Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
49. Penyerangan


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Lee melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, dia membawa nya ke luar kota.


Sementara hari sudah semakin gelap menuju pergantian hari.


Mobil yang mengikuti mereka ternyata bukan hanya satu, namun ada sekitar 5 mobil yang masing-masing berisi penuh dengan orang-orang bersenjata lengkap.


Dari tadi Lee terus berkoordinasi dengan Tomy dan juga Jhon. Dia juga menghubungi team khusus yang di pimpin oleh seorang mafia gelap yang biasa bergerak tak terlihat.


Sialnya Mayra terbangun dari tidurnya ketika mereka sampai ke sebuah jalanan sepi di daerah pinggiran kota menuju ke sebuah hutan lindung.


Mayra nampak terkejut melihat hari sudah gelap dan dia masih di perjalanan yang entah berada dimana.


"Sayang kita dimana.? kenapa kita belum sampai juga di apartemen..aaaa..!"


Ucapan Mayra berakhir dengan jeritan histeris saat tiba2 terdengar tembakan keras dan mobil yang di kendarai Lee seketika oleng kemudian berputar-putar dan akhirnya terhenti dengan decitan keras memekakkan telinga.


Dirga memeluk erat tubuh Mayra menyembunyikan wajahnya dalam rengkuhan dadanya. Mobil-mobil yang tadi mengikuti mereka berhenti di kejauhan dengan jarak cukup aman.


Tapi tembakan terus di berondongkan ke arah mobil yang di tumpangi Dirga dan Mayra. Hingga suara denting peluru terdengar membuat ngilu. Untung saja mobil yang di pakai Dirga adalah mobil yang sudah di modifikasi dengan sistem keamanan cukup canggih hingga tidak bisa di tembus oleh peluru.


"Kau harus tenang.! ingat jangan bertindak gegabah.! dengarkan apa yang aku katakan.! okee..?!"


Bisik Dirga dengan sikap waspada mengintai keadaan di luar mobil. Mayra hanya mengangguk pelan dengan tubuh sudah bergetar ketakutan.


"Hubungi Jane, cepat..!!"


"Baik Tuan..!"


Saat Lee sedang berusaha menghubungi Jane , di luar sana sedang terjadi baku tembak antara kelompok penjahat dengan orang-orang yang di bawa Tomy dan Jhon. Tidak lama baku tembak berhenti di lanjutkan dengan perkelahian sengit antar dua kelompok tersebut.


Lee keluar dari mobil bersiap di sekitar mobil untuk menjaga serangan yang datang kesana.


Sementara Dirga masih dalam keadaan memeluk Mayra, dia mengeluarkan senjata dari dalam sebuah tempat khusus di bawah jok mobil nya.


Melihat hal itu, Mayra tambah ketakutan.


"Sayang..apa yang terjadi, dimana kita ?"


"Tidak akan terjadi apa-apa pada kita. Dengarkan aku, apapun yang terjadi jangan keluar dari mobil.!"


Ucap Dirga sambil mengisi peluru ke dalam senjata nya dan memastikan semuanya siap.


"Tidak, tidak..!! jangan tinggalin aku..! aku takut.! aku tidak mau sendiri di sini..!"


Rengek Mayra seraya makin mempererat pelukannya. Dirga memejamkan mata, dia mengangkat sedikit wajah Mayra yang jelas sekali pucat pasi karena ketakutan. Mereka berpandangan kuat.


"Aku hanya akan keluar sebentar, memastikan semuanya aman, aku akan melindungi mu.! kau jangan cemas. !"


"Aku tidak mencemaskan diriku..! Aku hanya mencemaskan keselamatan mu..!"


Sergah Mayra dengan suara bergetar. Dirga tertegun, menatap lekat kedua mata Mayra yang mulai basah. Kemudian dia mengecup lembut bibir Mayra.


"Tidak akan terjadi apa-apa padaku, percayalah..!"


Ucap nya parau, mereka kembali saling menatap dalam, seakan tidak mau saling melepaskan.


Dalam keadaan itu beberapa penjahat sudah berhasil menyerang ke arah mobil mereka dengan langsung menyerang Lee yang di bantu oleh Jhon dan Darwis.

__ADS_1


Anehnya kelompok penjahat itu sepertinya sudah merencanakan semua ini dengan matang. Terbukti ada beberapa mobil lagi yang datang membantu kelompok pertama.


