
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Cuaca malam ini benar-benar buruk. Hujan mulai turun di sertai angin kencang dan badai petir. Kabut pekat di udara menghalangi jarak pandang.
Sebuah helikopter memaksa terbang menerobos badai dan kabut tebal.
"Tuan..ini akan sangat berisiko untuk keselamatan anda, sebaiknya kita tunda penerbangan menunggu cuaca lebih baik..!"
Ucap Lee dengan suara sedikit keras untuk mengimbangi gemuruhnya mesin heli. Dirga menatap tajam ke depan melihat kondisi udara dan cuaca yang semakin tidak mendukung.
"Aku tidak bisa menunggu sampai besok, Mayra membutuhkan ku sekarang juga..!"
"Tapi Tuan..nyawa anda akan dalam bahaya.!"
"Lee aku sudah bersabar selama seminggu ini tidak menghubungi Mayra, hari ini dia hampir tidak selamat dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi lagi..!"
"Saya mengerti kekhawatiran anda Tuan, tapi keselamatan anda juga penting. Kita bisa mengambil jalur darat..!"
"Itu akan memakan waktu.! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi..!!"
"Tuan.. saya mohon pikirkan keselamatan anda.."
"Lee..bicara lagi aku lempar kau keluar..!!"
Bentak Dirga dengan wajah yang sudah mengeras.
Lee terdiam, dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi, akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Tuan nya itu yang memaksa menerjang bahaya demi bisa pulang untuk menemui istrinya.
Guncangan terjadi tatkala sebuah badai petir melintas dan menyambar badan pesawat.
"Tuan..kita harus mendarat darurat, keadaan bisa semakin tidak terkendali..!"
Teriak sang pilot yang berusaha mati-matian mengendalikan laju pesawatnya yang terus berguncang.
"Pesawat ini turun atau kau yang aku turunkan sekarang juga..!!"
Bentak Dirga yang sudah berada di belakang pilot dan menatap tajam penuh kemarahan. Sang pilot pun langsung ciut nyalinya dia kembali fokus pada pesawat nya.
Keadaan pesawat semakin berguncang dan tidak terkendali karena hantaman badai petir yang terus terjadi, kabut tebal semakin menyulitkan jarak pandang si pilot, belum lagi hujan badai yang terus terjadi sehingga semakin memperparah keadaan.
***** *****
Mayra tidak bisa memejamkan matanya, dia sangat gelisah malam ini. Hatinya dari tadi terasa tidak tenang, pikirannya terus terfokus pada Dirga. Bayangan wajahnya terus melintas memenuhi otaknya.
"Ada apa ini Tuhan..kenapa hatiku rasanya tidak enak dari tadi..Mas Dirga..kenapa wajahnya terbayang terus.."
Bisik Mayra sambil terus menggulingkan badannya mencoba mencari kenyamanan.
Mayra tersentak ketika hujan tiba-tiba turun dengan derasnya disertai suara petir yang saling menyambar. Gemuruh ombak dari tengah laut semakin membuat cuaca semakin menyeramkan.
Mayra menenggelamkan wajahnya di bawah bantal. Tubuhnya di gulung dibawah selimut, Mayra menjerit histeris saat suara hujan yang semakin deras susul menyusul dengan suara petir yang terus menyambar.
"Ya Tuhan..kenapa tiba-tiba cuaca seperti ini..
Mas Dirga..tolong aku Mas...aku takuutt.."
Lirih Mayra sambil menutupi telinganya untuk mengurangi rasa takut karena suara petir dan gemuruh hujan yang semakin terdengar mengerikan.
Keadaan ini terus berlangsung lama, Mayra menangis sendiri dalam ketakutan. Hatinya juga semakin tidak enak, bayangan wajah Dirga terasa semakin nyata dalam pikirannya.
Mayra tidak bisa terus berada dalam ketakutan ini,
dia harus melawan rasa takut ini. Kemudian dia mencoba membuka selimut dan melihat keadaan sekitar kamar. Cahaya kilat masuk silih berganti membuat suasana semakin mencekam.
"Ya Allah..kuatkan aku menghadapi semua ketakutan ini..!"
Gumam Mayra sambil kemudian berusaha bangkit perlahan dan pelan-pelan turun dari tempat tidur.
Waktu sudah hampir tengah malam. Entah kenapa pikiran Mayra semakin resah, air mata turun dengan sangat deras, hatinya semakin resah dan gelisah. Langkah kakinya menuntun dia ke dekat pintu. Dia tidak bisa membangunkan Jane untuk menemaninya saat ini, karena yakin Jane sekarang ini sudah beristirahat. Dia juga tidak ingin mengganggunya.
