Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
115. Ulang Tahun Pernikahan


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Hari demi hari terus berlalu tanpa terasa.


Manusia yang tidak pernah mengingat


tentang akhirat, merasa seolah-olah akan


hidup selamanya. Mereka lupa bahwa semua


yang ada di dunia ini akan selalu berpasangan.


Ada kehidupan, adapula kematian, ada


kebahagiaan adapula kesedihan, begitupula


ada pertemuan maka akan ada perpisahan


yang sejatinya tidak pernah di inginkan oleh


siapapun. Tapi begitulah kehidupan, tiada


yang kekal dalam dunia ini.


Mayra kini menjalani kehidupan rumah


tangganya di penuhi dengan kebahagiaan dan kedamaian bersama dengan suami yang sangat mencintainya di lengkapi dengan kehadiran


seorang putra yang sangat tampan serta menggemaskan. Siapapun yang melihat


putranya itu tidak ada yang tidak terpesona.


Amanda sudah melangsungkan pernikahannya


dengan Crish beberapa bulan yang lalu dengan


sangat meriah hingga menjadi trending topik di beberapa media sosial.


Tapi akhir-akhir ini Dirga memaksa Amanda


untuk ikut terjun ke dunia bisnis. Dia menjadikan Amanda sebagai Presdir di salah satu anak perusahaan nya. Dirga beralasan, dia tidak ingin


terlalu sibuk hingga bisa lebih banyak waktu


untuk anak dan istrinya di rumah. Dan Crish


cukup mendukung kalau istrinya ikut terjun


ke dunia bisnis.


Setelah selesai membersihkan dirinya Mayra


keluar dari kamar ganti. Dia menghampiri tempat


tidur, menatap lembut kedua pangeran tampannya yang sedang tertidur dengan saling memeluk. Sekarang ini putranya itu sedang dalam masa lucu-lucunya. Perkembangan putranya selalu membuat Mayra takjub setiap harinya, dia tumbuh dengan cepat, sehat dan kuat. Tidak pernah


menderita sakit yang serius, dia juga terlihat


semakin gemuk dan semakin menggemaskan


bagi siapa saja yang melihatnya.


Dengan perlahan dan hati-hati, Mayra naik


keatas tempat tidur, kemudian memberikan


ciuman selamat pagi pada kedua orang yang


sangat di sayanginya itu, setelah itu dia beranjak hendak turun dari tempat tidur ketika kemudian pinggangnya di tarik oleh Dirga. Tubuhnya


langsung berguling dan terjatuh dibawah tindihan


Dirga. Keduanya saling berpandangan lekat,


bibir Dirga mendekat ingin mencicipi bibir ranum Mayra yang saat ini sangat menggodanya itu.


"Jangan macam-macam Mas..nanti Rein..


bangun loh..! kamu tahu kan bagaimana dia


kalau menangis..!"


"Dia akan menggemparkan seisi rumah..!"


"Hemm..makanya itu jangan buat dia bangun


dan kesal..!"


"Aku akan memindahkannya ke box.!"


"Jangan Mas.! nanti dia malah terganggu.!"


"Tapi kalau dia disini, kita yang akan terganggu.!"


Dirga beranjak, dengan hati-hati dia memangku


tubuh gempal putranya itu dipindahkan ke dalam


box bayi. Putranya itu tampak sedikit menggeliat


dan kemudian memiringkan badannya, Dirga


menatapnya dengan was was..takut putranya itu


terbangun, tapi kemudian dia terlihat kembali


tertidur pulas membuat Dirga menarik napas lega.


Mayra hanya duduk di pinggir tempat tidur


dengan senyum simpul di bibirnya melihat


kecemasan suaminya itu.


Dirga kembali keatas tempat tidur, langsung


menindih tubuh Mayra dan mulai melucuti


pakaian yang baru saja di kenakan oleh Mayra.


"Ehh Mas..mau apa lagi sih..?!"


"Kita lanjutkan yang semalam..!"


"Tapi aku baru saja mandi Mas..!"


