Summer Love

Summer Love
Ch 25. Pergolakan batin


__ADS_3

"Bagaimana?" Tanya mami lia, dia tampak teramat berbinar, apakah ini semua disebabkan karna mbak lili yang belum hamil? Membuat semuanya memaksaku dan Fauzan, apalagi menaruh harapan dipundakku.


"Tidak setuju!"


"Belum siap!"


Kami berdua menjawab berbarengan namun dengan kata yang berbeda, aduh... kenapa aku jawabnya belum siap sih? Kan masih ada kata lain!


Aku menginjak kaki Fauzan karna kesal, tampaknya lelaki itu meringis sembari memukul tanganku yang dingin.


"Loh kenapa?" Tanya mamiku dengan heran.


"Zhari mau jadi guru!"


"Ozan masih perlu belajar!"


Lagi-lagi kami menjawab berbarengan namun dengan kata yang beda.


"Kan bisa dikejar pas kalian nikah? Tenang aja kok kami udah nyiapin rumah buat kalian tinggalin, tinggal kalian sendirinya aja yang siap apa enggak?" Papiku menjelaskan dengan sabar.


"Gak! Pokoknya zhari gak mau nikah sebelum jadi guru!" Tandasku dengan menatap semua orang dengan berani, bodo amat apa kata mereka yang penting cita-cita ku tercapai!


"Ozan juga gak mau nikah sebelum bisa menguasai ilmu-ilmu berbisnis! Apalagi Ozan tulang punggung!" Fauzan pun sama menatap semua orang dengan serius.


"Kalo hal itu tenang aja, papi sama papi alfy punya banyak kenalan, dek zhari juga bisa jadi guru dalam waktu 2 tahunan kok" ucap papi Hendrik.


Setelah itu dia menatap Fauzan Dengan serius, "dan untuk mas Ozan, kalo mas mau. tinggal mas banyak belajar sama mas firman, mas Zidan, dan papi!" Tegasnya.


Kami berdua menggeleng kompak, "aku tetep gak mau! Apapun alasannya aku tetep gak mau!" Tegasku.


"Yaudah apa alasan utama dek zhari gak mau nikah?" Tanya mami Lia.


"Karna aku....." aku menjeda kata-kataku, sesungguhnya hal yang paling membuatku takut adalah hak tentang 'penukaran benih'


"Nah karna tak ada alasan utamanya kami putuskan kalian menikah satu bulan lagi" Mamiku bersorak gembira, tiba-tiba kakiku makin merasa lemas, pandangan ku buram Karna air mata tampak akan keluar.

__ADS_1


"Aku gak mau!" Ucapku parau.


"Kenapa? Katanya dek zhari gak punya alasan utamanya kan?" Mami Lia mengernyit melihatku.


Aku mengusap air mataku, dan berdiri dengan sisa-sisa tenagaku. Setelah itu aku menatap mami Lia dan papi Hendrik dengan serius, udah bodo dengan tata Krama yang kesekian kalinya, kalo nyatanya yang dikorbankan kewarasan!


"Maaf mih, pih, mas, mbak, semuanya..." ucapku bergetar, "aku tau kenapa kalian memaksa kami agar cepat menikah! Aku tau ini semua karna alasan bayi kan? Karna kalian ingin punya cucu kan? Lantas kalian selalu bilang, kalian adalah keluarga kaya, kenapa kalian tidak mendaftarkan bayi program buat mbak lili sama mas firman? Kenapa harus aku yang jadi korban nya? Dan untuk mami papiku sendiri. Masih ada mbak Mila dan mas Zidan yang bisa kalian andalkan untuk mendapatkan cucu" jelasku dengan suara yang bergetar.


Hatiku tersayat - sayat, aku merasa takut akan dunia pernikahan, merasa takut akan kata 'penukaran benih'


"Dek" semua orang mengucapkan kata itu berbarengan dengan ketidak enakan dihati masing-masing.


"Kenapa? Haruskah aku menghadapi hidup didalam lembah pernikahan yang kalian paksa itu? Haruskah aku mengorbankan masa-masa bahagia ku saat ini? Taukah kalian seberapa sakitnya hatiku saat ada yang memfitnah kami disekolah?" Air mataku mengalir deras saat mengucapkan kalimat ini.


