
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Mayra terus mengeluarkan semua isi perutnya. Wajahnya terlihat semakin pucat, tubuhnya lunglai tak bertenaga. Nyonya Veronica terlihat khawatir, dia membantu Mayra dengan memijat tengkuknya dan mengusap dahinya yang berkeringat dingin.
"Kamu ini kenapa menantu..? Kok bisa tiba-tiba muntah gini..atau..jangan-jangan.."
Belum sempat Nyonya Veronica menyelesaikan ucapannya, tubuh Mayra sudah terkulai lemas
dalam rangkulannya, dia langsung tak sadarkan diri.
Sontak hal itu membuat Nyonya Veronica panik luar biasa dan berteriak histeris.
"Dirga sayang..Dad.. cepat kesini...!"
Teriak Nyonya Veronica, bersamaan di pintu muncul Dirga dengan wajah penuh kepanikan. Tadi dia langsung terbangun kaget saat seorang pelayan memberitahu soal Mayra dan segera berlari setengah melayang menuruni tangga seperti orang kesetanan bahkan dirinya hanya menggunakan boxer saja.
"Mayra...!"
Teriak Dirga seraya langsung menyambar tubuh Mayra diangkat kedalam pangkuannya.
"Dia kenapa Mom..?"
Tanya Dirga sambil menatap lekat wajah Mayra yang terlihat semakin pucat, kemudian dengan cepat berjalan membawa Mayra menuju ke lantai atas.
"Mom juga gak ngerti sayang.. tiba-tiba saja dia muntah-muntah terus pingsan gini.."
Sahut Nyonya Veronica sambil mengikuti Dirga menaiki anak tangga.
"Bu Sandra..! telpon Lani suruh kesini, cepat..!!"
Perintah Dirga sambil terus menaiki tangga setengah berlari. Dengan cepat Bu Sandra mengangguk kemudian menghubungi Dokter Lani.
Dirga membaringkan tubuh Mayra diatas tempat tidur. Kemudian menyelimuti nya sampai dada. Dia duduk di samping nya dengan memegang erat tangan Mayra yang sedingin es, mengelus lembut keningnya.
"Sayang..bangun..! ada apa denganmu..!"
Bisik Dirga sambil terus mengusap dahi Mayra yang berkeringat dingin. Nyonya Veronica sejenak memperhatikan perlakuan putranya itu. Kemudian dia duduk di ujung bagian kaki Mayra dan memijatnya perlahan. Bu Sandra masuk membawakan segelas air hangat dan sebotol aromatherapy khusus yang biasa di pakai untuk memijat atau membantu menyadarkan orang yang sedang pingsan.
"Tuan muda coba usapkan ini ke kening nya nyonya muda.."
Ucap Bu Sandra seraya menyodorkan botol minyak aromatherapy tadi. Dirga menerimanya dan mencoba mengusapkannya lembut di kening Mayra.
Di pintu muncul Tuan Leon dan juga Amanda.
Mereka langsung menghampiri dan berdiri di pinggir ranjang.
"Dirga..kenapa istrimu..?"
Tanya Tuan Leon menatap intens wajah Mayra yang masih terpejam dengan wajah pucat pasi.
"Tadi dia muntah-muntah Dad..terus pingsan.!"
Jawab Dirga masih dalam keadaan mengusap kening Mayra dan menatap lekat wajah istrinya itu penuh kecemasan.
"Momy tadi sedang bersamanya di dapur, dia ngotot ingin buat sarapan sendiri..!"
Ucap Nyonya Veronica. Amanda terlihat menatap lekat wajah Mayra dan segurat senyum penuh arti tersembul di bibirnya. Mayra terlihat bergerak lemah dan membuka matanya perlahan.
"Kamu sadar..?"
Ucap Dirga sambil terus mengelus kening Mayra.
Mata Mayra bertemu dengan mata Dirga yang masih terlihat khawatir.
"Aku kenapa sayang..?"
Tanya Mayra pelan sambil berusaha bangun namun di tahan oleh Dirga.
"Jangan banyak bergerak dulu, kamu tadi pingsan di dapur.."
Jawab Dirga. Mayra mengedarkan pandangannya, dia baru menyadari bahwa dirinya telah di kelilingi oleh orang-orang. Wajahnya terlihat meringis merasa malu.
"Bagaimana perasaan mu sekarang..? apa masih ada yang terasa..?"
Tanya Nyonya Veronica sambil berdiri di belakang Dirga. Mayra memaksakan diri tersenyum.
"Sudah mendingan Ibu..Maaf jadi merepotkan semua orang.."
Jawab Mayra pelan dan menundukan wajahnya.
"Apa yang kamu rasakan sekarang..?"
Tanya Dirga dengan menatap lekat wajah Mayra.
__ADS_1
"Apa kakak ipar merasa mual.? Pusing atau apa gitu.?
