
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pagi yang hangat kembali menyapa. Matahari
sudah bersinar dengan terang menembus jendela
kaca kamar tidur Mayra. Saat ini Mayra baru
selesai membersihkan diri, dia memakai setelan
santai dan hanya memoles tipis wajahnya.
Setelah itu dia turun ke lantai bawah bermaksud
untuk membuat sarapan seperti biasanya. Saat
sampai di dapur dia berpapasan dengan Aaron
yang terlihat terkejut dengan kemunculan Mayra.
Keduanya saling bertatapan dalam diam.
Saat ini Aaron hanya memakai celana panjang
putih rumahan dan bagian atas tubuhnya
dibiarkan polos membuat tubuh gagah
perkasanya terpampang nyata di depan
mata Mayra.
"Apa kau tidak bisa lebih sopan sedikit.?"
Mayra berucap dengan kesal seraya memalingkan pandangan kearah lain. Aaron berjalan mendekat
membuat Mayra reflek mundur dan memejamkan
matanya. Segaris senyum tipis tersungging di
sudut bibir Aaron.
"Hari ini aku meliburkan pelayan..!"
Bisiknya di dekat telinga Mayra membuat Mayra
terperanjat dan spontan membuka mata, keduanya
saling menatap tajam. Aroma wangi maskulin
dari tubuh Aaron menyeruak menabrak Indra
penciuman Mayra membuat dia kembali mundur.
"Kau sangat tidak sopan..!"
Desis Mayra sambil kemudian berjalan
melewati Aaron yang hanya tersenyum tipis.
Setelah itu dia berlalu pergi menuju kedalam
kamar nya. Tadi malam Aaron memutuskan untuk tidur di Penthouse ini sebab Alea baru bisa pulang
menjelang dini hari.
Tidak lama Aaron sudah keluar dari dalam
kamarnya dengan memakai atasan putih
untuk menutupi tubuhnya, sepertinya dia
bermaksud untuk pergi berolahraga di bagian belakang Penthouse nya.
Mayra saat ini sedang menyiapkan beberapa
bahan masakannya. Setelah semua siap dia mengambil beberapa bumbu di atas lemari,
namun sepertinya tidak terjangkau karena
terlalu tinggi untuk dapat di gapainya. Aaron
yang melihat hal itu tampak menghampiri
dan berdiri di belakang Mayra.
Tangannya terulur membuka lemari membuat
Mayra terkejut, hal itu membuat dia mundur
secara tiba-tiba dan menabrak tubuh Aaron yang berdiri belakangnya. Sontak saja tubuh Mayra terhuyung ke belakang membuat Aaron reflek menahan pinggangnya, dan kini mereka berada
dalam posisi intim saling berpandangan kuat.
Dada Aaron langsung berdebar kencang, napasnya tiba-tiba tak beraturan, mendapati wajah cantik
Mayra yang kini ada dalam kungkungannya.
Mayra segera mengambil posisi berdiri tegak
dengan semburat merah memenuhi wajahnya, kemudian dia menjauh dari Aaron. Keduanya
terlihat canggung untuk sesaat.
Aaron kembali mendekat membuat Mayra
kembali mundur, tangan Aaron menyimpan
kotak bumbu di hadapan Mayra dengan senyum
tipis tercipta di bibirnya membuat wajah Mayra kembali memerah. Setelah itu Aaron membuka
lemari pendingin mengambil sebotol air mineral
kemudian berlalu pergi menuju ruang olahraga.
Mayra menghela napas panjang seraya
memegang dadanya yang terasa sesak.
Tuhan..ini tidak bisa di biarkan terus. Dia
tidak boleh terus menerus berinteraksi
dengan laki-laki ini. Dia adalah pria lain yang
bukan muhrimnya dan itu sangat terlarang.
Mayra harus segera menghubungi Dirga untuk
meminta menjemput nya. Ini tidak bisa dibiarkan
terlalu lama.
Cukup lama Mayra sibuk dengan aktivitas
favoritnya. Dia mencoba menyiapkan beberapa
menu umum yang sekiranya cocok dengan lidah
dan selera Aaron serta Alea.
..... .....
Mayra menata hidangan hasil kerja keras nya
di atas meja makan bundar yang terbuat dari
porselen cantik dan mewah. Dia tampak
tersenyum puas.
Sepertinya Alea masih ada di kamarnya, Mayra memutuskan untuk memanggilnya. Dia tiba di
depan pintu kamarnya, kemudian mencoba mengetuknya beberapa kali. Tapi kelihatannya
Alea memang belum bangun, akhirnya Mayra menekan password pintu kamar Alea, dan tidak
lama pintu pun terbuka otomatis.
Dia masuk kedalam kamar, terlihat sedikit
berantakan. Tas kerja dan sepatu berserakan
tidak pada tempatnya. Mayra mencoba untuk
merapihkan nya. Dia melihat sebuah name tag
diatas meja kerja Alea. Di sana tertera nama
lengkap Alea. Dan yang membuat Mayra tertegun
adalah jabatan yang Alea pegang sebagai Direktur
__ADS_1
utama sebuah rumah sakit.
