Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
100. Tuan Berharga


__ADS_3

 


***********


 


Seminggu sudah Mayra berada di Penthouse


milik Aaron. Dia tinggal di tempat mewah ini


di temani oleh Alea dan beberapa pelayan


yang bekerja paruh waktu.


Kesehatannya sudah mulai pulih sepenuhnya


karena perawatan yang di lakukan oleh Alea.


Segala kebutuhan dirinya sampai hal terkecil


sekalipun telah tersedia di tempat ini sesuai


dengan seleranya dengan sangat komplit


seakan Aaron sudah sangat mengenalnya


dengan baik. Hal ini membuat Mayra sedikit


bingung terhadap sosok laki-laki yang selalu


di pertemukan dengan dirinya pada saat


yang tidak terduga itu.


Masih banyak hal yang terkesan misteri dari kehidupan seorang Aaron. Sejak pertemuan


mereka saat Mayra tersadar, Aaron baru sekali


datang ke Penthouse itu. Dan itupun tidak ada


pembicaraan di antara mereka, karena Aaron


hanya datang sebentar untuk melihat kondisi


dirinya. Dia hanya berbicara dengan Alea saja.


Entahlah mungkin dia terlalu sibuk dengan segala


urusan pekerjaan nya. Atau mungkin juga sengaja tidak ingin terlalu sering bertemu, yang jelas Mayra tidak begitu peduli.


Yang dia pedulikan saat ini adalah kerinduannya


terhadap Dirga. Kerinduan yang sudah sangat menyiksa bathin nya. Namun seringkali terbersit dalam pikirannya, apakah Dirga sengaja membuang dirinya di tempat antah berantah ini.


Dia tidak bisa menghubungi Dirga untuk bertanya mengenai semua hal yang kini sedang di alaminya. Baginya semua ini masih terasa seperti hitam putih tanpa kejelasan. Dia tidak memegang ponsel karena semua barang penting nya tidak ada satu pun yang terbawa.


Sebenarnya Mayra hanya tidak menyadari kalau


Aaron selalu datang setiap malam untuk melihat keadaannya. Dan Setelah puas dia akan pergi


kembali yang entah kemana.


Saat ini Mayra sangat ingin bertemu dengan


Aaron untuk bertanya segalanya agar menjadi


lebih jelas. Karena baginya sekarang ini dia masih


merasa seakan ada dalam dunia mimpi yang


tidak jelas. Dia merasa kini dirinya terbuang,


tak ada seorangpun yang bisa diajak bicara.


Alea sendiri pun tidak bisa memberi penjelasan


seperti yang dia inginkan.


Akhirnya pagi ini Mayra memberanikan diri


bertanya pada kepala pelayan.


"Apa anda bisa mengantarku bertemu dengan


Tuan Aaron..?"


Tanya Mayra saat dirinya sedang menyiapkan


sarapan. Walaupun sudah dilarang oleh kepala


pelayan, tapi Mayra memaksa ingin menyiapkan


sarapan sendiri untuknya dan Alea. Kepala pelayan tampak bingung dan ragu untuk menjawab.


"Maaf Nyonya.. Saya tidak berani."


Ucap nya sambil menunduk. Mayra


mengernyitkan alisnya karena merasa heran


dengan sikap kepala pelayan itu.


"Aku mohon..aku harus bertemu dengannya.!


Ada hal yang harus aku tanyakan padanya..!"


Kembali rajuk Mayra dengan wajah memelasnya.


Para pelayan saling pandang. Mereka terlihat


tidak tega dengan wajah memelas wanita yang sengaja di simpan oleh Tuan nya ini.


Wanita yang begitu cantik dan anggun dengan


pesona yang sangat luar biasa. Mereka bahkan merasa wanita inilah yang pantas bersanding


dengan Tuan mereka yang berharga.


"Kalau kau mau bertemu, kakak bisa datang


kesini kapan saja.."


Tiba-tiba Alea muncul di dekat meja makan dalam


keadaan sudah siap berpakaian dinas. Mayra


melihat Alea kemudian segera duduk di kursinya.


"Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya.


Apa dia bisa datang kesini..?"


"Kenapa, kau merindukan nya..?"


Mayra tersentak, dia menatap tajam Alea yang


kini sudah duduk di hadapannya.


"Aku merindukan suamiku..Aku ingin Aaron


segera mempertemukan aku dengannya..!"


"Apa kau sangat mencintai suamimu..?"


Tanya Alea menatap intens wajah Mayra yang kini


memerah. Harus Alea akui bahwa wanita yang ada


di hadapannya ini mempunyai rupa yang sangat


sempurna dan istimewa. Pantas saja Aaron bisa


luluh dan jatuh dalam pesonanya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu.?"


"Apa kau tahu sesuatu.?"


"Mengenai apa.?"


"Kalau kakakku sangat mencintaimu..! Bahkan


mungkin lebih dari suamimu..!"


Mayra terhenyak. Dia menatap tajam Alea dengan


sorot mata tidak percaya. Benarkah semua yang


dikatakan Alea ? setahu dia Aaron adalah laki-laki


paling dingin yang pernah di kenalnya.