Mayra membuka pintu perlahan, saat bersamaan terdengar suara geledek yang sangat keras.
"Aaaww..."
__ADS_1
Mayra menjerit sambil berjongkok menutupi kedua telinganya dan memejamkan mata.
"Nyonya, anda tidak apa-apa.?"
Suara Jane mengagetkan Mayra, dia mendongak dan melihat Jane sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Jane kenapa kamu ada di sini..?"
Tanya Mayra heran seraya menghapus air matanya.
Kemudian dia berdiri dan melangkah keluar dari pintu.
"Saya dari tadi disini Nyonya, saya khawatir pada Nyonya karena hujan badai ini."
Jawab Jane. Mayra menarik napas lega.
"Aku kira kamu sudah tidur Jane.."
Ucap Mayra sambil kemudian memberanikan diri melangkah keluar berjalan kearah jembatan.
"Nyonya mau kemana..? ini sudah sangat larut, masuklah saya akan menjaga Nyonya di depan pintu..!"
Ucap Jane seraya mengikuti langkah Mayra yang mulai menyusuri jembatan. Hembusan angin malam yang kencang di sertai guyuran air hujan dan kabut putih menyerbu menerpa tubuh Mayra.
"Nyonya kembalilah..ini sangat bahaya, badai masih berlangsung..!"
Ucap Jane terus mengikuti langkah Mayra.
"Aku ingin ke Villa utama Jane..Akan lebih aman di sana.!"
Teriak Mayra sambil terus berjalan menerobos kabut pekat bercampur air hujan yang menghantam tubuhnya membuat dia kini basah kuyup.
Melihat hal itu Jane semakin khawatir, dia menggaruk kepalanya dan mengusap kasar wajahnya.
"Sebaiknya saya menggendong Nyonya biar cepat sampai.!"
Ucap Jane sambil cepat maju menghalangi langkah Mayra, tapi Mayra hanya menatapnya tajam kemudian menggeleng.
Aku ingin bertemu Mas Dirga..!"
Lirih Mayra menghayal. Dia kembali melangkah kali ini lebih cepat. Jane terdiam dan hanya bisa mengikuti kemana langkah majikannya itu. Sebenarnya Jane ingin kembali mengambil mantel buat Mayra, tapi dia tidak mungkin membiarkan Mayra berjalan keluar sendiri apalagi di tengah badai petir seperti ini.
"Nyonya..cuaca semakin buruk, sebaiknya kita kembali ke villa..ini sangat membahayakan keselamatan anda."
Ucap Jane di tengah mengikuti langkah Mayra.
"Aku pernah berada dalam situasi yang lebih bahaya dari ini Jane..Aku ingin menunggu kedatangan suamiku..!"
Sergah Mayra, dia mulai menampakkan kakinya diatas pasir setelah keluar dari jembatan. Tubuhnya basah kuyup seperti baru keluar dari bak mandi, pakaiannya sudah terlihat rapat dengan kulitnya hingga lekuk tubuhnya terlihat jelas. Untung saja ini malam hari dan tidak ada orang yang melihat.
Mayra berlari menuju ke halaman Villa utama di ikuti oleh Jane. Namun ketika sampai ke halaman dia mendengar suara gemuruh di udara di susul kedatangan sebuah helikopter yang terlihat sedikit berputar di udara dan berguncang hebat.
Mayra berdiri mematung tak bisa bergerak melihat kedatangan pesawat tersebut. Pikirannya berterbangan kemana-mana. Dia bergetar saat
berpikir jangan-jangan itu adalah pesawat para penjahat yang tadi siang mencoba melukainya.!
Ataukah itu orang lain..?? Apakah itu Dirga, mungkinkah..??
Akhirnya pesawat bisa mendarat dengan susah payah di halaman Villa yang memang di persiapkan khusus sebagai landasan mini.
Mayra masih berdiri kaku, di belakang nya Jane tampak tersenyum tipis melihat kedatangan pesawat tersebut. Dia memuji insting majikannya ini yang secara tidak langsung bisa merasakan aura kehadiran suaminya yang bahkan masih berada pada jarak yang tidak terjangkau. Ikatan bathin di antara keduanya ternyata sudah terjalin cukup kuat.
Dirga keluar dari dalam pesawat dengan mantel tebal yang menutupi sampai lehernya. Dia berdiri sesaat di pintu pesawat melihat keadaan dan cuaca yang sangat kacau. Pohon-pohon tumbang dan sampah berserakan dimana-mana.
Matanya menyipit ketika menangkap satu sosok yang sangat di kenalnya sedang berdiri di kejauhan.
"Mayra..."
Desis Dirga dengan tatapan yang semakin tajam dan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Kenapa Mayra ada di luar Villa larut malam seperti ini, di tengah hujan badai yang sangat membahayakan.