"Alea..apa kau tidak ingin sarapan sekarang.?"
Tanya Mayra pelan di samping Alea yang terlihat
masih sangat ngantuk.
"Kalian sarapan duluan ya, aku masih sangat
ngantuk..Aku pulang dini hari tadi."
"Baiklah kalau begitu..Apa kau memerlukan
sesuatu.?"
"Tidak.. terimakasih.."
"Kalau begitu aku keluar ya.."
"Hemm.."
Mayra akhirnya keluar dari dalam kamar Alea.
Saat sampai di luar dia terlihat bingung, apa harus
memberitahu Aaron ataukah tidak. Tapi akhirnya
dia mendekat ke pintu kamar Aaron yang ternyata
tidak terkunci. Mayra bermaksud mengetuk pintu
ketika tiba-tiba dia mendengar suara Aaron yang sedang berbicara dengan seseorang di telpon.
"Dia baik-baik saja..!"
"Aku akan segera menjemputnya, biarkan aku
bicara dengannya sekarang..!"
"Kau bereskan dulu masalahmu..!"
"Kau sudah kuberi waktu yang cukup untuk
bersamanya, perjanjian selesai, sekarang aku
akan mengambil milikku kembali..! Kalau tidak
jangan salahkan aku..!"
"Kau tidak perlu mengancam ku..! Aku tahu
dia milkkmu, tapi rencana bisa saja berubah.!"
"Apa maksudmu brengsek..?!"
"Kalau dia lebih memilih ku..! kau harus rela
melepasnya..!"
"Aaron.. ******** kamu..!"
"Hahaa.. kelihatannya dia lebih nyaman
denganku.! Dia bahagia di sini..!"
"Cihh !! hidupmu bahkan lebih rumit dariku,
tapi kau berani menjamin dia bisa bahagia
bersamamu..!"
Mayra tidak tahan lagi, dia yakin Aaron sedang berbicara dengan Dirga. Tanpa menunggu lama
dia masuk kedalam kamar, langsung menghampiri
Aaron yang sedang duduk di pinggir kasur.
Mayra berdiri dihadapan Aaron yang bengong
sesaat melihat kemunculannya yang tiba-tiba.
"Berikan ponselnya, aku mau bicara dengan
suamiku..!"
Ucap Mayra ngambek sambil maju mau merebut ponsel di tangan Aaron. Tapi Aaron reflek menjauhkannya. Dia langsung mematikan
"Sudah terputus..!"
Ucap Aaron dengan wajah datar membuat
Mayra semakin kesal bukan kepalang.
"Berikan..! biarkan aku bicara dengannya..!"
Seru Mayra setengah berteriak karena kekesalan
yang sudah mencapai ubun-ubunnya.
Dia semakin maju mencoba ingin meraih ponsel
yang diangkat keatas oleh Aaron.
"Aku harus bicara dengannya..Aku ingin pulang,
dia harus segera menjemputku.."
Ucap Mayra saat dia berhasil meraih ponsel dari tangan Aaron, namun karena gerakan yang tidak teratur kaki Mayra tersandung pinggiran ranjang hingga membuat tubuhnya oleng kemudian jatuh menimpa tubuh Aaron yang reflek terdorong dan terlentang diatas tempat tidur dengan posisi
tubuh Mayra yang berada di atasnya.
Keduanya terlihat kaget sesaat, hawa panas
langsung membakar tubuh mereka membuat
wajah mereka berdua langsung memerah. Tangan Mayra menekan dada Aaron yang kancing bajunya masih terbuka beberapa bagian. Mereka terdiam saling menatap untuk beberapa saat hingga
akhirnya Mayra tersadar dan berusaha bangkit , kemudian berlari keluar dari kamar Aaron.
Mayra menangis terisak di dalam kamarnya.
Dia merutuki diri sendiri dan kebodohannya.
Kenapa Tuhan harus menempatkan dia pada
posisi tidak mengenakkan seperti ini. Kenapa
dia harus terpisah dari suaminya dan malah
mendekatkan nya dengan sosok lain yang telah
secara gamblang mengakui perasaannya.
Tidak tidak Tuhan..!! Jangan biarkan ini terus
berlanjut karena ini akan berdampak tidak baik
bagi dirinya.
Laki-laki ini sudah terlalu sering melakukan
kontak fisik dengan dirinya dan hal itu membuat mereka seakan semakin terikat satu sama lain.
Mayra menghapus air matanya kasar, dia
menarik napas pelan dan memejamkan matanya.
Tidak..cintaku hanya untuk suamiku. Akan aku
anggap ini adalah ujian cinta untuk kami berdua .
Ini adalah ujian sedalam apa cintaku pada suamiku.
Lirih Mayra dalam hati. Bayangan wajah Dirga
kini terus bermain di dalam pikirannya. Rasa rindu
nya semakin dalam. Namun apalah daya, hanya
air mata yang kini bisa mewakili perasaan nya.