Sambung Manda. Nyonya Veronica dan Tuan Leon terlihat saling pandang menduga-duga.
Mayra menatap semua orang dan merasa tidak enak hati sudah membuat kerusuhan kecil.
"Sekarang sudah lebih baik..! Hanya sedikit pusing.."
Jawab Mayra, tapi kemudian dia memegang perutnya yang kembali terasa sedikit bergejolak.
Dirga kembali menatap Mayra cemas.
"Kenapa, apa kau mual lagi.?!"
Tanya nya cepat, Mayra menatap lekat mata Dirga, tangan kanannya segera menutup mulutnya , sementara tangan kiri menunjuk kearah kamar mandi.
"Apa.?! kau mau ke kamar mandi..?!"
Tanya Dirga bingung, dan Mayra mengangguk cepat serta menarik tangan Dirga yang tanpa kata lagi langsung mengangkat tubuh Mayra di bawa lari ke kamar mandi. Sampai di depan wastafel dia menurunkan Mayra yang langsung kembali memuntahkan isi perutnya yang hanya berisi cairan kuning saja. Dengan sabar dan telaten Dirga memegangi tubuh Mayra serta memijat tengkuknya.
Nyonya Veronica masuk ke kamar mandi membawakan segelas air hangat. Mayra membersihkan mulutnya dan membasuh wajahnya.
Dia menerima air yang di berikan mertuanya, kemudian berkumur sebentar lalu meminum sisanya.
"Sudah lebih baik..?"
Tanya Dirga membantu mengelap wajah Mayra, dan Mayra hanya mengangguk lemah.
Dirga kembali memangku tubuh Mayra yang langsung melingkarkan tangannya di leher Dirga. Wajahnya bersembunyi di dada bidang Dirga, matanya terpejam, lemas dan pusing yang kini di rasakannya.
Tubuh Mayra kembali di baringkan diatas tempat tidur dengan hati-hati. Kali ini Mayra tidak bisa lagi bergerak. Dia tak berdaya, matanya terpejam.
Semua orang menatapnya cemas dan bingung.
Untunglah Dokter Lani muncul dan dengan cepat memeriksa keadaan Mayra.
Dirga terlihat tidak tenang, dia terus saja berjalan mondar mandir. Tuan Leon sampai menepuk pundaknya beberapa kali.
Setelah beberapa lama akhirnya Dokter Lani selesai dengan pemeriksaan nya. Dia tersenyum pada Mayra yang sudah bisa membuka matanya.
"Gimana.? Dia gak kenapa-napa kan.?"
Tanya Dirga yang kini sudah berdiri di samping ranjang menatap lekat wajah Mayra.
"Kalian jangan khawatir, ini adalah gejala normal di awal kehamilan..!"
Hampir bersamaan semua orang bertanya terkejut.
Mata mereka terlihat menatap Dokter Lani meminta penjelasan.
"Selamat ya..Nyonya Mayra sudah positif hamil, perkiraan saya sekarang baru menginjak usia 4 mingguan..!"
Ucap Dokter Lani sambil tersenyum manis.
"What..?? Ohh Tuhan.. menantuku hamil Dok..?"
Teriak Nyonya Veronica excited dia terlihat menutup mulutnya yang tadi sempat menganga tak percaya.
"Iya Tante..selamat ya Tante akan segera menjadi seorang nenek..!"
Ucap Lani sambil berdiri berusaha mengemasi barang-barang medisnya.
Nyonya Veronica terlihat langsung menghampiri
Mayra dan merangkulnya hangat. Keduanya saling berpelukan erat.
"Terimakasih menantu..!"
Hanya itu kata yang keluar dari mulut Nyonya Veronica. Mayra hanya terdiam sambil menangis dalam pelukan ibu mertuanya itu.
Dirga terdiam tanpa kata, namun wajahnya terlihat cerah berbinar, hatinya seakan membuncah di penuhi oleh kebahagiaan yang tidak bisa di gambarkan oleh kata-kata.Dia hanya bisa menatap lekat wajah Mayra yang kini juga sedang menatapnya dengan linangan air mata yang sudah turun membasahi pipinya.
Tuan Leon juga terlihat hanya terdiam di tempat
tanpa ekspresi berlebihan. Namun sesungguhnya
saat ini dia sangat bahagia, sebab keinginannya
untuk memperoleh seorang cucu akan segera jadi kenyataan.
Hanya Manda yang terlihat tidak bisa
menyembunyikan ekspresi kebahagiannya. Dia langsung berhambur naik keatas tempat tidur memeluk Mayra dengan erat bergantian dengan nyonya Veronica.
__ADS_1
"Kakak ipar..selamat ya, kamu akan segera menjadi seorang ibu. Dan aku akan memiliki seorang keponakan, Ohh Tuhan..aku seneng banget..!"
Ucap Manda seraya mencium pipi Mayra.
"Terimakasih ya Manda.."
