Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
98. Penthouse


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Cuaca hari ini di pusat kota xxx..cukup cerah.


Kota ini adalah salah satu kota teraman dan


paling bersih di dunia serta terkenal dengan


warganya yang menerapkan di siplin tinggi di


setiap kegiatan sehari-hari nya. Tidak ada


kepadatan kendaraan, apalagi polusi udara


yang menyesakan pernapasan.


Suasana di sebuah Penthouse besar super


mewah di tengah kota hari ini terlihat sibuk


dengan kegiatan beberapa pelayan serta


orang-orang dari staf medis. Penthouse ini


terletak di lantai teratas salah satu apartemen termahal di dunia.Tempat ini di lengkapi berbagai fasilitas penunjang yang sangat mewah dan


canggih. Ada kolam renang, perpustakaan,


pusat kebugaran serta home teather tersendiri.


Di dalam kamar utama Penthouse ini yang di


lengkapi berbagai fasilitas super mewah, terlihat seorang Dokter dan dua orang perawat sedang melakukan pemeriksaan detail terhadap pasien


yang terbaring lemah di atas ranjang khusus yang


sengaja di siapkan untuk merawatnya.


Masih ada beberapa alat medis yang masih


menempel di tubuhnya, tapi tidak selengkap sebelumnya, karena hari ini kondisi kesehatannya semakin menunjukan kemajuan yang pesat.


Ya..di sini lah sekarang Mayra berada. Di dalam Penthouse yang super mewah ini. Ini adalah hari kedua dia terbaring di tempat ini. Kamar besar


yang di sulap menjadi ruang rawat pasien


dengan fasilitas VVIV.


Aaron sengaja membawanya ke tempat ini,


karena berbagai hal dan pertimbangan.


Kota ini sangat bersih dan aman sehingga sangat cocok untuk Mayra yang saat ini memerlukan kenyamanan dan kedamaian namun tetap hangat


dan dekat dengan kehidupan sosial .


Seorang perawat yang dari tadi setia menemani


dan menjaga Mayra terlihat terkejut saat melihat Mayra mulai menggerakkan jari-jari tangan nya


dan perlahan membuka matanya. Dia segera melakukan panggilan interkom pada Dokter


yang berada di ruangan bawah.


Tidak lama muncul seorang wanita bertubuh


tinggi, berambut pirang coklat memiliki wajah


yang sangat cantik dan menarik. Dia langsung mengecek kondisi Mayra yang saat ini terlihat


masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.


Mayra hanya bisa terdiam memperhatikan dan membiarkan wanita tadi mengecek keadaannya.


Jahitan di dada Mayra terlihat sudah mengering


dan hanya meninggalkan bekas samar sedikit.


Wanita tadi terlihat tersenyum senang, kemudian


duduk di samping Mayra dan menatapnya lekat.


"Mayra.. bagaimana perasaan mu sekarang.?


Apa ada yang kau rasakan.?"


Tanya wanita itu yang kelihatannya seorang


Dokter. Mayra melihatnya kemudian menatap


wanita itu mengernyitkan alisnya dan berusaha


untuk bergerak dari posisi berbaring nya.


"Jangan banyak bergerak dulu, kamu masih lemah.


Kau masih harus banyak istirahat."


Ucap Dokter cantik tadi sambil kembali mencoba merebahkan Mayra. Mayra memutar pandangan


ke segala arah. Kamar ini terlihat sangat luas


dengan jendela kaca yang tinggi dan lebar hampir


mengelilingi seluruh ruangan.


Ada sofa besar dengan warna yang sangat elegan


berada di dekat jendela dan berbagai perlengkapan


serta fasilitas mewah lainnya. Dan ada sebuah


tempat tidur dengan ukuran besar berada di sisi lain dari ruangan kamar ini.


"Dimana saya..? kalian siapa.?"


Akhirnya Mayra berucap sambil terus memperhatikan keadaan sekitar ruangan.


"Kamu ada di kota xx..kenalkan namaku Alea.."


Ucap Dokter tadi yang mengenalkan namanya


sebagai Alea. Mayra menatap Alea dengan masih


terlihat bingung. Alea tersenyum mengerti


dengan kebingungan Mayra.


"Kau akan tahu nanti, sekarang lebih baik


istirahat kembali ya, aku akan menyiapkan


makanan khusus untuk kamu.."


Kembali ucap Alea mengelus lembut tangan


Mayra. Dia memberi isyarat pada perawat tadi


supaya mengawasi Mayra sementara dia berlalu keluar dari ruangan kamar itu.


..... .....


Saat ini Mayra sudah merasa lebih baik. Dia


juga sudah mengingat semuanya, segala


kejadian yang menimpanya. Tapi saat ini dia


bingung karena tidak tahu berada dimana, dan dimanakah Dirga.? Kenapa dia tidak melihatnya ?


