
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Mayra sedang berada di dalam kamar ganti, menyiapkan pakaian dan segala keperluan Dirga. Semalam suaminya itu pulang sangat larut, sepertinya dia harus menemani Evelyin terlebih dahulu baru bisa datang menemui Mayra.
Sebenarnya ini situasi yang membuat Dirga sedikit pusing. Sekarang ini dia seakan dipaksa untuk menerima keadaan yang tidak pernah di bayangkan nya sama sekali. Dia harus menyadari hak dan kewajibannya sebagai seorang suami yang memiliki dua istri. Dirinya kini harus membagi waktu yang cukup adil untuk kedua wanita miliknya itu.
Namun ini sedikit aneh, sekarang ini dia seolah tidak bisa beristirahat dengan tenang kalau tidak ada Mayra di sisinya. Dan keberadaan Evelyin di dekatnya hanya membuat kepalanya terasa makin berat.
Rencana awalnya tidaklah seperti ini, semula dia hanya akan datang menemui istri keduanya itu di
saat malam penyatuan saja. Dan mungkin hanya
akan datang sesekali saja untuk melihat keadaanya.
Namun saat pertama kali melihat wanita pilihannya itu, tiba-tiba semuanya berubah dalam sekejap. Rencananya hancur dan berjalan kearah lain. Dirinya bahkan tidak bisa memaksakan kehendak saat ingin melakukan hubungan intim pertamanya, dia selalu merasa ingin mendapatkan wanita itu dengan segala keikhlasannya, tanpa paksaan.
Tuhan punya rencana sendiri untuk semua hal yang terjadi, dan manusia hanya sekedar berencana.
Dirga keluar dari kamar mandi, kemudian seperti biasa Mayra memakaikan baju ke tubuhnya tanpa banyak kata dan drama yang terjadi. Entah kenapa hari ini suaminya itu tidak banyak bicara, dia juga terlihat sangat terburu-buru. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
Setelah selesai dengan pakaiannya, kini Mayra memakaikan dasi, mata Dirga terfokus pada wajah cantik istrinya itu. Semalam dan tadi pagi dia tidak sempat menyentuh dan menikmati kelembutan tubuh istrinya ini. Dan sekarang waktunya sangat mepet. Ada hal yang sangat penting di perusahaan yang harus segera di bereskan nya.
"Aku tidak bisa sarapan dulu, harus segera pergi.!"
Ucap Dirga sambil merangkul tubuh Mayra dan mendekapnya erat.
"Apa ada masalah serius..?"
Tanya Mayra masih dalam dekapan suaminya itu.
Dirga menggeleng. Mereka melepaskan pelukan dan kini saling menatap lekat.
"Hanya masalah kecil.!"
Ucap Dirga seraya mencium lembut bibir Mayra.
"Nanti malam aku tidak bisa menjemputmu..Aku akan menyuruh seseorang untuk menjemputmu.!"
Ucap Dirga kemudian membuat raut muka Mayra berubah sedih dan ada sedikit keraguan.
Dirga kembali menatap wajah Mayra intens.
"Kita akan bertemu disana..Jangan khawatir.!"
Ucapnya. Mayra mengangguk pelan kemudian dia kembali memeluk tubuh Dirga erat.
Keduanya memejamkan mata. Mayra menangkap sesuatu yang ganjil dengan sikap Dirga.
..... ......
"Apa hari ini masih ada pekerjaan yang harus kamu lakukan.?"
Tanya Dirga saat keduanya sudah menuruni tangga menuju ke lantai bawah.
"Hanya ada pemotretan saja.."
Sahut Mayra tak bersemangat. Dirga mengengam tangan Mayra erat. Keduanya kini sudah sampai ke ruang tamu dimana Lee sudah berada di sana.Dan
di sana juga terlihat sudah ada Silvia, tersenyum
kaku ke arah Dirga.
"Kamu sudah datang Sil..?"
Tanya Mayra sambil menatap senang kearah Silvia.
"Iya May.."
"Panggil dia Nyonya Dirga..!"
Sanggah Lee dengan menatap tajam Silvia.
Mayra melirik Lee lalu tersenyum lembut.
"Tidak apa sekretaris Lee..kami sudah biasa kok..!"
Ucap Mayra. Dirga menarik tubuh Mayra kembali mendekapnya erat, membuat Silvia melongo sesaat tapi kemudian menundukan mukanya.
"Apa yang di ucapkan Lee benar..Biarkan temanmu itu memanggil mu dengan sebutan yang seharusnya..!"
"Tidak sayang..kami sudah lama berteman. Ini sesuatu yang berlebihan..!"
"Biarkan dia terbiasa dengan itu..!"