Ucap Mayra sambil tersenyum lembut.
"Untuk sementara saya akan memberikan resep obat agar Nyonya Mayra tidak terlalu kesulitan saat mengalami masa morning sickness ini..! yang penting jangan terlalu cape dulu , jangan stress dan jaga asupan makanan nya.!"
Ucap Dokter Lani kemudian setelah dia selesai berkemas.
"Sekali lagi selamat ya buat kalian. Terutama buat kamu Tuan..!"
Ucap Lani sambil melirik pada Dirga yang dari tadi hanya berdiri mematung, kemudian dia mendekati Dirga dan berbicara dengan pelan.
"Untuk sementara jangan terlalu berlebihan dulu, kau harus melakukannya dengan lembut dan hati-hati..!'
Ucapnya yang sontak membuat wajah Dirga memerah dan dia menatap tajam wajah Lani yang langsung melengos tanpa dosa.
Lani yang keluar berpapasan dengan Evelyin yang tengah berdiri di pintu dengan wajah yang terlihat memerah di penuhi emosi dan rasa tidak terima atas semua kenyataan ini.
Lani hanya menatap Evelyin sebentar, kemudian melangkah pergi.
Tuan Leon mendekat kearah Dirga, kemudian mereka saling berangkulan bahagia.
"Selamat nak, jaga dia baik-baik, jangan biarkan apapun terjadi padanya.! Kau punya tugas yang lebih berat sekarang.!!"
Ucap Tuan Leon. Dirga terdiam dan hanya mengangguk. Kemudian Tuan Leon melangkah keluar bersamaan dengan Evelyin yang masuk kedalam kamar. Sejenak mereka saling pandang. Tuan Leon kembali melangkah pergi.
Dirga yang melihat kemunculan Evelyin hanya meliriknya sekilas. Evelyin merangkul Dirga dan mencium mesra bibirnya.
"Jadi sekarang misi kita harus dituntaskan..?! tadinya aku kira dia tidak akan hamil secepat ini hingga kita bisa menyingkirkannya..!!"
Bisik Evelyin di telinga Dirga, membuat raut wajah Dirga berubah menjadi dingin.
"Biarkan semua berjalan sesuai rencana.! Kau jangan lagi mengganggunya..!"
Balas Dirga menatap datar wajah Evelyin yang hanya berjarak sejengkal saja. Keduanya bertatapan tajam.
"Aku tidak akan menggangunya, tapi kau harus pastikan.. setelah dia melahirkan anak untuk kita, kamu akan langsung menyingkirkan nya..!!"
Ucap Evelyin, rahang Dirga mengeras, tangannya terkepal kuat. Mata mereka terlihat semakin panas.
"Kau tidak bisa mengaturku.!!"
"Ini adalah tujuan kita.! Kamu ingat itu kan.?!"
"Aku yang berhak memutuskan semuanya.!"
Debat Dirga, Evelyin kembali memeluk erat tubuh Dirga dan menjilat halus lehernya.
"Kau sudah jatuh cinta padanya honey..! Aku tidak bisa menerima ini.! Kau sudah mengkhianati cinta kita.!"
Desis Evelyin, Dirga hanya terdiam dengan wajah memerah menahan serbuan emosi yang campur aduk.
Mayra dan Nyonya Veronica serta Manda hanya terdiam melihat interaksi mesra pasangan suami istri itu. Tapi ada rasa sakit yang mencubit hati Mayra membuat dia meremas selimut yang menutupi tubuhnya. Nyonya Veronica menyadari hal itu, dia
jadi bingung sendiri dengan hubungan rumit
putranya dengan istri-istrinya ini.
"Baiklah kalau begitu Mom mau ke dapur, Mom akan buat bubur khusus buat kamu..!"
Ucap Nyonya Veronica. Mayra mengangguk sambil tersenyum.
"Aku juga pergi ke kamar dulu ya kakak ipar, mau siap-siap ke butik !"
Sambung Manda sambil kemudian turun dari tempat tidur dan melangkah pergi menyusul ibunya.
Evelyin berdiri di pinggir ranjang menatap tajam penuh kebencian pada Mayra.
"Kamu malah mempersulit dirimu sendiri..! Kamu hanya akan menanggung derita di akhir dengan cara seperti ini..!!"
Ucap Evelyin tajam. Mayra menatap Evelyin dengan raut wajah tidak mengerti. Dirga menarik Evelyin diseretnya keluar kamar, tapi Evelyin berontak dan kembali berjalan mendekati Mayra.
"Akan ku pastikan kamu akan tersingkir setelah anak itu lahir..!!"
"Stop Ev..! sudah cukup..!! Ayo keluar..!!"
Bentak Dirga sambil kemudian mengangkat tubuh Evelyin di bawanya keluar kamar.
Mayra hanya terdiam di iringi air mata yang turun dengan deras membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....