Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
101. Dilema


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Pagi yang hangat kembali menyapa. Matahari


sudah bersinar dengan terang menembus jendela


kaca kamar tidur Mayra. Saat ini Mayra baru


selesai membersihkan diri, dia memakai setelan


santai dan hanya memoles tipis wajahnya.


Setelah itu dia turun ke lantai bawah bermaksud


untuk membuat sarapan seperti biasanya. Saat


sampai di dapur dia berpapasan dengan Aaron


yang terlihat terkejut dengan kemunculan Mayra.


Keduanya saling bertatapan dalam diam.


Saat ini Aaron hanya memakai celana panjang


putih rumahan dan bagian atas tubuhnya


dibiarkan polos membuat tubuh gagah


perkasanya terpampang nyata di depan


mata Mayra.


"Apa kau tidak bisa lebih sopan sedikit.?"


Mayra berucap dengan kesal seraya memalingkan pandangan kearah lain. Aaron berjalan mendekat


membuat Mayra reflek mundur dan memejamkan


matanya. Segaris senyum tipis tersungging di


sudut bibir Aaron.


"Hari ini aku meliburkan pelayan..!"


Bisiknya di dekat telinga Mayra membuat Mayra


terperanjat dan spontan membuka mata, keduanya


saling menatap tajam. Aroma wangi maskulin


dari tubuh Aaron menyeruak menabrak Indra


penciuman Mayra membuat dia kembali mundur.


"Kau sangat tidak sopan..!"


Desis Mayra sambil kemudian berjalan


melewati Aaron yang hanya tersenyum tipis.


Setelah itu dia berlalu pergi menuju kedalam


kamar nya. Tadi malam Aaron memutuskan untuk tidur di Penthouse ini sebab Alea baru bisa pulang


menjelang dini hari.


Tidak lama Aaron sudah keluar dari dalam


kamarnya dengan memakai atasan putih


untuk menutupi tubuhnya, sepertinya dia


bermaksud untuk pergi berolahraga di bagian belakang Penthouse nya.


Mayra saat ini sedang menyiapkan beberapa


bahan masakannya. Setelah semua siap dia mengambil beberapa bumbu di atas lemari,


namun sepertinya tidak terjangkau karena


terlalu tinggi untuk dapat di gapainya. Aaron


yang melihat hal itu tampak menghampiri


dan berdiri di belakang Mayra.


Tangannya terulur membuka lemari membuat


Mayra terkejut, hal itu membuat dia mundur


secara tiba-tiba dan menabrak tubuh Aaron yang berdiri belakangnya. Sontak saja tubuh Mayra terhuyung ke belakang membuat Aaron reflek menahan pinggangnya, dan kini mereka berada


dalam posisi intim saling berpandangan kuat.


Dada Aaron langsung berdebar kencang, napasnya tiba-tiba tak beraturan, mendapati wajah cantik


Mayra yang kini ada dalam kungkungannya.


Mayra segera mengambil posisi berdiri tegak


dengan semburat merah memenuhi wajahnya, kemudian dia menjauh dari Aaron. Keduanya


terlihat canggung untuk sesaat.


Aaron kembali mendekat membuat Mayra


kembali mundur, tangan Aaron menyimpan


kotak bumbu di hadapan Mayra dengan senyum


tipis tercipta di bibirnya membuat wajah Mayra kembali memerah. Setelah itu Aaron membuka


lemari pendingin mengambil sebotol air mineral


kemudian berlalu pergi menuju ruang olahraga.


Mayra menghela napas panjang seraya


memegang dadanya yang terasa sesak.


Tuhan..ini tidak bisa di biarkan terus. Dia


tidak boleh terus menerus berinteraksi


dengan laki-laki ini. Dia adalah pria lain yang


bukan muhrimnya dan itu sangat terlarang.


Mayra harus segera menghubungi Dirga untuk


meminta menjemput nya. Ini tidak bisa dibiarkan


terlalu lama.


Cukup lama Mayra sibuk dengan aktivitas


favoritnya. Dia mencoba menyiapkan beberapa


menu umum yang sekiranya cocok dengan lidah


dan selera Aaron serta Alea.


..... .....


Mayra menata hidangan hasil kerja keras nya


di atas meja makan bundar yang terbuat dari


porselen cantik dan mewah. Dia tampak


tersenyum puas.


Sepertinya Alea masih ada di kamarnya, Mayra memutuskan untuk memanggilnya. Dia tiba di


depan pintu kamarnya, kemudian mencoba mengetuknya beberapa kali. Tapi kelihatannya


Alea memang belum bangun, akhirnya Mayra menekan password pintu kamar Alea, dan tidak


lama pintu pun terbuka otomatis.


Dia masuk kedalam kamar, terlihat sedikit


berantakan. Tas kerja dan sepatu berserakan


tidak pada tempatnya. Mayra mencoba untuk


merapihkan nya. Dia melihat sebuah name tag


diatas meja kerja Alea. Di sana tertera nama


lengkap Alea. Dan yang membuat Mayra tertegun


adalah jabatan yang Alea pegang sebagai Direktur

__ADS_1


utama sebuah rumah sakit.


