
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Dirga di ikuti oleh Lee dan beberapa
pengawalnya masuk ke kantor polisi.
Beberapa orang petugas kepolisian yang
sedang berjaga terlihat membungkuk di
hadapannya kemudian membimbing
Dirga untuk memasuki sebuah ruangan.
"Silahkan.! tunggu sebentar Tuan..saya akan memanggil nya terlebih dahulu.."
Ucap salah seorang polisi sambil kemudian
berlalu. Dirga duduk di kursi dengan wajah
yang sangat dingin tanpa ekspresi sedikitpun.
Lee berdiri di belakang nya.
Tidak lama dari dalam ruangan lain muncul
polisi yang tadi, bersama dengan dua orang
polwan menggiring seseorang yang terlihat
berjalan gontai dengan muka yang di tekuk.
Dia memakai pakaian serba biru khas seorang tahanan. Wajahnya terlihat lesu namun ada
amarah dalam sorot matanya.
Tahanan itu tiada lain dan tiada bukan
adalah Evelyin.
Tiga hari lalu dia di tangkap di sebuah
klub malam setelah penyelidikan mendalam
tentang insiden penusukan terhadap Mayra
di lakukan, semua bukti dan saksi mengarah
kepada nya sebagai otak di balik semua kejadian tragis tersebut. Dan yang paling memberatkan
adalah pengakuan dari laki-laki penusuk yang
sudah mengakui dengan gamblang bahwa
Evelyin lah yang telah menyuruh dan
membayarnya untuk melakukan perbuatan
keji tersebut.
Evelyin duduk di hadapan Dirga dengan wajah
yang terlihat kusut namun masih terlihat tidak
bisa menerima keadaanya kini.
Dirga menatap tajam wajah Evelyin dengan
sorot mata sedingin kutub utara.
"Kau harus membayar semuanya..! perbuatanmu
tidak bisa aku maafkan..!!"
Ucap Dirga masih dalam keadaan duduk dengan
tenang dan menatap tajam Evelyin.
"Kau yang sudah membuatku seperti ini.! andai
saja kau mendengar ku untuk melepaskan wanita
itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi..!!"
Kilah Evelyin dengan nada suara yang sama
dinginnya dengan Dirga. Keduanya saling
menatap tajam. Dirga memperhatikan seksama keadaan Evelyin saat ini. Wanita ini dulu pernah
ada di dalam hatinya, tapi sekarang karena perbuatannya, rasa empati dalam hatinya
sudah hilang tanpa bekas.
"Kau hanya tidak bisa menerima kenyataan.
Kau wanita yang serakah..! Andai kamu juga
bisa menerima semua keadaan, mungkin
sekarang kamu masih bisa menghirup
udara bebas..!!"
Ucap Dirga. Evelyin terlihat menyunggingkan
senyum sinis, dia menatap benci kearah Dirga,
laki-laki yang dulu begitu di pujanya, kini sudah membuat dirinya membencinya karena dianggap
telah mencampakkan nya dengan sangat hina.
"Kau sudah memperlakukan ku dengan tidak
adil. Wanita mana yang tahan kalau diperlakukan seperti itu. Kau lebih mengutamakan wanita itu..!"
"Jangan mencoba mencari alasan..!! kejahatan
mu terhadap Mayra sudah terlalu banyak..!!"
"Hahaa.. kejahatan apa yang kau maksud.?
Aku tidak pernah melakukan apapun yang
kau tuduhkan..!! Laki-laki itu hanya mengarang
cerita saja..!!"
"Kau tidak bisa mengelak lagi ! Aku sudah
mengantongi semua bukti kejahatan mu..!!"
Sentak Dirga. Evelyin langsung terdiam tak
berkutik, wajahnya yang tadi berapi-api kini
mulai terlihat melemah.
Dirga kemudian berdiri merapihkan jas nya, dia
kembali menatap Evelyin tajam.
"Renungkan lah semua perbuatanmu, hukuman
seumur hidup seharusnya cukup membuat dirimu
menyadari segala kesalahanmu..!!"
Ucap Dirga sambil kemudian melangkah, tapi
Evelyin tiba-tiba mengejarnya dan memeluknya
erat dari belakang membuat langkah Dirga terhenti .
"Kau berubah kejam padaku.! padahal aku
sangat mencintaimu..! Aku berubah karena
wanita itu telah merebut mu dariku..!"
Ucap Evelyin sambil terisak. Dirga terdiam tak bereaksi. Tatapannya datar, dia tak merespon
apa yang di lakukan Evelyin.
Beberapa anggota polwan kemudian menarik
Evelyin agar melepaskan pelukannya dari Dirga.
Tapi Evelyin makin mempererat pelukannya.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku.! Aku ini
masih istrimu..! nama baikmu akan hancur
kalau dunia tahu kau telah memenjarakan ku.!"
Ucap Evelyin lagi. Dirga menarik tubuh Evelyin
__ADS_1
kehadapan nya. Kembali menatapnya dan
mencengkram tangannya kuat.