"Bukan itu dek!" Sergah mami lia.


"Aku tau kalian menantikan cucu! Aku tau aku tau! Tapi..... kalian tak pantas meminta hal itu dariku! Aku belum siap menjadi seorang ibu, aku belum siap menikah! Belum siap hidup berdua!"


"Bener mih, pih! Kami belum siap hidup berdua, kami masih perlu belajar banyak hal. Kalian boleh melanjutkan perjodohan ini dan tetap memaksa kami menikah, asalkan semuanya saat kami sudah siap!" Fauzan berdiri dari duduknya, tampaknya dia mulai membelaku, atau untuk kepentingan dirinya sendiri!


"6 bulan lagi?" Tanya papi Hendrik menatap kami berdua.


"Dek!"


"Za!"


Semua orang mengejarku, aku berjalan cepat kearah gerbang rumah ini. Untung saja pak Yayan sedang tidak mengunci pagarnya.


Semua orang masih mengejarku namun, mereka terlambat karna aku sudah menghentikan taksi dan pergi entah kemana.


"Mas mobil! Kejar zhari!" Papi alfy mengintruksikan pada mas zidan dan mas firman.


Aku melihat kebelakang, untung saja mereka belum sempat mengejarku.


"Kemana neng?" Tanya pak sopir.

__ADS_1


"Eummm hotel yang ada didepan aja pak" jawabku setelah menimbang-nimbang, lagian aku juga punya tabungan sendiri buat bayar hotel.


Tak berapa lama taksi ini telah sampai didepan hotel, aku turun dari taksi dan berjalan memasuki loby hotel.


Tapi tiba-tiba kedua tanganku ada yang mencengkalnya, membuatku terlonjak kaget.


"Siapa?" Geramku dengan dingin.


"Kamu harus pulang dek!" Suara itu membuatku tertegun, bukankah itu suara mas firman sama mas Zidan?


Aku berbalik dan menemukan mas firman dan mas Zidan yang masih mencengkal tanganku. Lantas pandangan ku menatap lurus kearah semua orang yang sedang berjalan kearahku, ya siapa lagi kalau bukan anggota keluarga ku dan Fauzan.


"Aku gak mau!" Ucapku sembari meronta.


"Dek!" Papiku memelototi ku dengan tajam.


"Aku gak mau! Aku gak mau!" Aku terisak dan terus meronta, tapi sayangnya cekalan dua pria dewasa ini tak bisa membuatku lepas begitu saja.


"Dek!" Tekan mami yang melihat diriku terus meronta.


"Untuk apa mih? Mami ingin menghancurkan impianku? Mami sangat ingin aku menikah? Ingin aku cepat punya anak? Dan ingin aku mengatakan pada diriku 'andai saja...' apa mami ingin aku berandai-andai disuatu hari nanti?" Todongku dengan menatap lurus kewajah mami.


"Bukan itu dek!" Sergah mami Lia, yang sekarang menatap mataku.


"Apa mih? Aku sudah muak dengan semuanya! Aku senewen! Aku pusing! Kalo tau begini mending dari dulu aku pergi dari hidup kalian!" Keputusasaan merayapiku hingga membuat mulut ini mengucapkan kata-kata yang tak pantas.


Hening menggantung di atmosfer, setelah aku mengeluarkan kata-kata itu. Tampak semua orang menatap ku dengan pandangan yang tak bisa dibaca, mungkin antara kecewa, sedih, dan merasa bersalah.


Aku hanya diam sembari memikirkan cara apa yang bisa membawaku keparis, tanpa menikah diusia muda! Ya haruskah aku melanjutkan pergolakan batin ini? Batinku berfikir keras.


...Bersambung........


***


ternyata zhari benar-benar keras kepala ya, emang sih masa masih muda udah disuruh nikah🙂, wah kalo kalian ada diposisi zhari mau lanjut nikah apa ngejar cita-cita dulu nih? Kalo author sih pengen nyari cuan dulu wkwk😂

__ADS_1


yuk lah guys pantengin aja terus ya😉, jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.


Thanks you👋❤


__ADS_2