
**********
Hari sudah semakin gelap ketika sebuah
helikopter mendarat mulus di atas helipad
yang berada di atap gedung Moolay Hospital.
Di sana sudah terlihat beberapa Dokter dan
perawat termasuk Rayen dan Lani bersiaga menyambut kedatangan helikopter tersebut
yang membawa Dirga dan Mayra.
Semua petugas kesehatan itu bergerak cepat
dan hati-hati memindahkan tubuh lemah Dirga
dan Mayra ke atas blangkar. Saat ini kondisi
sepasang suami istri itu sangat mengkhawatirkan. Tubuh mereka di penuhi darah yang masih
saja keluar.
Tuan Leon, Nyonya Veronica, Amanda dan juga
Pak Bima beserta Lee dan Tomy saat ini sedang menunggu di depan ruang operasi. Sudah tidak
bisa di katakan lagi bagaimana cemas dan khawatir nya mereka sekarang. Nyawa Dirga dan Mayra
sedang berada di ujung tanduk saat ini. Keduanya
sedang menjalani operasi darurat.
Sudah ber jam-jam lamanya ruang operasi itu
tidak juga terbuka, membuat mereka semakin
di landa kecemasan dan kepanikan.
"Tuhan..apa yang terjadi pada mereka.."
Lirih Nyonya Veronica setengah putus asa, dia
kembali menjatuhkan dirinya diatas bangku.
"Mom harus yakin..semua akan baik-baik saja.
Tidak akan terjadi apa-apa pada Kakak dan kakak
ipar, percayalah pada Tuhan.."
Manda mencoba menenangkan ibunya dengan
merengkuh bahunya dan menepuknya pelan.
Lani muncul dari ruang operasi sebelah dengan
muka lelahnya. Mereka semua langsung berdiri
menyambutnya.
"Bagaimana cucu menantuku Lani..?"
Nyonya Mayra tidak sabar dia segera
mengguncang pundak Lani yang segera
memegang tangan wanita setengah baya itu.
"Tante tenang..! Alhamdulillah operasi caesar
Mayra berhasil, ibu dan anaknya selamat.
Hanya saja untuk sementara bayi nya harus
mendapat perawatan intensif di dalam ruang
NICU karena lahir prematur. Usia kandungan
Mayra baru menginjak 30 mingguan.."
Lani menjelaskan panjang lebar. Semua orang
tampak menarik napas sedikit lega.
"Syukurlah Tuhan..Kau selamatkan cucu dan
menantuku.."
Lirih Nyonya Veronica dan Tuan Leon pun
bergumam dengan doa yang sama. Pak Bima
hanya bisa mengucap syukur tiada henti dan
meneteskan air mata.
"Tapi jangan khawatir..kondisi bayinya
sejauh ini baik-baik saja, sungguh dia bayi
yang sangat kuat."
Lani berucap kembali dengan mata berkaca-kaca. Semua orang ikut meneteskan air mata.
"Bagaimana kondisi anak saya sekarang.?"
Pak Bima akhirnya mengeluarkan suara.
"Dia baik-baik saja Pak, hanya tinggal menunggu
sadar dan pemulihan saja."
"Syukurlah.."
Semua orang berbisik lirih.
******
Mayra masuk ke dalam ruang perawatan intensif
Dirga, tubuhnya saat ini masih sangat lemah dan pucat, tapi dia ngotot pada Lani ingin melihat
keadaan Dirga yang masih dalam kondisi kritis
akibat peluru yang bersarang dan hampir
menembus jantungnya.
Keadaan Dirga saat ini sangat mengkhawatirkan, seluruh tubuhnya di tempeli berbagai peralatan
medis. Kulitnya terlihat pucat bagai kapas.
Matanya terpejam sempurna seakan enggan
untuk terbuka.
Mayra yang berada di kursi roda tampak duduk
di samping Dirga. Matanya terlihat sembab
karena tangis yang tiada henti saat diberitahu
tentang kondisi suaminya saat ini.
"Maass...ini aku..! Aku disini Mas.."
Lirih Mayra seraya meraih jemari Dirga dan menggenggamnya erat kemudian di ciumnya
penuh rasa pilu dan kesedihan yang tidak dapat
di jabarkan. Dia melihat keseluruhan tubuh Dirga
yang sangat membuat hatinya perih. Kini tubuh
gagah perkasa itu terbaring tak berdaya tanpa
rona kehidupan. Tangis Mayra kembali pecah.
"Mas.. kumohon bangun..! Aku tidak akan
sanggup hidup tanpamu. Kumohon bangun Mas..untukku..untuk anak kita..hiks hiks hiks.."
Mayra menangis tersedu menyimpan jemari kaku Dirga di dadanya. Air mata tiada henti membanjiri
wajahnya hingga membuatnya semakin pucat.
"Bangun Mas, aku yakin kamu kuat..! kumohon
dengarkan aku. Anak kita telah lahir dengan
__ADS_1
selamat, kamu harus segera melihatnya Mas.."