..... .....
Mayra duduk lemas di kursi meja makan.
Dia menundukan muka dan kembali menarik napasnya berat mencoba menenangkan diri.
Aaron muncul dengan sudah berpakaian rapih.
Tidak perlu dibahas seperti apa gagah dan
tampannya dia saat ini. Dia itu bak titisan para
__ADS_1
dewa yang memiliki kesempurnaan rupa dan
kharisma. Namun apalah arti kesempurnaan itu
karena semua itu tidak ada dalam mata wanita
yang kini duduk di hadapannya.
Aaron menatap dingin wajah Mayra yang masih
menundukan mukanya. Dia menarik napas berat.
Keduanya mulai sarapan dengan tenang. Tak
ada kata yang keluar, mereka sama-sama diam
membisu sampai selesai.
"Maaf..! Karena aku kau berada dalam posisi
tidak nyaman seperti sekarang ini..!"
Tiba-tiba ucap Aaron setelah selesai dengan sarapannya. Mayra mendongak menatap
Aaron yang kini juga sedang menatapnya.
"Apa yang kamu harapkan dariku yang sudah
menjadi milik temanmu sendiri.!"
Ucap Mayra dengan suara sedikit bergetar.
"Aku mencintaimu dengan tulus. Aku belum
pernah jatuh cinta, aku tidak tahu harus
menempatkan hatiku dimana.! yang aku tahu,
aku hanya telah jatuh cinta padamu..!"
Ucap Aaron panjang lebar. Air mata Mayra luruh.
Jatuh membasahi pipinya. Aaron terlihat menatap
Mayra resah, dia tidak tahan melihat Mayra
menjatuhkan air mata di hadapannya.
Perlahan dia menghapus air mata Mayra.
"Jangan menangis..! Aku paling tidak suka
melihatmu menjatuhkan air mata seperti ini.!"
Ucapnya dengan suara serak. Mereka makin
berpandangan lekat.
"Karena mu aku banyak berdosa pada suamiku.!
Karena mu aku bisa saja melakukan dosa yang
lebih besar.! Kau membuatku terikat..!"
Lirih Mayra sambil berpaling muka dan berusaha
menghapus air mata yang terus saja turun.
"Sekali lagi maaf. Aku tidak punya niat untuk
menggangu hubungan kalian berdua. Aku akan
bahagia kalau kamu bahagia.."
Kembali ucap Aaron. Mayra menatap Aaron yang terlihat sangat merasa bersalah.
"Kau berhak mendapatkan cinta yang
sesungguhnya. Aku hanya berusaha untuk
tetap setia pada laki-laki yang telah mengikatku dengan ikrar suci pernikahan.."
Ucap Mayra. Aaron meraih tangan Mayra dan
menggenggam nya erat.
"Andai waktu bisa di putar, aku ingin meminta
pada Tuhan agar bisa dipertemukan lebih awal
denganmu.!"
Ucap Aaron, kemudian mencium jemari Mayra
yang sungguh aneh tidak bisa menolak sama
sekali perlakuan laki-laki ini. Tangis Mayra
semakin menjadi.
"Aku tidak akan menggangu kalian berdua lagi.
Aku akan pergi untuk urusan penting. Dirga akan
segera menjemput mu..!"
Aaron berucap sambil kemudian berdiri. Dia
mengambil sesuatu dari balik saku jasnya.
Mayra tampak terdiam membeku di tempat.
"Pakailah ini. Aku sudah menyimpan semua
nomor penting, termasuk kontak suamimu..!
Alea akan selalu menemanimu..aku pergi..!"
Ucap Aaron lagi. Mayra berdiri dengan cepat.
Mereka berpandangan lekat sesaat. Setelah itu
Aaron berbalik dan mulai melangkah. Tapi
terhenti saat mendengar Mayra terisak.
Dia menoleh melihat Mayra menangis sambil
menundukan wajahnya. Aaron memejamkan
matanya, menarik napas berat.
Setelah itu dia kembali melangkah pergi tanpa menoleh lagi membuat Mayra terduduk lemas
masih dalam keadaan terisak .
Lagi-lagi dirinya telah membuat seorang laki-laki
yang begitu peduli padanya patah hati.
Tapi apalah daya dirinya yang hanya memiliki satu
hati, dan hati itu sudah terlanjur dimiliki oleh
seseorang yang telah menikahinya secara paksa.
Mayra meraih ponsel yang tadi di berikan oleh
Aaron, kemudian membukanya. Air matanya
kembali mengalir saat melihat gambar di
beranda ponsel itu adalah fhoto Dirga. Mayra
mendekap erat ponselnya di dada sambil
kembali menangis sesegukan.
"Maass.. cepatlah datang..Aku sangat ingin
bertemu denganmu..Aku sangat merindukanmu."
Lirih Mayra di tengah isak tangisnya.
Dia tidak melihat bahwa sedari tadi Alea sudah
berdiri di pintu melihat keadaan dirinya dengan
tatapan mata yang sangat kompleks.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC....
__ADS_1