
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pagi ini Mayra memaksakan diri untuk bersiap berangkat ke sebuah kantor perusahaan kosmetik dengan brand terkenal. Dia sudah terlanjur janji pada Agam kemarin, walaupun kejadian semalam masih membuatnya sedikit shock tapi dia tidak bisa bersikap tidak profesional.
Pagi-pagi sekali Silvia sudah berada di apartemen Mayra, menyiapkan segala kebutuhan nya seperti biasa. Sampai diapun membantu Tina menyiapkan susu putih kesukaan sahabatnya itu.
Mayra selesai bersiap ketika ponselnya berbunyi.
Dia segera mengangkatnya saat tahu yang menghubungi nya adalah suaminya. Dengan berjalan kearah balkon dia mulai berbicara.
"Assalamualaikum..!"
"Kau baik-baik saja.? apa ada yang terluka.?"
"Tidak, aku baik-baik saja. Ada apa.?"
"Sepertinya kau sangat tidak suka aku menghubungi mu, kau merasa terganggu.?"
Mayra terdiam, dia memejamkan matanya menahan desakan perasaan yang entah apa sebenarnya hingga membuat dia merasa sedih saat ini.
"Hei..kau masih disana.?"
"Eumm.. iya tuan.."
"Kau bilang apa..?!"
"Iya sayang..maaf.."
Dirga terdiam beberapa saat, sepertinya dia sedang tertegun sekarang.
"Aku baik2 saja, kau tidak perlu mencemaskan aku.
Itu juga kalau kau merasa..!"
"Tentu saja aku mengkhawatirkan mu..!"
Debat Dirga cepat. Ada yang menyentuh halus dada Mayra hingga membuat dia lemas dan berdebar tak menentu saat mendengar ucapan Dirga barusan.
"Aku sudah mengirimkan supir pribadi untuk kamu, yang sekaligus bisa menjaga kamu dimana pun.!"
Ucap Dirga kemudian. Mayra tertegun, untuk apalagi pria ini menyiapkan orang2 di sekeliling nya, apa tidak cukup keberadaan Jhon dan Darwis.?
"Apa itu tidak berlebihan.? Orang-orang mungkin akan semakin curiga padaku.!"
"Tidak ada bantahan..! Kalau tidak mau, kau tidak perlu bekerja lagi. Terserah kamu mau menempatkan orang-orang ku seperti apa.! Kau bisa mengaturnya sesukamu.!"
"Tapi tuan.."
"Tuan...??"
"Emm..maksudku..tapi sayang aku pikir ini.."
"Sudah aku sibuk.!"
Dirga sudah menutup teleponnya. Dan Mayra hanya mendengus kesal dengan sikap otoriter suaminya ini.
Dia memegang ponselnya di dada berusaha untuk menetralkan detak jantungnya yang tadi seakan tidak karuan.
"Telpon dari suamimu May.?"
Tiba-tiba Silvia sudah ada di belakangnya membuat Mayra tersentak kaget.
"Isshh kamu ini Sil, mengagetkan saja.!"
Tegur Mayra kesal. Silvia hanya nyengir saja tak berdosa.
"Ayo kita sarapan dulu."
Ajak Mayra setelah merasa tenang sambil kemudian melangkah di ikuti Silvia .
Sampai ke lantai bawah Mayra melihat Tina sedang berbicara dengan seseorang.
__ADS_1
Melihat kemunculan Mayra mereka berdua segera menghampirinya dan menunduk hormat.
Yang tadi berbicara dengan Tina adalah seorang wanita bertubuh tinggi, berpakaian serba hitam dengan rambut pendek tersisir rapi. Dia terlihat sangat maskulin untuk ukuran seorang wanita. Sangat menarik.!
"Selamat pagi nyonya. Kenalkan saya Jane, saya ditugaskan oleh Tuan muda untuk mengawal dan menjadi supir pribadi anda mulai hari ini.!"