Sebenarnya apa yang terjadi ? Sungguh semua


pertanyaan ini membuat Mayra bingung.


Dia butuh penjelasan, dia butuh seseorang yang


bisa menjawab semua pertanyaan2 ini.


Alea masuk kedalam ruangan dengan membawa


nampan sendiri berisi bubur serta beberapa

__ADS_1


makanan pelengkap lainnya yang tentunya sehat


dan bernutrisi tinggi.


"Kau..harus makan sekarang. Tubuhmu butuh


asupan makanan dan nutrisi yang cukup agar


cepat pulih.."


Ucap Alea sambil kemudian mengambil mangkuk bubur dan mulai mengambil sesendok setelah


itu mendekatkan ke mulut Mayra.


"Ayo..makan bubur ini, aku membuatnya


khusus untuk kamu.."


"Biar aku sendiri saja.."


"Kau masih lemas, biarkan aku yang menyuapi


kamu."


Sergah Alea dengan senyum manisnya. Mayra menatap Alea dalam diam. Dia masih saja terlihat


bingung. Alea menggeleng sambil terus tersenyum.


"Semua pertanyaan mu akan terjawab nanti.


Sekarang makan lah dulu..supaya kondisi


kesehatan mu cepat membaik..ayoo.!"


Ucap Alea. Mayra akhirnya mengangguk dan


mulai menerima suapan Alea.


Alea terlihat senang saat bubur yang dibuatnya


sendiri di lahap sampai habis oleh Mayra. Setelah bubur habis, Mayra menutup makannya dengan mencicipi kue dan buah-buahan yang semuanya


terasa begitu lezat. Entah karena perutnya yang


kosong atau karena makanannya memang benar-benar lezat.


Yang jelas itu karena obat yang telah di konsumsi


nya hingga napsu makan Mayra meningkat.


"Apa aku sudah bisa membuka semua alat-alat ini.?


rasanya ini tidak nyaman..?"


Tanya Mayra sambil melihat beberapa alat yang


masih menempel di tubuhnya. Alea mendekat


dan kemudian duduk di kursi di samping Mayra.


"Aku akan memeriksa kembali kondisimu. Kau


masih memerlukan perawatan lanjutan untuk memulihkan kondisimu.!"


Jawab Alea. Mayra terdiam dan mengangguk.


"Terimakasih ya Dokter Alea.."


"Panggil saja aku Alea, jangan sungkan.."


Sergah Alea. Mayra tersenyum mengangguk.


Saat mereka sedang asik berbincang, di pintu


muncul Aaron dengan setelan jas yang sangat


resmi seperti habis dari tempat kerja atau dari


acara penting.


Mayra terkejut dan bengong seketika saat


Dia seakan tidak percaya dengan penglihatan nya.


Kenapa bisa ada Aaron di tempat ini.?


"A-Aaron..?? Kau ada di sini.? Dimana Mas Dirga.?


apa dia tidak datang bersama mu.?"


Tanya Mayra saat Aaron sudah berdiri di pinggir ranjang , dia tampak melihat kearah pintu berharap Dirga akan muncul di sana. Aaron menatap Mayra dengan tatapan yang seperti biasanya, datar dan dingin.


"Bagaimana kondisi nya.?"


Aaron malah bertanya pada Alea, kembali


menatap Mayra tanpa ekspresi.


"Sejauh ini perkembangan nya cukup baik. Dia


hanya perlu banyak istirahat dan minum obat


secara teratur.."


Jawab Alea. Kemudian berdiri mendekati Aaron.


"Bicaralah..dia perlu penjelasan kakak.!"


Ucapnya kemudian sambil tersenyum dan


berlalu pergi keluar dari kamar.


Mayra menatap Aaron yang masih berdiri di


tempat yang sama, santai dan tanpa ekspresi.


"Tolong jelaskan padaku semuanya..! Dimana


suamiku.? Aku ingin bertemu dengannya.!"


Ucap Mayra dengan menatap Aaron penuh


harapan. Aaron duduk di kursi yang ada di


samping Mayra. Keduanya kini saling pandang


lekat.


"Dia tidak ada di sini..!"


Ucap Aaron acuh. Mayra terkejut, wajahnya


terlihat murung tapi juga masih tidak percaya


sepenuhnya pada ucapan Aaron.


"Apa maksudmu dia tidak di sini.? lalu


kenapa aku ada di sini, apa yang terjadi


sebenarnya.?"


"Kau ada di kota xxx..Aku membawamu kesini.


Kau akan tinggal beberapa waktu disini sampai


kesehatan mu pulih.!"


Ucap Aaron yang baru kali ini berbicara panjang


lebar di depan Mayra.


"Apa maksudmu membawaku kesini.? kau membawaku tanpa suamiku.? jadi mas Dirga


tidak ikut denganku kesini.?"


Tanya Mayra mulai bereaksi, wajahnya terlihat


mulai memerah, air mata tiba-tiba saja mulai terkumpul di pelupuk matanya.