"Apa alasan dia harus menjatuhkan pilihan hatinya

__ADS_1


padaku, karena aku sudah menjadi milik temannya."


Mayra berucap sambil menunduk. Mengocek susu


di gelas tanpa meminumnya.


"Cinta tak perlu alasan, cinta juga tidak bisa


memilih kepada siapa hati akan berlabuh..!


Tapi kita sendiri lah yang akan menentukan


pilihan hidup kita.!"


Ucap Alea. Mayra terdiam, dia mulai meneguk


susu nya perlahan.


"Apa kau ada hubungan keluarga dengannya..?"


"Kenapa memangnya, apa kau cemburu padaku.?"


Mayra mendongak, menatap Alea jengah.


"Kau ini bicara apa.! Aku hanya ingin tahu saja.!"


"Itu tandanya kau mulai tertarik dengan


kehidupan pribadi kakakku..!"


"Apa dia kakakmu..?"


Tanya Mayra . Alea tersenyum.


"Dia adalah seseorang yang sangat berharga


bagi kami..Aku adalah saudari sepupu dari


ibunya..!"


Jawab Alea sambil kemudian mengakhiri


sarapannya. Mayra kembali terdiam.


"Kalian berasal dari negara ini..?"


Kembali Mayra bertanya dan mendapat


sambutan senyum dari Alea. Dia menatap lembut wajah cantik Mayra.


"Kak Aaron memiliki dua kewarganegaraan..


Ayahnya berasal dari kerajaan sebelah, sementara ibunya berasal dari negara ini.."


Jawab Alea. Mayra terdiam terpaku.


"Bertanyalah langsung padanya kalau kamu ingin


tahu seluruhnya tentang dia. Aku harus ke rumah


sakit sekarang..!"


Ucap Alea sambil kemudian berdiri dan mengambil


tas kerjanya.


"Hati-hati..jaga dirimu.."


Ucap Mayra seraya ikut berdiri .


"Kau juga. Mungkin aku akan pulang malam, ada


banyak masalah yang harus aku tangani.."


Sambut Alea sambil kemudian mengecup lembut


pipi Mayra yang langsung tersipu.


"Kau sangat cantik, pantas saja kakakku sampai


berani berkorban dengan menyumbangkan darah


berharga nya untukmu..!"


Kembali ucap Alea sambil kemudian melangkah


pergi meninggalkan Mayra yang membeku


itu.?? Kenapa dia baru tahu sekarang..??


***** *****


Malam mulai menyelimuti langit kota xxx..


yang cerah dan dingin. Beginilah rutinitas membosankan yang di jalani Mayra, terdiam


di dalam sebuah bangunan megah bak burung


dalam sangkar. Selesai sholat isya dia duduk termenung di pinggir tempat tidur, larut dalam lamunan kerinduan terhadap Dirga. Tidak ada


sesuatu apapun yang bisa menjadi pelipur rasa rindunya saat ini, walau itu hanya sekedar fhoto saja.


Mayra beranjak melangkah ke pinggir jendela.


Seperti biasa dia akan berdiri di sana menikmati


keindahan pemandangan malam kota yang


di hiasi kerlip bintang di langit dan gemerlapnya


lampu malam yang terhampar di bawah


pandangan matanya. Bangunan Penthouse ini


terletak di lantai 52, tentu saja Mayra bisa melihat keseluruhan kota dengan sangat jelas, karena kamarnya ini juga di kelilingi oleh jendela-jendela besar dan tinggi.


Sampai larut malam Alea belum juga kembali ke Penthouse. Mayra merasa sedikit takut, karena


berada sendirian di bangunan sebesar ini.


Malam semakin larut, tapi Mayra belum juga bisa


memejamkan matanya. Tubuhnya berguling


kesana kemari, gelisah tak menentu.


Akhirnya Mayra bangkit. Dia turun dari tempat


tidur, tubuhnya terasa sedikit gerah. Dia membuka


jilbabnya dan membiarkan rambutnya tergerai


bebas. Gaun malamnya yang terbuat dari sutra


dibiarkan tanpa mantel.


Mayra melangkah keluar dari kamar berjalan


menuju ke balkon, tempat kesukaannya yang


biasa dia gunakan untuk bersantai sambil


membaca buku dan mencari angin segar.


Di balkon ini dia bisa melihat dengan jelas pemandangan di bawah gedung ini.


Mayra berdiri di pinggir balkon, merentangkan


tangan membiarkan angin malam yang sejuk


menerpa tubuhnya. Membuat lekuk tubuhnya


yang indah tercetak jelas. Mayra memejamkan


matanya membiarkan bayangan wajah Dirga


tergambar jelas di pelupuk matanya.


"Mas..aku sangat merindukanmu..kenapa aku


merasa bahwa kau sengaja membuangku.."


Gumam Mayra masih memejamkan matanya.


Dia tidak menyadari Aaron telah berdiri di pintu


masuk balkon. Dia tampak mematung di tempat melihat pemandangan indah di depan matanya.


