Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
103. Mimpi atau Nyata


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Mayra membuka matanya perlahan. Dia


mengedarkan pandangan ke sekeliling


ruangan. Aroma obat-obatan serta segala


peralatan medis menghiasi seluruh ruangan


yang bernuansa putih ini, menandakan kalau


dirinya kini berada di sebuah ruang perawatan


rumah sakit. Mayra mencoba bangkit tapi


kepalanya masih terasa sedikit pusing.


Ke dalam ruangan muncul Alea bersama dua


orang perawat. Alea terlihat langsung melempar


senyum saat melihat Mayra sudah sadar.


"Syukurlah kau sudah sadar.."


Ujar Alea seraya duduk di kursi samping ranjang.


Mayra masih meneliti keadaan sekeliling.


"Alea..kenapa aku ada di sini.?"


"Kau pingsan tadi di taman."


"Pingsan..?"


Mayra memegang kepalanya. Alea menatap


Mayra yang masih terlihat sedikit pucat.


"Iya..apa kau masih merasakan pusing.?"


Tanya Alea sambil memegang tangan Mayra.


"Sedikit.."


"Tidak apa, itu wajar..nanti juga hilang sendiri.."


Ucap Alea. Mayra beringsut mencoba bangun dan


menyandarkan tubuhnya ke bagian kepala ranjang.


"Siapa yang membawaku kesini.? apakah kepala


pelayan.?"


Tanya Mayra. Alea menggeleng sambil tersenyum.


"Kakak yang membawamu kesini..!"


"Aaron..?"


Tanya Mayra dengan wajah terlihat senang.


"Hemm.. kenapa.? kelihatannya kau senang


sekali mendengarnya..!"


Ejek Alea dengan senyum usilnya. Wajah Mayra


sedikit memerah.


"Bukan begitu.! Aku memang ingin bertemu dengannya.! Lalu dimana dia sekarang.?"


Ujar Mayra sambil melihat kearah pintu berharap Aaron muncul di sana. Alea tersenyum tipis.


"Dia sedang mengurus beberapa hal, ada urusan penting yang harus di bereskannya..!"


"Ohh.."


Mayra terlihat kecewa. Alea menatap serius


wajah Mayra dengan mulai menghela napas.


"Mayra..ada yang ingin aku sampaikan padamu."


Alea menjeda ucapannya, Mayra melirik dan


menatap heran Alea yang terlihat serius. Dia


menegakkan badannya, bersiap mendengar


apa yang ingin Alea sampaikan.


"Ada apa Alea.? apa ada yang serius yang terjadi dengan tubuhku..?"


"Mayra..kamu pingsan karena..efek kehamilan.


Saat ini kamu sedang mengandung, sekarang


sudah masuk minggu ke lima..!"


Jedderr !!.


Mayra melongo mendengar ucapan Alea. Dia


terdiam tak bisa berkata-kata. Namun setelah beberapa saat air matanya tiba-tiba saja jatuh


meluncur dengan deras membasahi pipinya.


"Ha-hamil..?? Benarkah itu..??"


Mayra baru bisa mengeluarkan suaranya dengan


bergetar karena desakan seribu macam perasaan


yang kini menghimpit dadanya.


"Iya..aku sudah memastikan semuanya.."


Alea mengangguk seraya tersenyum yakin.


"Ya Allah..benarkah aku bisa hamil lagi secepat


ini.??"


Lirih Mayra sambil menutup mulutnya dengan


kedua tangannya.


"Tapi aku baru saja mengalami keguguran


beberapa bulan yang lalu Lea.."


"Tidak masalah kalau rahim mu kuat dan sehat.."


Ujar Alea meyakinkan sambil menggenggam


tangan Mayra. Keduanya saling pandang. Tidak


lama Mayra merangkul Alea dengan tangis


bahagia.


"Terimakasih ya Lea..Ini adalah kabar yang sangat


membahagiakan bagiku..hiks hiks.."


Ucap Mayra di tengah tangisnya masih memeluk


Alea yang juga memeluknya dan menepuk halus


punggungnya.


"Selamat ya..aku ikut bahagia untukmu.."


Ucap Alea sambil dia pun berkaca-kaca.


Tangis bahagia Mayra semakin merebak.


***** *****


Alea mengantarkan Mayra pulang ke Penthouse. Tanpa menunggu lama dia memberitahukan


perihal kehamilan Mayra ini kepada semua


pelayan dan memberikan intruksi kepada kepala pelayan agar lebih berhati-hati dalam melayani


Mayra mulai sekarang. Dia menyuruh kepala


pelayan untuk membeli beberapa makanan dan


susu yang bisa membantu meningkatkan gizi


serta imunitas ibu hamil. Alea benar-benar detail


dan sangat posesif terhadap Mayra.


Kepala pelayan dan para pelayan hanya bisa


tercengang saja saat mendengar kabar tentang

__ADS_1


kehamilan dan kenyataan bahwa wanita yang


selama ini di sembunyikan Tuan mereka adalah


istri sahabat nya sendiri. Bukanlah wanita yang


akan menjadi pasangan hidup majikan mereka.


