Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
112. Lahir Prematur


__ADS_3

 


**********


 


Hari sudah semakin gelap ketika sebuah


helikopter mendarat mulus di atas helipad


yang berada di atap gedung Moolay Hospital.


Di sana sudah terlihat beberapa Dokter dan


perawat termasuk Rayen dan Lani bersiaga menyambut kedatangan helikopter tersebut


yang membawa Dirga dan Mayra.


Semua petugas kesehatan itu bergerak cepat


dan hati-hati memindahkan tubuh lemah Dirga


dan Mayra ke atas blangkar. Saat ini kondisi


sepasang suami istri itu sangat mengkhawatirkan. Tubuh mereka di penuhi darah yang masih


saja keluar.


Tuan Leon, Nyonya Veronica, Amanda dan juga


Pak Bima beserta Lee dan Tomy saat ini sedang menunggu di depan ruang operasi. Sudah tidak


bisa di katakan lagi bagaimana cemas dan khawatir nya mereka sekarang. Nyawa Dirga dan Mayra


sedang berada di ujung tanduk saat ini. Keduanya


sedang menjalani operasi darurat.


Sudah ber jam-jam lamanya ruang operasi itu


tidak juga terbuka, membuat mereka semakin


di landa kecemasan dan kepanikan.


"Tuhan..apa yang terjadi pada mereka.."


Lirih Nyonya Veronica setengah putus asa, dia


kembali menjatuhkan dirinya diatas bangku.


"Mom harus yakin..semua akan baik-baik saja.


Tidak akan terjadi apa-apa pada Kakak dan kakak


ipar, percayalah pada Tuhan.."


Manda mencoba menenangkan ibunya dengan


merengkuh bahunya dan menepuknya pelan.


Lani muncul dari ruang operasi sebelah dengan


muka lelahnya. Mereka semua langsung berdiri


menyambutnya.


"Bagaimana cucu menantuku Lani..?"


Nyonya Mayra tidak sabar dia segera


mengguncang pundak Lani yang segera


memegang tangan wanita setengah baya itu.


"Tante tenang..! Alhamdulillah operasi caesar


Mayra berhasil, ibu dan anaknya selamat.


Hanya saja untuk sementara bayi nya harus


mendapat perawatan intensif di dalam ruang


NICU karena lahir prematur. Usia kandungan


Mayra baru menginjak 30 mingguan.."


Lani menjelaskan panjang lebar. Semua orang


tampak menarik napas sedikit lega.


"Syukurlah Tuhan..Kau selamatkan cucu dan


menantuku.."


Lirih Nyonya Veronica dan Tuan Leon pun


bergumam dengan doa yang sama. Pak Bima


hanya bisa mengucap syukur tiada henti dan


meneteskan air mata.


"Tapi jangan khawatir..kondisi bayinya


sejauh ini baik-baik saja, sungguh dia bayi


yang sangat kuat."


Lani berucap kembali dengan mata berkaca-kaca. Semua orang ikut meneteskan air mata.


"Bagaimana kondisi anak saya sekarang.?"


Pak Bima akhirnya mengeluarkan suara.


"Dia baik-baik saja Pak, hanya tinggal menunggu


sadar dan pemulihan saja."


"Syukurlah.."


Semua orang berbisik lirih.


******


Mayra masuk ke dalam ruang perawatan intensif


Dirga, tubuhnya saat ini masih sangat lemah dan pucat, tapi dia ngotot pada Lani ingin melihat


keadaan Dirga yang masih dalam kondisi kritis


akibat peluru yang bersarang dan hampir


menembus jantungnya.


Keadaan Dirga saat ini sangat mengkhawatirkan, seluruh tubuhnya di tempeli berbagai peralatan


medis. Kulitnya terlihat pucat bagai kapas.


Matanya terpejam sempurna seakan enggan


untuk terbuka.


Mayra yang berada di kursi roda tampak duduk


di samping Dirga. Matanya terlihat sembab


karena tangis yang tiada henti saat diberitahu


tentang kondisi suaminya saat ini.


"Maass...ini aku..! Aku disini Mas.."


Lirih Mayra seraya meraih jemari Dirga dan menggenggamnya erat kemudian di ciumnya


penuh rasa pilu dan kesedihan yang tidak dapat


di jabarkan. Dia melihat keseluruhan tubuh Dirga


yang sangat membuat hatinya perih. Kini tubuh


gagah perkasa itu terbaring tak berdaya tanpa


rona kehidupan. Tangis Mayra kembali pecah.


"Mas.. kumohon bangun..! Aku tidak akan


sanggup hidup tanpamu. Kumohon bangun Mas..untukku..untuk anak kita..hiks hiks hiks.."


Mayra menangis tersedu menyimpan jemari kaku Dirga di dadanya. Air mata tiada henti membanjiri


wajahnya hingga membuatnya semakin pucat.


"Bangun Mas, aku yakin kamu kuat..! kumohon


dengarkan aku. Anak kita telah lahir dengan

__ADS_1


selamat, kamu harus segera melihatnya Mas.."


