
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Dirga berdiri di pintu masuk menuju ke panggung
talk show. Dia terus menatap Mayra yang tengah berbicara dengan sedikit tawa renyah melayani candaan para host.
"Apa tuan ingin duduk.?"
Tanya produser seraya menarik sebuah kursi ke dekat Dirga, namun Dirga menepiskan tangan menolaknya.
Dan sang produser pun kembali menjauhkan kursi itu.
"Berapa lama lagi dia disana?"
Tanya Dirga seolah sudah tidak sabar lagi.
"Sebentar lagi Tuan.."
Jawab produser. Agam mendekati Dirga kemudian berdiri di sampingnya.
"Apa kita bisa bicara.?"
Ucap Agam dengan wajah datar dan tatapan mata yang sangat dingin.
"Bicaralah..!!"
Ketus Dirga tanpa berpaling, tatapannya tetap lurus ke atas panggung talk show.
"Aku tahu kau menikahi Mayra untuk tujuan tertentu. Apa kau tahu kalau aku sangat mencintainya..?!"
"Dia kakak iparmu sekarang.!"
"Dia adalah wanita yang aku inginkan dari dulu. Kenapa kamu mengambil nya dariku..?!"
"Yang sudah menjadi milikku, akan tetap menjadi milikku..!!"
"Aku yakin kamu akan membuangnya setelah tujuanmu tercapai..!!"
Tiba-tiba Dirga meraih kerah baju Agam dan menariknya kuat. Mereka saling bertatapan tajam mengadu kekuatan. Wajah mereka juga sama- sama membesi menahan luapan emosi.
"Mulai sekarang, lupakan dia..!! Kau harus berani menerima kenyataan kalau dia sudah menjadi milikku.! Jangan jadi pengecut..!!
Ucap Dirga dengan tatapan mata yang menghunus.
"Kau memiliki nya dengan paksa.! Akan ku pastikan kau tidak akan pernah menyakiti nya. !!"
"Tahu apa kamu dengan urusanku..!"
"Aku tahu pasti tujuanmu..!!
"Jangan ikut campur urusanku..!!"
"Aku akan selalu mencintainya.!!
"Agam..! jangan menguji kesabaranku..!!"
Bentak Dirga membuat semua orang membeku dengan tubuh gemetar.
"Maass..."
Mereka berdua menoleh dengan cepat ke asal suara. Mayra terlihat sudah berdiri di ambang pintu masuk ke ruang tunggu. Matanya menatap tajam ke arah mereka berdua.
Dirga dengan cepat melepaskan pegangan tangannya di kerah baju Agam. Mereka berdua terlihat berusaha bersikap normal kembali.
Mayra berjalan menghampiri mereka berdua, kemudian bergantian menatap dua laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"Kenapa kau ada di sini..?"
Tanya Mayra sambil memandang Dirga dengan tatapan heran namun bercampur bahagia melihat kehadiran suaminya itu.
"Aku menjemputmu..! Ayo kita pergi..!"
Jawab Dirga sambil kemudian menarik tangan Mayra.
"Sebentar..aku harus mengambil barangku dulu..!"
"Biar asisten mu yang urus..!"
Debat Dirga. Mayra melirik Agam yang sedang memalingkan muka.
"Maaf aku pergi duluan mas.."
"Ayo..tidak usah basa basi..!!"
Ketus Dirga sambil menarik tangan Mayra melangkah keluar ruangan.
..... .....
__ADS_1
Mayra sudah berada di dalam mobil yang di bawa oleh Dirga sendiri. Mereka terdiam beberapa saat sampai akhirnya Dirga melirik dan menatap intens wajah Mayra.
"Kau tidak suka aku datang..?"
Tanya Dirga, Mayra melirik dan kini mereka berpandangan lekat, tapi kemudian Mayra kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.
"Kenapa kau menemui ku ? bagaimana kalau Evelyin tahu.."
Jawab Mayra pelan dan lemah. Ada himpitan perasaan sakit yang menyelinap di dalam hatinya.
Tatapan Dirga semakin tajam dan ada perasaan kesal yang memenuhi dadanya.
"Apa kau tidak ingin aku menemuimu.?"
Kembali tanya Dirga. Mayra memejamkan mata menahan desakan air mata yang sudah terkumpul di pelupuk matanya.
"Ev sudah sembuh.! aku tidak bisa terus menerus ada di dekatnya.!"
Ucap Dirga kemudian. Dia mulai menjalankan mobilnya menyusuri jalanan yang masih dipadati kendaraan walaupun hari sudah malam.
