Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
72. Pernyataan


__ADS_3

 


**********


Mayra membuka matanya perlahan. Dia melihat ke sekitar ruangan. Aneh..dirinya kini sudah berada di dalam kamar rumahnya. Perlahan dia memijat pelipisnya, apa yang terjadi.? seingat dia tadi masih berada di lokasi syuting, dan..Mayra terkesiap dia langsung


memegang perutnya erat dan ketakutan.


Apakah telah terjadi sesuatu pada janin nya?


Apakah tadi dia benar-benar terjatuh.?


Pintu kamar terbuka dan yang masuk adalah Silvia


bersama dengan Tina serta satu orang pelayan


yang mendorong troli makanan.


"May..kau sudah sadar.?"


Silvia langsung menghampiri dan memegang tangan Mayra, mengelusnya lembut. Mayra menatap Silvia bingung.


"Apa yang terjadi Sil.? apa tadi aku terjatuh lagi.?


Katakan padaku apa yang terjadi.?"


Tanya Mayra ketakutan.


"Tenang dulu May..kau baik-baik saja, kau tidak terjatuh.! Tadi ada seseorang yang menangkapmu..!"


Jawab Silvia sambil terus menenangkan Mayra.


Mayra terdiam, dia mencoba mengingat semuanya.


Tapi ingatannya hanya sampai di saat tubuhnya melayang akan terjatuh, setelah itu dia tidak mengingat apapun lagi.


"Ada orang yang menolongku.?"


Tanya Mayra kembali. Silvia mengangguk.


"Siapa.?"


Tanya Mayra bingung dan penasaran.


"Aku tidak begitu jelas melihat bagaimana orang nya.


Kami semua shock saat melihat kamu akan terjatuh. Dan tahu-tahu kamu sudah di bawa pergi keluar oleh orang itu. Dia cepet banget gerakannya..!"


Jawab Silvia dengan mimik muka yang tampak bingung dan hanya mengangkat bahu nya saja.


"Sepertinya Jane tahu orang nya Nyonya.!"


Ucap Tina. Mayra berpaling pada Tina


"Kalau begitu tolong panggilkan Jane kesini.!"


"Baik Nyonya.."


Tina mengangguk kemudian berlalu pergi di ikuti oleh pelayan tadi setelah sebelumnya membungkuk hormat pada Mayra.


Mayra kembali memijat pelipisnya pusing.


"Yasudah..yang penting kamu gak kenapa-napa May, gak usah terlalu dipikirin..!"


Ucap Silvia sambil meraih mangkuk bubur dan membawanya ke hadapan Mayra.


"Sekarang kamu makan dulu. Kamu tadi pingsan cukup lama loh. Seharian ini kamu tidak makan apapun, makanya kondisimu jadi drop..!"


Ucap Silvia sambil menyodorkan sesendok bubur ke dekat mulut Mayra.


"Biar aku sendiri saja. Terimakasih ya Sil.."


Ucap Mayra meraih mangkuk bubur dan mulai memakannya perlahan.


"Kamu tahu May, semua iklan yang kamu bintangi menjadi perbincangan hangat di media sosial.! Nama kamu sekarang sudah melebihi kepopuleran selebritis manapun. Tapi kamu memutuskan untuk resign secepat ini..Apa tidak sayang..??"


Ucap Silvia dengan wajah yang terlihat sedih. Mayra melihat Silvia dan menatapnya lembut.


"Aku harus melakukannya Sil. Kamu tahu kan siapa dan bagaimana suamiku.?"

__ADS_1


"Iya aku mengerti May..! Suami kamu adalah orang yang bisa membeli apapun..! mana mungkin dia membiarkan istrinya bekerja..!"


"Sil..bukan itu intinya.! tapi aku ingin hidupku yang nyaman seperti dulu bisa aku rasakan kembali. Aku ternyata tidak siap untuk berada di dunia yang ini..!"


Sanggah Mayra. Silvia menatap Mayra kemudian mengangguk pelan.


"Baiklah May..pilihan ada di tanganmu, aku akan selalu mendukung semua keputusanmu. Setelah ini aku akan kembali ke kantor, Pak Agam sudah menyiapkan posisi yang bagus untukku..!"


Ucap Silvia dengan sedikit senyum getir. Mayra menatap sahabatnya itu dan mengangguk.


"Semoga setelah ini kehidupan kamu akan lebih baik lagi ke depannya ya Sil.."


"Aamiin..kamu juga ya May.."


Keduanya saling berpegangan erat.


Mayra menyudahi makan buburnya karena perutnya


terasa tidak nyaman. Dia juga merasakan kepalanya kembali terasa berat.


Jane masuk ke dalam kamar ,kemudian langsung menghampiri Mayra dan membungkuk sopan.