"Alea..apa kau tidak ingin sarapan sekarang.?"


Tanya Mayra pelan di samping Alea yang terlihat


masih sangat ngantuk.


"Kalian sarapan duluan ya, aku masih sangat


ngantuk..Aku pulang dini hari tadi."


"Baiklah kalau begitu..Apa kau memerlukan


sesuatu.?"


"Tidak.. terimakasih.."


"Kalau begitu aku keluar ya.."


"Hemm.."


Mayra akhirnya keluar dari dalam kamar Alea.


Saat sampai di luar dia terlihat bingung, apa harus


memberitahu Aaron ataukah tidak. Tapi akhirnya


dia mendekat ke pintu kamar Aaron yang ternyata


tidak terkunci. Mayra bermaksud mengetuk pintu


ketika tiba-tiba dia mendengar suara Aaron yang sedang berbicara dengan seseorang di telpon.


"Dia baik-baik saja..!"


"Aku akan segera menjemputnya, biarkan aku


bicara dengannya sekarang..!"


"Kau bereskan dulu masalahmu..!"


"Kau sudah kuberi waktu yang cukup untuk


bersamanya, perjanjian selesai, sekarang aku


akan mengambil milikku kembali..! Kalau tidak


jangan salahkan aku..!"


"Kau tidak perlu mengancam ku..! Aku tahu


dia milkkmu, tapi rencana bisa saja berubah.!"


"Apa maksudmu brengsek..?!"


"Kalau dia lebih memilih ku..! kau harus rela


melepasnya..!"


"Aaron.. ******** kamu..!"


"Hahaa.. kelihatannya dia lebih nyaman


denganku.! Dia bahagia di sini..!"


"Cihh !! hidupmu bahkan lebih rumit dariku,


tapi kau berani menjamin dia bisa bahagia


bersamamu..!"


Mayra tidak tahan lagi, dia yakin Aaron sedang berbicara dengan Dirga. Tanpa menunggu lama


dia masuk kedalam kamar, langsung menghampiri


Aaron yang sedang duduk di pinggir kasur.


Mayra berdiri dihadapan Aaron yang bengong


sesaat melihat kemunculannya yang tiba-tiba.


"Berikan ponselnya, aku mau bicara dengan


suamiku..!"


Ucap Mayra ngambek sambil maju mau merebut ponsel di tangan Aaron. Tapi Aaron reflek menjauhkannya. Dia langsung mematikan


"Sudah terputus..!"


Ucap Aaron dengan wajah datar membuat


Mayra semakin kesal bukan kepalang.


"Berikan..! biarkan aku bicara dengannya..!"


Seru Mayra setengah berteriak karena kekesalan


yang sudah mencapai ubun-ubunnya.


Dia semakin maju mencoba ingin meraih ponsel


yang diangkat keatas oleh Aaron.


"Aku harus bicara dengannya..Aku ingin pulang,


dia harus segera menjemputku.."


Ucap Mayra saat dia berhasil meraih ponsel dari tangan Aaron, namun karena gerakan yang tidak teratur kaki Mayra tersandung pinggiran ranjang hingga membuat tubuhnya oleng kemudian jatuh menimpa tubuh Aaron yang reflek terdorong dan terlentang diatas tempat tidur dengan posisi


tubuh Mayra yang berada di atasnya.


Keduanya terlihat kaget sesaat, hawa panas


langsung membakar tubuh mereka membuat


wajah mereka berdua langsung memerah. Tangan Mayra menekan dada Aaron yang kancing bajunya masih terbuka beberapa bagian. Mereka terdiam saling menatap untuk beberapa saat hingga


akhirnya Mayra tersadar dan berusaha bangkit , kemudian berlari keluar dari kamar Aaron.


Mayra menangis terisak di dalam kamarnya.


Dia merutuki diri sendiri dan kebodohannya.


Kenapa Tuhan harus menempatkan dia pada


posisi tidak mengenakkan seperti ini. Kenapa


dia harus terpisah dari suaminya dan malah


mendekatkan nya dengan sosok lain yang telah


secara gamblang mengakui perasaannya.


Tidak tidak Tuhan..!! Jangan biarkan ini terus


berlanjut karena ini akan berdampak tidak baik


bagi dirinya.


Laki-laki ini sudah terlalu sering melakukan


kontak fisik dengan dirinya dan hal itu membuat mereka seakan semakin terikat satu sama lain.


Mayra menghapus air matanya kasar, dia


menarik napas pelan dan memejamkan matanya.


Tidak..cintaku hanya untuk suamiku. Akan aku


anggap ini adalah ujian cinta untuk kami berdua .


Ini adalah ujian sedalam apa cintaku pada suamiku.


Lirih Mayra dalam hati. Bayangan wajah Dirga


kini terus bermain di dalam pikirannya. Rasa rindu


nya semakin dalam. Namun apalah daya, hanya


air mata yang kini bisa mewakili perasaan nya.