"Sudahlah..sekarang berangkat ya sebelum kamu terlambat. Sampai jumpa nanti malam..!"
__ADS_1
Sergah Mayra sambil melepaskan diri dari dekapan Dirga kemudian mendorong halus tubuhnya.
Dirga menatapnya tajam tidak suka, mata Mayra mengerjap manja kemudian tanpa di duga dia mengecup mesra bibir Dirga, membuat wajah laki-laki itu kontan bersemu merah.
"Sudah mulai berani kamu ya..!"
Bisik Dirga sambil kemudian mengecup lembut kening Mayra setelah itu dia berjalan, namun tertahan saat Mayra menarik lengan kanannya kemudian mencium punggung tangannya dengan lembut. Seperti biasa Dirga hanya bisa tertegun sesaat, setelah itu dia melangkah pergi keluar dari rumah besarnya itu.
***** *****
Rumah besar bertingkat yang lebih pantas di sebut Mansion ini tampak sudah sangat sibuk sejak pagi.
Kesibukan ini terjadi karena kedatangan sang Tuan rumah yang selama 3 bulan ini pergi ke luar negeri.
Tuan Leonardo El Moolay beserta istrinya Nyonya Veronica Davis kembali ke tanah air menjelang tengah malam tadi menggunakan pesawat jet pribadi.
Tuan Leonardo El Moolay adalah seorang pria setengah baya, memiliki postur tubuh tinggi dan
gagah dengan garis wajah yang sangat tegas dan masih terlihat tampan. Kharisma dan aura kehadirannya masih sangat kuat walaupun sudah tidak muda lagi. Semua orang tidak akan berani mengangkat muka di hadapannya. Dirga adalah jelmaan dirinya saat masih muda.
Sementara Nyonya Veronica Davis juga merupakan seorang wanita yang memang sepertinya sudah tercipta untuk melengkapi kesempurnaan suaminya.
Walaupun sudah tidak muda lagi, dia masih terlihat sangat cantik dan terawat, senantiasa berpenampilan elegan namun tetap tegas dalam bersikap.
Dan kini gambaran waktu dia muda ada dalam diri putri tercintanya Rayhana Amanda Moolay
Kepala pelayan di mansion ini adalah seorang wanita setengah baya bertubuh tinggi dengan raut muka yang sangat kaku cenderung datar bernama Bu Sandra.
Dia adalah pelayan setia pasangan suami istri keluarga Moolay.
Sejak pagi Bu Sandra sudah sangat sibuk memberi instruksi kepada seluruh pelayan untuk mengerjakan tugasnya masing-masing, tanpa ada kesalahan ataupun kelalaian. Karena Nyonya besar di rumah ini adalah tipe orang yang sangat teliti dan segala sesuatunya harus berjalan sempurna
Saat ini sepasang Tuan dan Nyonya besar itu sedang berada di meja makan, menikmati sarapan paginya dengan hidangan mewah yang menggugah selera.
Di rumah ini memang tersedia seorang koki khusus yang bertugas mengurus masalah menu makanan keluarga ini.
"Sandra..bagaimana persiapan untuk nanti malam.? Apa semuanya sudah selesai..?"
Tanya Nyonya Veronica pada Bu Sandra yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
"Sudah Nyonya besar. Semua sesuai perintah anda."
Jawab Bu Sandra sambil menundukan mukanya.
"Bagus, pastikan tidak ada yang kurang. Aku ingin mengundang keluarga adikku dan juga teman-teman dekatnya Dirga.!"
"Baik Nyonya besar.."
Sahut Bu Sandra. Amanda muncul dengan setelan lengkap seorang owner butik terkenal. Selalu elegan dan fashionable.
"Hy Mom..Hy Dad..!"
Sapa Manda seraya mengecup lembut pipi kedua orang tuanya.
"Anak manja..!"
Desis Nyonya Veronica sambil mengelus pipi putri bungsunya itu.
Manda duduk di samping kiri sang Ayah kemudian memulai sarapannya.
"Bagaimana nanti malam..? Jadi bertemu kakak ipar..??"
"Hemm..kakak ipar..??!"
Gumam Tuan Leon dan juga Nyonya Veronica hampir bersamaan.
"Hemm..kakak ipar baru..?!"
Sahut Manda dengan senyum usilnya.
"Sepertinya kamu cukup menyukainya..?"
Tanya Nyonya Veronica menatap penasaran wajah putrinya. Manda mengangguk cepat.
"Semua orang juga begitu.."
Ucapnya. Tuan Leon dan Nyonya Veronica saling pandang.
"Jangan tertipu dengan penampilan luarnya saja.!"
Sergah Nyonya Veronica. Manda kembali menggeleng mantap.