Rahang Dirga mengeras wajahnya terlihat dingin, dengan cepat dia melangkah menuju ke tempat
Mayra berdiri.
__ADS_1
Mayra melihat seseorang muncul dari dalam
pesawat kemudian berdiri menatap kearahnya. Hatinya bergetar seketika, lututnya mendadak lemas ketika dia mengenali siapa sosok tersebut.
Air mata langsung luruh jatuh bercucuran
membasahi wajahnya bercampur dengan air hujan.
"Mas Dirga..kamu pulang mas.."
Lirih Mayra sambil menutup mulutnya tidak percaya dengan kenyataan yang terjadi tanpa di duga ini.
Tanpa sadar dia langsung berlari kearah Dirga yang juga ikut berlari kearahnya. Ketika sudah dekat Mayra langsung melompat kedalam pelukan Dirga yang mendekapnya erat mengangkat tubuh Mayra seluruhnya kedalam rengkuhannya.
"Kamu jahat Mas..! Kenapa pergi tanpa pamit..!!
Kamu membuangku disini..!!"
Isak Mayra dengan suara yang di tekan sekuatnya dan tangan nya yang terus memukul punggung Dirga.
Dirga hanya terdiam memejamkan mata dan makin mempererat pelukannya.
"Kenapa baru kembali sekarang.?! Apa kamu memang sengaja tidak ingin membawaku pulang..!? Aku benci sama kamu Mas, kamu jahat..!!"
Kembali ucap Mayra di tengah sedu sedannya.
"Maafkan aku sayang..!"
Ucap Dirga bergetar sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Mayra. Hujan deras tiada henti turun membasahi tubuh mereka berdua.
"Kamu bahkan tidak pernah memberi kabar, kamu menghilang begitu saja. Aku memang tidak penting bagimu..! "
"Ssttt...jangan bicara lagi, sudah cukup.!"
Potong Dirga sambil kemudian melonggarkan pelukannya. Keduanya saling pandang lekat,
kerinduan yang begitu dalam terlihat jelas
dalam sorot mata keduanya.
"Kita harus masuk ke Villa, kau bisa sakit nanti.! kenapa kamu ada di luar malam2 begini ? apa kamu tidak takut terjadi sesuatu..?!"
Ucap Dirga sambil kemudian membuka mantelnya dan menyelimutkan ke tubuh Mayra yang hanya bisa terdiam menatap suaminya itu.
Setelah itu Dirga mengangkat tubuh Mayra kedalam pelukannya dan mulai berjalan menuju ke villa tempat tinggal mereka. Selama berada dalam pangkuan Dirga Mayra hanya terdiam memandang lekat wajah Dirga yang basah terkena hujan, terlihat begitu tampan dan gagah. Mayra tersenyum, dia masih meyakinkan diri kalau semua ini bukanlah mimpi, ini adalah kenyataan.
Sampai di dalam Villa Dirga langsung membawa Mayra masuk ke dalam kamar mandi. Dia menurunkan tubuh Mayra kemudian mengisi bathub dengan air yang sedikit lebih hangat.
Setelah itu kembali ke hadapan Mayra, keduanya kini saling pandang dengan tatapan yang sama2 di penuhi oleh gejolak kerinduan yang sudah tidak tertahan.
Perlahan Dirga melucuti pakaian basah yang menutupi tubuh Mayra. Tangannya sedikit bergetar, napasnya mulai berat. Kini tubuh indah istrinya itu sudah polos tanpa sehelai benangpun, Dirga berusaha mengendalikan hasrat dan keinginan memilikinya.
Dia masih belum yakin apakah sekarang Mayra sudah bisa menerima sentuhannya atau belum.
Kini giliran Mayra yang membuka semua pakaian yang membungkus tubuh suaminya itu. Dia juga merasakan hal yang sama, hasrat nya sudah naik menguasai tubuhnya, membuat aliran darahnya terasa panas.
Tapi Mayra masih berusaha mengontrol dirinya.
Mereka masuk kedalam bathub, Dirga membawa Mayra kedalam pangkuannya. Keduanya terdiam sesaat mencoba mengendalikan diri masing2.
Hasrat yang membara membuat napas mereka
kian berat.
Setelah berendam dan membersihkan diri secukupnya Dirga kembali mengangkat tubuh Mayra yang sudah berbalut kimono keluar dari kamar mandi. Sementara dia hanya mengenakkan handuk tipis saja di bagian bawah tubuhnya.
Dirga membaringkan tubuh Mayra di atas
tempat tidur. Hujan masih berlangsung walau tidak sederas sebelumnya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....
__ADS_1