
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Hari ini Mayra di sibukkan dengan acara pemotretan untuk sebuah produk hijab terkenal.
Semuanya berjalan lancar sesuai dengan rencana.
Semua kru yang terlibat dalam pemotretan ini tampak antusias dan penuh semangat.
Saat ini Mayra sedang beristirahat di sebuah ruangan khusus studio tempat nya melakukan pemotretan itu.
Dia selesai melakukan ibadah solat dzuhur dan berniat makan siang terlebih dahulu.
Setelah menyediakan makan siang untuk Mayra, Siska tampak menghilang beberapa saat.
Mayra merasakan ada keanehan yang terjadi dengan suasana di ruang tunggu tersebut.
Orang-orang yang ada di sana tampak berbisik serius sambil mengecek ponsel masing-masing.
Sesekali mereka tampak melirik sungkan namun penasaran ke arah Mayra.
Suasana semakin membuat Mayra tidak nyaman.
Ada apa sih ini sebenarnya.?
Gumam Mayra dalam hati. Dia memutuskan untuk mengecek ponselnya. Namun Siska dan Jane tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.
"May..sudah tak ada waktu buat buka hape, ayoo sekarang kita lanjut acara pemotretan nya.!"
Ucap Silvia sambil memasukkan kembali ponsel yang tadi sempat di ambil Mayra dari dalam tas nya.
"Ada apa sih, aku merasa ada yang aneh dengan orang-orang itu, apa ada yang terjadi.?"
Tanya Mayra memandang Silvia dengan tatapan curiga.
"Gak ada apa-apa kok, ahh..mereka hanya sedang bergosip hangat saja, biasa lah orang tuh paling suka dengan gosip murahan..!"
Kilah Silvia dengan wajah di buat setenang mungkin.
Namun Mayra justru malah merasa kalau Silvia menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
Dia menatap tajam wajah Silvia ingin mencari kejujuran di sana.
"Apa yang terjadi Sil, kamu tidak usah membohongi aku seperti ini.!"
"May..beneran gak ada apa-apa kok.."
"Aku tahu kamu bohong Sil..!"
Potong Mayra. Silvia tampak kikuk.
"Mbak Mayra..ayoo..kita mulai lagi pemotretannya.!"
Tiba-tiba asisten fotografer muncul di pintu.
Mayra hanya mengangguk pelan kearah asisten tersebut, tapi kemudian kembali menatap Silvia dan Jane bergantian.
"Kita akan lanjutkan pembicaraan ini nanti.!"
Ucapnya sambil kemudian berjalan keluar ruangan di ikuti oleh Silvia dan Jane.
..... .....
Mayra kembali melanjutkan Photoshoot nya dengan perasaan yang semakin tidak tenang.
"Mbak..tolong, bisa lebih tenang sedikit.! hanya tinggal beberapa item lagi kok.!"
Ucap sang fotografer sambil berdiri menghentikan kegiatan nya. Mayra tersenyum canggung merasa sangat bersalah.
"Baiklah..maaf saya sedikit kehilangan fokus."
Ucap Mayra sambil kemudian menarik napas dalam-dalam berusaha menenangkan dirinya. Dia kembali berkonsentrasi, pikirannya difokuskan pada pemotretan ini, berusaha untuk tidak peduli dengan hal yang lain dulu.
__ADS_1
Selanjutnya pengambilan gambar pun kembali di lanjutkan. Walau sikap orang-orang yang ada di studio itu tampak semakin membuat Mayra tidak nyaman, namun dia bisa melewati semua pemotretan ini dengan baik hingga sang fotografer pun merasa sangat puas dengan hasilnya.
Akhirnya tugas hari ini selesai. Mayra bisa bernapas lega. Saat akan kembali ke ruang ganti pakaian, Sang Owner muncul dengan senyum lebar.
"Terimakasih untuk hari ini ya mbak Mayra. Kalau semua penjualan berjalan lancar, saya akan melakukan kontrak exlusive denganmu..!"
Ucap nya sambil menjabat tangan Mayra penuh kehangatan.
"Sama-sama mbak.."
Sambut Mayra dengan senyum manisnya.
"Terus maju ya mbak, tidak usah terganggu dengan hal yang yang tidak penting..!"
Ucap sang owner lagi sambil tersenyum penuh arti, kemudian dia berpamitan.
Setelah memastikan semua pekerjaan nya selesai, Mayra bersama dengan Silvia dan Jane berjalan keluar dari studio fhoto tersebut menuju ke parkiran.