Aaron terkesima melihat penampakan Mayra


saat ini. Berdiri tenang dengan rambut tergerai


indah tertiup angin malam. Keindahan tubuhnya tercetak jelas dibalik gaun malam yang rapat di

__ADS_1


badan karena terpaan angin yang cukup kencang.


Darah Aaron berdesir, hawa panas perlahan


mulai menjalar mengaliri seluruh nadinya,


napasnya menjadi berat, jiwa lelakinya bangkit.


Dia berusaha menelan salivanya yang terasa mengganjal di tenggorokan. Aaron memejamkan mata, mencoba mengatur pernapasannya, dia berusaha mengontrol diri dan pikiran liarnya


yang saat ini menggedor jiwanya membangkitkan hasratnya seketika.


Dia kembali masuk kedalam.


Mayra masih berdiri, tapi kini dia mulai merasakan


hawa dingin menusuk ke dalam tulangnya. Dia


merapatkan tangannya di dada, menggosok


telapak tangannya pelan, dirinya masih enggan


untuk beranjak dari tempatnya berdiri. Matanya


kembali terpejam, bayangan wajah Dirga terus bermain di pelupuk matanya.


Tiba-tiba sebuah tangan terulur membuat Mayra


tersentak kaget, dia membalikan badannya,


matanya terpaku saat bertemu pandang


dengan sosok laki-laki tampan yang saat ini


berdiri di depannya. Aaron memakaikan mantel


ke tubuh Mayra yang hanya terdiam kaku dengan


terus menatap lembut wajah cantik Mayra.


Perlahan tangan Aaron bergerak merapihkan


rambut Mayra yang terbang tertiup angin. Mata


Mayra masih menatap lurus wajah Aaron yang


kali ini terlihat benar-benar tampan tanpa


tampang bengisnya. Wajah yang tercipta


begitu sempurna tanpa cela dengan segala


kharisma unik yang dimilikinya.


Tangan Aaron sedikit bergetar saat mengulurkan


hijab menutupi rambut indah Mayra yang kini


tersadar atas dirinya yang barusan sempat


terpesona oleh laki-laki yang bukan muhrimnya


ini. Mayra segera beristighfar. Dia mengutuk diri


sendiri atas zina mata dan hati yang barusan telah


dilakukannya.


Dengan segera Mayra mengambil hijab yang


terulur dari tangan Aaron, tanpa sengaja tangan mereka saling bersentuhan membuat tubuh


mereka terasa seperti tersengat aliran listrik. Keduanya reflek mundur menjauh satu sama lain. Saling memalingkan wajah ke sembarang arah.


Mereka terdiam beberapa saat, membisu


dengan isi pikiran masing-masing. Semua


pertanyaan yang awalnya telah Mayra siapkan


kalau bertemu Aaron tiba-tiba lenyap dari otaknya.


"Aku yang telah membawa paksa dirimu dari


Dirga. Dia tidak menginginkan semua ini sama sekali..!"


Tiba-tiba ucap Aaron. Tatapannya lurus ke depan.


Mayra menoleh dengan cepat, wajahnya langsung berubah merah, ada kemarahan dan kekesalan


yang terlihat jelas dari sorot matanya.


"Kenapa kamu tega melakukan ini.! Kenapa tega


memisahkan aku dengan suamiku..!"


"Hidupmu terancam disana..!"


"Kau tidak berhak mengatur hidupku.! Aku


percaya suamiku bisa menjadi pelindungku."


"Buktinya dia tetap membiarkanmu selalu


berada dalam bahaya..!!"


Debat Aaron, keduanya saling menatap tajam.


"Apapun itu, suamiku yang lebih berhak atas


hidup dan diriku.! Kau tidak berhak sama sekali.! "


Ucap Mayra mulai meninggi, air mata tiba-tiba


mengalir deras membasahi pipinya. Aaron


memalingkan mukanya.


"Aku tahu..! Tapi aku menginginkan yang terbaik


untuk dirimu..!"


"Kau bukan siapa-siapa ku..! Kau tidak punya


hak untuk mengatur diriku..!"


"Aku mencintaimu..! Aku ingin memberikan


segalanya agar kamu bahagia dan nyaman..!"


Ucap Aaron membuat Mayra terhenyak. Keduanya


saling pandang lekat. Mayra maju mendekat,


tatapannya semakin tajam.


"Aku milik suamiku..! Tolong kembalikan aku


padanya..! aku ingin bertemu dengannya..!"


Ucap Mayra berat, tangisnya makin menjadi.


Tidak tahan lagi Aaron meraih tubuh Mayra ke


dalam rengkuhan nya. Di peluknya erat tubuh Mayra.


Mayra tidak mampu bergerak atau berontak.


Dia menangis tersedu di dada Aaron, tangannya


mencengkram mantel yang dipakai Aaron.


Pelukan Aaron semakin erat, dia memejamkan


matanya karena benar-benar tidak bisa


mengontrol dirinya saat ini.


"Maafkan aku Mayra.."


Lirihnya membuat tangis Mayra semakin tersedu.


Entah Tuhan akan membawa kemana hubungan


rumit ini.


 


**********


 


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2