Mereka sungguh tidak menduga hal ini sama


sekali sebelumnya.


Mayra termenung sendiri di dalam kamarnya.


Selain rasa bahagia karena kabar kehamilan ini


ada rasa yang lebih menguasai hatinya saat ini.


Yaitu kesedihan yang sangat membuat hatinya


perih mengingat kehamilan ini tidak di ketahui


oleh Dirga. Bagaimana caranya dia menyampaikan


kabar bahagia ini kepada suaminya itu.


Tuhan..tolong berilah hamba jalan keluar agar


bisa segera menyampaikan kabar gembira ini


pada suamiku..


Lirih Mayra sambil mencoba merebahkan


tubuhnya diatas tempat tidur yang terasa dingin .


Setiap malam dia tidur dalam kesunyian dan


kesepian yang sangat menyiksa.


Entah sampai kapan siksaan bathin ini akan


terus di jalaninya. Namun satu yang pasti


sekarang adalah dia harus lebih kuat, demi


janin yang ada di dalam kandungannya. Dia


harus menjaga anugerah Tuhan atas buah


cintanya bersama suaminya ini.


...... ......


Selesai menjalankan sholat isya, seperti biasa


Mayra berjalan dan berdiri di sisi jendela mencoba menenangkan hatinya dengan memandang


keremangan malam yang di hiasi gemerlapnya


lampu kota. Dia sungguh merindukan semua hal


yang di tinggalkan di tempat kelahirannya.


"Mas.. bagaimana aku bisa memberitahu kabar


bahagia ini kepadamu.."


Lirih Mayra seraya menghapus air mata yang


mulai turun membasahi pipinya. Hatinya sangat


perih saat ini. Kenapa nasib harus membawanya


sampai sejauh ini.


Kepala pelayan muncul ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi makan malam khusus


untuk Mayra.


"Nyonya..anda harus makan malam. Setelah


itu minum obat yang sudah di berikan oleh


Miss Alea.."


Ucap kepala pelayan. Mayra menoleh, masih


dengan posisi sama, berdiri tenang dengan


melipat tangan di dada.


"Baiklah nanti saya makan.. terimakasih ya.."


Sahut kepala pelayan sambil kemudian berbalik


dan berlalu keluar dari kamar.


Mayra duduk di depan meja bulat kecil yang


tersedia di dalam kamar yang biasa di gunakan


untuk makan atau sarapan jika dia malas untuk


turun ke lantai bawah. Dia mulai makan malam walaupun cuma sedikit yang bisa di telannya.


Setelah itu meminum obat yang diberikan oleh Alea untuk segala macam penguat dan agar dirinya bisa beristirahat dengan nyaman.


Seusai meminum obat Mayra langsung terlelap.


Tubuhnya merasakan rileks dan tenang.


Malam makin sunyi dan terasa semakin dingin,


padahal penghangat ruangan sudah menyala


seperti biasanya.


Saat tengah malam tiba, di pintu kamar Mayra


muncul sesosok pria tinggi dengan mantel tebal


menyelimuti tubuhnya yang kedinginan. Orang


itu berjalan dengan cepat menghampiri tempat


tidur Mayra. Dia membuka mantelnya, di lempar


nya ke sembarang arah. Kemudian berdiri


menatap Mayra dengan sorot mata penuh


cinta dan kerinduan.


Perlahan pria itu naik ke tempat tidur,


di pandang nya lekat wajah Mayra yang sedang tertidur dengan tenang. Tangannya bergerak membelai mesra wajah Mayra, di telusuri setiap


detail wajahnya seluruhnya. Bibirnya tersenyum


manis, kemudian dia mencium kening Mayra,


lama..di resapi sepenuh hati.


Setelah itu seluruh wajah Mayra dihujani nya


dengan ciuman lembut penuh perasaan.


"Aahh.."


Mayra mendesah dalam tidurnya dan bergerak


pelan saat menerima sentuhan ciuman yang tiada henti dari pria yang kini sedang menatapnya lekat.


Pria itu kembali bergerak mengecup bibir Mayra.


Melumatnya lembut dan hangat.


"Emmhh.."


Mayra kembali mendesah pelan membuat sosok laki-laki tadi melepaskan ciumannya, dia kembali


menatap wajah Mayra dengan senyum gemasnya.


Tubuhnya langsung saja panas di penuhi hasrat


yang tiba-tiba naik ketika melihat Mayra


menggeliat dan tidur terlentang. Dia mencoba menelan salivanya yang terasa berat. Kemudian mengatur napasnya yang kian memburu


terhimpit oleh desakan hasrat yang semakin memuncak menguasai seluruh aliran darahnya.


Akhirnya dia beranjak turun dari tempat tidur


kemudian berlalu masuk ke kamar mandi.


Dalam tidur tenangnya Mayra memasuki ruang


alam bawah sadarnya. Dia merasakan ada suhu


lain yang kini berada di dekatnya. Sosok itu

__ADS_1


perlahan masuk ke balik selimut. Tubuh bagian


atasnya polos membuat Mayra dapat merasakan


kekarnya otot tubuh sosok ini.