Mayra menatap Jane penuh rasa ingin tahu.


"Jane kau tahu siapa orang yang sudah menolong dan mengantarku kesini.?"


Tanya Mayra. Jane melirik ragu pada Silvia kemudian mengangguk pelan pada Mayra.


Silvia menatap Jane kesal.


"Kenapa kamu Jane.? tidak percaya padaku.? kau kira aku ini siapa.? paparazi..?!"


Ucap Silvia dengan ketusnya.


Jane tidak merespon kekesalan Silvia dia kembali menghadap Mayra.


"Yang menolong Nyonya adalah Presdir perusahaan otomotif yang mengontrak Nyonya..!"


"What.?? kamu bercanda Jane..? tahu darimana kalau orang itu adalah pak Presdir.?!"


Sentak Silvia nyolot tidak percaya.


"Benarkah..?? kok aku bisa gak ngeuh ya..Abisnya dia emang gak ketahuan datang nya sih..!"


Ucap Silvia bingung sendiri. Sementara Mayra hanya terdiam tak menyangka.


"Tapi Nyonya juga sudah mengenal orang nya..!"


Ucap Jane pelan. Mayra terkejut.


"Benarkah..? Dimana aku mengenalnya..?!"


"Dia..Tuan Aaron..! rekan bisnisnya Tuan muda..!"


Ucap Jane sambil kembali menunduk. Mayra masih belum ngeuh dengan orang yang di maksud Jane.


"Aku tidak mengerti maksudmu Jane. Aku tidak pernah mengenal orang yang bernama Aaron..!"


Kilah Mayra bingung. Jane nampak menautkan alisnya. Kemudian menatap heran pada Mayra.


"Tuan Aaron sudah sering membantu Tuan muda nyonya, setiap beliau dalam masalah.!"


Jelas Jane. Tapi Mayra tetap tidak mengerti.


"Entahlah Jane, aku tidak mengenal nama orang yang sering membantu suamiku..Mungkin hanya sekretaris Lee saja yang aku tahu sama Dokter Rayen.."


Ucap Mayra. Jane menggeleng pasrah.


"Tuan Aaron adalah orang yang mengantar Nyonya waktu pergi ke kediaman Tuan Besar. "


"Apa ?? si Tuan Aneh itu..??"


Pekik Mayra terkejut setengah mati. Dia nampak menatap Jane tak percaya, tapi Jane terlihat mengangguk yakin. Mayra mengingat tadi sebelum insiden kecil terjadi, dia memang melihat kemunculan Aaron di barisan belakang bersama para staf perusahaan. Jadi si Tuan Aneh itu bukanlah orang biasa.?? Nyatanya dia seorang Presdir perusahaan besar berkelas internasional.


***** *****


Malam semakin larut sudah hampir menunjukan


pukul setengah 10. Tapi Mayra belum juga bisa memejamkan matanya. Dia kepikiran terus dengan sikap Dirga yang tidak pernah jelas arah nya.

__ADS_1


Kadang dia merasa kalau laki-laki itu memang membutuhkan kehadiran dirinya seutuhnya, namun selebihnya dia merasa kalau dirinya hanyalah wanita selintas nya saja yang hanya di butuhkan untuk pelampiasan hasrat nya semata.


Mayra turun ke lantai bawah, dia butuh waktu sendiri saat ini dan harus mengeluarkan semua kekalutan yang di rasakannya pada media yang sesuai.


Dia berjalan ke ruang keluarga, kemudian menuju ke tempat piano yang dari pertama datang belum pernah di sentuhnya secara utuh.


Mayra duduk di kursi dan membuka penutup piano.


Kemudian jemarinya mulai mengecek tuts satu per satu. Semakin lama semakin cepat rentang durasinya. Emosi Mayra mulai keluar, dia memulai permainan piano nya dengan lagu love the rain nya Riyuma. Dia memainkan nya dengan penuh penghayatan dan soul yang dalam. Jiwanya seakan semakin meronta, segala kegalauan yang tengah di rasakannya dia tumpahkan seluruhnya dalam denting piano yang di mainkan nya.


Namun saat semua emosi nya benar-benar keluar Mayra merepeat lagunya dengan ritme yang lebih cepat. Kemudian memainkan lagu Pur Elise nya Beethoven. Dan permainan piano nya semakin mendalam serta menggila. Air mata bercucuran bersamaan dengan permainannya yang semakin cepat.


Mayra tidak menyadari dari tadi di pintu ruang keluarga ada sosok suaminya yang berdiri mematung, terkesima dengan permainan nya. Bukan hanya Dirga, tapi para pelayan yang dari tadi mulai berdatangan juga terlihat berdiri di tempat masing-masing


dengan pandangan terpukau dan sangat menikmati permainan indah yang di persembahkan oleh


majikan mereka.


