Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
99. Ganjaran Setimpal


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Dirga di ikuti oleh Lee dan beberapa


pengawalnya masuk ke kantor polisi.


Beberapa orang petugas kepolisian yang


sedang berjaga terlihat membungkuk di


hadapannya kemudian membimbing


Dirga untuk memasuki sebuah ruangan.


"Silahkan.! tunggu sebentar Tuan..saya akan memanggil nya terlebih dahulu.."


Ucap salah seorang polisi sambil kemudian


berlalu. Dirga duduk di kursi dengan wajah


yang sangat dingin tanpa ekspresi sedikitpun.


Lee berdiri di belakang nya.


Tidak lama dari dalam ruangan lain muncul


polisi yang tadi, bersama dengan dua orang


polwan menggiring seseorang yang terlihat


berjalan gontai dengan muka yang di tekuk.


Dia memakai pakaian serba biru khas seorang tahanan. Wajahnya terlihat lesu namun ada


amarah dalam sorot matanya.


Tahanan itu tiada lain dan tiada bukan


adalah Evelyin.


Tiga hari lalu dia di tangkap di sebuah


klub malam setelah penyelidikan mendalam


tentang insiden penusukan terhadap Mayra


di lakukan, semua bukti dan saksi mengarah


kepada nya sebagai otak di balik semua kejadian tragis tersebut. Dan yang paling memberatkan


adalah pengakuan dari laki-laki penusuk yang


sudah mengakui dengan gamblang bahwa


Evelyin lah yang telah menyuruh dan


membayarnya untuk melakukan perbuatan


keji tersebut.


Evelyin duduk di hadapan Dirga dengan wajah


yang terlihat kusut namun masih terlihat tidak


bisa menerima keadaanya kini.


Dirga menatap tajam wajah Evelyin dengan


sorot mata sedingin kutub utara.


"Kau harus membayar semuanya..! perbuatanmu


tidak bisa aku maafkan..!!"


Ucap Dirga masih dalam keadaan duduk dengan


tenang dan menatap tajam Evelyin.


"Kau yang sudah membuatku seperti ini.! andai


saja kau mendengar ku untuk melepaskan wanita


itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi..!!"


Kilah Evelyin dengan nada suara yang sama


dinginnya dengan Dirga. Keduanya saling


menatap tajam. Dirga memperhatikan seksama keadaan Evelyin saat ini. Wanita ini dulu pernah


ada di dalam hatinya, tapi sekarang karena perbuatannya, rasa empati dalam hatinya


sudah hilang tanpa bekas.


"Kau hanya tidak bisa menerima kenyataan.


Kau wanita yang serakah..! Andai kamu juga


bisa menerima semua keadaan, mungkin


sekarang kamu masih bisa menghirup


udara bebas..!!"


Ucap Dirga. Evelyin terlihat menyunggingkan


senyum sinis, dia menatap benci kearah Dirga,


laki-laki yang dulu begitu di pujanya, kini sudah membuat dirinya membencinya karena dianggap


telah mencampakkan nya dengan sangat hina.


"Kau sudah memperlakukan ku dengan tidak


adil. Wanita mana yang tahan kalau diperlakukan seperti itu. Kau lebih mengutamakan wanita itu..!"


"Jangan mencoba mencari alasan..!! kejahatan


mu terhadap Mayra sudah terlalu banyak..!!"


"Hahaa.. kejahatan apa yang kau maksud.?


Aku tidak pernah melakukan apapun yang


kau tuduhkan..!! Laki-laki itu hanya mengarang


cerita saja..!!"


"Kau tidak bisa mengelak lagi ! Aku sudah


mengantongi semua bukti kejahatan mu..!!"


Sentak Dirga. Evelyin langsung terdiam tak


berkutik, wajahnya yang tadi berapi-api kini


mulai terlihat melemah.


Dirga kemudian berdiri merapihkan jas nya, dia


kembali menatap Evelyin tajam.


"Renungkan lah semua perbuatanmu, hukuman


seumur hidup seharusnya cukup membuat dirimu


menyadari segala kesalahanmu..!!"


Ucap Dirga sambil kemudian melangkah, tapi


Evelyin tiba-tiba mengejarnya dan memeluknya


erat dari belakang membuat langkah Dirga terhenti .


"Kau berubah kejam padaku.! padahal aku


sangat mencintaimu..! Aku berubah karena


wanita itu telah merebut mu dariku..!"


Ucap Evelyin sambil terisak. Dirga terdiam tak bereaksi. Tatapannya datar, dia tak merespon


apa yang di lakukan Evelyin.


Beberapa anggota polwan kemudian menarik


Evelyin agar melepaskan pelukannya dari Dirga.


Tapi Evelyin makin mempererat pelukannya.


"Kau tidak bisa melakukan ini padaku.! Aku ini


masih istrimu..! nama baikmu akan hancur


kalau dunia tahu kau telah memenjarakan ku.!"