Ucap wanita bernama Jane itu dengan suara yang terdengar jelas dan tegas.
Mayra tertegun sebentar melihat bagaimana penampilan Jane, namun kemudian tersenyum ramah menyambut wanita itu.
"Hai Jane.. Selamat pagi. "
Ucapnya lembut. Silvia tampak melototkan matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Apa suami kamu mengirim orang baru lagi May.?
Gila ya dia, segitu protect nya sama kamu. Apa jangan-jangan dia tahu kejadian tadi malam.?"
Ucapnya masih dengan pandangan takjub pada sosok Jane yang menurutnya sangat menarik. Terlihat gentle untuk seorang bodyguard perempuan.
"Pasti Jhon dan Darwis yang melaporkan semuanya.!"
Ucap Mayra sambil kemudian melangkah di ikuti Jane dengan sangat sigap.
Dia duduk dikursi yang sekarang di persiapkan dengan cekatan oleh Jane. Mayra tersenyum manis pada Jane. Dan sekarang giliran Tina yang melayani Mayra dengan telaten.
"Jane, ayo sarapan bareng."
Ajak Mayra sambil melirik Jane.
"Tidak termakasih Nyonya, saya sudah sarapan tadi.!"
Tolak Jane dengan sopan. Mayra hanya mengangguk sambil kemudian memulai sarapan nya.
"Apa kau tidak merasa risih dengan semua kebiasaan ini May.? atau kau sekarang sudah terbiasa.?"
Tanya Silvia sambil duduk di depan Mayra dan mengambil sarapannya sendiri.
"Maksudmu suami kamu.?"
Tanya Silvia. Mayra mengangguk.
"Gila..gila..!! aku makin penasaran aja pengen lihat seperti apa sih suami kamu itu.! sampai kamu diperlakukan segini ketatnya sama dia.!"
Cerocos Silvia sambil menggeleng.
"Apa dia seorang sultan.?"
Tanya Silvia lagi asal, tapi kemudian dia tertawa sendiri. Mayra hanya menggeleng kesal pada Silvia.
Keduanya kini sarapan dengan tenang. Jane tampak berdiri bersiaga di sekitar Mayra.
.....
Sampai ke parkiran, ternyata Jane sudah membawa mobilnya yang lain, mobil yang lebih aman dan nyaman untuk di gunakan. Sementara Jhon dan Darwis tetap mengawal mereka dari belakang. Mayra meminta mereka untuk tidak terlalu membuat orang curiga dengan keberadaan nya.
Mobil mereka melaju beriringan menuju kantor perusahaan kosmetik yang kemarin Agam janjikan.
Tiba di tempat, seperti biasa Jhon dan Darwis hanya bisa menunggu di parkiran. Sedang kini Mayra di kawal penuh oleh Jane. Sebenarnya Mayra risih dan bingung dengan keberadaan Jane, orang-orang yang melihatnya tampak menatapnya dengan pandangan lain. Dia merasa seolah menjadi orang yang sok penting hingga harus di kawal segala.
Tapi mau bagaimana lagi, keputusan Dirga adalah sesuatu hal yang mutlak.
Di kantor itu hampir semua orang yang melihat Mayra rata-rata mengenalinya, sebagai bintang iklan baru yang sampai sekarang masih jadi topik pembicaraan.
Mereka menyapa dengan ramah dan banyak juga yang ingin meminta fhoto bareng atau tandatangan.
Namun Jane dengan sikap waspada dan sangat protectiv mencoba menghalangi kerumunan orang-orang yang ingin mendekati Mayra.
Membuat mereka sedikit kecewa dan tak sedikit pula yang berbicara kalau ini berlebihan.
Saat Mayra masih berada di loby dan mencoba melayani sapaan ramah orang-orang disana, Agam tiba-tiba datang membuat semua orang langsung menyingkir dan kembali ke posisi masing-masing.