Kembali Mayra berucap dengan suara yang
semakin tertekan oleh kesedihan dan rasa sakit
di dalam hatinya. Dia kembali terisak pilu,
menatap teduh wajah tampan rupawan Dirga
yang kini bagai mayat hidup. Tangannya perlahan mengelus lembut wajah dan kening Dirga. Kesakitannya semakin terasa hingga mencabik-
cabik hatinya.
"Mas..kumohon bangun..! Aku sangat
mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu.."
Bisik Mayra di telinga Dirga dan dia terus
membisikan kata cinta itu di telinganya. Bibirnya mendaratkan ciuman lembut penuh kepedihan
di pipi dan kening Dirga.
Tangis Mayra seketika berhenti saat dia
merasakan jari tangan Dirga bergerak pelan.
Mata Mayra tampak mengerjap tak percaya.
"Dokter..!!"
Mayra berteriak saat dia meyakini jari tangan
Dirga benar-benar bergerak. Rayen dan beberapa perawat dengan tergesa-gesa cepat masuk
kedalam ruangan untuk mengecek kondisi Dirga.
****
Mayra duduk di depan ruangan NICU yang menyediakan tempat khusus bagi orang tua
atau keluarga untuk melihat bayi-bayi prematur
yang ditempatkan di sana. Matanya menatap
takjub pada mahluk kecil yang sedang bergelung manja di dalam tabung inkubator. Tangan
mungilnya terlihat sedang menempel di
mulutnya yang merah bak buah cherry.
Matanya terpejam, kulitnya masih sangat
merah dan rapuh.
Mata Mayra terlihat menatap tak berkedip
kearah bayi mungil yang sangat menggemaskan
itu. Beratnya memang belum memenuhi standar
ukuran normal, namun bayi itu terlihat sangat
kuat dan..sangat tampan..!
Bibir Mayra mengurai senyum penuh rasa haru
dan tak percaya kalau bayi yang berada di dalam
rahimnya selama 7 bulan lebih ini telah berada di depan matanya. Rasa syukur tiada henti terucap
dari bibir Mayra dengan di barengi rasa bahagia
tiada banding. Air matanya kembali luruh
membasahi wajahnya yang kini di warnai rona kebahagiaan.
"Dia anak kita sayang..buah cinta kita..!"
Tiba-tiba sebuah tangan melingkar erat di
dadanya dan kepala yang tersandar di bahunya.
Mayra mematung tak bisa bergerak. Dadanya bergemuruh oleh rasa tidak percaya yang besar.
Dia menoleh perlahan pada wajah pucat di
samping nya yang kini sedang menatapnya
"Kamu sudah sadar Mas..?"
Lirih Mayra bergetar, tak percaya kalau kini
Dirga sedang memeluknya erat dari belakang.
"Iya sayang..aku tidak akan meninggalkan mu
begitu saja, sebelum aku bisa membahagiakan mu.."
Bisik Dirga sambil kemudian mencium lembut
pipi Mayra yang masih belum percaya sepenuhnya
pada kenyataan yang ada. Mayra berdiri dari kursi
rodanya, dia menatap keseluruhan diri Dirga dari
ujung kaki sampai ujung kepala. Dia terlihat masih
mengenakan pakaian rumah sakit dan bebatan
kain di dadanya serta di tangannya masih terlihat
ada bekas berbagai suntikan yang tertutup perban.
"Mas..kamu benar-benar sudah sadar..?"
Tangan Mayra bergerak menyusuri wajah Dirga
untuk meyakinkan diri. Dirga memegang kedua
tangan Mayra, bibirnya tersenyum meyakinkan.
Mayra langsung menyerbu memeluk erat tubuh
Dirga, seakan tak ingin terlepas lagi. Dia menangis
sesegukan di dada bidang Dirga yang hanya bisa
memejamkan mata seraya mengelus lembut
kepala belakang Mayra.
.....
Keduanya kini berdiri di samping tabung
inkubator. Lani sudah memberi izin mereka
agar bisa lebih dekat dengan bayinya.
"Apa aku boleh menyentuhnya Dokter..?"
Tanya Mayra dengan mata yang sudah berair.
"Tentu saja, sentuhan mu akan membuat dia
semakin kuat, dan sistem imun nya akan semakin
terbentuk dengan cepat. Pegang lah tangan
mungilnya, biarkan dia mengenalimu.."
Lani menjawab dengan tersenyum manis.
Mayra menatap Dirga yang tampak mengangguk meyakinkan. Perlahan Mayra mengulurkan
tangannya melalui lubang khusus dan mulai menyentuhkan jemarinya ke tangan mungil
bayinya. Air matanya langsung saja terjun
bebas saat dia merasakan kehangatan
dalam hatinya ketika jari mungil bayinya
bergerak merespon sentuhan jari Mayra.
"Dia merespon Mas..!"