Mereka kembali membisu. Namun tangan kiri Dirga bergerak menggenggam tangan Mayra dan meremasnya perlahan.
"Kita makan malam dulu.!"
Ucap Dirga. Mayra melirik dan menatap Dirga yang yang juga sedang melihatnya.
"Terserah..! Tapi aku tidak ingin kejadian yang lalu terulang lagi."
Sahut Mayra. Dirga tampak sumringah. Dia segera memacu mobilnya menuju ke sebuah restoran exlusive langganannya.
Dia juga mencoba menelpon seseorang untuk menanyakan dan memastikan sesuatu.
Tidak lama mobil berhenti di sebuah area parkir khusus restauran elite yang ada di dalam hotel mewah di pusat kota.
Dirga membukakan pintu untuk Mayra hingga membuat Mayra tersipu dan keluar dari mobil dengan perlahan. Kini mereka berdua berdiri berhadapan dan saling pandang lekat. Ada pancaran kerinduan yang sangat besar dalam sorot mata mereka saat ini. Tanpa kata tiba-tiba Dirga mengangkat tubuh Mayra ala bridal style membuat Mayra spontan memekik dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Dirga.
Kemudian Dirga melangkah masuk ke dalam lift khusus yang langsung terhubung dengan ruangan privat yang sudah di pesannya.
Selama di dalam lift keduanya terus berpandangan seolah tiada bosannya.
Akhirnya mereka sampai ke tempat yang sudah di pesan oleh Dirga. Saat tiba di tempat, Mayra tampak terkejut dan bengong melihat apa yang ada di hadapannya.
Ruangan ini terlihat indah dengan dekorasi dan suasana lampu yang remang-remang menambah kesan romantis. Ada sebuah meja dengan rangkaian lilin di tengahnya. Kemudian di sekitar meja terlihat ada hiasan bunga mawar putih dirangkai dengan bunga tulip yang sangat indah.
"Sa-sayang.. apa kamu yang telah menyiapkan ini semua..?"
Masih dengan memangku tubuh Mayra, Dirga berjalan ke arah meja yang sudah di hias sedemikian romantis itu. Di sana juga sudah tersedia hidangan makan malam yang sangat menggugah selera.
Kemudian perlahan Dirga menurunkan Mayra dari pangkuannya, namun belum juga bisa bergerak menjauh tubuh Mayra sudah ditarik kembali kedalam pelukannya.
Keduanya kini terdiam saling berpelukan erat, meresapi hati dan perasaan masing-masing.
Perasan yang kini sudah tidak bisa di pungkiri lagi,
perasaan saling membutuhkan, saling merindukan, dan saling terikat satu sama lain.
"Aku sengaja menyiapkan semua ini untuk kamu."
Ucap Dirga pelan sedikit serak.
Keduanya kembali saling berpandangan.
Tangan Dirga bergerak meraih dagu lancip Mayra, kemudian dia mulai mencium bibir ranum Mayra, melumatnya lembut dan hangat, menyesapnya dan semakin menekan menerobos masuk mengeksplor semua kenikmatan dari sensasi lembut dan manisnya bibir Mayra.
Mayra pun membalas ciuman hangat dan lembut suaminya itu, tidak bisa di pungkiri dia juga sangat merindukan sentuhan memabukkan laki-laki ini,
yang kini sudah mengisi seluruh hatinya tanpa sisa.
Dirga memundurkan kursi untuk Mayra duduki. Dengan perasaan yang sedikit gemetar dan masih tidak percaya Dirga bisa bersikap seromantis ini,
Mayra perlahan duduk dan tersenyum lembut kearah Dirga.
Belum habis rasa tak percaya nya, tangan Dirga tiba-tiba terulur ke arah lehernya yang tertutup hijab, melingkarkan sesuatu di sana. Mayra tertegun sesaat, dia melihat benda berkilauan telah melingkar indah di bagian lehernya.
Mulutnya memekik pelan saat menyadari sebuah kalung berlian yang iklan nya pernah dia mainkan kini telah terpasang di lehernya.
"Sayang..apa ini..??"
Ucap Mayra tak percaya, dia menatap Dirga yang kini ada di hadapannya sedang menyematkan cincin berlian bermata biru safir di jari manisnya.
"Ini semua layak untukmu..!"
Ucap Dirga sambil tersenyum dan mencium lembut jemari Mayra. Air mata tumpah seketika dari sudut mata Mayra dan menetes membasahi pipi mulusnya.
"Kau tidak perlu melakukan semua ini.! Aku tidak pernah menginginkan semua ini.."
