
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Mayra membuka matanya perlahan. Dia
mengedarkan pandangan ke sekeliling
ruangan. Aroma obat-obatan serta segala
peralatan medis menghiasi seluruh ruangan
yang bernuansa putih ini, menandakan kalau
dirinya kini berada di sebuah ruang perawatan
rumah sakit. Mayra mencoba bangkit tapi
kepalanya masih terasa sedikit pusing.
Ke dalam ruangan muncul Alea bersama dua
orang perawat. Alea terlihat langsung melempar
senyum saat melihat Mayra sudah sadar.
"Syukurlah kau sudah sadar.."
Ujar Alea seraya duduk di kursi samping ranjang.
Mayra masih meneliti keadaan sekeliling.
"Alea..kenapa aku ada di sini.?"
"Kau pingsan tadi di taman."
"Pingsan..?"
Mayra memegang kepalanya. Alea menatap
Mayra yang masih terlihat sedikit pucat.
"Iya..apa kau masih merasakan pusing.?"
Tanya Alea sambil memegang tangan Mayra.
"Sedikit.."
"Tidak apa, itu wajar..nanti juga hilang sendiri.."
Ucap Alea. Mayra beringsut mencoba bangun dan
menyandarkan tubuhnya ke bagian kepala ranjang.
"Siapa yang membawaku kesini.? apakah kepala
pelayan.?"
Tanya Mayra. Alea menggeleng sambil tersenyum.
"Kakak yang membawamu kesini..!"
"Aaron..?"
Tanya Mayra dengan wajah terlihat senang.
"Hemm.. kenapa.? kelihatannya kau senang
sekali mendengarnya..!"
Ejek Alea dengan senyum usilnya. Wajah Mayra
sedikit memerah.
"Bukan begitu.! Aku memang ingin bertemu dengannya.! Lalu dimana dia sekarang.?"
Ujar Mayra sambil melihat kearah pintu berharap Aaron muncul di sana. Alea tersenyum tipis.
"Dia sedang mengurus beberapa hal, ada urusan penting yang harus di bereskannya..!"
"Ohh.."
Mayra terlihat kecewa. Alea menatap serius
wajah Mayra dengan mulai menghela napas.
"Mayra..ada yang ingin aku sampaikan padamu."
Alea menjeda ucapannya, Mayra melirik dan
menatap heran Alea yang terlihat serius. Dia
menegakkan badannya, bersiap mendengar
apa yang ingin Alea sampaikan.
"Ada apa Alea.? apa ada yang serius yang terjadi dengan tubuhku..?"
"Mayra..kamu pingsan karena..efek kehamilan.
Saat ini kamu sedang mengandung, sekarang
sudah masuk minggu ke lima..!"
Jedderr !!.
Mayra melongo mendengar ucapan Alea. Dia
terdiam tak bisa berkata-kata. Namun setelah beberapa saat air matanya tiba-tiba saja jatuh
meluncur dengan deras membasahi pipinya.
"Ha-hamil..?? Benarkah itu..??"
Mayra baru bisa mengeluarkan suaranya dengan
bergetar karena desakan seribu macam perasaan
yang kini menghimpit dadanya.
"Iya..aku sudah memastikan semuanya.."
Alea mengangguk seraya tersenyum yakin.
"Ya Allah..benarkah aku bisa hamil lagi secepat
ini.??"
Lirih Mayra sambil menutup mulutnya dengan
kedua tangannya.
"Tapi aku baru saja mengalami keguguran
beberapa bulan yang lalu Lea.."
"Tidak masalah kalau rahim mu kuat dan sehat.."
Ujar Alea meyakinkan sambil menggenggam
tangan Mayra. Keduanya saling pandang. Tidak
lama Mayra merangkul Alea dengan tangis
bahagia.
"Terimakasih ya Lea..Ini adalah kabar yang sangat
membahagiakan bagiku..hiks hiks.."
Ucap Mayra di tengah tangisnya masih memeluk
Alea yang juga memeluknya dan menepuk halus
punggungnya.
"Selamat ya..aku ikut bahagia untukmu.."
Ucap Alea sambil dia pun berkaca-kaca.
Tangis bahagia Mayra semakin merebak.
***** *****
Alea mengantarkan Mayra pulang ke Penthouse. Tanpa menunggu lama dia memberitahukan
perihal kehamilan Mayra ini kepada semua
pelayan dan memberikan intruksi kepada kepala pelayan agar lebih berhati-hati dalam melayani
Mayra mulai sekarang. Dia menyuruh kepala
pelayan untuk membeli beberapa makanan dan
susu yang bisa membantu meningkatkan gizi
serta imunitas ibu hamil. Alea benar-benar detail
dan sangat posesif terhadap Mayra.
Kepala pelayan dan para pelayan hanya bisa
tercengang saja saat mendengar kabar tentang
__ADS_1
kehamilan dan kenyataan bahwa wanita yang
selama ini di sembunyikan Tuan mereka adalah
istri sahabat nya sendiri. Bukanlah wanita yang
akan menjadi pasangan hidup majikan mereka.
