Takdir Cinta Almayra

Takdir Cinta Almayra
96. Kritis


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Mayra duduk lemas di sofa, Dirga berada di sebelahnya merangkul bahu nya erat. Di depan


mereka tampak Rayen sedang memeriksa keadaan Mayra tanpa menyentuh wajahnya.


Sekretaris Lee yang tadi menghubungi Rayen


agar segera datang ke kantor karena Dirga begitu khawatir saat melihat memar kemerahan di wajah Mayra tidak kunjung hilang malah makin nampak.


"Bagaimana..tidak parah kan.?"


Tanya Dirga tidak sabar. Rayen mendesah pelan.


"Tidak apa-apa. Hanya memar saja, tapi karena


kulit wajah Nyonya Mayra sedikit sensitif jadi


warna kemerahan ini terlihat jelas."


"Berikan saja obat yang terbaik, tidak perlu berbelit-belit.!"


Potong Dirga ketus karena Rayen di nilai sengaja mengulur waktu pemeriksaannya agar bisa lebih


lama melihat Mayra.


Rayen mendengus kesal kemudian mengambil


obat dan salep dari dalam tas yang di bawanya.


"Ini salep untuk di oles, dan obatnya di minum


untuk menghilangkan rasa sakit..!"


Rayen menjelaskan seraya menyerahkan obat


pada Mayra tapi langsung di rebut oleh Dirga.


"Terimakasih Dokter.."


Ucap Mayra. Rayen mengangguk sambil tersenyum.


"Salep ini bisa menghilangkan memar nya dengan cepat kan.?"


Tanya Dirga seraya mengeluarkan salep


tersebut sedikit ke ujung jarinya kemudian mengoleskannya di wajah Mayra dengan hati-hati.


"Sore juga bisa hilang.!"


Ujar Rayen sambil berdiri menatap keduanya.


"Aku pulang dulu..! Lekas sembuh ya Nyonya cantik."


"Rayeenn...!"


"Iya iyaa..aku pergi sekarang..!!"


Dengus Rayen sambil mengedipkan mata jahil


ke arah Mayra yang hanya nyengir saja. Dirga melempar bantal sofa kearah Rayen yang berlalu


pergi dari ruangan itu.


Dirga selesai mengoles salepnya. Kemudian


meraup wajah Mayra, mencium keningnya mesra.


Setelah itu memeluk tubuhnya erat.


"Maafkan aku tidak bisa menjagamu..! wanita itu


selalu saja berhasil melukaimu..! "


Bisik Dirga masih memeluk erat tubuh Mayra.


"Ini bukan salahmu Mas, tidak usah dibahas lagi."


Lirih Mayra balik memeluk erat Dirga. Keduanya terdiam saling memeluk erat, merasakan detak


jantung masing-masing yang saat ini berdetak


dengan kencang.


"Ayo kita jalan..!"


Ucap Dirga setelah lama. Mayra mendongak


menatap Dirga heran.


"Mau kemana Mas.? lagipula wajahku dalam


keadaan memar seperti ini."


"Kita akan pergi ke tempat yang sepi dan gelap..!"


Ucap Dirga dengan senyum smirk nya. Mayra mengernyitkan alisnya.


"Maksudmu..?"


"Kita akan kencan..!"


Dirga berdiri menarik tangan Mayra yang meraih tas nya kemudian mengikuti langkah Dirga keluar dari ruangan kantor megahnya.


***** *****


Lee menghentikan mobilnya di area private


parking sebuah mall megah di pusat kota.


Mall ini adalah salah satu bidang usaha milik perusahaan Moolay Group. Dirga keluar dari


mobil di ikuti oleh Mayra.


Kemudian mereka berjalan masuk ke dalam mall. Dirga tiada henti menggandeng tangan Mayra dan sesekali memeluk pinggangnya.


Lee dan beberapa pengawal serta penjaga mall tersebut terlihat sibuk mengamankan jalur yang


di lalui oleh Dirga dan Mayra. Para pengunjung


Mall yang saat ini sedang sangat padat terlihat berteriak histeris saat melihat kedatangan


Mayra apalagi sekarang terang-terangan berjalan bergandengan tangan bersama sang raja bisnis


yang notabene nya adalah suaminya.


Sungguh mereka terlihat sebagai pasangan


yang sangat serasi dan sempurna. Hampir semua


pengunjung mengambil gambar mereka berdua


dan mengabadikan moment langka ini.


Dirga membawa Mayra mengunjungi sebuah


toko perhiasan yang ada di mall tersebut.


Sang manajer toko langsung menyambut


mereka dengan membungkuk hormat.


"Tuan..Nyonya silahkan lewat sini.."


Ucapnya sambil membimbing mereka masuk ke


sebuah ruangan khusus di dalam toko tersebut.


"Barang yang ku pesan sudah jadi.?"


Tanya Dirga setelah duduk di sofa yang ada


di dalam ruangan tersebut. Mayra duduk di sebelahnya.