Dia menarik tubuh Mayra, mendekapnya erat


memberi kehangatan dan kenyamanan yang


saat ini sangat di rindukan oleh Mayra. Kemudian perlahan dia mulai kembali mencumbu seluruh


wajah Mayra. Tidak lama dia menyergap bibir


Mayra, melumatnya rakus, mengulum dan


menghisap nya penuh dengan hasrat


yang membara.


Anehnya Mayra ikut terbawa suasana, tubuhnya


tiba-tiba saja panas, ada desakan hasrat bercinta


yang mulai menguasai seluruh tubuhnya. Dia membalas ciuman panas pria ini, tapi matanya


sangat enggan untuk terbuka. Dia kembali


mendesah lembut membuat si pria semakin


menggila hingga tidak bisa lagi mengendalikan hasratnya yang tadi mati-matian di tahannya.


Dia mulai melakukan aksi liarnya. Menjilati


bagian belakang telinga Mayra, kemudian


beralih menciumi tengkuk dan leher jenjang


Mayra meninggalkan banyak jejak di sana.


"Emmhh.. Mas..."


Gumam Mayra dalam desahan panjang nya.


Pria itu menatap Mayra sebentar, bibir nya


terlihat tersenyum puas. Dia kembali melanjutkan aksinya dengan mulai melucuti semua kain


yang menempel di tubuh Mayra hingga tak tersisa.


Dia terlihat menatap seluruh tubuh Mayra dengan hasrat yang sudah tidak terkendali. perlahan


dia mengelus lembut perut datar Mayra dan menciumnya lama.


Mayra menggelinjang tak kuat menerima


sentuhan lembut memabukkan dari pria ini.


Tapi matanya benar-benar susah untuk terbuka,


dia masih merasa ini adalah sebuah mimpi indah. Mimpi yang membuat rindunya seakan terobati.


Pria itu melepaskan semua pakaiannya dan


dengan hati-hati dia mulai melakukan penyatuan tubuhnya dengan tubuh Mayra.


"Aaa..."


Mayra memekik pelan saat pria itu berhasil


memasuki tubuhnya, membuatnya berhenti


sesaat. Dia mencium bibir Mayra mencoba


meredam semua rasa sakit yang dirasakan


oleh Mayra.


"Aku akan melakukannya dengan hati-hati..!"


Bisiknya parau di telinga Mayra. Kemudian


dia kembali memulai aksinya dengan sangat


lembut penuh dengan cinta dan kerinduan.


Malam semakin larut, cuaca dingin yang


sebelumnya tercipta di kamar itu, kini telah


berubah menjadi panas penuh dengan desahan


dan erangan kenikmatan. Mayra masih tetap


berada dalam mode alam bawah sadarnya.


Dia terhanyut dalam buaian kehangatan dan


kelembutan permainan panas sosok pria yang


Mayra yakini sebagai mimpi.


..... .....


Alarm adzan subuh berkumandang di ponsel


yang sengaja di setting.


Mayra membuka matanya, mengumpulkan


kesadaran dan berdoa. Dia jadi tertegun sendiri


saat mengingat mimpi tadi malam yang terasa


begitu nyata. Wajahnya terlihat memerah saat mengingat betapa dirinya sangat menikmati


sentuhan dan permainan lembut dari sosok


yang ada dalam mimpinya yang di yakini


sebagai suaminya.


Mayra membuka selimut dan mencoba bangkit.


Namun dirinya terkejut dan memekik pelan ketika melihat saat ini tubuh nya dalam keadaan polos


tidak tertutupi sehelai kain pun. Dia juga


merasakan tubuhnya sakit-sakit dan pegal di


seluruh bagian seolah semua tulang nya remuk,


dan rasa sakit itu terpusat di tubuh bagian bawahnya.


"Astagfirullah..apa yang terjadi padaku tadi


malam.?!"


Seru Mayra sambil menutup mulutnya sendiri,


matanya melotot shock dengan keadaannya.


Langsung saja pikiran liarnya beterbangan


kemana-mana.


Mayra menarik selimut kembali menutupi semua


bagian tubuhnya bahkan sampai ke kepalanya.


Saat ini dia merasakan ketakutan sendiri, apakah


kejadian tadi malam bukanlah sebuah mimpi.?


"Tidak mungkin.! Aku yakin semua itu hanya


mimpi. Itu semua tidak nyata.."


Lirih Mayra dibalik selimut sambil mulai terisak


karena ketakutan yang mulai menghantuinya.


Namun dalam keadaan itu tiba-tiba ada suara


pintu kamar mandi yang terbuka dari dalam


membuat Mayra terperanjat dan segera membuka


selimut melihat kearah kamar mandi.


Mata Mayra terbelalak sempurna saat dia melihat


ada seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu kamar mandi dalam keadaan tubuhnya yang polos hanya terlilit handuk tipis di bagian bawah tubuhnya.


Mayra melongo..mulutnya terbuka lebar, namun


tidak kemudian pandangannya tiba-tiba kabur,


orang tadi segera berlari merangkul tubuh


Mayra yang kini terkulai lemas dalam pangkuannya, pingsan karena shock..

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC...


__ADS_2