Mereka sungguh tidak menduga hal ini sama
sekali sebelumnya.
Mayra termenung sendiri di dalam kamarnya.
Selain rasa bahagia karena kabar kehamilan ini
ada rasa yang lebih menguasai hatinya saat ini.
Yaitu kesedihan yang sangat membuat hatinya
perih mengingat kehamilan ini tidak di ketahui
oleh Dirga. Bagaimana caranya dia menyampaikan
kabar bahagia ini kepada suaminya itu.
Tuhan..tolong berilah hamba jalan keluar agar
bisa segera menyampaikan kabar gembira ini
pada suamiku..
Lirih Mayra sambil mencoba merebahkan
tubuhnya diatas tempat tidur yang terasa dingin .
Setiap malam dia tidur dalam kesunyian dan
kesepian yang sangat menyiksa.
Entah sampai kapan siksaan bathin ini akan
terus di jalaninya. Namun satu yang pasti
sekarang adalah dia harus lebih kuat, demi
janin yang ada di dalam kandungannya. Dia
harus menjaga anugerah Tuhan atas buah
cintanya bersama suaminya ini.
...... ......
Selesai menjalankan sholat isya, seperti biasa
Mayra berjalan dan berdiri di sisi jendela mencoba menenangkan hatinya dengan memandang
keremangan malam yang di hiasi gemerlapnya
lampu kota. Dia sungguh merindukan semua hal
yang di tinggalkan di tempat kelahirannya.
"Mas.. bagaimana aku bisa memberitahu kabar
bahagia ini kepadamu.."
Lirih Mayra seraya menghapus air mata yang
mulai turun membasahi pipinya. Hatinya sangat
perih saat ini. Kenapa nasib harus membawanya
sampai sejauh ini.
Kepala pelayan muncul ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi makan malam khusus
untuk Mayra.
"Nyonya..anda harus makan malam. Setelah
itu minum obat yang sudah di berikan oleh
Miss Alea.."
Ucap kepala pelayan. Mayra menoleh, masih
dengan posisi sama, berdiri tenang dengan
melipat tangan di dada.
"Baiklah nanti saya makan.. terimakasih ya.."
Sahut kepala pelayan sambil kemudian berbalik
dan berlalu keluar dari kamar.
Mayra duduk di depan meja bulat kecil yang
tersedia di dalam kamar yang biasa di gunakan
untuk makan atau sarapan jika dia malas untuk
turun ke lantai bawah. Dia mulai makan malam walaupun cuma sedikit yang bisa di telannya.
Setelah itu meminum obat yang diberikan oleh Alea untuk segala macam penguat dan agar dirinya bisa beristirahat dengan nyaman.
Seusai meminum obat Mayra langsung terlelap.
Tubuhnya merasakan rileks dan tenang.
Malam makin sunyi dan terasa semakin dingin,
padahal penghangat ruangan sudah menyala
seperti biasanya.
Saat tengah malam tiba, di pintu kamar Mayra
muncul sesosok pria tinggi dengan mantel tebal
menyelimuti tubuhnya yang kedinginan. Orang
itu berjalan dengan cepat menghampiri tempat
tidur Mayra. Dia membuka mantelnya, di lempar
nya ke sembarang arah. Kemudian berdiri
menatap Mayra dengan sorot mata penuh
cinta dan kerinduan.
Perlahan pria itu naik ke tempat tidur,
di pandang nya lekat wajah Mayra yang sedang tertidur dengan tenang. Tangannya bergerak membelai mesra wajah Mayra, di telusuri setiap
detail wajahnya seluruhnya. Bibirnya tersenyum
manis, kemudian dia mencium kening Mayra,
lama..di resapi sepenuh hati.
Setelah itu seluruh wajah Mayra dihujani nya
dengan ciuman lembut penuh perasaan.
"Aahh.."
Mayra mendesah dalam tidurnya dan bergerak
pelan saat menerima sentuhan ciuman yang tiada henti dari pria yang kini sedang menatapnya lekat.
Pria itu kembali bergerak mengecup bibir Mayra.
Melumatnya lembut dan hangat.
"Emmhh.."
Mayra kembali mendesah pelan membuat sosok laki-laki tadi melepaskan ciumannya, dia kembali
menatap wajah Mayra dengan senyum gemasnya.
Tubuhnya langsung saja panas di penuhi hasrat
yang tiba-tiba naik ketika melihat Mayra
menggeliat dan tidur terlentang. Dia mencoba menelan salivanya yang terasa berat. Kemudian mengatur napasnya yang kian memburu
terhimpit oleh desakan hasrat yang semakin memuncak menguasai seluruh aliran darahnya.
Akhirnya dia beranjak turun dari tempat tidur
kemudian berlalu masuk ke kamar mandi.
Dalam tidur tenangnya Mayra memasuki ruang
alam bawah sadarnya. Dia merasakan ada suhu
lain yang kini berada di dekatnya. Sosok itu
__ADS_1
perlahan masuk ke balik selimut. Tubuh bagian
atasnya polos membuat Mayra dapat merasakan
kekarnya otot tubuh sosok ini.
