kadang...


"Ayo mbak masuk, udah disediakan makanan loh" mami Lia menuntun mami dan diriku, tampaknya persahabatan mereka seperti sudah menjadi saudara. Hemm apakah perjodohan ini bersangkutan dengan janji mereka dijaman dulu? Maksudku seperti macam di film-film, saling berjanji untuk menyatukan anak masing-masing.


Kami semua duduk dimeja makan yang besar, tampaknya ini beneran acara syukuran. Namun ada satu hal yang membuatku makin jengkel, kenapa kursi yang kosong tinggal disebelah Fauzan aja sih? Harus banget ya kami saling Deket kaya udah beneran nikah?


"Dek duduk" cegah mami pada lamunanku, akhirnya aku manut dan duduk disamping lelaki ini.


"Dengan persahabatan yang telah kami jalin dari zaman dulu, dan dengan adanya kabar bahagia dari mas Zidan, kami merayakan syukuran ini" ucap papiku dengan bangga, lantas kami semua hanya memasang senyum kecil.


Agak aneh juga sih...


"Baiklah mari makan!" Papi Hendrik langsung mempersilahkan kami makan, akhirnya aku terpaksa ikut makan walaupun perut ini rasanya kenyang.


Aku melirik Fauzan yang tampaknya dia tak terganggu sedikit pun dengan kehadiran ku, apalagi dia tak pernah melirik diriku sama sekali. Sit! Jangan bilang kamu menaruh harap sama lelaki ini!


Makan siang ini diakhiri dengan khidmat, namun sekarang yang tak khidmat adalah tatapan semua orang yang tertuju padaku dan Fauzan.


Tiba-tiba tanganku menjadi dingin, punggung ku menegang dan kuremas baju gamis ku karna gugup, aku ngerasa udah paham!


"Karna tak ada penolakan saat kalian kami paksa, berarti satu bulan lagi kalian akan kami nikahi!" Ucap papi Hendrik yang tiba-tiba membuat kakiku lemas, untung saja aku masih duduk di kursi kalau lagi berdiri pasti ambruk.


"Uhuk" tampak Fauzan tersedak minuman saat mendengar ucapan papinya.


Aku semakin gugup saat melihat Fauzan yang hendak berbicara, dia membuka mulutnya namun ditutup kembali, seperti tak ada kata yang keluar dari bibir itu.


Aku merasa summer - musim panas tahun ini menyebalkan! Sit! sial aku semakin membenci musim ini!


...Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2