..... .....


Mayra duduk lemas di kursi meja makan.


Dia menundukan muka dan kembali menarik napasnya berat mencoba menenangkan diri.


Aaron muncul dengan sudah berpakaian rapih.


Tidak perlu dibahas seperti apa gagah dan


tampannya dia saat ini. Dia itu bak titisan para

__ADS_1


dewa yang memiliki kesempurnaan rupa dan


kharisma. Namun apalah arti kesempurnaan itu


karena semua itu tidak ada dalam mata wanita


yang kini duduk di hadapannya.


Aaron menatap dingin wajah Mayra yang masih


menundukan mukanya. Dia menarik napas berat.


Keduanya mulai sarapan dengan tenang. Tak


ada kata yang keluar, mereka sama-sama diam


membisu sampai selesai.


"Maaf..! Karena aku kau berada dalam posisi


tidak nyaman seperti sekarang ini..!"


Tiba-tiba ucap Aaron setelah selesai dengan sarapannya. Mayra mendongak menatap


Aaron yang kini juga sedang menatapnya.


"Apa yang kamu harapkan dariku yang sudah


menjadi milik temanmu sendiri.!"


Ucap Mayra dengan suara sedikit bergetar.


"Aku mencintaimu dengan tulus. Aku belum


pernah jatuh cinta, aku tidak tahu harus


menempatkan hatiku dimana.! yang aku tahu,


aku hanya telah jatuh cinta padamu..!"


Ucap Aaron panjang lebar. Air mata Mayra luruh.


Jatuh membasahi pipinya. Aaron terlihat menatap


Mayra resah, dia tidak tahan melihat Mayra


menjatuhkan air mata di hadapannya.


Perlahan dia menghapus air mata Mayra.


"Jangan menangis..! Aku paling tidak suka


melihatmu menjatuhkan air mata seperti ini.!"


Ucapnya dengan suara serak. Mereka makin


berpandangan lekat.


"Karena mu aku banyak berdosa pada suamiku.!


Karena mu aku bisa saja melakukan dosa yang


lebih besar.! Kau membuatku terikat..!"


Lirih Mayra sambil berpaling muka dan berusaha


menghapus air mata yang terus saja turun.


"Sekali lagi maaf. Aku tidak punya niat untuk


menggangu hubungan kalian berdua. Aku akan


bahagia kalau kamu bahagia.."


Kembali ucap Aaron. Mayra menatap Aaron yang terlihat sangat merasa bersalah.


"Kau berhak mendapatkan cinta yang


sesungguhnya. Aku hanya berusaha untuk


tetap setia pada laki-laki yang telah mengikatku dengan ikrar suci pernikahan.."


Ucap Mayra. Aaron meraih tangan Mayra dan


menggenggam nya erat.


"Andai waktu bisa di putar, aku ingin meminta


pada Tuhan agar bisa dipertemukan lebih awal


denganmu.!"


Ucap Aaron, kemudian mencium jemari Mayra


yang sungguh aneh tidak bisa menolak sama


sekali perlakuan laki-laki ini. Tangis Mayra


semakin menjadi.


"Aku tidak akan menggangu kalian berdua lagi.


Aku akan pergi untuk urusan penting. Dirga akan


segera menjemput mu..!"


Aaron berucap sambil kemudian berdiri. Dia


mengambil sesuatu dari balik saku jasnya.


Mayra tampak terdiam membeku di tempat.


"Pakailah ini. Aku sudah menyimpan semua


nomor penting, termasuk kontak suamimu..!


Alea akan selalu menemanimu..aku pergi..!"


Ucap Aaron lagi. Mayra berdiri dengan cepat.


Mereka berpandangan lekat sesaat. Setelah itu


Aaron berbalik dan mulai melangkah. Tapi


terhenti saat mendengar Mayra terisak.


Dia menoleh melihat Mayra menangis sambil


menundukan wajahnya. Aaron memejamkan


matanya, menarik napas berat.


Setelah itu dia kembali melangkah pergi tanpa menoleh lagi membuat Mayra terduduk lemas


masih dalam keadaan terisak .


Lagi-lagi dirinya telah membuat seorang laki-laki


yang begitu peduli padanya patah hati.


Tapi apalah daya dirinya yang hanya memiliki satu


hati, dan hati itu sudah terlanjur dimiliki oleh


seseorang yang telah menikahinya secara paksa.


Mayra meraih ponsel yang tadi di berikan oleh


Aaron, kemudian membukanya. Air matanya


kembali mengalir saat melihat gambar di


beranda ponsel itu adalah fhoto Dirga. Mayra


mendekap erat ponselnya di dada sambil


kembali menangis sesegukan.


"Maass.. cepatlah datang..Aku sangat ingin


bertemu denganmu..Aku sangat merindukanmu."


Lirih Mayra di tengah isak tangisnya.


Dia tidak melihat bahwa sedari tadi Alea sudah


berdiri di pintu melihat keadaan dirinya dengan


tatapan mata yang sangat kompleks.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC....

__ADS_1


__ADS_2