Mayra menutup permainan piano nya dengan lagu Reasen dari Yiruma kembali. Air matanya semakin deras keluar. Dia terisak pilu dan berusaha di redam nya dengan musik yang di mainkan. Hingga akhirnya permainannya selesai Mayra masih terisak pilu, menangis tersedu-sedu memegang dadanya.


Dirga menatap wanita rapuh yang ada di hadapannya itu dengan perasaan yang berat, kini dia merasa sudah tidak bisa lagi menyembunyikan semua perasannya. Perlahan Dirga melangkah menghampiri Mayra dan setelah dekat dia menyimpan buket bunga yang dari tadi dibawanya, kemudian memeluk erat tubuh Mayra dari belakang.


Mayra terkejut seketika saat Dirga memeluknya dari belakang, tangisnya semakin pecah. Hatinya pedih bukan main. Tangan nya memukul lengan kokoh Dirga yang sedang melingkar erat di dada dan perut ratanya.


"Kamu jahat..! Aku benci sama kamu..!"


Ucap Mayra di sela isak tangisnya. Dirga hanya bisa memejamkan mata tanpa berkata apapun. Mayra memang pantas memaki nya. Wanita ini pantas membencinya, dia memang seseorang yang sudah seenaknya mempermainkan hidup dan masa depan wanita ini, dan kini sudah berhasil menanamkan benih di rahimnya tanpa berkata apapun atau reaksi apapun.


"Kalau memang kehadiranku dan anak yang aku kandung ini sudah tidak kamu inginkan lagi, tolong lepaskan saja aku..! Biarkan aku menjalani hidupku dengan tenang.."


Isak Mayra dengan tangis yang makin tersedu. Dirga semakin mempererat pelukannya, menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher Mayra.


"Jangan mengatakan apapun yang berlainan dengan hati nuranimu.! cukup diam dan nikmati saja rasa kita saat ini..!"


Bisik Dirga dengan suara yang berat. Mayra menggeleng, tangisnya masih membahana.


"Aku tidak ingin berdiri di tempat yang sama sekali bukan bagianku..! Aku tidak ingin mengambil yang sudah menjadi hak orang lain..! Tolong bebaskan saja aku..! Aku berat menjalani cinta sepihak ini..!!"


Ucap Mayra bergetar. Tangannya tak henti memukul.


Dirga terhenyak seketika mendengar kata cinta dari mulut Mayra. Apa benar yang dia dengar barusan.??


Apa benar wanita yang dia nikahi secara paksa ini sekarang sudah bisa mencintainya.??


Wajah Dirga terlihat sumringah, lagi-lagi satu kejutan manis telah dia dapatkan dari istrinya ini dalam waktu sehari. Dia tidak tahan lagi, dengan gerakan cepat Dirga memangku tubuh Mayra di bawanya berjalan menuju ke lantai atas langsung ke kamarnya.


Mayra masih berusaha berontak dan memukul dada bidang Dirga berulang kali. Namun semua itu percuma saja, Dirga seolah tak merasakan apapun, saat ini mungkin satu tembakan di dadanya pun tidak akan dia rasakan saking bahagianya.


Tiba di dalam kamar, Dirga menurunkan Mayra di pinggir tempat tidur. Mayra masih saja terisak.


Dirga meraih buket bunga yang tadi di pesannya khusus, kemudian mempersembahkan nya pada Mayra yang terlihat menatap bunga itu masih dengan isak tangisnya.


"Maaf, aku belum sempat mengatakan apapun tentang berita bahagia tadi pagi. Ada alasan yang tidak harus selalu kita ungkapkan..Dan sekarang aku hanya ingin mengatakan.. terimakasih..kamu telah mewujudkan satu keinginan ku..! Aku bahagia..!"


Ucap Dirga dengan suara yang sangat lembut.


Tangis Mayra langsung terhenti, dia menatap tak percaya bahwa suaminya ini telah memberinya kejutan dengan sikap dan perlakuannya saat ini.


"Jangan pernah punya pikiran bahwa aku tidak menginginkan anak ini. Aku sangat mengharapkan


dan mendambakannya. Aku mencintai calon anakku ini, sama seperti aku mencintai ibunya..!"


Ucap Dirga lagi sambil berjongkok di depan Mayra yang tampak bengong, matanya menatap haru,


masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Ya..aku mencintaimu Nyonya Almayra Rasyid..Aku sudah jatuh cinta pada saat pertama kali kita bertatap muka. Saat itulah aku sudah menginginkan mu untuk menjadi milikku seutuhnya..!"


Mayra terkulai lemas dan pandangannya gelap seketika. Dia pingsan dalam pelukan suaminya.


 


**********


 


 


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2