
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Evelyin terlihat menatap tidak percaya ke atas panggung, dimana Mayra sedang memberikan penampilan memukau nya.
"Sial..!! Bagaimana bisa wanita murahan itu memiliki kemampuan seperti ini..!"
Gumam Evelyin sambil mengetatkan rahangnya dan mengepalkan tangannya menahan rasa marah yang memenuhi dadanya.
Dia tidak menyangka sama sekali niatnya mempermalukan Mayra malah berbuah hal yang sebaliknya. Semua orang justru terlihat begitu terpukau dengan apa yang di tampilkan oleh Mayra.
Musik indah yang barusan mengalun merdu akhirnya berhenti. Mayra berdiri kemudian melangkah ke depan panggung lalu membungkuk ke arah hadirin, disambut gemuruh tepuk tangan meriah dari para penonton dan tamu undangan yang terus mengelu-elukan namanya. Bahkan banyak yang merasa belum cukup dengan penampilan Mayra, dan memintanya untuk memberikan bonus satu lagu lagi.
Namun para host mencoba menenangkan para penonton bahwa ini benar-benar di luar konsep acara dan sudah beruntung Mayra mau menerima tantangan tersebut. Para audience hanya bisa mengeluh dan kecewa atas semua keputusan para host.
"Silahkan nona Mayra kembali..dan terimakasih sudah memberi kami kejutan yang indah..!"
Ucap salah seorang host. Mayra tersenyum lembut lalu mengangguk sopan pada ke 4 host tersebut. Kemudian dia berjalan untuk turun dari panggung.
Tatapan Dirga terus mengikuti langkah Mayra meninggalkan panggung, namun perasaan nya tiba-tiba tidak nyaman, dia memperhatikan kerumunan penonton yang ada di bawah panggung yang akan di lewati Mayra ketika kembali ke tempat duduknya.
Ada sesuatu yang ganjil yang tertangkap oleh retina matanya dengan gestur seorang penonton laki-laki.
Tanpa pikir panjang Dirga cepat berlari kearah Mayra yang baru menuruni tangga. Belum sempat dia mencapai keberadaan Mayra, tiba-tiba salah seorang penonton dengan gerakan cepat menerjang kearah Mayra mendorong keras tubuhnya hingga jatuh terguling dari tangga, kepalanya membentur tembok beton dibawah panggung. Penonton histeris melihat Mayra terjatuh dan kini tergeletak tidak sadarkan diri di lantai dengan darah mulai menetes di pelipisnya.
Dirga terkesiap, dia shock seketika saat tiba di hadapan Mayra yang sudah tergeletak tak berdaya.
Orang-orang berkerumun mengelilingi tubuh Mayra. Agam dan beberapa penjaga tiba di tempat, dia juga terlihat sangat terkejut dengan kejadian cepat dan tidak terduga ini.
"Minggir..!!"
Bentak Dirga menggelegar. Semua orang membeku di tempat tidak ada yang berani bergerak.
Dengan cepat Dirga mengangkat tubuh Mayra kemudian menggendongnya dan berjalan melewati kerumunan penonton serta para tamu undangan yang terlihat terkesima dengan kejadian ini.
Dia terus memeluk tubuh Mayra dalam gendongan nya dengan wajah dipenuhi rasa cemas serta kepanikan di ikuti oleh Lee dan beberapa pengawal.
"Bereskan ******** itu..!!"
Titah Dirga sambil terus berjalan cepat dengan wajah membesi, tapi juga panik luar biasa.
Para penonton dan tamu undangan yang ada di tempat itu hanya bisa terdiam melongo saja melihat semua yang dilakukan oleh raja bisnis itu.
Sedangkan Evelyin yang tadi sempat bengong sesaat kini wajahnya terlihat di penuhi dengan amarah dan luapan emosi yang memenuhi dadanya.
Apa sebenarnya yang terjadi.??
Kenapa Dirga bisa bereaksi seperti itu ?
Kenapa dia sampai harus melakukan hal seperti tadi, menggendong Mayra di depan umum.?
Ini benar-benar tidak bisa di biarkan !!
..... .....
Lee menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Dirga sibuk menelepon Dokter Rayen untuk mempersiapkan semuanya saat dia datang.
Kemudian dia kembali menatap lekat wajah Mayra yang ada di pangkuannya dengan segala perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya. Wajah Mayra tampak semakin pucat, dan darah yang keluar dari pelipisnya juga semakin banyak.
"Kau harus bertahan..Tidak akan terjadi apa-apa padamu.! Kau wanita yang kuat sayang..!"