Ucap Evelyin lagi. Dirga menarik tubuh Evelyin

__ADS_1


kehadapan nya. Kembali menatapnya dan


mencengkram tangannya kuat.


"Aku tidak peduli dengan refutasi dan nama


baikku ! yang aku pedulikan kini hanyalah nyawa


istri ku yang sudah berusaha kau lenyapkan..!"


"Aku ini juga istri mu, istri pertamamu yang


sangat kau cintai..!"


"Itu mungkin dulu ! tapi tidak dengan sekarang.!


Pengadilan telah mengabulkan gugatan cerai ku.!"


Evelyin terhenyak, tubuhnya bergetar, tangisnya


semakin merebak.


"Tidak..! kau tidak bisa berlaku kejam padaku


seperti ini.! aku tidak terima semua ini.!"


Teriak Evelyin mulai histeris. Dirga tidak perduli


dia kembali melangkah meninggalkan Evelyin


yang terus berteriak.


"Aku hanya menyesal karena wanita itu masih saja


selamat, kenapa dia tidak mati saja, dasar wanita


pembawa sial..! ahh ****** murahan..!!"


Teriak Evelyin histeris sambil terus meronta dari


cekalan dua anggota polwan yang kembali


menyeret nya masuk ke dalam ruang tahanan.


Dirga tak perduli dengan teriakan Evelyin, dia


berjalan acuh keluar dari kantor polisi tersebut.


***** *****


Hidup harus terus berjalan. Walaupun tidak selalu


sesuai dengan harapan dan keinginan, namun


semua akan tetap berada pada keadaan yang


seharusnya, yang sudah di gariskan.


Dirga harus terus menjalani hidupnya walaupun


kini terasa hampa. Apa yang sudah dia tanam


itulah yang akan dia tuai. Kehidupan rumah


tangga yang semula dia anggap semua ada


dalam genggaman tangannya, semua akan


mudah di dalam kekuasaannya, ternyata


berbalik menjadi bumerang bagi dirinya.


Istri pertamanya kini meringkuk di penjara, dan


istri keduanya pergi di bawa pria lain. Semua


ternyata tidak semudah seperti membalikan


telapak tangan. Semua perbuatan yang kita


lakukan akan ada konsekuensi nya.


Dirga kini hanya bisa merenungi semua


kejadian yang telah menimpanya.


Ya..disini dia telah melupakan sesuatu..bahwa


di atas langit masih ada langit, sehebat atau


sekuat apapun kekuasaan dirinya kini, masih


Perencana atas semua napas kehidupan


yang ada di muka bumi ini.


Dirga masuk kedalam kamar utama di dalam


rumah yang menjadi tempat tinggalnya bersama Mayra. Dia duduk di atas tempat tidur menatap


hampa ke sekeliling kamar besar yang kini sepi itu.


Sudah beberapa hari dia meratapi kesunyian


dan kerinduannya terhadap sosok istrinya yang


tiba-tiba diambil paksa oleh sahabatnya itu.


Hatinya semakin perih saat melihat barang-barang


yang sudah di beli oleh Mayra untuknya sesaat


sebelum kejadian tragis itu terjadi.


Oleh karena itu dia memanggil Pak Agus untuk


pindah ke rumah ini dan menjadi kepala pelayan


di rumah ini sekaligus pelayan pribadinya. Dia


meminta Pak Agus untuk mulai membimbingnya


kembali ke jalan keyakinannya.


Saat pertama kali Pak Agus mendengar keinginan


Tuan mudanya itu dia sempat shock dan tak


percaya, dia hanya bengong saja mematung.


"Mayra menginginkanku untuk memulai jalan


yang baru..! Oleh karena itu pelan-pelan aku


akan mengabulkannya. !"


Ucap Dirga saat keluar dari ruang ganti dengan


sudah memakai sarung dan baju koko yang


dibelikan oleh Mayra untuknya. Pak Agus terlihat


menganga saat melihat Dirga dengan tampilan


agamis nya itu.


"Masya Allah Tuan muda..beda banget..!"


Gumam Pak Agus saat melihat Dirga begitu


tampan dan bercahaya dengan balutan pakaian muslim itu.


"Ayo kita mulai Pak..!"


Seru Dirga menyadarkan Pak Agus.


Dan mulai saat itulah, setiap Dirga pulang dari


kantor dia memulai belajar agamanya dengan


Pak Agus yang memang cukup pengetahuan


tentang agamanya.


Semua pelayan yang ada di rumah besar itu juga


sudah tahu tentang perubahan majikannya itu.


Mereka hanya bisa bersyukur dan berdoa bahwa


kehidupan masa depan Dirga akan lebih baik lagi


ke depannya.


Semua orang hanya tahu bahwa Mayra sedang


menjalani perawatan yang sangat privat dan tidak

__ADS_1


boleh di ganggu oleh siapapun.


Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi


sebenarnya. Sebagian orang berspekulasi bahwa


Mayra mengalami koma karena insiden kemarin.


***** *****


Hari ini Dirga kembali ke kantor seperti biasanya.


