Summer Love

Summer Love
Ch 78. Tertekan


__ADS_3

Diperjalanan zhari memegang tangan kiriku dengan erat, entah karna apa lagi ini? Kepekaanku semakin hari semakin berkurang saja. Mungkin karna semakin hari waktu dan konsentrasi ku terpecah karna masalah pekerjaan, masalah keluarga dan entah masalah apalagi.


Akhirnya aku balas menggenggam jari jemarinya erat, tiba-tiba saja aku ingat sesuatu. Ya aku lupa tadi setelah dzuhur, sebelum aku kembali ke rumah mami Nanda lagi. Adit menelfonku, katanya tuan William - direktur Perusahaan tekstil di Singapura memintaku untuk datang kesana, mungkin akan memakan waktu 2 hari paling sebentar.


"Sayang....." ucapku menatapnya sekilas.


Dia menatapku, "apa?" Tanyanya.


"Nanti malam aku mau ke Singapur, soalnya---" ucapanku langsung disela olehnya, "yaudah pergi aja" jawabnya cuek sambil memalingkan wajah.


Aku mulai merasa ada yang aneh, "jadi, boleh nggak? Kalo engga. Nanti aku serahin ke mas firman aja," ucapku berusaha menggali apa yang membuatnnya tiba-tiba cuek.


"iya boleh aja sana pergi" jawabnya masih terdengar cuek.


"sayang, kalo nggak boleh ngomong engga! Kalo boleh ngomong boleh! jangan bikin aku bingung" ucapku dengan kesal.


"kan aku udah ngomong boleh!, Ck" dia menghempas genggaman tanganku.


aku sedikit shock, "yank? Kamu kenapa sih? masih marah sama aku?" mungkin ini alasannya.


"engga" dia masih memalingkan wajahnya kejalanan.


"yaudah nanti aku ngomong sama mas firman, biar dia aja yang ke ln. aku dirumah" akhirnya aku mengalah, memasang earphone dan mengambil Hp untuk segera menghubungi mas firman.


"jangan main hp kalo lagi nyetir" rupanya dia melirikku.


"yaudah makannya hubungi mas firman, biar aku ngomong" aku menyerahkan hpku padanya.

__ADS_1


"buat apa sih? kan aku udah bilang, berangkat ya berangkat aja!" dia menaruh hp ku pada dasboard mobil.


"lho? kan aku..." aku tak melanjutkan ucapan dan akhirnya diam, karna ingat ini masih dijalan.


dia pun ikut diam, sekarang entah aku merasa tertekan saat berhadapan dengannya. sebenarnya apa maunya? wanita itu biasanya, ya artinya tidak. tidak pun kadang artinya iya, bahkan diam nya pun bisa diartikan iya dan tidak! huft sabar. istri sendiri!


tak berapa lama kami sampai dirumah, aku menurunkan kopernya dari bagasi. menariknya masuk kerumah, dia hanya mendahuluiku dengan cuek.


aku menaruh koper dikamar bawah, zhari yang sudah naik setengah tangga itu mau tak mau membalik badannya. "lho ko kebawah?" ucapnya.


"kata mami kamu gak boleh bolak-balik tangga lagi, dan mami pun udah ngasih tau sandi pintu kamar ini" aku mulai membuka kamar.


"kan belum dibersihin?" dia turun kebawah dengan wajah merenggut.


"tiap hari kan dibersihkan bi iyem? kan mami emang ngasih tugas ke mereka" jelasku sambil menarik kopernya kedalam.


aku membuka lemari, mulai menata semua pakaiannya. menata buku-buku yang dibawahnya pada meja kerjanya, yang memang sudah ada dikamar.


setelah selesai, aku mengeluarkan hp dan hendak saja aku menghubungi mas firman. tapi, dia malah mengambil Hp ku.


"dek?" aku menatapnya.


"Udah gak usah hubungi mas firman, pergi ya pergi aja" dia mencabut sim kartu di hp ku.


"nih" ucapnya sambil memberikan hp ku yang tanpa sim.


aku menatap tak habis pikir pada hp yang sedang ku genggam ini, membolak-balikan nya dengan bodoh.

__ADS_1


"dek, serius aku mau hubungi mas firman!" karna dirumah ini belum ada telfon khusus rumah. aku hanya bisa mengandalkan hp ku sendiri.


"aku juga serius! pergi ya pergi aja" dengan keras kepalanya dia masih keukeh pada pendiriannya.


"mau kamu apa sih dek? aku juga tau kamu kayak gini karna apa, gak mau aku ke ln kan?" tebakku to the poin.


dia diam, tidak mengiyakan atau mentidakkan. "sini dulu sim nya, aku harus nelfon mas firman. biar dia aja yang ke ln" dengan nada lembut aku mengadahkan tanganku kedepan wajahnya.


"Udah, nanti aku hubungi Adit. kamu aja yang berangkat ke ln, sendirian juga aku berani kok!" dia bangkit dari duduknya.


aku mulai tertekan, sumpah mau dia apa sih? huft.... sabar inget. bagaimana kamu gila saat dia pergi, jangan gegabah. aku membatin.


"dek, aku juga tetep sama keinginan ku! gak mau ke ln" aku mengejarnya yang sedang berjalan kearah dapur.


"dek!" Dengan melipat bibir aku masih membujuknya.


andai, aku hapal nomor telepon milik mas firman atau radit. pasti aku akan pinjam hp Ryan ataupun art yang lain.


"Udah sana, siap-siapin aja baju. aku mau masak" dia mengabaikan ku.


Karna jengah dengan tingkahnya yang tidak bisa ditebak, aku pun pergi kekamar dan mengambil kunci mobil.


mengabaikan keinginan nya yang mau aku ke ln, ngerti kok dia pasti begini karna gak mau aku tinggal. wanita kan emang susah dimengerti, hanya tebakan awal.


...Bersambung..........


maaf ya readers, author gak bisa nepatin janji. harusnya dari kemarin up dan tadi malem juga up. tapi, kakak author pulkam. jadinya lepas rindu dulu setelah terpisah corona, maaf ya🙇

__ADS_1


terimakasih untuk yang masih setia, maaf kalau novelnya amburadul dan tidak sejalan. author masih belajar, in sya Allah setelah nov ini tamat. author bakal bikin karya baru yang wow, pantengin aja ya😊, mungkin awal februari author bisa bikin karya barunya. soalnya masih proses 😌


__ADS_2