"No Mom..! dia bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan jati dirinya. Semua akan dengan sangat mudah terlihat di wajahnya..!"
Kilah Manda dengan senyum penuh keyakinan.
__ADS_1
Tuan Leon terlihat menghentikan sarapannya.
Manda melirik, menatap wajah ayahnya itu.
"Ada masalah Dad..?!"
Tanya Manda. Tuan Leon menggeleng kemudian mengusap mulutnya dengan serbet putih yang sudah tersedia.
"Daddy harus ke ruang kerja, ada yang harus di bahas bersama kakakmu..!"
Ucapnya kemudian dengan suara baritonnya. Dan setelah itu dia melangkah pergi.
Manda berpaling pada Nyonya Veronica.
"Mau ke butik Mom.?"
"No.. Mommy masih cape.! Mom juga mau memastikan semua persiapan untuk acara makan malam nanti.!"
"Oke..! Kalau gitu Manda pergi ya..Sampai jumpa nanti malam.!"
Ucap Manda sambil kemudian mengakhiri sarapannya. Setelah itu menghampiri ibunya dan mengecup lembut pipinya.
"Hati-hati di jalan..!"
"Oke Mom..!"
Seru Manda yang sudah berjalan menjauh dan melambaikan tangan.
Nyonya Veronica terdiam, kemudian mengusap lembut ujung bibirnya.
"Sandra..!"
"Iya Nyonya.."
"Apa Evelyin pernah kemari selama kami pergi.?"
"Pernah Nyonya, tapi hanya sendiri tidak bersama Tuan muda.."
"Hemm..baiklah..!"
Sahut Nyonya Veronica kemudian. Dia berdiri dari duduknya kemudian berjalan menuju ke ruang kerja tempat Tuan Leon berada sekarang.
***** *****
Hari ini seperti biasa Mayra sibuk dengan acara pemotretan untuk sebuah majalah fashion berbasis syariah. Dia sampai harus mengganti pakaiannya beberapa kali. Sebenarnya dari pagi kepalanya sudah sedikit pusing. Tapi dia berusaha menahannya agar performa nya terlihat stabil.
Saat sedang break, Silvia melihat Mayra duduk lemas di depan cermin. Dia mendekat dan memperhatikan Mayra yang dari tadi terus saja menatap layar ponselnya.
"Kenapa tidak kamu saja yang menghubungi May.?"
Ucap Silvia tiba-tiba hingga mengagetkan Mayra.
"Kamu ini Sil..bikin kaget saja..!"
Desis Mayra kesal. Silvia hanya nyengir saja.
"Ayo telpon dia..!"
"Apaan sih..! Gak usah ahh..!"
"Jangan jaim, kalau kangen hubungi saja langsung, gitu aja kok repot !"
"Silvia..udah iihh..! siapa juga yang kangen.!"
Kilah Mayra sambil kemudian berdiri dan mencoba merapihkan kembali pakaian yang akan menjadi objek pemotretan terakhirnya. Setelah itu dia kembali ke lokasi pemotretan untuk segera menyelesaikan tugasnya kali ini.
Hari sudah mulai senja dan sebentar lagi malam menjelang. Mayra sedikit resah karena ternyata pemotretan ini memakan waktu sampai menjelang malam. Dia tidak akan sempat untuk pulang dulu ke rumahnya dan mengganti pakaiannya . Kalau begini mau tidak mau dia harus memakai pakaian yang di bawanya tadi dari rumah. Meskipun bukan sebuah gaun yang mewah, Namun cukup layak untuk di pakai ke sebuah acara makan malam. Tapi ini adalah acara yang cukup penting baginya, bertemu dengan kedua mertuanya . Bukankah dia harusnya memberikan kesan yang cukup bagus?
"Nyonya ..pakai ini..!"
Tiba-tiba Jane masuk ke ruang ganti dan memberikan sebuah paper bag pada Mayra.
"Dari siapa Jane..?"
Tanya Mayra heran sambil meraih paper bag yang di berikan Jane.
"Orang yang akan mengantarkan Nyonya ke rumah Tuan besar..!"
"Ooh..baiklah..terimakasih ya."
Ucap Mayra sambil kemudian dia masuk kedalam ruang ganti baju dan segera mengganti pakaiannya dengan gaun yang tadi di berikan oleh orang yang akan mengantarnya menemui mertuanya.
Mayra keluar dari ruang ganti, Jane dan Silvia serta orang-orang yang ada di tempat itu tampak terpukau melihat penampilan Mayra, gaun yang di pakainya terlihat sangat indah dan terkesan sengaja di buat khusus hanya untuk Mayra dengan segala keanggunan nya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
TBC.....