"Kamu akan berdosa kalau menolak


permintaan suami.!"


"Udah pinter bikin alasan sekarang kamu ya


Mas.!"


"Putramu itu selalu memonopoli dirimu, hingga


waktu buatku sekarang ini semakin sedikit !"


"Kamu ini Mas..dia itu kan putramu juga.!"


"Aku takut dia akan semakin menyita waktumu.!"


"Apa maksudmu Mas..eemmhh..!"


Mulut Mayra sudah di bungkam oleh bibir Dirga


yang kini sedang melumatnya dengan rakus. Dan


akhirnya mau tidak mau Mayra kembali meladeni


keinginan suaminya itu. Semalam memang selalu


saja ada gangguan yang di lancarkan oleh putra


nya itu setiap kali mereka ingin memulai waktu


berdua dalam keintiman, hingga membuat Dirga


kesal sendiri dan memilih tidur duluan.


..... .....


Dirga keluar dari kamar ganti sudah siap dengan


setelan kerjanya. Mayra mengambil dasi kemudian


memakaikannya. Seperti biasa Dirga akan terus


memandangi wajah cantik istrinya itu selama dia


memakaikan dasi padanya. Dia seolah tidak ingin


melewatkan satu detik pun menikmati keindahan


yang tersuguh di depan matanya ini.


"Aku dengar Aaron sudah menikah beberapa


bulan yang lalu.!"


Seketika Mayra menghentikan kegiatannya. Dia


tampak terdiam beberapa saat, Dirga menatap


lekat wajah Mayra seakan sedang melihat reaksi sekecil apapun dari raut wajah istrinya itu.


"Ohh..bagus kalau begitu."


Mayra kembali melanjutkan kegiatannya.


"Tapi pernikahannya tidak di publish.!"


"Kenapa.?"


"Wanita itu bukan pilihan keluarganya.!"


"Dia punya kebebasan memilih bukan.?"

__ADS_1


"Keadaan yang membuatnya tidak memiliki


kebebasan.!"


"Kita hidup di jaman yang sudah modern.."


"Mereka memiliki aturan sendiri dalam


keluarganya."


"Oohh.."


Kembali Mayra hanya menanggapi datar. Dia


menepuk lembut bahu suaminya dan mencoba merapihkan kembali jasnya. Dirga menarik tubuh


Mayra, melingkari pinggang rampingnya dengan


erat. Kemudian memeluk erat tubuhnya.


Setelah melahirkan putra pertamanya, keadaan


fisik Mayra seolah tidak pernah mengalami


perubahan apapun dari waktu sebelum hamil,


bahkan sekarang ini terkesan jauh lebih sexy


dengan beberapa bagian yang lebih berisi


membuat Dirga tidak pernah ingin


melepaskannya saat sedang berduaan.


"Aku sangat mencintaimu sayang.."


Bisik Dirga sambil memejamkan matanya,


kemudian mencium puncak kepala Mayra.


"Aku juga Mas.."


Sahut Mayra yang balik memeluk erat tubuh


gagah suaminya itu.


"Apa aku akan sanggup meninggalkan mu.?"


"Memangnya Mas mau kemana.?"


"Aku sekarang ini banyak urusan di luar negeri.


Makanya Amanda aku tarik untuk berbisnis agar


bisa menggantikan posisiku saat aku pergi.!"


"Kau tidak akan membawa kami ?"


"Aku tidak ingin membuat kalian lelah.."


Keduanya terdiam. Mayra mendongak, menatap


mesra wajah suaminya yang saat ini sedang


memandangnya lekat.


"Bagaimana kalau kita mengulang yang tadi.?"


"Apa.?"


Mayra menautkan alisnya bingung. Dirga berbisik


mesra di telinganya membuat Mayra spontan


memukul pelan dada suaminya itu.


"Sudah ahh Mas, dasar mesum..! Ayo sekarang


mending kita sarapan.."


Mayra melepaskan pelukannya kemudian


mengambilkan tas kerja dan mulai melangkah


keluar dari kamar di ikuti oleh Dirga yang


langsung memeluk pinggangnya posesif.