"Sudah Tuan, sebentar saya siapkan.."


Jawab sang manajer sambil kemudian pergi,


masuk ke sebuah ruangan lain.

__ADS_1


"Sayang..untuk apa kita kesini ?"


Tanya Mayra, Dirga melirik menatap lembut


wajah Mayra.


"Lihat saja nanti.!"


Jawab Dirga sambil kemudian menciumi pipi


Mayra yang langsung menjauh dan mendorong


bahu Dirga.


Tidak lama manajer toko sudah kembali dengan


membawa dua kotak perhiasan di tangannya.


"Ini Tuan..! Ini adalah desain khusus dan exlusive


sesuai dengan pesanan dan keinginan anda."


Ucap sang manajer sambil membuka kedua


buah kotak perhiasan yang tadi di bawanya.


Dalam kotak pertama terlihat ada sepasang


cincin yang sangat indah dan unik. Dan di kotak


kedua ada sebuah kalung berlian dengan model


dan desain yang sangat mewah dan exlusive.


Mayra terlihat menatap kedua cincin itu dengan


mata berbinar. Cincin itu terlihat berkilau dengan desain yang sangat unik dan menarik.


Dirga meraih satu cincin dengan ukuran yang


lebih kecil, kemudian dia berpaling pada Mayra, menatap nya intens, lalu meraih jemarinya dan menyematkan cincin berlian cantik tersebut


di jari manisnya.Mayra menatap Dirga dengan


sorot mata tak percaya , dia melihat cincin yang


kini tersemat di jari manisnya dengan mata berkaca-kaca.


"Mas..untuk apa semua ini.? Bukankan kemarin


kamu sudah memberikan cincin yang lain.?"


Ucap Mayra bergetar, cairan bening mulai menetes dari sudut matanya membasahi pipi mulusnya.


"Ini adalah cincin kawin kita."


Dirga berucap seraya menghapus air mata di pipi Mayra kemudian meraih jemarinya, menciumnya


lembut penuh dengan perasaan. Mayra makin menatapnya terharu. Setelah itu dia mengambil


cincin yang satunya lagi, kemudian memasangkan


di jari Dirga. Keduanya kembali saling pandang


lekat . Mayra tersenyum bahagia.


"Terimakasih ya Mas.."


Lirihnya sambil kemudian mengecup mesra


kedua pipi Dirga yang langsung merona wajahnya.


...... .....


Setelah keluar dari toko perhiasan tadi Dirga membawa Mayra mengunjungi butik mewah


yang ada di dalam mall tersebut. Dia menyuruh


Mayra untuk memilih setiap pakaian dan tas yang


ada di butik tersebut. Mayra hanya menggeleng


pusing karena dia merasa tidak memerlukan


yang tersedia masih belum terpakai.


"Mas aku tidak memerlukan semua ini.


Baju-baju ku masih sangat banyak dan


belum terpakai sama sekali. Untuk apa


membelinya lagi.."


"Itu model lama, sudah ketinggalan zaman. Ini


semua keluaran baru, pilihlah yang kau suka.!


Titah Dirga sambil duduk tumpang kaki di sofa


yang tersedia di butik tersebut. Saat ini butik


sudah di sterilkan sehingga tidak ada


pengunjung lain di dalamnya.


Mayra menghela napas, dia sungguh di buat


pusing oleh keinginan suaminya yang pemaksa itu.


"Tapi aku sungguh tidak memerlukannya Mas,


nanti saja ya aku pergi sendiri kalau butuh..!"


Rajuk Mayra sambil menggelengkan kepala dan


melangkah keluar.


"Hei..kau pergi aku borong semua yang


ada di sini..!"


Ancam Dirga masih asik dengan ponselnya.


Mayra berhenti, kemudian mendesah gerah


dengan ancaman Dirga. Akhirnya dengan


terpaksa Mayra memilih pakaian yang sekiranya


cocok dengan seleranya di bantu oleh semua


pelayan butik.


"Bungkus semuanya..Lee yang akan mengurus


pembayarannya..!"


Titah Dirga pada para pelayan butik setelah


Mayra merasa cukup memilih.


Dia kembali menarik pinggang Mayra diajak


berjalan keluar dari dalam butik tersebut.


Mayra menuruti semua yang di perintahkan


Dirga untuk memborong semua barang yang


terlihat menarik di matanya.Dan itu semua adalah barang-barang untuk dirinya. Dia bahkan tidak membeli satu pun barang untuknya.


Ketika melewati sebuah butik yang menyediakan


semua perlengkapan buat ibadah, mata Mayra


terlihat berbinar senang dan penuh semangat.


Dengan cepat dia masuk dan memilih beberapa

__ADS_1


pakaian untuk Dirga serta dirinya.


Dirga berdiri di luar butik tengah serius berbicara


di telpon. Sementara Lee terlihat sibuk memberi


instruksi pada pengawal dan pelayan toko untuk mengantar semua barang yang telah di beli majikannya itu.