Kembali Mayra berucap dengan suara yang


semakin tertekan oleh kesedihan dan rasa sakit


di dalam hatinya. Dia kembali terisak pilu,


menatap teduh wajah tampan rupawan Dirga


yang kini bagai mayat hidup. Tangannya perlahan mengelus lembut wajah dan kening Dirga. Kesakitannya semakin terasa hingga mencabik-


cabik hatinya.


"Mas..kumohon bangun..! Aku sangat


mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu.."


Bisik Mayra di telinga Dirga dan dia terus


membisikan kata cinta itu di telinganya. Bibirnya mendaratkan ciuman lembut penuh kepedihan


di pipi dan kening Dirga.


Tangis Mayra seketika berhenti saat dia


merasakan jari tangan Dirga bergerak pelan.


Mata Mayra tampak mengerjap tak percaya.


"Dokter..!!"


Mayra berteriak saat dia meyakini jari tangan


Dirga benar-benar bergerak. Rayen dan beberapa perawat dengan tergesa-gesa cepat masuk


kedalam ruangan untuk mengecek kondisi Dirga.


****


Mayra duduk di depan ruangan NICU yang menyediakan tempat khusus bagi orang tua


atau keluarga untuk melihat bayi-bayi prematur


yang ditempatkan di sana. Matanya menatap


takjub pada mahluk kecil yang sedang bergelung manja di dalam tabung inkubator. Tangan


mungilnya terlihat sedang menempel di


mulutnya yang merah bak buah cherry.


Matanya terpejam, kulitnya masih sangat


merah dan rapuh.


Mata Mayra terlihat menatap tak berkedip


kearah bayi mungil yang sangat menggemaskan


itu. Beratnya memang belum memenuhi standar


ukuran normal, namun bayi itu terlihat sangat


kuat dan..sangat tampan..!


Bibir Mayra mengurai senyum penuh rasa haru


dan tak percaya kalau bayi yang berada di dalam


rahimnya selama 7 bulan lebih ini telah berada di depan matanya. Rasa syukur tiada henti terucap


dari bibir Mayra dengan di barengi rasa bahagia


tiada banding. Air matanya kembali luruh


membasahi wajahnya yang kini di warnai rona kebahagiaan.


"Dia anak kita sayang..buah cinta kita..!"


Tiba-tiba sebuah tangan melingkar erat di


dadanya dan kepala yang tersandar di bahunya.


Mayra mematung tak bisa bergerak. Dadanya bergemuruh oleh rasa tidak percaya yang besar.


Dia menoleh perlahan pada wajah pucat di


samping nya yang kini sedang menatapnya


"Kamu sudah sadar Mas..?"


Lirih Mayra bergetar, tak percaya kalau kini


Dirga sedang memeluknya erat dari belakang.


"Iya sayang..aku tidak akan meninggalkan mu


begitu saja, sebelum aku bisa membahagiakan mu.."


Bisik Dirga sambil kemudian mencium lembut


pipi Mayra yang masih belum percaya sepenuhnya


pada kenyataan yang ada. Mayra berdiri dari kursi


rodanya, dia menatap keseluruhan diri Dirga dari


ujung kaki sampai ujung kepala. Dia terlihat masih


mengenakan pakaian rumah sakit dan bebatan


kain di dadanya serta di tangannya masih terlihat


ada bekas berbagai suntikan yang tertutup perban.


"Mas..kamu benar-benar sudah sadar..?"


Tangan Mayra bergerak menyusuri wajah Dirga


untuk meyakinkan diri. Dirga memegang kedua


tangan Mayra, bibirnya tersenyum meyakinkan.


Mayra langsung menyerbu memeluk erat tubuh


Dirga, seakan tak ingin terlepas lagi. Dia menangis


sesegukan di dada bidang Dirga yang hanya bisa


memejamkan mata seraya mengelus lembut


kepala belakang Mayra.


.....


Keduanya kini berdiri di samping tabung


inkubator. Lani sudah memberi izin mereka


agar bisa lebih dekat dengan bayinya.


"Apa aku boleh menyentuhnya Dokter..?"


Tanya Mayra dengan mata yang sudah berair.


"Tentu saja, sentuhan mu akan membuat dia


semakin kuat, dan sistem imun nya akan semakin


terbentuk dengan cepat. Pegang lah tangan


mungilnya, biarkan dia mengenalimu.."


Lani menjawab dengan tersenyum manis.


Mayra menatap Dirga yang tampak mengangguk meyakinkan. Perlahan Mayra mengulurkan


tangannya melalui lubang khusus dan mulai menyentuhkan jemarinya ke tangan mungil


bayinya. Air matanya langsung saja terjun


bebas saat dia merasakan kehangatan


dalam hatinya ketika jari mungil bayinya


bergerak merespon sentuhan jari Mayra.


"Dia merespon Mas..!"