Mereka berdua berjalan bergandengan


menuju ke lantai bawah.


Sementara putranya saat ini sudah ada di dalam


kamarnya bersama para babysitter melakukan


rutinitas paginya.


***** *****


Hari ini cuaca sangat cerah cenderung panas.


sampai-sampai peringatan Lee untuk segera


makan siang tidak di gubrisnya padahal hari


sudah beranjak menuju sore.


Lee masuk ke dalam ruangan Dirga dengan


membawa setumpuk berkas di tangannya. Tapi


saat dia masuk kedalam ruangan semua berkas


di tangannya di lempar begitu saja ketika melihat


tubuh Dirga tergeletak di dekat sofa.


"Tuan..!"


Lee berteriak dan berlari menghampiri tubuh


Dirga kemudian segera menopangnya sekuat


tenaga di bawanya kedalam kamar pribadi. Dia membaringkan tubuh Dirga diatas tempat tidur, ditatapnya sebentar wajah majikannya itu yang


terlihat sangat pucat. Dengan segera Lee menghubungi Mayra.


"Ada apa sekretaris Lee ?"


Suara Mayra terdengar di sebrang sana.


"Tu-Tuan..pingsan Nyonya.."


"Apa..??"


Tut Tut Tut...!!


Telpon terputus, dan Lee hanya menatap


nanar layar ponselnya. Tidak lama dia segera


menghubungi nomer Rayen.


Setengah jam kemudian Mayra muncul di


dalam ruangan dengan wajah yang sudah


sangat khawatir. Dia segera menghampiri


Dirga yang saat ini sudah siuman dan terduduk bersandar di kepala ranjang sedang di periksa


oleh Rayen.


Dirga menatap lemah kedatangan Mayra dan


tangannya segera memberi isyarat agar Mayra


mendekat. Dengan wajah cemas Mayra duduk


di samping Dirga yang langsung mendekapnya


dengan satu tangan.


"Jangan khawatir begitu, aku tidak apa-apa sayang..Lee terlalu berlebihan.!"


Dirga berucap seraya mempererat dekapannya.


"Bagaimana aku tidak khawatir Mas, wajahmu


pucat begini..!"


Mayra berucap seraya mengelus wajah Dirga


dan menatapnya lekat.


Rayen tampak masih terdiam mengecek kondisi


Dirga. Ada keseriusan yang kini tergambar dari


raut wajahnya.


"Kau jangan terlalu serius begitu.! membuat


istriku cemas saja.!"


Ketus Dirga tidak suka melihat ekspresi wajah


Rayen yang terlalu serius. Rayen tampak


tersenyum tipis dan masih terus melakukan


pemeriksaan.


"Apa yang terjadi padanya Dokter.?"


Mayra menatap Rayen dengan wajah diliputi

__ADS_1


perasaan tidak karuan. Ada ketidaknyamanan


yang kini di rasakan dalam hatinya.


"Tidak apa-apa..dia hanya kelelahan.!"


Rayen menjawab dengan wajah datar. Mayra


menautkan kedua alisnya.


" Tidak ada yang serius kan ?"


Masih belum yakin dengan jawaban Rayen.


"Tidak ada ! dia hanya kurang istirahat.."


Rayen menggeleng pelan sambil kemudian mengeluarkan obat dari dalam tas nya.


"Kau harus minum obat ini secara teratur."


Mayra menerima obat itu. Lee datang


membawakan makanan untuk Dirga yang


langsung di ambil oleh Mayra. Kemudian


dengan cekatan dia segera menyiapkan


makanan itu.


"Ayo makan dulu sayang.. habis itu nanti


minum obat ! aku kan udah sering bilang..


jangan terlalu memaksakan dirimu."


"Aku tidak apa-apa sayang..Ini mungkin karena


kelelahan saja !"


"Kamu kurang istirahat Mas, tidak di kantor tidak


di rumah, kamu tidak pernah lepas dari urusan


pekerjaanmu.!"


