
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Hari berikutnya Mayra di sibukkan dengan kegiatan pemotretan untuk sebuah produk fashion pakaian muslim dari brand ternama yang sangat laris di negeri ini. Ada banyak produk fashion baru yang akan dikeluarkan oleh brand ini.
Sang pemilik brand adalah mantan model terkenal yang beralih profesi menjadi desainer khusus pakaian muslim dengan model syar'i ataupun model kekinian.
Semua produk yang di keluarkan nya selalu menjadi trend mode terkini dan terlaris di pasan.
Bahkan banyak yang menjiplak karya-karyanya tanpa memperhatikan kualitas dan hanya mementingkan keuntungan semata.
Mayra harus syuting sampai larut malam untuk melakukan pengambilan gambar produk ini.
Sebab di siang hari dia melakukan pemotretan terlebih dahulu, setelah itu baru pengambilan gambar untuk tayangan iklannya.
Semua kru yang terlibat nampak puas dan takjub dengan hasil yang telah di tampilkan oleh Mayra.
Semuanya benar-benar di luar ekspektasi mereka.
Sang pemilik brand sampai menunggui Mayra melakukan syuting hingga akhir.
Kepuasan terpancar dari raut mukanya karena hasilnya sangat maksimal.
"Terimakasih ya Mayra..Kamu sangat luar biasa hari ini. Patut di perhitungkan.!"
Ucap sang owner sambil mengacungkan jempolnya.
Wajahnya terlihat sangat puas.Mayra hanya tersenyum manis sambil mengangguk.
"Sama-sama mbak, saya hanya berusaha semampu saya."
Balas Mayra. Mereka berjalan beriringan keluar dari studio yang menjadi lokasi syuting.
Hingga akhirnya berhenti di loby kantor perusahaan brand tersebut. Wajah Mayra sudah terlihat sangat kelelahan. Tubuhnya juga sangat gerah dan ingin segera berendam untuk memulihkan kebugarannya.
"Baiklah kita berpisah disini. Saya harus ke kantor terlebih dulu ,ada urusan sedikit, kalau ada yang penting nanti saya hubungi manajer kamu ya."
Ucap sang owner sambil merangkul Mayra.
Mayra hanya mengangguk dan tersenyum.
Setelah itu dia berlalu menuju kantor nya di lantai atas.
Mayra menghela napas panjang, dia ingin segera pulang. Namun langkahnya terhenti saat melihat
sebuah mobil Lamborghini Huracan EVO warna merah mengkilap tiba2 berhenti tepat di depan loby kantor.
Mereka semua yang ada di tempat itu tampak ternganga melihat kemunculan mobil mewah tersebut.
Mayra juga terlihat tertegun melihat mobil itu.
Jane yang tersadar lebih dulu dan dia mengetahui pasti siapa orang yang ada di dalam mobil sport mewah itu.
"Nyonya.. sepertinya anda sudah di jemput.!"
Bisik Jane yang berdiri di belakang tubuh Mayra.
"Apa maksudmu Jane.?"
Tanya Mayra menautkan alisnya tidak mengerti.
Jane tersenyum tipis.
"Tuan datang menjemput anda nyonya.!"
Jawabnya seraya menatap lurus ke arah mobil merah itu terparkir. Mayra terkejut sesaat. Wajahnya mendadak merah dan sedikit tegang.
Silvia yang mendengar bisikan Jane sontak menutup mulutnya yang hampir berteriak histeris.
"Maksud kamu, mobil mewah itu datang untuk menjemput Mayra Jane.?"
Tanyanya ikut berbisik dengan wajah yang benar-benar shock tak percaya. Dan Jane hanya mengangguk kecil.
"What..?? yang benar saja.! Ini pasti mimpi.! Aku pasti mimpi kan.!"
Ucap Silvia sambil menepuk-nepuk pipinya ingin meyakinkan diri bahwa semuanya bukan mimpi.
"Baiklah..aku akan kesana melihatnya. Kalian nanti pulang berdua ya."
Ucap Mayra setelah bisa menguasai dirinya.
__ADS_1
Akhirnya dia berjalan ke arah mobil merah itu berada.
Setelah sampai di samping mobil itu sang pengemudi membuka pintu mobilnya otomatis.
Dan kini nampaklah sudah seseorang di balik kemudi.
Pria arogan, pria angkuh, tapi juga pria yang sangat tampan serta mempesona tengah duduk keren memegang kemudi dengan tatapan yang terlihat sudah sangat kesal.
"Kenapa lama sekali.?"
Ucapnya dengan ketus. Mayra mendengus sebal, belum apa-apa sudah emosi pikirnya.
"Mana aku tahu kalau ini kau.."
"Cepat masuk.!"
Potong Dirga. Dengan sedikit kesal akhir nya Mayra masuk ke dalam mobil itu, dan pintu otomatis tertutup.
Silvia benar-benar melongo melihat Mayra masuk ke dalam mobil mewah itu yang kini sudah melesat pergi dari hadapan mereka. Namun dia tidak bisa melihat siapa orang yang ada di dalam mobil tersebut, membuatnya semakin penasaran akan teka teki yang menyelimuti kehidupan Mayra sekarang ini.
**********
Mayra hanya bisa terdiam selama perjalanan. Dirga tampak terus melirik kearah Mayra. Ada sorot mata yang terlihat sangat bahagia bisa bersama dengan istri keduanya ini. Beberapa hari tidak bisa menemui wanita ini karena kesibukan yang menyita waktunya, membuat dia sangat frustasi. Emosinya juga seakan tidak terkontrol. Akibatnya orang-orang yang berinteraksi dengannya dalam setiap pertemuan menjadi sasaran pelampiasan emosinya yang labil.
"Kau memutuskan sesuatu tanpa meminta persetujuan ku lebih dulu.! apa kau pikir itu sudah benar.?!"
Dirga akhirnya membuka suara. Mayra melirik dan menatap Dirga sekilas, dia tidak mengerti maksud suaminya itu.
"Maksudmu..? aku tidak mengerti.!"
"Kau tidak mengerti atau pura-pura tidak tahu.?!"
Ketus Dirga. Dia menatap Mayra sekilas kemudian fokus kembali ke jalanan yang cukup lengang sehingga mobilnya bisa bebas melaju dengan kecepatan tinggi.
"Kau bisa memperlambat mobilmu tidak, aku takut..!"
Ucap Mayra sambil mencengkram sabuk pengaman di dekat dadanya. Dirga seketika langsung melambatkan laju mobilnya.
"Jawab dulu pertanyaan ku.!"
"Pertanyaan yang mana..?"
"Kau berhenti jadi sekretaris, terus sekarang beralih profesi.! kenapa tidak meminta persetujuan ku dulu, aku ini masih suami kamu ! Aku berhak tahu apapun yang kamu putuskan.!"
Ucap Dirga dengan suara sedikit keras.
Mayra terhenyak, dia terdiam bingung. Memang sempat terpikir olehnya untuk memberitahu suaminya itu, tapi dia merasa dirinya tidak terlalu penting di mata laki-laki itu.
"Maaf..aku pikir ini bukanlah hal yang penting untuk kau ketahui..!"
"Jadi kau menganggap ku tidak begitu penting.?
Kau tidak mengakui keberadaan ku hahh..!!"
Sentak Dirga keras. Mobilnya berhenti seketika
membuat tubuh Mayra terhuyung ke depan karena gerakan tiba-tiba itu, namun ketika kepalanya hampir membentur dashboard, dengan gerakan cepat tangan kiri Dirga sudah terulur menahannya. Mayra hanya bisa meringis kaget memegang keningnya sambil menatap tajam kearah Dirga.
Kini kedua mata mereka saling menatap tajam.
"Apa aku cukup penting bagimu tuan.. Sehingga kau juga ingin dianggap penting olehku..!"
Tanya Mayra dengan tatapan yang sangat kuat dan menusuk hingga menembus jantung Dirga.
Dirga tertegun, terdiam mendengar pertanyaan Mayra.
Jawaban apa yang kini ada di dalam hatinya atas pertanyaan istrinya itu?
Apa wanita ini memang cukup penting bagi dirinya.?
Yaa..dia memang cukup penting, untuk memberikan dirinya keturunan. Bukankah sedari awal itu adalah tujuan dia menikahi wanita ini.!?
Tapi kenapa, sekarang ini dia seakan sudah merubah
arah dan tujuan ? Bukan lagi hanya sekedar ingin mendapatkan keturunan semata dari wanita ini.
Tapi dia ingin memiliki wanita ini seutuhnya.
"Jawab aku tuan.! kalau kau ingin dianggap penting olehku, lalu bagaimana denganku.!?"
__ADS_1
Kembali terdengar suara Mayra yang membuat Dirga tersadar dari lamunannya.
Dirga memalingkan mukanya. Dia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kalau kau tidak penting, aku tidak mungkin akan menikahimu..!"
Jawabnya dengan raut muka kembali datar.
Mayra melengos, dia memalingkan muka ke arah luar jendela mobil. Hatinya saat ini di penuhi perasan yang sangat rumit. Entah apa yang di rasakan dan di inginkan nya sebenarnya.
"Ya tentu.! Aku cukup penting untuk memberimu keturunan..! tidak lebih dari itu kan..?"
Ucap Mayra lemah. Dirga memejamkan matanya, ada sesuatu yang terasa mengiris ulu hatinya saat ini.
Tangannya terkepal kuat diatas kemudi.
"Baiklah kalau begitu, sebelum aku memenuhi semua keinginanmu, biarkan aku menjalani apapun yang aku mau sekarang. Mungkin nanti setelah aku hamil dan melahirkan anak untukmu, hidupku sudah tidak semudah seperti sekarang lagi.."
Ucap Mayra lagi. Air mata tiba tiba saja meluncur membasahi pipi mulusnya. Dia terisak dalam diam.
Dirga hanya bisa terdiam menahan hantaman perasaan tidak nyaman melihat Mayra menangis.
Ada rasa sesal yang menggunung dalam hatinya saat ini, kenapa dia harus selalu membuat wanita ini menangis.
..... .....
Dirga membawa mobilnya bukan ke arah apartemen Mayra, tapi masuk ke sebuah hotel mewah tidak jauh dari pusat kota. Mayra yang tertidur karena kelelahan setelah menangis, tidak menyadari saat tubuhnya diangkat oleh Dirga di bawa masuk ke dalam hotel dengan lift khusus menuju sebuah kamar 'Presiden Suite' yang ada di lantai paling atas.
Hotel ini adalah salah satu hotel milik keluarga Moolay. Dan Dirga menyiapkan satu kamar khusus
untuk dirinya. Kamar hotel ini sering di gunakannya saat ingin menyendiri dan mencari ketenangan.
Bahkan Evelyin sendiri tidak pernah datang ataupun mengetahui keberadaan kamar khusus ini.
Dirga merebahkan tubuh Mayra dengan hati-hati diatas tempat tidur yang sangat besar bernuansa putih. Di lepasnya hijab yang menutupi kepalanya dengan perlahan dan lembut.
Ditatapnya wajah cantik nan elok itu lekat-lekat.
Sungguh aneh, dia tidak pernah bisa menahan diri, selalu saja ingin memiliki wanita ini setiap kali berada di dekatnya.
Dadanya berdebar hebat, jantungnya berdetak kencang saat melihat wajah cantik itu berada tepat di hadapannya.
Dirga mengecup lembut kening Mayra, kemudian turun ke pipinya, setelah itu berpindah ke bibir nya yang sedari tadi sudah sangat menggodanya.
Di kecupnya bibir mungil itu, kemudian mulai melumatnya lembut, menyesap dan menjilatnya penuh perasaan, terasa begitu manis dan membuai, membuatnya tidak ingin melepaskan nya.
Saat dia sedang asik dengan kegiatannya sendiri, Mayra membuka matanya perlahan. Matanya tertuju pada wajah tampan dihadapannya yang sedang mencumbu lembut bibirnya.
Mayra mendorong bahu Dirga melepaskan ciuman hangatnya. Dia bangkit kemudian terduduk di dekat kepala ranjang. Dirga tampak menatapnya hampa karena ciumannya terlepas begitu saja.
Mayra melihat ke sekeliling ruangan di kamar hotel itu.
Ini tempat asing, Mayra tidak mengenalinya.
"Di mana kita.?"
Tanya Mayra dengan pandangan masih menyapu ke sekitar ruangan.
"Di hotel."
"Kenapa kau membawaku kesini.?"
"Kau tidak suka ?"
Tanya Dirga dengan menautkan kedua alisnya.
"Tidak.! aku ingin ke apartemen saja !"
Ucap Mayra sambil kemudian bangkit dan turun dari ranjang. Dirga menatap kesal kearah Mayra.
"Ini sudah sangat malam..! lagipula ini hotelku.!
Kau bisa bebas melakukan apapun disini.!"
Ucap Dirga sedikit keras karena kesal dengan reaksi Mayra yang seolah begitu tidak suka dirinya membawanya ke hotel ini.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....
__ADS_1