Sudah seminggu Mayra dibawa pergi oleh Aaron.


Setiap hari Dirga berusaha menghubungi Aaron


ingin menanyakan tentang keadaan Mayra. Tapi


Aaron tidak pernah meresponnya. Kekesalan


Dirga kini sudah memuncak terhadap Aaron.


Belum lagi rasa rindunya terhadap Mayra yang


sudah tidak tertahan. Dirga tidak tahu kemana


Aaron membawa Mayra. Sebab saat Lee melacak


keberangkatan pesawat Aaron, ternyata Aaron


tidak membawa Mayra terbang ke negaranya.


Jejaknya tiba-tiba menghilang begitu saja.


Pikiran liar Dirga sudah melebar kemana-mana.


Dia takut Aaron akan benar-benar membawa


Mayra ke tempat yang tidak terjangkau dan menjauhkan nya dari dirinya. Ketakutannya


semakin menjadi karena sampai saat ini belum


ada kabar sama sekali dari Aaron. Dia takut Aaron akan merebut Mayra dari sisinya. Akan seperti


apa hidupnya nanti kalau dia kehilangan Mayra.


Lee masuk saat Dirga sedang mencoba


konsentrasi dengan pekerjaannya.


"Tuan..ada email masuk dari Tuan Aaron ! "


Ucap Lee sumringah. Dirga tampak terkejut


sesaat, tanpa menunggu lama, dia langsung


membuka laptopnya dan membuka file yang dikirimkan oleh Aaron.


Matanya tampak berbinar bahagia saat melihat


ada kiriman fhoto Mayra yang sedang berdiri


di dekat jendela besar di bawah kilatan cahaya matahari menghadap keluar jendela.


Walaupun wajahnya hanya separuh, namun


terlihat sudah dalam keadaan lebih baik, hanya


saja tatapannya terlihat sendu menatap keluar


seakan menerawang jauh.


Dirga memandang nanar fhoto Mayra dengan


mata yang berkaca-kaca. Di elusnya fhoto Mayra penuh dengan gejolak kerinduan yang semakin menggedor jiwanya.


Ada fhoto kedua yang masuk. Di sini terlihat


Mayra sedang duduk santai di balkon dengan


segelas susu dan camilan yang ada di depannya.


Wajahnya terlihat sudah kembali bersinar.


Namun tatapannya tetap terlihat sendu menahan sebuah rasa yang mungkin sama seperti yang


kini di rasakan oleh Dirga.


Dirga tidak tahan lagi, dia memejamkan


matanya menahan serbuan rasa rindu yang


kini menyesakan dadanya, membuat dia tidak


berdaya. Ponselnya berdering dan nama Aaron


tertera di layarnya, dengan cepat Dirga


mengangkat nya.


"Kau sudah melihatnya..??"


"Kemana kamu membawa istriku.?! Awas kalau


kamu coba-coba menjauhkannya dariku..?!"


"Hei..dia lebih nyaman bersamaku..!"


"Brengsek..!! Jangan main-main kamu..! Cepat


katakan kemana kamu membawanya.? Aku


akan segera menjemputmu nya.!"


"Apa kamu sudah menyelesaikan masalah dengan


wanita pertamamu..?!"


"Itu bukan urusanmu..!!"


"Jelas itu urusanku.! Ketenangan dan keselamatan


Mayra adalah segalanya bagiku..!"


"Aaron..Mayra itu istriku..!!"


Bentak Dirga geram. Dia mengepalkan tinjunya.


"Haha... bagaimana kalau dia lebih memilih bersamaku.,?!"


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi..!!"


"Itu bisa saja terjadi..! Aku punya pesona yang


lebih baik darimu haha..!!"


"Aku tidak akan mengampuni brengsek..!"


"Aku tahu..! pastikan dulu wanita pertamamu


mendapat hukumannya baru kamu bisa datang


kesini menjemputnya..!"


Ucap Aaron dengan tawanya yang membuat


Dirga ingin sekali mengubur hidup-hidup


sahabatnya itu. Aaron mematikan sambungan telponnya sepihak .


"Lee, lacak ponsel si brengsek ini..!!"


Titah Dirga sambil memberikan ponselnya.


"Baik Tuan..!"


Lee berlalu pergi dengan membawa ponsel Dirga.


"Sayang..aku akan segera menjemputmu..! Tidak


akan kubiarkan Aaron merebutmu dari sisiku.!


Kamu hanya milikku.. selamanya..!"


Ucap Dirga sambil kembali menatap fhoto


Mayra yang ada di laptopnya. Kerinduannya


sedikit terobati dengan melihat keadaan Mayra


saat ini. Dia memastikan akan segera menjemput Mayra dan memiliki nya kembali.


"Tunggu aku sayang.. bersabarlah sedikit lagi.!"


Gumam Dirga sambil kemudian merebahkan kepalanya ke sandaran kursi dengan matanya


yang tidak terlepas dari layar laptopnya.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....


__ADS_2