Ucap Mayra bergetar karena perasaan haru dan bahagia kini memenuhi dadanya.
__ADS_1
Dirga menghapus air mata Mayra dan mengelus lembut wajah nya.
"Tapi aku ingin melakukannya, dan kamu pantas menerimanya..!"
Ucap Dirga. Mereka bertatapan dalam.
"Terimakasih.."
Lirih Mayra sambil tersenyum kemudian menunduk.
Tangisnya masih tersisa.
"Aku sungguh tidak pernah menginginkan
semua ini. Aku merasa tidak layak untuk ini.."
lirih Mayra di sela isak tangisnya. Dirga berjalan menghampiri Mayra dan kembali meraih tubuh ramping itu ke dalam pelukannya.
"Jangan terlalu banyak berpikir, sekarang lebih baik kita makan..!"
Ucapnya sambil mengelus punggung Mayra. Akhirnya Mayra mengangguk, kemudian mereka kembali duduk dan memulai santap malamnya.
..... .....
Selesai makan malam, Dirga tidak langsung membawa Mayra pulang. Dia mendapat telpon penting dari Lee bahwa ada masalah di ruang bawah tanah.
Dengan wajah yang di penuhi kemarahan Dirga melajukan mobilnya menuju ke markas bawah tanah.
Dia ingin mengetahui masalah yang sebenarnya telah terjadi. Sementara Mayra hanya terdiam saja sambil merebahkan tubuhnya ke belakang jok.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit,
Dirga memarkir mobilnya di depan sebuah rumah besar yang di dominasi kaca-kaca tebal besar di sekelilingnya.
Dengan tergesa-gesa Dirga masuk ke dalam rumah itu sambil menggenggam erat tangan Mayra, yang hanya bisa memperhatikan sekeliling tempat itu dengan perasaan heran campur takut.
Sampai di ruang tengah yang terlihat semua interiornya di dominasi warna hitam dan abu, Dirga menghentikan langkah. Di sana sudah ada Aaron, Lee, Tomy, dan juga Rayen.
"Tuan..anda sudah datang..!"
Sambut Lee sambil sekilas melirik ke arah Mayra dan menautkan alisnya.
"Kamu tunggu di sini sebentar.! aku ada urusan yang harus di bereskan.!"
Ucap Dirga pada Mayra yang tampak menatapnya dan menggelengkan kepala.
"Kenapa kita kesini..? Aku takut, kita pulang saja.!"
Ucap Mayra sambil memegang erat tangan Dirga.
"Aaron akan menjagamu disini..! Aku tidak akan lama, hanya sebentar saja.!"
"Tapi sayang..aku takut, jangan tinggalkan aku..!"
Rengek Mayra pelan.
"Nyonya..disini aman, tidak akan terjadi apa-apa..! Kami semua akan melindungi mu..!"
Ucap Rayen yang langsung mendapat tatapan tajam Dirga. Dan Rayen hanya tersenyum kaku.
"Aaron..! Jaga dia, aku tidak percaya sama cecunguk yang satu itu !"
Ucap Dirga sambil melirik sekilas ke arah Rayen yang hanya memutar bola matanya jengah.
Aaron hanya mengangguk tanpa ekspresi.
Akhirnya Dirga di temani Lee , Tomy dan Rayen pergi ke luar dari ruangan itu.
Mayra terduduk lemas dan sedikit gemetar di atas sofa. Aaron mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari es, kemudian menyodorkannya pada Mayra.
Mayra mendongak, melihat botol yang di sodorkan oleh Aaron kemudian memandang wajah Aaron yang juga sedang menatapnya. Mereka bersitatap beberapa saat, mata Aaron terlihat mengerjap dan dengan cepat memalingkan mukanya.
"Terimakasih.."
Ucap Mayra sambil mulai meneguk air di botol yang sudah di buka terlebih dahulu oleh Aaron.
Mereka terdiam tanpa kata. Aaron duduk di sebrang Mayra cukup jauh. Namun masih bisa dengan jelas bagi dirinya untuk melihat bagaimana cantik dan eloknya rupa istri dari rekan bisnisnya itu.
Mata Aaron terlihat kembali mengerjap, dia berusaha menetralkan aliran darahnya yang tiba-tiba bergejolak seakan sulit untuk di kendalikan.
Dengan cepat dia berdiri dan bergerak.
"Tuan, anda mau kemana..?!"
Langkah Aaron terhenti, membeku di tempat. Suara Mayra yang lembut namun terkesan ketakutan bagaikan sengatan aliran listrik yang mengejutkan jantung Aaron, membuat hatinya bergetar seketika..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
TBC.....