Pekik Mayra takjub luar biasa ketika jari-jari


mungil itu kini bertautan dengan jarinya,


bahkan kini terasa lebih kuat dan seolah

__ADS_1


menggenggam nya.


"Sayang..dia tahu aku adalah ibunya..!".


Kembali Mayra berucap sambil menangis


menatap haru kearah putranya yang perlahan membuka matanya. Dirga hanya bisa terdiam memeluk erat tubuh Mayra dengan mata yang sama-sama berair dan tiada henti melihat


semua pergerakan bayi mungilnya.


Bayi merah itu menggeliat manja membuka


matanya dan mengerjap beberapa kali karena


sinar lampu yang menerpa nya. Namun tautan


jarinya tidak terlepas sama sekali.


Mayra menangis terharu di dada Dirga


yang hanya bisa memeluknya erat mencoba menenangkan.


*****


Malam semakin larut. Tadi sore seluruh keluarga


sudah datang silih berganti untuk melihat kondisi


keluarga kecil itu. Kini Mayra di sarankan untuk


segera beristirahat karena seharian ini dia terus


saja menunggui putranya tanpa pernah berpaling.


Lani mengatakan bayi mereka setidaknya harus berada sekitar 2-4 minggu di dalam inkubator.


Namun itu juga tergantung perkembangan fisik


dan kesehatannya. Bisa lebih bisa juga kurang.


Akan lebih baik kalau tidak terlalu lama. Dan


semuanya kembali kepada kesiapan Mayra


sebagai seorang ibu dari bayi prematur. Karena


tentu saja di perlukan kesiapan mental yang kuat untuk mengurus bayi yang lahirnya prematur.


"Tidurlah sayang..kau harus istirahat.! kau


harus sehat agar bisa segera membawa


pulang anak kita..!"


Dirga berucap seraya naik ke tempat tidur Mayra.


Padahal dia memiliki tempat tidur sendiri yang terpisah bersebelahan dengan Mayra.


Setelah perdebatan panjang, Rayen akhirnya


menyatukan tempat perawatan mereka dalam


satu ruangan VVIP karena Dirga ngotot tidak ingin


berada di ruangan berbeda dengan Mayra.


"Kenapa Mas naik disini..! Sana tidur di tempat


mu sendiri.."


Mayra berkata seraya menatap Dirga yang kini


sudah membaringkan dirinya di samping Mayra.


"Kenapa..? apa kau tidak suka dekat denganku.?


Aku sangat merindukanmu sayang.."


"Mas..kita ini masih di rumah sakit.."


"Memangnya kenapa.? rumah sakit ini milikku..!"


"Aku tahu, tapi Mas masih terluka.."


"Memangnya kau pikir aku mau apa..?"


Dirga menatap wajah Mayra yang kini sudah


kembali merona, begitu cantik dan mempesona.


Senyum smirk terukir di bibirnya. Mayra balik


menatap Dirga, semburat merah tiba-tiba muncul


di wajahnya. Malu bukan main karena pikiran


liarnya yang sudah kemana mana.


"Atau kau sudah menginginkan hal itu..?"


"Mas..!!"


Mayra memukul pelan dada Dirga tak tahan


dengan godaannya. Dirga terkekeh, dia segera


meraih tubuh lembut istrinya itu kedalam


pelukannya.


"Baiklah..! kita hanya akan tidur saja, tidak lebih.


Kecuali kalau kau menginginkan nya."


"Gak Mas..yang benar saja..!"


"Ya sudah kita hanya tidur kalau begitu.!"


Bisik Dirga di telinga Mayra. Keduanya terdiam


saling memeluk, mencoba meresapi segala


perasaan yang kini menguasai hati dan jiwa


mereka. Peristiwa demi peristiwa telah mereka


lalui bersama. Begitu melelahkan jiwa dan raga,


hampir saja membuat hidup mereka berhenti


dalam satu titik, yaitu menyerah pada nasib.


"Mas.. terimakasih karena kamu sudah sering


berkorban nyawa untuk menyelamatkan ku. "


Lirih Mayra sambil menyusupkan wajahnya di


dada sebelah kanan Dirga.


"Apapun akan kulakukan untukmu."


"Aku hampir saja kehilanganmu Mas. Kadang


aku merasa kalau kehadiranku di sisimu hanya


membawa keburukan saja pada hidupmu.."


"Ssttt...! Apa yang kau katakan..?! Kau adalah


hadiah terbaik dari Tuhan untukku.."


Dirga berbisik seraya mengangkat wajah Mayra.


Ditatapnya lekat wajah cantik itu, keduanya saling


pandang lekat.


"Kau adalah cahaya hidupku.. Almayra.."


Bisik Dirga kembali dengan suara yang sedikit


berat karena ada desakan hasrat yang kini


menguasai dirinya tanpa kompromi.Tatapan


mereka semakin dalam dan tanpa komando


bibir keduanya kini sudah terpagut dalam sebuah ciuman lembut penuh cinta dan kerinduan.


 


**********


 

__ADS_1


TBC...


__ADS_2