Salah seorang penjahat yang memakai penutup kepala tampak menghantam kaca mobil belakang yang di pake Dirga dan Mayra. Sontak membuat Mayra semakin menjerit histeris, melihat hal itu amarah Dirga sudah tidak terkendali lagi, dia keluar dari mobil dan langsung menyerang penjahat tadi.


Keduanya saling berhadapan setelah beradu pukulan dan tendangan. Sang penjahat terlihat membuka cadar penutup kepalanya. Dan kini nampak lah siapa di balik cadar itu, dia adalah seorang pria berwajah cukup tampan dengan tampang kejam dan bengis.


"Ciihh..!! ternyata kau tuan muda pengecut..! Ingin membalas sakit hati ayah pecundang mu itu hahh..?!"


Desis Dirga menahan luapan amarah. Laki-laki yang umurnya kira-kira seusia Dirga itu meludah darah setelah kena pukulan di rahangnya tadi oleh Dirga.


"Serahkan wanita itu padaku..! Dia milikku.! Baru aku akan memberimu pelajaran.!"


Ucap laki-laki tadi dengan wajah yang makin menyeramkan. Dia melirik sekilas ke dalam mobil.


"Coba saja kalau kau sudah bosan hidup.!"


Ucap Dirga dengan mengepalkan tinjunya penuh.


"Wah wah..! ada hubungan apa kau dengannya tuan Moolay? sampai berani bertaruh nyawa untuk wanita murahan itu.! Dia itu hanyalah seorang penggoda.!"


"Jaga lidah mu brengsek..!!"


Bentak Dirga menggelegar sambil kemudian bergerak cepat menyerang laki-laki itu. Akhirnya mereka kembali terlibat dalam pertarungan yang cukup seru.


Sementara Mayra yang ada di dalam mobil terlihat semakin bergetar ketakutan. Dia melihat pertarungan yang terjadi antara Dirga dan salah satu penjahat.


Hatinya cemas bukan main, takut terjadi sesuatu pada suaminya tersebut. Mayra mencoba memejamkan mata, berdoa dalam diam.


"Nyonya..kau baik-baik saja ? Tetaplah disini, jangan keluar.!"


Tiba-tiba Jane sudah ada di pintu dan menatap Mayra sambil meyakinkannya agar tetap tenang. Mayra mengangguk lemah kemudian kembali memejamkan mata, terus berdoa.


Salah seorang penjahat mencoba membuka pintu mobil dan Jane kesulitan menghalangi karena dia sedang menangkis serangan musuh. Akhirnya penjahat itu berhasil menyeret Mayra keluar dari mobil.


"Lepas..!! lepaskan aku..!!"


Teriak Mayra sambil berusaha melawan penjahat itu dengan memukul badannya, tapi itu tak ada pengaruh nya sama sekali.


Dirga yang melihat Mayra di seret oleh salah satu penjahat terlihat kalap, dia memberikan tendangan keras disertai pukulan telak di titik lemah laki-laki yang jadi lawannya tadi hingga dia terjungkal ke tanah dan terkapar tak berdaya dengan memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Maass.. tolong..!"


Teriak Mayra saat tubuhnya makin jauh terseret, Dirga bergerak cepat melompat memberikan tendangan keras di dada penjahat itu hingga membuat Mayra terlepas. Setelah itu dia segera menarik tubuh Mayra ke dalam dekapannya, memberi perlindungan penuh.


Namun naas, salah seorang penjahat menyerang cepat dari arah samping menyabetkan pisau lipat ke arah Mayra, Dan Dirga dengan sigap memutar tubuhnya menghalangi sabetan pisau itu hingga mengenai bahu kirinya. Melihat hal itu Mayra kembali menjerit sambil merangkul Dirga.


Lee tampak terkesima sesaat melihat tuannya terluka,dia segera melompat ke hadapan Dirga memberi perlindungan di ikuti oleh Jane dan juga Darwis.


Untunglah dalam keadaan yang cukup kacau itu, datang pasukan team khusus yang dengan gerakan kilat sudah bisa membantai dan meringkus semua penjahat yang berjumlah puluhan orang itu.


***** *****


Dirga terduduk di atas kursi kecil yang sengaja di sediakan oleh anak buah Tomy. Lukanya sedang di bebat oleh kain putih setelah di jahit terlebih dulu oleh Dokter pribadinya yakni Dokter Rayen. Dokter itu tadi langsung ikut rombongan team khusus saat menyusul Dirga ke lokasi pertarungan.