Bisik Dirga dengan suara lemah. Dia mengelus lembut wajah Mayra yang semakin pucat, bibirnya tampak membiru. Hati Dirga semakin di selimuti rasa cemas dan ketakutan. Takut terjadi sesuatu pada istri keduanya itu.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, mobil yang dibawa Lee sampai di parkiran khusus sebuah rumah sakit elite di tengah
kota yang merupakan rumah sakit milik keluarga Moolay.
Saat tiba di tempat, terlihat Dokter Rayen dan juga beberapa perawat sudah siap menyambut mereka dengan menyiapkan blangkar khusus. Namun Dirga tidak melepaskan Mayra dari pangkuannya, dia sendiri yang membawa Mayra memasuki lift khusus menuju ke ruang pemeriksaan. Kemeja yang di pakainya sudah merah terkena rembesan darah yang keluar dari kepala Mayra.
"Cepat.. lakukan apapun untuk menyelamatkan nya..!"
Perintah Dirga seraya membaringkan tubuh Mayra diatas ranjang pemeriksaan.
"Sebaiknya kau keluar.! biar kami yang akan menanganinya."
"Tidak..! Aku tetap disini..!"
"Tuan Dirga yang terhormat..kumohon bekerjasama lah untuk sekarang ini..! Biarkan kami bertugas dengan tenang..!"
Sergah Rayen kesal dengan sikap keras kepalanya Dirga yang tidak mengenal situasi. Dirga menatap wajah Mayra dengan berat, akhirnya dia keluar dari ruang pemeriksaan itu dengan perasaan yang sudah tidak karuan.
__ADS_1
Dirga berjalan mondar mandir di dekat pintu ruang pemeriksaan. Tidak lama Rayen keluar dengan raut muka was-was. Dirga cepat menghampiri nya.
"Bagaimana..? apa dia baik-baik saja.?"
Tanya nya cepat.
"Harus di lakukan operasi secepatnya, dia mengalami hematoma. Ada gumpalan darah di luar pembuluh darahnya yang harus segera di angkat..!"
"Cepat lakukan..! Kenapa kalian lamban sekali.!!
Lakukan apapun untuk menyelamatkan nya, aku tidak mau tahu..!! Cepat..!!"
Bentak Dirga kalap. Rayen mengangguk kemudian dia cepat berlalu untuk menyiapkan segala sesuatunya.
Tidak lama beberapa perawat keluar mendorong hospital bed yang membawa Mayra. Dirga langsung mencegatnya kemudian mendekat dan mencium kening Mayra lama. Setelah itu dia menatap wajah Mayra yang terlihat semakin memucat.
"Kau harus kuat..! Tolong..jangan pernah berani meninggalkanku..! Akan kulakukan apapun agar kau tetap hidup..!"
Ucap nya lemah sambil menggenggam jemari Mayra yang sudah sedingin es.
Akhirnya Mayra di bawa pergi menuju sebuah ruang operasi untuk dilakukan tindakan secepatnya.
..... .....
Lee menghampiri Dirga yang sedang terduduk lemas di atas kursi tunggu di luar ruang operasi.
"Tuan..minum dulu..Tolong perhatikan juga kesehatan anda, Nyonya Mayra tidak akan suka kalau anda seperti ini.!"
Ucap Lee sambil menyodorkan sebotol air mineral.
Dirga menoleh dan kemudian mengambil botol yang di sodorkan Lee lalu meminumnya.
"Sudah kalian bereskan ******** itu.?!"
"Sudah tuan..!"
"Apa dia disuruh seseorang.?"
"I-iya tuan.."
"Apa itu Ev lagi..?"
Lee tampak terdiam. Bingung.
Sentak Dirga dengan mata yang sudah memerah.
Lee mengangguk pelan.
Brak.!
Dirga meninju bangku yang sedang di duduki nya hingga jarinya terluka dan mengeluarkan darah.
Wajahnya terlihat kelam, tinjunya terkepal kuat.
"Dia sudah bertindak di luar batas..! Aku tidak tahu kalau dia bisa seperti ini..!!"
Ucap Dirga dengan menggertakan giginya.
Lee hanya terdiam bingung.
Pintu ruang operasi terbuka, terlihat Rayen keluar dari sana dengan raut wajah lega.
Dirga dan Lee segera menghampiri nya.
"Bagaimana..?"
Tanya Dirga tidak sabar.
"Syukurlah operasi nya berjalan lancar. Dia akan segera di pindahkan ke ruang perawatan.."
Jawab Rayen sambil menepuk pundak Dirga memberi semangat. Setelah itu dia pergi.