"Iya baiklah..mulai sekarang aku akan mengatur


ulang semua jadwalku.! Lee kau atur semuanya


dengan baik.! Biarkan Manda mengambil alih


beberapa urusanku.!"


"Baik Tuan..!"


Lee mengangguk faham.


Mayra mulai menyuapi Dirga yang menerimanya


dengan senang hati. Dia menerima suapan demi


suapan dari tangan Mayra dengan terus menatap


tenang wajah cantik istrinya itu .


"Hentikan tatapan mu itu Mas.!"


"Ini bisa membantuku cepat pulih sayang.."


"Iisshh..kau ini sangat berlebihan.!"


"Itu adalah kenyataan..!"


"Sudah hentikan bualanmu itu Mas.."


Mayra menatap kesal wajah Dirga yang


tersenyum usil dan kembali membuka mulutnya


menunggu suapan berikutnya.


Rayen dan Lee keluar dari kamar tidak ingin


menjadi nyamuk diantara kemesraan mereka.


Akhirnya Mayra memaksa Dirga untuk ikut pulang


dan melarangnya meneruskan pekerjaannya.


"Kau terlalu berlebihan sayang..Aku ini laki-laki


yang kuat. "


Dirga berucap sambil melajukan mobilnya


dengan tenang meluncur membelah jalanan


ibukota yang padat.


"Kita mau kemana sayang..? Aku mengajakmu


pulang agar kau bisa istirahat dengan cukup ?"


Mayra bertanya karena heran Dirga malah


membelokan mobilnya ke tempat lain.


"Kita akan menghabiskan waktu bersama,


tanpa Rein..!"


"Tapi Mas, Rein akan mencariku nanti."


"Ada banyak orang di rumah, aku ingin menikmati


waktu berdua saja denganmu..!"


"Kau jangan aneh-aneh Mas..ini sudah sore,


aku sudah terlalu lama meninggalkan Rein.."


"Tidak akan lama sayang.."


Dirga berucap santai sambil memasukkan


mobilnya kedalam kawasan hotel miliknya.


Mayra hanya melongo saja saat Dirga


membuka pintu mobil dan dengan gerakan


cepat mengangkat tubuhnya di bawa masuk


ke dalam lift khusus.


Tiba di dalam kamar, Mayra terperangah


melihat suasana remang disana. Tidak lama


Dirga menyalakan lampu dan Mayra semakin


melongo saat melihat hamparan bunga mawar


di atas tempat tidur dengan dekorasi yang sangat indah bertuliskan selamat ulang tahun pernikahan


yang ke 2.


"Selamat ulang tahun pernikahan sayang.."


Dirga tiba-tiba memeluknya erat dari belakang.


Mayra menutup mulutnya tidak percaya dengan


kejutan yang sudah di siapkan oleh Dirga. Dia


tiba-tiba melingkarkan sebuah kalung indah di


leher Mayra dengan membuka sedikit hijab


yang di kenakkan nya membuat Mayra semakin


terkejut. Dengan segera dia membalikan


tubuhnya berhadapan dengan Dirga.


Tangisnya tidak dapat di tahan lagi.


"Terimakasih sayang..aku tidak menyangka


kamu sudah menyiapkan semua ini. Aku kira


kamu tidak mengingatnya."


"Semalam aku memang lupa, gara-gara anak


kita selalu menganggu..!"


Keduanya saling berpandangan lekat , Mayra


berjinjit , dia melingkarkan tangannya di leher


Dirga, kemudian menarik tengkuknya perlahan,


setelah itu mulai melancarkan ciuman hangat


dan lembut yang membuat Dirga seakan terbang melayang ke awan. Dia sangat menggila saat


mendapat perlakuan agresif dari istrinya itu.


Masih dalam keadaan berciuman panas dia mengangkat tubuh Mayra keatas tempat tidur


bertaburkan kelopak bunga mawar, Keduanya terhanyut dalam kemesraan dan kehangatan


tanpa gangguan dari si kecil .


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


TBC....


__ADS_2