"Aku tidak peduli dengan refutasi dan nama
baikku ! yang aku pedulikan kini hanyalah nyawa
istri ku yang sudah berusaha kau lenyapkan..!"
"Aku ini juga istri mu, istri pertamamu yang
sangat kau cintai..!"
"Itu mungkin dulu ! tapi tidak dengan sekarang.!
Pengadilan telah mengabulkan gugatan cerai ku.!"
Evelyin terhenyak, tubuhnya bergetar, tangisnya
semakin merebak.
"Tidak..! kau tidak bisa berlaku kejam padaku
seperti ini.! aku tidak terima semua ini.!"
Teriak Evelyin mulai histeris. Dirga tidak perduli
dia kembali melangkah meninggalkan Evelyin
yang terus berteriak.
"Aku hanya menyesal karena wanita itu masih saja
selamat, kenapa dia tidak mati saja, dasar wanita
pembawa sial..! ahh ****** murahan..!!"
Teriak Evelyin histeris sambil terus meronta dari
cekalan dua anggota polwan yang kembali
menyeret nya masuk ke dalam ruang tahanan.
Dirga tak perduli dengan teriakan Evelyin, dia
berjalan acuh keluar dari kantor polisi tersebut.
***** *****
Hidup harus terus berjalan. Walaupun tidak selalu
sesuai dengan harapan dan keinginan, namun
semua akan tetap berada pada keadaan yang
seharusnya, yang sudah di gariskan.
Dirga harus terus menjalani hidupnya walaupun
kini terasa hampa. Apa yang sudah dia tanam
itulah yang akan dia tuai. Kehidupan rumah
tangga yang semula dia anggap semua ada
dalam genggaman tangannya, semua akan
mudah di dalam kekuasaannya, ternyata
berbalik menjadi bumerang bagi dirinya.
Istri pertamanya kini meringkuk di penjara, dan
istri keduanya pergi di bawa pria lain. Semua
ternyata tidak semudah seperti membalikan
telapak tangan. Semua perbuatan yang kita
lakukan akan ada konsekuensi nya.
Dirga kini hanya bisa merenungi semua
kejadian yang telah menimpanya.
Ya..disini dia telah melupakan sesuatu..bahwa
di atas langit masih ada langit, sehebat atau
sekuat apapun kekuasaan dirinya kini, masih
Perencana atas semua napas kehidupan
yang ada di muka bumi ini.
Dirga masuk kedalam kamar utama di dalam
rumah yang menjadi tempat tinggalnya bersama Mayra. Dia duduk di atas tempat tidur menatap
hampa ke sekeliling kamar besar yang kini sepi itu.
Sudah beberapa hari dia meratapi kesunyian
dan kerinduannya terhadap sosok istrinya yang
tiba-tiba diambil paksa oleh sahabatnya itu.
Hatinya semakin perih saat melihat barang-barang
yang sudah di beli oleh Mayra untuknya sesaat
sebelum kejadian tragis itu terjadi.
Oleh karena itu dia memanggil Pak Agus untuk
pindah ke rumah ini dan menjadi kepala pelayan
di rumah ini sekaligus pelayan pribadinya. Dia
meminta Pak Agus untuk mulai membimbingnya
kembali ke jalan keyakinannya.
Saat pertama kali Pak Agus mendengar keinginan
Tuan mudanya itu dia sempat shock dan tak
percaya, dia hanya bengong saja mematung.
"Mayra menginginkanku untuk memulai jalan
yang baru..! Oleh karena itu pelan-pelan aku
akan mengabulkannya. !"
Ucap Dirga saat keluar dari ruang ganti dengan
sudah memakai sarung dan baju koko yang
dibelikan oleh Mayra untuknya. Pak Agus terlihat
menganga saat melihat Dirga dengan tampilan
agamis nya itu.
"Masya Allah Tuan muda..beda banget..!"
Gumam Pak Agus saat melihat Dirga begitu
tampan dan bercahaya dengan balutan pakaian muslim itu.
"Ayo kita mulai Pak..!"
Seru Dirga menyadarkan Pak Agus.
Dan mulai saat itulah, setiap Dirga pulang dari
kantor dia memulai belajar agamanya dengan
Pak Agus yang memang cukup pengetahuan
tentang agamanya.
Semua pelayan yang ada di rumah besar itu juga
sudah tahu tentang perubahan majikannya itu.
Mereka hanya bisa bersyukur dan berdoa bahwa
kehidupan masa depan Dirga akan lebih baik lagi
ke depannya.
Semua orang hanya tahu bahwa Mayra sedang
menjalani perawatan yang sangat privat dan tidak
__ADS_1
boleh di ganggu oleh siapapun.
Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi
sebenarnya. Sebagian orang berspekulasi bahwa
Mayra mengalami koma karena insiden kemarin.
***** *****
Hari ini Dirga kembali ke kantor seperti biasanya.