Namun alangkah kagetnya Mayra ketika sampai ke loby studio, dia sudah di serbu oleh puluhan wartawan dari berbagai media. Para wartawan itu langsung melancarkan berbagai pertanyaan yang sama sekali tidak di mengerti oleh Mayra.
*Mbak Mayra..bisa tolong di jelaskan ada hubungan apa antara anda dengan CEO Moolay Group.*
*Apa benar anda mencoba merayu bos-bos besar untuk masuk ke dunia entertainment.*
*Tolong mbak jelaskan fhoto2 yang beredar di internet saat anda makan siang dengan tuan Moolay.!"
*Apa benar anda kepergok langsung oleh nona Evelyin saat anda sedang berusaha merayu bos Moolay Group? Tolong jelaskan pada kami mbak.!*
Itulah kira-kira sebagian pertanyaan yang di lontarkan oleh puluhan wartawan tersebut.
Mendengar pertanyaan2 tersebut Mayra terkejut setengah mati. Wajahnya tampak merah padam, dia berusaha menghindar dari para wartawan itu.
Jane dan Silvia sekuat tenaga melindungi Mayra dari desakan para wartawan itu yang semakin brutal.
Keduanya berusaha menggiring Mayra menuju ke mobil. Para wartawan itu tak henti melontarkan pertanyaan dan mendesak maju ingin menjangkau Mayra yang semakin panik.
Suasana semakin tidak terkendali, ketika ada segerombol orang yang juga ikut masuk ke dalam kerumunan wartawan tersebut dan membuat suasana semakin rusuh dengan ucapan provokatif yang tidak begitu jelas arah dan tujuannya.
Bersamaan dengan itu tiba-tiba salah seorang yang ikut bergerombol dalam kerumunan wartawan tadi melakukan serangan cepat kearah Mayra dengan menyabetkan pisau kecil ke arah perutnya.
Namun Jane bertindak cepat dengan menendang perut pria tersebut, beberapa orang lagi tampak bergerak bersamaan menyerang ke arah Mayra yang langsung menjerit histeris dan shock.
Tapi Jhon dan kawan-kawan nya dengan sigap menangkis serangan mereka dengan gerakan cepat dan terlatih. Akhirnya perkelahian pun terjadi, baku hantam berlangsung dengan sengit. Rupanya mereka orang-orang yang cukup terlatih juga hingga mampu mengimbangi perlawanan Jhon dan kawan-kawan.
Sementara baku hantam terjadi, para wartawan berhamburan berlari menjauh dari arena perkelahian dan berusaha mencari selamat. Namun mereka masih saja nekad merekam semua kejadian tanpa tertinggal sedikitpun adegan demi adegan yang cukup membuat shock tersebut.
Dalam hitungan menit, akhirnya Jhon dan kawan-kawan bisa melumpuhkan gerombolan pengacau tersebut. Mereka semua terkapar dengan luka memar di sekujur tubuh dan ada beberapa yang berdarah.
Bersamaan dengan kemunculan orang-orang dari pihak kepolisian. Para pengacau itu langsung di bekuk kemudian di masukan ke dalam mobil.
Jhon berbicara sebentar dengan seseorang dari kepolisian itu yang merupakan pemimpinnya, menjelaskan semua kronologi kejadiannya.
Kapten polisi tadi menghampiri Mayra yang masih terlihat shock, terduduk lemas di dalam mobil.
"Nona Mayra bisa ikut kami sebentar ke kantor untuk memberikan keterangan..!"
Ucapnya sambil berdiri menatap Mayra yang tampak pucat itu. Seperti biasa, tidak ada mata laki-laki yang tidak terpesona padanya, termasuk kapten polisi tersebut. Sesaat dia nampak terpukau melihat Mayra walau saat ini dalam keadaan pucat pasi.
"Baiklah pak, saya akan kesana.!"
Sahut Mayra pelan. Kapten polisi itu mengangguk kemudian melangkah pergi menuju mobilnya.
Akhirnya Jane membawa Mayra menuju ke kantor kepolisian setempat.
..... ......
Cukup lama Mayra yang didampingi oleh Jane dan Silvia memberikan keterangan pada polisi. Menjawab dengan detail semua pertanyaan yang di ajukan.
Tidak lama Agam datang bersama dengan Denis dan juga seorang pengacara. Pembicaraan selanjutnya ditangani oleh Agam dan pengacaranya.
