
'Prangg! Suara keras membuatku kaget, Fauzan pun sama, dia memandangku penuh tanya. Kemudian dilanjut dengan sebuah panggilan yang sepertinya dari suara panik mami Nanda. Mami berteriak dan ingin membuatku lompat Turun.
"Papiii" mami berteriak untuk kedua kalinya.
Tanpa pikir panjang, Fauzan menggandeng ku keluar kamar. Menuruni tangga dengan tergopoh, dan mendapati ditengah ruang makan ada piring yang terbelah dilantai. Ada papi Alfi yang tergeletak dipangkuan papi hendrik, mata beliau terpejam, dan untuk mami Nanda sendiri beliau tengah shock sambil dipijit pundaknya oleh mami Lia.
"Papiii" teriakku gontai sambil berlari.
Sesampainya dibawah, aku mendatangi beliau dan mengguncang tubuhnya pelan. "Papi? Bangun pi?" Gugahku kuat.
"Mih papi kenapa?" Tanyaku cemas sambil menatap mami yang tengah menangis disela-sela shocknya.
Mami menggeleng, "mami gak tau dek"
Aku menarik napas berusaha tenang, berusaha me-remind kemampuanku dalam tindakan pertolongan pertama. Ya aku pernah mendapatkannya saat ikut organisasi pmi dulu, aku harus memberikan pertolongan pertama pada papi. Dengan tenang, seperti saat simulasi dulu.
Aku berlutut disamping beliau, kuletakan kepala papi diatas lantai dengan hati-hati. Kuregangkan kancing baju dilehernya, ku suruh papi Hendrik dan beberapa orang menjauh agar sirkulasi lancar. Kuamati apa yang naik turun, lemah. Kudekatkan telinga kemulut dan hidung, memang lemah. Kusentuh nadi dileher dan melihat jam ditangan, benar nadi papi Alfi lemah.
__ADS_1
"Papi! Papi!" Panggilku lantang sambil mengguncangkan pelan tubuh papih.
Papi tidak merespon, bahkan napas beliau lemah sekali. Beliau butuh CPR cardiopulmonary resuscitation, resulasi jantung paru!
Kuletakan telapak tangan kanan diatas telapak tangan kiriku , diatas Dada bagian tengah papi. Kutekan dada kira-kira sedalam lima senti sebanyak 30 kali dengan kecepatan satu tekanan perdetik. Tumpuan badanku berada dibagian atas agar tekanan yang terhasil kuat.
Belum ada respon saat ku panggil nama papi, kuulang lagi proses kompresi dada. Masih tak ada respon, akhirnya kuberi papi napas buatan dengan tenang. Dua kali meniup mulut dengan menjepit hidung papi, dan terdengar suara batuk kecil dari mulut beliau. Lega, semua lega..
Papi bergeliat lemah, mata terpejam nya mulai bergerak-gerak. Lalu terbuka segaris dan melirikku. "Dasar.... anak... nakal..." ceplos papi lemah.
"Papiii" aku memeluk papi dengan syukur.
"Ambulance akan segera kemari dalam waktu 10 menit" ucap Fauzan pelan.
Wajahnya yang kacau tadi sudah membaik. Dia cemas, tapi sebagai seorang Ceo di berusaha tetap tenang agar aku nyaman memberi pertolongan kepada papi, dia terbiasa menguasai emosinya. Dan terbukti, dia menatapku bangga sekarang.
"Papi baik-baik, ya?" Bisikku pelan, berharap papi mendengarnya walau beliau masih lemah.
__ADS_1
"Maafkan zhari" imbunku lirih sebelum mata beliau terkatup lagi.
"Papi..." mami menangis pelan sambil memegang tangan papi.
"Zan, kamu temeni dek zhari ke RS! Nanti kami nyusul" putus papi Hendrik cemas.
"Maafkan aku pih" ucapku pelan, menyela kecemasan Papi Hendrik.
Papi Hendrik menyentuh pundakku. "Perbaiki nanti, nduk!"
Aku menunduk, kakiku goyah, hatiku runtuh. Takut papi tak apa-apa, Namun Fauzan merangkulku hangat seolah memberi penguatan.
"Papi pasti baik-baik saja, kamu sudah memberikan pertolongan terbaik. Ibu guru!" Bisik Fauzan menguatkanku.
Perlahan air mataku jatuh, sikapku yang kuat tadi berganti dengan air mata. Yang sedang ku tolong itu bukanlah siswa ataupun guru disekolah, tapi papi kandungku sendiri. Beliau jatuh pingsan, shock karna perbuatanku. Malam ini bukan hanya piring yang terbelah diatas lantai, melainkan hatiku juga.
...Bersambung........
__ADS_1
Hai readers....
Maap ya author up nya sedikit, hehe 😁🙏