Sudah seminggu Mayra dibawa pergi oleh Aaron.
Setiap hari Dirga berusaha menghubungi Aaron
ingin menanyakan tentang keadaan Mayra. Tapi
Aaron tidak pernah meresponnya. Kekesalan
Dirga kini sudah memuncak terhadap Aaron.
Belum lagi rasa rindunya terhadap Mayra yang
sudah tidak tertahan. Dirga tidak tahu kemana
Aaron membawa Mayra. Sebab saat Lee melacak
keberangkatan pesawat Aaron, ternyata Aaron
tidak membawa Mayra terbang ke negaranya.
Jejaknya tiba-tiba menghilang begitu saja.
Pikiran liar Dirga sudah melebar kemana-mana.
Dia takut Aaron akan benar-benar membawa
Mayra ke tempat yang tidak terjangkau dan menjauhkan nya dari dirinya. Ketakutannya
semakin menjadi karena sampai saat ini belum
ada kabar sama sekali dari Aaron. Dia takut Aaron akan merebut Mayra dari sisinya. Akan seperti
apa hidupnya nanti kalau dia kehilangan Mayra.
Lee masuk saat Dirga sedang mencoba
konsentrasi dengan pekerjaannya.
"Tuan..ada email masuk dari Tuan Aaron ! "
Ucap Lee sumringah. Dirga tampak terkejut
sesaat, tanpa menunggu lama, dia langsung
membuka laptopnya dan membuka file yang dikirimkan oleh Aaron.
Matanya tampak berbinar bahagia saat melihat
ada kiriman fhoto Mayra yang sedang berdiri
di dekat jendela besar di bawah kilatan cahaya matahari menghadap keluar jendela.
Walaupun wajahnya hanya separuh, namun
terlihat sudah dalam keadaan lebih baik, hanya
saja tatapannya terlihat sendu menatap keluar
seakan menerawang jauh.
Dirga memandang nanar fhoto Mayra dengan
mata yang berkaca-kaca. Di elusnya fhoto Mayra penuh dengan gejolak kerinduan yang semakin menggedor jiwanya.
Ada fhoto kedua yang masuk. Di sini terlihat
Mayra sedang duduk santai di balkon dengan
segelas susu dan camilan yang ada di depannya.
Wajahnya terlihat sudah kembali bersinar.
Namun tatapannya tetap terlihat sendu menahan sebuah rasa yang mungkin sama seperti yang
kini di rasakan oleh Dirga.
Dirga tidak tahan lagi, dia memejamkan
matanya menahan serbuan rasa rindu yang
kini menyesakan dadanya, membuat dia tidak
berdaya. Ponselnya berdering dan nama Aaron
tertera di layarnya, dengan cepat Dirga
mengangkat nya.
"Kau sudah melihatnya..??"
"Kemana kamu membawa istriku.?! Awas kalau
kamu coba-coba menjauhkannya dariku..?!"
"Hei..dia lebih nyaman bersamaku..!"
"Brengsek..!! Jangan main-main kamu..! Cepat
katakan kemana kamu membawanya.? Aku
akan segera menjemputmu nya.!"
"Apa kamu sudah menyelesaikan masalah dengan
wanita pertamamu..?!"
"Itu bukan urusanmu..!!"
"Jelas itu urusanku.! Ketenangan dan keselamatan
Mayra adalah segalanya bagiku..!"
"Aaron..Mayra itu istriku..!!"
Bentak Dirga geram. Dia mengepalkan tinjunya.
"Haha... bagaimana kalau dia lebih memilih bersamaku.,?!"
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi..!!"
"Itu bisa saja terjadi..! Aku punya pesona yang
lebih baik darimu haha..!!"
"Aku tidak akan mengampuni brengsek..!"
"Aku tahu..! pastikan dulu wanita pertamamu
mendapat hukumannya baru kamu bisa datang
kesini menjemputnya..!"
Ucap Aaron dengan tawanya yang membuat
Dirga ingin sekali mengubur hidup-hidup
sahabatnya itu. Aaron mematikan sambungan telponnya sepihak .
"Lee, lacak ponsel si brengsek ini..!!"
Titah Dirga sambil memberikan ponselnya.
"Baik Tuan..!"
Lee berlalu pergi dengan membawa ponsel Dirga.
"Sayang..aku akan segera menjemputmu..! Tidak
akan kubiarkan Aaron merebutmu dari sisiku.!
Kamu hanya milikku.. selamanya..!"
Ucap Dirga sambil kembali menatap fhoto
Mayra yang ada di laptopnya. Kerinduannya
sedikit terobati dengan melihat keadaan Mayra
saat ini. Dia memastikan akan segera menjemput Mayra dan memiliki nya kembali.
"Tunggu aku sayang.. bersabarlah sedikit lagi.!"
Gumam Dirga sambil kemudian merebahkan kepalanya ke sandaran kursi dengan matanya
yang tidak terlepas dari layar laptopnya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....