Aaron memalingkan mukanya saat melihat mata Mayra mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Untuk saat ini, kau akan lebih aman tinggal


disini..!"


"Siapa kau, kenapa seenaknya saja membawaku


pergi tanpa seizinku ? kau menculikku..!!"


"Dirga tahu semuanya..!"


"Apa.??! tidak mungkin..! tidak mungkin Mas


Dirga membiarkan aku pergi dengan orang lain.


Aku adalah istrinya..! dia tidak akan membiarkan


aku dibawa pergi oleh laki-laki yang bukan


muhrimku..!!"


Seru Mayra mulai histeris. Dia bergerak ingin


turun dari tempat tidur dengan menarik selang


infus yang terpasang di tangannya. Aaron kaget melihat apa yang di lakukan Mayra dengan cepat


dia menahan tangan Mayra yang terus berusaha menarik paksa selangnya.


"Hei..Mayra hentikan.! Apa yang kau lakukan.!"


"Aku ingin pulang, aku ingin bertemu suamiku.!


lepass..aku harus pulang..!"


Teriak Mayra sambil terus berontak saat Aaron


terpaksa mendekap tubuhnya. Namun sesaat kemudian gerakan Mayra melemah dan tidak


lama dia terkulai lemas dalam dekapan Aaron.


Mayra kembali tidak sadarkan diri.


"Aleaaa...!"


Aaron berteriak kencang sehingga menggegerkan seisi Penthouse megah itu.


..... .....


Aaron duduk di pinggir ranjang menatap lekat


wajah Mayra yang masih terlihat pucat. Namun


pesona kecantikan nya tidak pernah pudar


sedikitpun. Kecantikan yang sudah mampu mencairkan hati Aaron yang beku. Saat ini hati


Aaron begitu bahagia, bisa melihat dengan dekat wanita yang sudah menggangu hatinya ini.


Tapi dia sadar sepenuhnya bahwa wanita ini


bukanlah wanita biasa, dia adalah wanita dengan segala kehormatan dan harga dirinya yang tinggi.


Dia juga wanita yang menjunjung tinggi nilai


agama dan keyakinan yang di anutnya.


Dan Aaron sangat menghormati hal itu.


Dan satu hal yang terpenting adalah.. kenyataan


bahwa wanita ini telah menjadi milik orang lain, berstatus istri orang lain, yang tidak mungkin


dapat di raihnya. Saat ini dia hanya ingin


memastikan keselamatan dan keamanan serta memberikan yang terbaik untuk wanita ini.


"Tidak perlu khawatir..dia hanya shock saja.


Dia butuh waktu sedikit lagi untuk kembali


pada keadaan semula..!"


Ucap Alea seraya menepuk bahu Aaron yang


masih terduduk diam menatap Mayra.


"Kau harus memastikan dia pulih secepatnya.


Aku tidak akan bisa menemui nya sesuka ku..!"


"Aku mengerti.. serahkan saja semuanya padaku.!


Kakak tenang saja..!"


"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik


untuknya..!"


"Kau banyak berkorban untuk semua ini kak..!


Sayang sekali dia sudah menjadi milik temanmu.!"


"Aku tidak menyesal.! Tidak ada yang salah


dengan semua ini.! Aku hanya kurang beruntung.!"


Ucap Aaron dengan suara yang berat.Tatapannya


semakin lekat ke wajah Mayra. Alea menarik


napas dan kembali menepuk bahu Aaron.


"Pengorbanan mu akan terbalas suatu saat nanti


kak, aku yakin.."


"Cintaku tak bersyarat untuknya.."


Lirih Aaron sambil kemudian meraih jemari Mayra,


di genggamnya kuat, kemudian mengecupnya perlahan dengan desakan perasaan yang saat ini sangat kompleks. Aaron menghela napas berat, menghilangkan segala ganjalan yang ada dalam hatinya saat ini. Rasa sakit dan perih karena tidak


bisa memiliki wanita yang di cintainya ini.


"Kabari aku tentang perkembangan nya..!"


Ucapnya kemudian sambil berdiri, menatap


Mayra sebentar, setelah itu berjalan keluar di


ikuti oleh Alea .


"Apa kakak tidak ingin membawanya ke mansion?


Bukankah kau ingin selalu bersamanya.?"


"Alea..dia adalah istri orang lain.! Dia wanita


terhormat.! aku membawanya kesini hanya ingin


mengamankan dia sebentar..!"


"Baiklah kak..aku mengerti.! aku akan selalu


menemaninya di sini..! kau tenang saja.!"


Ucap Alea sambil mengangkat bahu nya.


Aaron turun ke lantai bawah. Dia


memberikan beberapa instruksi pada para


pelayan yang ada di Penthouse itu untuk lebih


memperhatikan makanan serta segala keperluan


yang nanti di butuhkan oleh Mayra.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2