"Kenapa kau terlambat datang..!"


Ketus Dirga pada ketua team khusus, yakni seorang laki-laki berwajah tanpa ekspresi bernama Aaron.


"Sorry..!!"

__ADS_1


Hanya itu kata yang keluar dari mulut Aaron.


Dirga berpaling pada Mayra yang sedang duduk di jok mobil dengan pintu yang terbuka dan setengah badannya menjulur keluar.


Wajahnya nampak masih sangat pucat. Dia masih belum bisa berpikir jernih atas semua kejadian mengerikan yang baru saja di alaminya. Apalagi dia melihat Dirga terluka di hadapannya.


Dirga menatap lekat wajah Mayra yang terlihat shock. Dia bersyukur wanita itu tidak terluka, namun merasa resah karena istrinya itu pasti akan merasa trauma atas semua kejadian ini.


Setelah bebatan di bahunya selesai, Dirga berjalan menghampiri Mayra yang langsung berdiri dari duduknya, mereka kini berhadapan, saling menatap, ada sorot mata kecemasan dan saling mengkhawatirkan satu sama lain di mata mereka yang sangat terlihat, detik berikutnya Mayra berhambur kedalam pelukan erat Dirga. Dia menangis tersedu di dada Dirga menumpahkan segala perasaannya saat ini.


"Maafkan aku..kau terluka karena aku..!!"


Lirih Mayra di sela isak tangisnya. Dirga mengusap lembut kepala Mayra dan mencium puncak kepalanya penuh segala rasa yang memenuhi dadanya.


"Aku tidak apa-apa ! ini hanya luka kecil saja. lagipula ini bukan salahmu..! Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri.!"


Ucap Dirga pelan. Mereka makin mempererat pelukannya disaksikan oleh beberapa pasang mata yang hanya bisa terdiam membisu.


Akhirnya Dirga memerintah kan Aaron untuk pergi membereskan semua penjahat yang sudah berhasil di lumpuhkan nya.


"Kurung dia, biarkan aku yang menangani anak pecundang itu.!"


Ucap Dirga saat Aaron menyeret pria yang jadi otak penyerangan ini.


"Ciihh..! Kau lihat saja nanti.! Aku tidak akan hancur semudah ini..!!"


Desis pria itu sambil menatap tajam penuh dendam ke arah Dirga, dia kemudian melirik dan menatap lekat wajah cantik Mayra yang pucat.


"Hemm..! kecantikan mu itu adalah bencana bagi seorang pria !"


Ucapnya kemudian sambil tersenyum sinis. Dirga mengetatkan rahangnya, ingin sekali dia menghabisi pria itu sekarang juga.


..... .....


Sampai tengah malam Dirga dan Mayra baru sampai di apartemen. Lee mengantarkan tuan nya itu sampai ke dalam kamar dan memastikan kembali keadaanya.


"Pulanglah, kau juga pasti lelah sekretaris Lee. Biar saya yang mengurusnya.."


Ucap Mayra setelah Dirga di baringkan diatas tempat tidur. Lee nampak terdiam sebentar memperhatikan Dirga yang terbaring dan terpejam.


"Baiklah nyonya, saya percaya anda akan mengurus tuan muda dengan baik.


Kalau begitu saya permisi. Besok pagi saya kesini lagi."


Ucap Lee. Mayra mengangguk, Lee pun berlalu.


Mayra beranjak mengambil wadah bulat dari stainless yang tadi di bawakan oleh Tina. Dia masuk ke kamar mandi, mengisinya dengan air hangat dan memasukan handuk kecil.


Setelah itu dia kembali ke tempat tidur. Dengan perlahan melepaskan kemeja yang di pakai oleh Dirga yang sudah berlumuran darah.


Dengan perasaan yang masih sedikit trauma dengan kejadian tadi, Mayra dengan telaten dan penuh kelembutan mulai membersihkan tubuh bagian atas Dirga.


Kemudian dengan sedikit ragu dan tegang dia membuka celana yang di pakai Dirga dan melepaskan semua kain yang menutupinya.


Jantungnya saat ini seakan ingin melompat keluar, saat tangannya dengan hati2 mulai menyusuri tubuh bagian bawah Dirga yang polos dan mulai membersihkan nya.


Tiba-tiba saja tubuhnya terasa panas dan gerah menahan desakan hasrat dan keinginan aneh yang tiba-tiba menguasai seluruh nadinya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2