Mayra berada di ruang tunggu kantor polisi tersebut.
Sialnya para wartawan yang tadi menyerbunya ternyata mengikuti dirinya sampai ke kantor polisi ini.
__ADS_1
Rupanya mereka belum puas karena tidak mendapat konfirmasi apapun dari sumber berita.
Agam meminta beberapa polisi untuk menjaga area keberadaan Mayra.
Sambil menunggu kemunculan Agam, Mayra akhirnya membuka ponselnya dan melihat akun medsos serta beberapa jaringan internet yang menyediakan informasi akurat . Silvia dan Jane sudah tidak ada alasan lagi untuk mencegah Mayra melihat semuanya.
Mata Mayra tampak terbelalak tidak percaya dengan berita heboh tentang dirinya di dunia maya. Berita tersebut berasal dari salah satu akun gosip yang terus di sebarluaskan hingga bisa seheboh ini.
**Ternyata ketenaran yang di milikinya tidak lepas dari campur tangan orang besar di belakangnya.*
*Berkedok muslimah sejati, ternyata dia menggunakan kecantikannya untuk merayu bos besar Moolay Group*.*
Itu adalah sebagian headline news yang tersebar di beberapa media sosial. Semuanya di sertai dengan beberapa fhoto dirinya dengan Dirga saat bersama di restoran waktu makan siang tempo hari.
Tubuh Mayra lemas seketika seakan tak bertenaga. kepalanya mendadak pusing. Dia tidak menyangka kebersamaannya dengan Dirga siang itu akan menimbulkan kehebohan seperti ini.
Ribuan komentar pedas membanjiri setiap aku gosip yang memuat hal tersebut.
Mayra terdiam. Air matanya meluncur dengan deras.
Pikirannya langsung melayang pada laki-laki yang ikut terseret nama baiknya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Dirga saat ini.
"Sudahlah May..tidak usah terlalu dipikirkan. Itu kan hanya gosip murahan saja.!"
Ucap Silvia berusaha memberi ketegaran pada Mayra dengan mengelus punggungnya lembut.
"Aku sudah menyeret nama baik orang lain ke dalam masalahku Sil.."
"Aku tahu, aku yakin tuan Moolay tidak akan tinggal diam. Sudah, kau jangan menangis lagi. Kau harus siap dengan kondisi seperti ini. Ini adalah konsekuensi yang harus kamu hadapi dengan mengambil jalan seperti ini..!"
"Aku tidak tahu Sil, apa aku masih bisa melihat orang-orang setelah semua ini."
"Kau harus bisa May..ini semua tidak benar kan.?
Kau harus kuat, hadapi semua dengan tegar. Aku akan selalu ada di belakangmu..!"
Ucap Silvia lagi. Mereka berdua berangkulan.
"Makasih ya Sil..kamu selalu ada untukku.."
"Tentu saja, kita ini kan sahabat.."
Ucap Silvia sambil mempererat rangkulannya.
Tidak lama Agam muncul dan langsung menghampiri Mayra yang masih menangis dalam rangkulan Silvia.
Tatapan Agam tampak menyiratkan beribu perasaan.
Ada rasa cemburu di hatinya saat tahu kalau kemarin Dirga mengajak wanita yang di cintainya itu untuk makan siang bersama hingga menimbulkan gosip besar seperti ini.
Tapi dia juga merasa tidak tega pada Mayra yang belum apa-apa sudah di terpa masalah .
"Kau tidak apa-apa May..? Jangan terlalu dipikirkan.
Masalah seperti ini biasa di dunia yang sekarang kamu jalani..!"
Ucap Agam sambil berjongkok di hadapan Mayra, memegang tangannya mencoba memberi kekuatan.
Mayra melepaskan genggaman tangan Agam dan menghapus air matanya.
"Aku baik-baik saja mas, hanya belum terbiasa.."
"Makanya dari sekarang harus di biasakan. Hidup di dunia seperti ini tuh keras tapi tidak terlihat.!"
Ucap Agam Kemudian, Mayra hanya mengangguk lemah. Agam kemudian berdiri, berbicara dengan Denis dan pengacaranya.
Tidak lama terlihat kedua orang itu berjalan menghampiri para wartawan dan memberikan sedikit penjelasan atas semua yang terjadi.
Sementara Agam dan Jane membawa Mayra pergi lewat jalur belakang yang sudah disiapkan oleh pihak kepolisian agar bisa menghindar dari para pencari berita itu..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....
__ADS_1