Mayra selesai memilih barang dan membayar nya sendiri di kasa, setelah itu dengan wajah bahagia


dia keluar dari dalam toko dengan menenteng


barang belanjaannya. Saat dia berjalan


menghampiri Dirga yang masih asik dengan


telponnya tiba-tiba ada seseorang yang


menabraknya kencang dari arah samping,


kemudian orang itu berlari menjauh dengan cepat.


Mayra berdiri kaku di tempat, wajahnya terlihat


shock seketika, tangannya reflek memegangi dada sebelah kiri. Ada darah yang tiba-tiba mengucur


deras dari balik pakaiannya. Mata Mayra terbelalak saat melihat ada sebuah benda tajam menancap


tepat di dadanya. Barang bawaannya jatuh


berceceran di lantai.


"Mas...."


Lirih Mayra lemah, Dirga yang mendengar panggilan lemah Mayra sontak menoleh. Tubuhnya seketika membeku di tempat, tangannya bergetar, ponselnya jatuh ke lantai. Matanya terbelalak sempurna saat melihat Mayra sudah tergeletak bersimbah darah


di lantai.


"Mayraaa....."


Teriak Dirga menyambar tubuh Mayra meraihnya


kedalam pangkuannya. Tangannya bergetar hebat


saat memegang pisau lipat yang menancap di dada Mayra. Pandangan matanya tiba-tiba seakan kabur.


Dirga berteriak histeris hingga membuat seisi mall menyerbu ke arahnya. Semua orang menjerit histeris saat melihat kondisi Mayra yang sangat mengerikan.


Lee dan para pengawal bengong di tempat


dengan mata melotot sempurna. Seisi gedung


megah tersebut menjadi sangat mencekam..


Tidak lama terdengar ambulance datang


ke tempat itu.


..... .....


Situasi di bagian emergency private rumah


sakit keluarga Moolay saat ini terlihat sangat sibuk dan mencekam. Seluruh staf medis berkumpul,


para dokter terbaik berada di satu ruangan tersebut .


Mereka sedang melakukan penyelamatan darurat terhadap Mayra yang saat ini kondisi nya sangat


kritis. Pendarahan yang terjadi akibat luka


tikaman di dadanya masih belum bisa di hentikan.


Dirga dengan kondisi yang sangat kacau


terlihat berada di ruang emergency tersebut.


Dia tidak mau keluar dari ruang tersebut meskipun sudah di beri pengertian oleh beberapa Dokter.


Saat ini Dirga bagaikan singa yang tengah terluka. Tersinggung sedikit saja akan berakibat fatal bagi orang-orang di sekitarnya.


Sementara itu di luar ruang emergency Lee


sedang sibuk menelpon kesana kemari.


Tidak lama terlihat muncul Amanda dan


kedua orang tua Dirga.


"Lee.. bagaimana keadaan menantuku.?"


Tanya Nyonya Veronica dengan tangis yang


sudah Membahana dari tadi. Lee terlihat


menundukan muka dengan wajah yang


sangat tegang.


"Masih belum ada perkembangan Nyonya besar.."


"Jadi dia masih dalam kondisi kritis.?"


Seru Nyonya Veronica panik. Lee mengangguk.


"Ya Tuhan..apalagi ini. Kenapa dia selalu berada


dalam kondisi seperti ini.."


Isak Nyonya Veronica sambil terduduk lemas di


atas kursi. Amanda merangkul bahu ibunya. Dia


sendiri terlihat sangat khawatir dan kacau saat ini.


Tuan Leonardo hanya berdiri kaku di tempat, tapi wajahnya saat ini sangatlah dingin.


"Kau urus langsung semuanya Lee..!"


Titah Tuan Leon dengan suara yang berat. Dia


terlihat berjalan kearah pintu ruangan, berdiri mematung di sana.


Tidak lama pintu ruangan emergency terbuka,


Dirga keluar dengan kondisi yang sangatlah kacau.


Tuan Leon segera menghampirinya.


"Bagaimana kondisi istrimu.?"


Tanya nya cepat. Dirga melihat Ayahnya dengan


tatapan mata yang begitu tertekan.


"Dia masih belum melewati masa kritis nya. Dia banyak kehilangan darah. Semua Dokter sedang mengusahakan yang terbaik."


Ucap Dirga lemah. Dia terduduk lemas di atas


lantai menyandarkan kepalanya ke tembok.


Tuan Leon terlihat sangat prihatin melihat kondisi


putranya itu. Pintu ruangan kembali terbuka dan


Rayen muncul di sana.


"Dia memerlukan donor darah secepatnya. Tapi golongan darahnya termasuk yang paling langka


di dunia.."


Ucap Rayen lemah.


"Apa golongan darahnya..??"


Dirga bertanya dengan cepat.


"Rhnull Blood.."


Semua orang saling pandang terkejut.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC...


__ADS_2