__ADS_1
Mereka mengenali Agam sebagai bos besar industri hiburan, membuat mereka merasa segan dan hormat padanya.
Agam terlihat mengernyitkan alisnya melihat keberadaan Jane.
"Siapa dia May..?"
Tanya nya dengan wajah begitu penasaran. Mayra sedikit bingung harus menjawab apa.
"Dia seseorang yang dimintai tolong oleh temanku untuk menjagaku mas.. Setelah kejadian semalam temanku merasa khawatir..!"
Ucap Mayra ragu. Tapi Agam terlihat mengangguk .
"Baguslah kalau begitu, aku sebenarnya sedang mencari orang yang bisa mengawal mu. !"
"Tidak usah Mas, Jane sudah cukup kok."
Sanggah Mayra. Agam kembali mengangguk.
"Yasudah.. semoga saja dia bisa di andalkan.!
Ayo sekarang kita temui Nyonya Ratih di kantornya.!"
Ajak Agam sambil kemudian melangkah pergi beriringan dengan Mayra di ikuti Silvia dan Jane.
Mereka tiba di kantor khusus ruangan Owner dari brand kosmetik itu, di sambut senyum lebar seorang wanita paruh baya, dengan wajah yang masih sangat cantik terawat .
Wanita paruh baya yang di kenal dengan nama Ratih Ibrahim itu terlihat berpakaian muslim yang sangat elegan dan gaya hijab tersendiri dengan model turban yang modis.
Saat melihat Mayra Nyonya Ratih tampak terpesona sesaat, dia memandang lekat wajah Mayra dengan senyum yang tiada henti terkembang.
"Aslinya lebih cantik ya.."
Ucapnya dengan tulus. Mayra tersipu , dia menunduk segan pada wanita yang namanya sudah sangat terkenal di dunia kecantikan itu.
"Terimakasih nyonya, anda terlalu berlebihan."
Ucap Mayra lembut. Agam hanya tersenyum saja.
Nyonya Ratih beralih pada Agam.
"Saya sempat kaget loh kalau Pak Agam sendiri yang jadi manajer nya nona Mayra. Tapi setelah bertemu langsung seperti ini, kayaknya masuk akal juga..!"
Ucap Nyonya Ratih sambil tersenyum penuh arti.
Agam dan Mayra sontak saja langsung bersemu merah wajahnya, membuat nyonya Ratih semakin merasa gemas pada mereka berdua.
"Baiklah..tidak usah basa basi lagi ya. Saya ingin syuting nya di lakukan hari ini juga.
Sebab tiga hari ke depan produk baru ini akan segera launching.!"
Ucap nyonya Ratih kemudian. Agam dan Mayra tampak sedikit terkejut. Mereka tidak menduga kalau semua akan mendadak begini.
"Tidak usah khawatir, semua nya sudah saya persiapkan sedetail mungkin. Sebab saya sudah menyiapkan ini dari bulan yang lalu, hanya saja sampai kemarin belum dapat model yang pas. Makanya waktunya sangat mepet."
Jelas Nyonya Ratih panjang lebar. Agam dan Mayra kembali saling pandang.
"Saya punya tim produksi sendiri untuk pembuatan iklan perusahaan, jadi tidak perlu menggunakan tim dari perusahaan pak Agam. Saya hanya butuh nona Mayra saja sebagai modelnya."
Kembali ucap nyonya Ratih. Agam mengangguk dan dia melirik kearah Mayra.
"Bagaimana May..apa kau siap.?"
Tanya Agam. mereka berpandangan sekilas. Kemudian Mayra mengangguk yakin.
"Terimakasih nona Mayra..Saya sangat senang mendengarnya."
Ucap nyonya Ratih girang sambil kemudian merangkul Mayra saking senangnya.
Mereka akhirnya pergi menuju lokasi pembuatan iklan tersebut. Sementara Agam tidak bisa menemani Mayra karena dia harus kembali ke kantor nya..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
TBC.....