Pekik Mayra takjub luar biasa ketika jari-jari
mungil itu kini bertautan dengan jarinya,
bahkan kini terasa lebih kuat dan seolah
__ADS_1
menggenggam nya.
"Sayang..dia tahu aku adalah ibunya..!".
Kembali Mayra berucap sambil menangis
menatap haru kearah putranya yang perlahan membuka matanya. Dirga hanya bisa terdiam memeluk erat tubuh Mayra dengan mata yang sama-sama berair dan tiada henti melihat
semua pergerakan bayi mungilnya.
Bayi merah itu menggeliat manja membuka
matanya dan mengerjap beberapa kali karena
sinar lampu yang menerpa nya. Namun tautan
jarinya tidak terlepas sama sekali.
Mayra menangis terharu di dada Dirga
yang hanya bisa memeluknya erat mencoba menenangkan.
*****
Malam semakin larut. Tadi sore seluruh keluarga
sudah datang silih berganti untuk melihat kondisi
keluarga kecil itu. Kini Mayra di sarankan untuk
segera beristirahat karena seharian ini dia terus
saja menunggui putranya tanpa pernah berpaling.
Lani mengatakan bayi mereka setidaknya harus berada sekitar 2-4 minggu di dalam inkubator.
Namun itu juga tergantung perkembangan fisik
dan kesehatannya. Bisa lebih bisa juga kurang.
Akan lebih baik kalau tidak terlalu lama. Dan
semuanya kembali kepada kesiapan Mayra
sebagai seorang ibu dari bayi prematur. Karena
tentu saja di perlukan kesiapan mental yang kuat untuk mengurus bayi yang lahirnya prematur.
"Tidurlah sayang..kau harus istirahat.! kau
harus sehat agar bisa segera membawa
pulang anak kita..!"
Dirga berucap seraya naik ke tempat tidur Mayra.
Padahal dia memiliki tempat tidur sendiri yang terpisah bersebelahan dengan Mayra.
Setelah perdebatan panjang, Rayen akhirnya
menyatukan tempat perawatan mereka dalam
satu ruangan VVIP karena Dirga ngotot tidak ingin
berada di ruangan berbeda dengan Mayra.
"Kenapa Mas naik disini..! Sana tidur di tempat
mu sendiri.."
Mayra berkata seraya menatap Dirga yang kini
sudah membaringkan dirinya di samping Mayra.
"Kenapa..? apa kau tidak suka dekat denganku.?
Aku sangat merindukanmu sayang.."
"Mas..kita ini masih di rumah sakit.."
"Memangnya kenapa.? rumah sakit ini milikku..!"
"Aku tahu, tapi Mas masih terluka.."
"Memangnya kau pikir aku mau apa..?"
Dirga menatap wajah Mayra yang kini sudah
kembali merona, begitu cantik dan mempesona.
Senyum smirk terukir di bibirnya. Mayra balik
menatap Dirga, semburat merah tiba-tiba muncul
di wajahnya. Malu bukan main karena pikiran
liarnya yang sudah kemana mana.
"Atau kau sudah menginginkan hal itu..?"
"Mas..!!"
Mayra memukul pelan dada Dirga tak tahan
dengan godaannya. Dirga terkekeh, dia segera
meraih tubuh lembut istrinya itu kedalam
pelukannya.
"Baiklah..! kita hanya akan tidur saja, tidak lebih.
Kecuali kalau kau menginginkan nya."
"Gak Mas..yang benar saja..!"
"Ya sudah kita hanya tidur kalau begitu.!"
Bisik Dirga di telinga Mayra. Keduanya terdiam
saling memeluk, mencoba meresapi segala
perasaan yang kini menguasai hati dan jiwa
mereka. Peristiwa demi peristiwa telah mereka
lalui bersama. Begitu melelahkan jiwa dan raga,
hampir saja membuat hidup mereka berhenti
dalam satu titik, yaitu menyerah pada nasib.
"Mas.. terimakasih karena kamu sudah sering
berkorban nyawa untuk menyelamatkan ku. "
Lirih Mayra sambil menyusupkan wajahnya di
dada sebelah kanan Dirga.
"Apapun akan kulakukan untukmu."
"Aku hampir saja kehilanganmu Mas. Kadang
aku merasa kalau kehadiranku di sisimu hanya
membawa keburukan saja pada hidupmu.."
"Ssttt...! Apa yang kau katakan..?! Kau adalah
hadiah terbaik dari Tuhan untukku.."
Dirga berbisik seraya mengangkat wajah Mayra.
Ditatapnya lekat wajah cantik itu, keduanya saling
pandang lekat.
"Kau adalah cahaya hidupku.. Almayra.."
Bisik Dirga kembali dengan suara yang sedikit
berat karena ada desakan hasrat yang kini
menguasai dirinya tanpa kompromi.Tatapan
mereka semakin dalam dan tanpa komando
bibir keduanya kini sudah terpagut dalam sebuah ciuman lembut penuh cinta dan kerinduan.
**********
__ADS_1
TBC...