Dia menarik tubuh Mayra, mendekapnya erat
memberi kehangatan dan kenyamanan yang
saat ini sangat di rindukan oleh Mayra. Kemudian perlahan dia mulai kembali mencumbu seluruh
wajah Mayra. Tidak lama dia menyergap bibir
Mayra, melumatnya rakus, mengulum dan
menghisap nya penuh dengan hasrat
yang membara.
Anehnya Mayra ikut terbawa suasana, tubuhnya
tiba-tiba saja panas, ada desakan hasrat bercinta
yang mulai menguasai seluruh tubuhnya. Dia membalas ciuman panas pria ini, tapi matanya
sangat enggan untuk terbuka. Dia kembali
mendesah lembut membuat si pria semakin
menggila hingga tidak bisa lagi mengendalikan hasratnya yang tadi mati-matian di tahannya.
Dia mulai melakukan aksi liarnya. Menjilati
bagian belakang telinga Mayra, kemudian
beralih menciumi tengkuk dan leher jenjang
Mayra meninggalkan banyak jejak di sana.
"Emmhh.. Mas..."
Gumam Mayra dalam desahan panjang nya.
Pria itu menatap Mayra sebentar, bibir nya
terlihat tersenyum puas. Dia kembali melanjutkan aksinya dengan mulai melucuti semua kain
yang menempel di tubuh Mayra hingga tak tersisa.
Dia terlihat menatap seluruh tubuh Mayra dengan hasrat yang sudah tidak terkendali. perlahan
dia mengelus lembut perut datar Mayra dan menciumnya lama.
Mayra menggelinjang tak kuat menerima
sentuhan lembut memabukkan dari pria ini.
Tapi matanya benar-benar susah untuk terbuka,
dia masih merasa ini adalah sebuah mimpi indah. Mimpi yang membuat rindunya seakan terobati.
Pria itu melepaskan semua pakaiannya dan
dengan hati-hati dia mulai melakukan penyatuan tubuhnya dengan tubuh Mayra.
"Aaa..."
Mayra memekik pelan saat pria itu berhasil
memasuki tubuhnya, membuatnya berhenti
sesaat. Dia mencium bibir Mayra mencoba
meredam semua rasa sakit yang dirasakan
oleh Mayra.
"Aku akan melakukannya dengan hati-hati..!"
Bisiknya parau di telinga Mayra. Kemudian
dia kembali memulai aksinya dengan sangat
lembut penuh dengan cinta dan kerinduan.
Malam semakin larut, cuaca dingin yang
sebelumnya tercipta di kamar itu, kini telah
berubah menjadi panas penuh dengan desahan
dan erangan kenikmatan. Mayra masih tetap
berada dalam mode alam bawah sadarnya.
Dia terhanyut dalam buaian kehangatan dan
kelembutan permainan panas sosok pria yang
Mayra yakini sebagai mimpi.
..... .....
Alarm adzan subuh berkumandang di ponsel
yang sengaja di setting.
Mayra membuka matanya, mengumpulkan
kesadaran dan berdoa. Dia jadi tertegun sendiri
saat mengingat mimpi tadi malam yang terasa
begitu nyata. Wajahnya terlihat memerah saat mengingat betapa dirinya sangat menikmati
sentuhan dan permainan lembut dari sosok
yang ada dalam mimpinya yang di yakini
sebagai suaminya.
Mayra membuka selimut dan mencoba bangkit.
Namun dirinya terkejut dan memekik pelan ketika melihat saat ini tubuh nya dalam keadaan polos
tidak tertutupi sehelai kain pun. Dia juga
merasakan tubuhnya sakit-sakit dan pegal di
seluruh bagian seolah semua tulang nya remuk,
dan rasa sakit itu terpusat di tubuh bagian bawahnya.
"Astagfirullah..apa yang terjadi padaku tadi
malam.?!"
Seru Mayra sambil menutup mulutnya sendiri,
matanya melotot shock dengan keadaannya.
Langsung saja pikiran liarnya beterbangan
kemana-mana.
Mayra menarik selimut kembali menutupi semua
bagian tubuhnya bahkan sampai ke kepalanya.
Saat ini dia merasakan ketakutan sendiri, apakah
kejadian tadi malam bukanlah sebuah mimpi.?
"Tidak mungkin.! Aku yakin semua itu hanya
mimpi. Itu semua tidak nyata.."
Lirih Mayra dibalik selimut sambil mulai terisak
karena ketakutan yang mulai menghantuinya.
Namun dalam keadaan itu tiba-tiba ada suara
pintu kamar mandi yang terbuka dari dalam
membuat Mayra terperanjat dan segera membuka
selimut melihat kearah kamar mandi.
Mata Mayra terbelalak sempurna saat dia melihat
ada seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu kamar mandi dalam keadaan tubuhnya yang polos hanya terlilit handuk tipis di bagian bawah tubuhnya.
Mayra melongo..mulutnya terbuka lebar, namun
tidak kemudian pandangannya tiba-tiba kabur,
orang tadi segera berlari merangkul tubuh
Mayra yang kini terkulai lemas dalam pangkuannya, pingsan karena shock..
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC...