
***********
Seminggu sudah Mayra berada di Penthouse
milik Aaron. Dia tinggal di tempat mewah ini
di temani oleh Alea dan beberapa pelayan
yang bekerja paruh waktu.
Kesehatannya sudah mulai pulih sepenuhnya
karena perawatan yang di lakukan oleh Alea.
Segala kebutuhan dirinya sampai hal terkecil
sekalipun telah tersedia di tempat ini sesuai
dengan seleranya dengan sangat komplit
seakan Aaron sudah sangat mengenalnya
dengan baik. Hal ini membuat Mayra sedikit
bingung terhadap sosok laki-laki yang selalu
di pertemukan dengan dirinya pada saat
yang tidak terduga itu.
Masih banyak hal yang terkesan misteri dari kehidupan seorang Aaron. Sejak pertemuan
mereka saat Mayra tersadar, Aaron baru sekali
datang ke Penthouse itu. Dan itupun tidak ada
pembicaraan di antara mereka, karena Aaron
hanya datang sebentar untuk melihat kondisi
dirinya. Dia hanya berbicara dengan Alea saja.
Entahlah mungkin dia terlalu sibuk dengan segala
urusan pekerjaan nya. Atau mungkin juga sengaja tidak ingin terlalu sering bertemu, yang jelas Mayra tidak begitu peduli.
Yang dia pedulikan saat ini adalah kerinduannya
terhadap Dirga. Kerinduan yang sudah sangat menyiksa bathin nya. Namun seringkali terbersit dalam pikirannya, apakah Dirga sengaja membuang dirinya di tempat antah berantah ini.
Dia tidak bisa menghubungi Dirga untuk bertanya mengenai semua hal yang kini sedang di alaminya. Baginya semua ini masih terasa seperti hitam putih tanpa kejelasan. Dia tidak memegang ponsel karena semua barang penting nya tidak ada satu pun yang terbawa.
Sebenarnya Mayra hanya tidak menyadari kalau
Aaron selalu datang setiap malam untuk melihat keadaannya. Dan Setelah puas dia akan pergi
kembali yang entah kemana.
Saat ini Mayra sangat ingin bertemu dengan
Aaron untuk bertanya segalanya agar menjadi
lebih jelas. Karena baginya sekarang ini dia masih
merasa seakan ada dalam dunia mimpi yang
tidak jelas. Dia merasa kini dirinya terbuang,
tak ada seorangpun yang bisa diajak bicara.
Alea sendiri pun tidak bisa memberi penjelasan
seperti yang dia inginkan.
Akhirnya pagi ini Mayra memberanikan diri
bertanya pada kepala pelayan.
"Apa anda bisa mengantarku bertemu dengan
Tuan Aaron..?"
Tanya Mayra saat dirinya sedang menyiapkan
sarapan. Walaupun sudah dilarang oleh kepala
pelayan, tapi Mayra memaksa ingin menyiapkan
sarapan sendiri untuknya dan Alea. Kepala pelayan tampak bingung dan ragu untuk menjawab.
"Maaf Nyonya.. Saya tidak berani."
Ucap nya sambil menunduk. Mayra
mengernyitkan alisnya karena merasa heran
dengan sikap kepala pelayan itu.
"Aku mohon..aku harus bertemu dengannya.!
Ada hal yang harus aku tanyakan padanya..!"
Kembali rajuk Mayra dengan wajah memelasnya.
Para pelayan saling pandang. Mereka terlihat
tidak tega dengan wajah memelas wanita yang sengaja di simpan oleh Tuan nya ini.
Wanita yang begitu cantik dan anggun dengan
pesona yang sangat luar biasa. Mereka bahkan merasa wanita inilah yang pantas bersanding
dengan Tuan mereka yang berharga.
"Kalau kau mau bertemu, kakak bisa datang
kesini kapan saja.."
Tiba-tiba Alea muncul di dekat meja makan dalam
keadaan sudah siap berpakaian dinas. Mayra
melihat Alea kemudian segera duduk di kursinya.
"Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya.
Apa dia bisa datang kesini..?"
"Kenapa, kau merindukan nya..?"
Mayra tersentak, dia menatap tajam Alea yang
kini sudah duduk di hadapannya.
"Aku merindukan suamiku..Aku ingin Aaron
segera mempertemukan aku dengannya..!"
"Apa kau sangat mencintai suamimu..?"
Tanya Alea menatap intens wajah Mayra yang kini
memerah. Harus Alea akui bahwa wanita yang ada
di hadapannya ini mempunyai rupa yang sangat
sempurna dan istimewa. Pantas saja Aaron bisa
luluh dan jatuh dalam pesonanya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu.?"
"Apa kau tahu sesuatu.?"
"Mengenai apa.?"
"Kalau kakakku sangat mencintaimu..! Bahkan
mungkin lebih dari suamimu..!"
Mayra terhenyak. Dia menatap tajam Alea dengan
sorot mata tidak percaya. Benarkah semua yang
dikatakan Alea ? setahu dia Aaron adalah laki-laki
paling dingin yang pernah di kenalnya.
"Apa alasan dia harus menjatuhkan pilihan hatinya
__ADS_1
padaku, karena aku sudah menjadi milik temannya."
Mayra berucap sambil menunduk. Mengocek susu
di gelas tanpa meminumnya.
"Cinta tak perlu alasan, cinta juga tidak bisa
memilih kepada siapa hati akan berlabuh..!
Tapi kita sendiri lah yang akan menentukan
pilihan hidup kita.!"
Ucap Alea. Mayra terdiam, dia mulai meneguk
susu nya perlahan.
"Apa kau ada hubungan keluarga dengannya..?"
"Kenapa memangnya, apa kau cemburu padaku.?"
Mayra mendongak, menatap Alea jengah.
"Kau ini bicara apa.! Aku hanya ingin tahu saja.!"
"Itu tandanya kau mulai tertarik dengan
kehidupan pribadi kakakku..!"
"Apa dia kakakmu..?"
Tanya Mayra . Alea tersenyum.
"Dia adalah seseorang yang sangat berharga
bagi kami..Aku adalah saudari sepupu dari
ibunya..!"
Jawab Alea sambil kemudian mengakhiri
sarapannya. Mayra kembali terdiam.
"Kalian berasal dari negara ini..?"
Kembali Mayra bertanya dan mendapat
sambutan senyum dari Alea. Dia menatap lembut wajah cantik Mayra.
"Kak Aaron memiliki dua kewarganegaraan..
Ayahnya berasal dari kerajaan sebelah, sementara ibunya berasal dari negara ini.."
Jawab Alea. Mayra terdiam terpaku.
"Bertanyalah langsung padanya kalau kamu ingin
tahu seluruhnya tentang dia. Aku harus ke rumah
sakit sekarang..!"
Ucap Alea sambil kemudian berdiri dan mengambil
tas kerjanya.
"Hati-hati..jaga dirimu.."
Ucap Mayra seraya ikut berdiri .
"Kau juga. Mungkin aku akan pulang malam, ada
banyak masalah yang harus aku tangani.."
Sambut Alea sambil kemudian mengecup lembut
pipi Mayra yang langsung tersipu.
"Kau sangat cantik, pantas saja kakakku sampai
berani berkorban dengan menyumbangkan darah
berharga nya untukmu..!"
Kembali ucap Alea sambil kemudian melangkah
pergi meninggalkan Mayra yang membeku
itu.?? Kenapa dia baru tahu sekarang..??
***** *****
Malam mulai menyelimuti langit kota xxx..
yang cerah dan dingin. Beginilah rutinitas membosankan yang di jalani Mayra, terdiam
di dalam sebuah bangunan megah bak burung
dalam sangkar. Selesai sholat isya dia duduk termenung di pinggir tempat tidur, larut dalam lamunan kerinduan terhadap Dirga. Tidak ada
sesuatu apapun yang bisa menjadi pelipur rasa rindunya saat ini, walau itu hanya sekedar fhoto saja.
Mayra beranjak melangkah ke pinggir jendela.
Seperti biasa dia akan berdiri di sana menikmati
keindahan pemandangan malam kota yang
di hiasi kerlip bintang di langit dan gemerlapnya
lampu malam yang terhampar di bawah
pandangan matanya. Bangunan Penthouse ini
terletak di lantai 52, tentu saja Mayra bisa melihat keseluruhan kota dengan sangat jelas, karena kamarnya ini juga di kelilingi oleh jendela-jendela besar dan tinggi.
Sampai larut malam Alea belum juga kembali ke Penthouse. Mayra merasa sedikit takut, karena
berada sendirian di bangunan sebesar ini.
Malam semakin larut, tapi Mayra belum juga bisa
memejamkan matanya. Tubuhnya berguling
kesana kemari, gelisah tak menentu.
Akhirnya Mayra bangkit. Dia turun dari tempat
tidur, tubuhnya terasa sedikit gerah. Dia membuka
jilbabnya dan membiarkan rambutnya tergerai
bebas. Gaun malamnya yang terbuat dari sutra
dibiarkan tanpa mantel.
Mayra melangkah keluar dari kamar berjalan
menuju ke balkon, tempat kesukaannya yang
biasa dia gunakan untuk bersantai sambil
membaca buku dan mencari angin segar.
Di balkon ini dia bisa melihat dengan jelas pemandangan di bawah gedung ini.
Mayra berdiri di pinggir balkon, merentangkan
tangan membiarkan angin malam yang sejuk
menerpa tubuhnya. Membuat lekuk tubuhnya
yang indah tercetak jelas. Mayra memejamkan
matanya membiarkan bayangan wajah Dirga
tergambar jelas di pelupuk matanya.
"Mas..aku sangat merindukanmu..kenapa aku
merasa bahwa kau sengaja membuangku.."
Gumam Mayra masih memejamkan matanya.
Dia tidak menyadari Aaron telah berdiri di pintu
masuk balkon. Dia tampak mematung di tempat melihat pemandangan indah di depan matanya.
Aaron terkesima melihat penampakan Mayra
saat ini. Berdiri tenang dengan rambut tergerai
indah tertiup angin malam. Keindahan tubuhnya tercetak jelas dibalik gaun malam yang rapat di
__ADS_1
badan karena terpaan angin yang cukup kencang.
Darah Aaron berdesir, hawa panas perlahan
mulai menjalar mengaliri seluruh nadinya,
napasnya menjadi berat, jiwa lelakinya bangkit.
Dia berusaha menelan salivanya yang terasa mengganjal di tenggorokan. Aaron memejamkan mata, mencoba mengatur pernapasannya, dia berusaha mengontrol diri dan pikiran liarnya
yang saat ini menggedor jiwanya membangkitkan hasratnya seketika.
Dia kembali masuk kedalam.
Mayra masih berdiri, tapi kini dia mulai merasakan
hawa dingin menusuk ke dalam tulangnya. Dia
merapatkan tangannya di dada, menggosok
telapak tangannya pelan, dirinya masih enggan
untuk beranjak dari tempatnya berdiri. Matanya
kembali terpejam, bayangan wajah Dirga terus bermain di pelupuk matanya.
Tiba-tiba sebuah tangan terulur membuat Mayra
tersentak kaget, dia membalikan badannya,
matanya terpaku saat bertemu pandang
dengan sosok laki-laki tampan yang saat ini
berdiri di depannya. Aaron memakaikan mantel
ke tubuh Mayra yang hanya terdiam kaku dengan
terus menatap lembut wajah cantik Mayra.
Perlahan tangan Aaron bergerak merapihkan
rambut Mayra yang terbang tertiup angin. Mata
Mayra masih menatap lurus wajah Aaron yang
kali ini terlihat benar-benar tampan tanpa
tampang bengisnya. Wajah yang tercipta
begitu sempurna tanpa cela dengan segala
kharisma unik yang dimilikinya.
Tangan Aaron sedikit bergetar saat mengulurkan
hijab menutupi rambut indah Mayra yang kini
tersadar atas dirinya yang barusan sempat
terpesona oleh laki-laki yang bukan muhrimnya
ini. Mayra segera beristighfar. Dia mengutuk diri
sendiri atas zina mata dan hati yang barusan telah
dilakukannya.
Dengan segera Mayra mengambil hijab yang
terulur dari tangan Aaron, tanpa sengaja tangan mereka saling bersentuhan membuat tubuh
mereka terasa seperti tersengat aliran listrik. Keduanya reflek mundur menjauh satu sama lain. Saling memalingkan wajah ke sembarang arah.
Mereka terdiam beberapa saat, membisu
dengan isi pikiran masing-masing. Semua
pertanyaan yang awalnya telah Mayra siapkan
kalau bertemu Aaron tiba-tiba lenyap dari otaknya.
"Aku yang telah membawa paksa dirimu dari
Dirga. Dia tidak menginginkan semua ini sama sekali..!"
Tiba-tiba ucap Aaron. Tatapannya lurus ke depan.
Mayra menoleh dengan cepat, wajahnya langsung berubah merah, ada kemarahan dan kekesalan
yang terlihat jelas dari sorot matanya.
"Kenapa kamu tega melakukan ini.! Kenapa tega
memisahkan aku dengan suamiku..!"
"Hidupmu terancam disana..!"
"Kau tidak berhak mengatur hidupku.! Aku
percaya suamiku bisa menjadi pelindungku."
"Buktinya dia tetap membiarkanmu selalu
berada dalam bahaya..!!"
Debat Aaron, keduanya saling menatap tajam.
"Apapun itu, suamiku yang lebih berhak atas
hidup dan diriku.! Kau tidak berhak sama sekali.! "
Ucap Mayra mulai meninggi, air mata tiba-tiba
mengalir deras membasahi pipinya. Aaron
memalingkan mukanya.
"Aku tahu..! Tapi aku menginginkan yang terbaik
untuk dirimu..!"
"Kau bukan siapa-siapa ku..! Kau tidak punya
hak untuk mengatur diriku..!"
"Aku mencintaimu..! Aku ingin memberikan
segalanya agar kamu bahagia dan nyaman..!"
Ucap Aaron membuat Mayra terhenyak. Keduanya
saling pandang lekat. Mayra maju mendekat,
tatapannya semakin tajam.
"Aku milik suamiku..! Tolong kembalikan aku
padanya..! aku ingin bertemu dengannya..!"
Ucap Mayra berat, tangisnya makin menjadi.
Tidak tahan lagi Aaron meraih tubuh Mayra ke
dalam rengkuhan nya. Di peluknya erat tubuh Mayra.
Mayra tidak mampu bergerak atau berontak.
Dia menangis tersedu di dada Aaron, tangannya
mencengkram mantel yang dipakai Aaron.
Pelukan Aaron semakin erat, dia memejamkan
matanya karena benar-benar tidak bisa
mengontrol dirinya saat ini.
"Maafkan aku Mayra.."
Lirihnya membuat tangis Mayra semakin tersedu.
Entah Tuhan akan membawa kemana hubungan
rumit ini.
**********
TBC.....
__ADS_1