Dirga menarik napas lega, wajahnya terlihat sedikit tenang. Dia kembali duduk sambil mengusap wajahnya kasar.
..... .....
Hari sudah menjelang pagi ketika Mayra di pindahkan ke kamar rawat inap dengan ruangan yang paling mewah di rumah sakit ini. Ruangan ini berada di lantai teratas bangunan rumah sakit .
Dirga duduk lemas di pinggir ranjang tempat Mayra terbaring dengan kondisi yang masih belum sadarkan diri pasca operasi. Kepala nya tidak berhijab karena harus di perban akibat luka operasi. Kulit tubuhnya tampak pucat hampir keunguan. Bibirnya nya juga terlihat pucat pasi tak ada rona merah sedikit pun di sana yang selalu mewarnai nya selama ini.
__ADS_1
Sebenarnya tubuh Dirga sudah sangat kelelahan, namun dia tidak bisa memejamkan matanya sedetik pun saat ini. Dia hanya terus menatapi wajah Mayra yang ada di hadapannya. Di elusnya lembut rambut dan kening Mayra.
"Sadarlah..Aku mohon.! buka matamu untukku..!
Aku tidak bisa melihatmu seperti ini terus.."
Bisik Dirga ditelinga Mayra. Namun Mayra bergeming.
Nampak nya dia masih betah memejamkan matanya.
Dirga semakin frustasi. Dia kembali mencoba berbicara pada Mayra dan mencium jemarinya
berkali kali.
Lee yang tertidur di atas sofa nampak terjaga dan mendesah pelan melihat tuan nya masih melakukan hal yang sama dari semalam.
Dia benar-benar tidak habis pikir kalau tuan nya itu bisa bertindak seperti ini. Dia belum pernah melihat tuan nya mengkhawatirkan seseorang sampai seperti ini, walau itu keluarganya sekalipun.
"Tuan.. tidurlah sebentar saja..! istirahat kan dirimu. Anda bisa ikutan sakit kalau begini.!"
Ucap Lee setelah mendekat ke arah Dirga.
"Aku tidak mengantuk.!"
"Tapi tuan.."
"Lee..jangan mengaturku..!"
"Baik Tuan.."
Lee pasrah. Dia kembali berjalan kearah sofa.
"Air..aku butuh air..Aku hauuss..."
Tiba-tiba Mayra berucap lirih. Dirga tersentak, dengan cepat melihat ke arah Mayra.
Mayra membuka matanya perlahan, tangan nya berusaha bergerak dengan pelan. Wajah Dirga langsung berubah cerah, dengan cepat dia mengambil botol minum yang ada sedotannya di atas nakas, kemudian di dekatkan ke mulut Mayra. Dan dengan cepat Mayra meminum air itu dari sedotan.
"Kau sudah sadar..! apa yang kau rasakan sekarang.?"
Tanya Dirga setelah Mayra selesai minum. Mereka tampak saling pandang lekat. Mayra masih berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya.
Lee datang menghampiri dengan wajah lega melihat nyonya keduanya itu telah sadar.
Setelah seluruh kesadarannya terkumpul, Mayra terlihat menatap dalam wajah Dirga yang ada di hadapannya .
"Aku ada di mana..? apa yang terjadi denganku.?"
Tanya nya dengan mencoba melihat sekeliling. Namun dia meringis memegang kepalanya di bagian kiri.
"Kau ada di rumah sakit, semalam kamu jatuh dari atas panggung.."
Ucap Dirga sambil mengelus kening Mayra.
"Ohh iya..Ada orang yang mendorongku."
Lirih Mayra pelan. Mereka kembali bertatapan.
Saling merasakan isi hati masing-masing.
"Apa kau lapar.?"
Tanya Dirga. Mayra menggeleng.
Di pintu muncul Dokter Rayen dengan wajah yang sudah fresh tidak seperti semalam.
"Selamat pagi nyonya, bagaimana perasaanmu..? aku akan memeriksa keadaan mu dulu..!"
Ucap Rayen dengan sangat ramah dan senyum manis yang yang terkembang dengan sempurna.
"Hehh suruh Dokter wanita yang memeriksa nya.!
kenapa harus kamu..?!"
Ucap Dirga dengan ketus. Rayen melirik jengah ke arah Dirga.
"Baiklah..lain kali akan ku suruh Dokter wanita. Tapi untuk sekarang biarkan aku melaksanakan tugasku sebagai Dokter yang menanganinya diawal.. puas ?!"
Ucap Rayen sambil kemudian mulai melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Mayra.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....