
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Mobil berhenti seketika menimbulkan decitan rem yang menulikan pendengaran. Para pria yang ada di dalam mobil terdiam sebentar melihat ke arah pria tinggi yang menghadang mereka.
"Bereskan orang itu..!"
Perintah si pria pemimpin sambil mengikat tangan Mayra di belakang, kemudian melakban mulutnya.
Mayra masih berusaha berontak, air matanya meluncur deras membasahi pipinya. Dia melihat kearah laki-laki yang tadi berada di atas motor, dan kini laki-laki itu turun dari motor berjalan gagah menyongsong kedatangan para penjahat yang sudah keluar dari dalam mobil. Kini sosok pria tinggi itu sudah nampak jelas saat asap pekat yang mengepul dari knalpot motornya sudah mulai menghilang.
"Aaron..."
Gumam Mayra dalam hati, matanya berbinar senang, namun hatinya kembali ciut saat melihat kemunculan mobil-mobil lain di belakang, dan orang-orang berpakaian hitam lainnya mulai berjalan kearah Aaron mengurungnya tanpa jarak. Mereka juga membawa pemukul serta rantai yang siap meremukkan tulang serta tubuh Aaron yang hanya seorang diri.
Aaron terlihat santai, dengan seringai wajah iblis nya dia menyingsingkan lengan bajunya sampai ke siku. Untuk beberapa saat para penjahat itu terlihat tak bergerak, berdiri dengan waspada melihat gerakan Aaron.
Selanjutnya dalam satu komando teriakan perintah dari si pemimpin para penjahat berpakaian hitam tadi langsung menyerang Aaron dari segala arah. Pukulan dan tendangan mereka layangkan ke tubuh Aaron.
Namun bukan Aaron namanya kalau bisa kewalahan begitu saja menghadapi serangan brutal ini. Dengan gerakan buas bagai seekor harimau lapar dia meladeni serangan lawan, tubuhnya tampak meliuk dan memutar membagikan tendangan dan pukulan telak ke arah lawan-lawannya hingga dalam sekali gebrakan membuat mereka terlempar dan terjungkal ke belakang bahkan sebagian menimpa kawannya yang masih ada di belakang menunggu giliran menyerang.
"Maju..serang...!!"
Teriak sang pemimpin yang masih berdiri di belakang mencoba mengukur kemampuan Aaron. Dia tidak menyadari sama sekali kalau lawannya ini adalah Bos mafia bawah tanah yang terkenal sadis dan kejam. Keberadaan Aaron dalam dunia mafia memang hanya terkenal dengan kemampuannya saja, tanpa ada yang tahu bagaimana rupa orang nya. Hanya para
pemimpin penjahat saja yang mengetahui jati dirinya, jati diri dari Underground Devil.
Para penjahat itu kembali menyerang Aaron secara bersamaan berusaha memasukan tendangan dan pukulan dari semua sisi. Tapi Aaron dengan lihai dan kemampuan diatas rata-rata dengan mudah menghindar dan balik menyerang lawannya. Rantai dan pentungan yang di layangkan padanya di pegang dengan dua tangan, di hentakan, kemudian di putar dengan tenaga penuh hingga berbalik menyerang mereka semua hingga tubuh mereka terkena sabetan rantai tadi dan terlempar jauh lalu berjatuhan satu persatu .
Gerakan Aaron benar-benar secepat kilat, para pria berpakaian hitam yang ternyata anggota
Black Hunter itu tidak bisa menyentuhnya sama sekali. Kini para penjahat itu satu persatu tumbang di jalan dengan tubuh babak belur berlumuran darah. Aaron semakin ganas dia menghajar para anggota Black Hunter itu tanpa ampun, wajahnya terlihat menyeramkan karena amarah yang sudah menguasai otaknya.
Si pemimpin pasukan terlihat mulai ketakutan melihat anak buahnya berjatuhan satu persatu dengan keadaan yang cukup mengenaskan.
Manusia atau iblis nih orang..?? pikir si pemimpin pasukan sambil mulai memundurkan langkahnya mendekati mobil yang dipakai menyekap Mayra.
Dengan gerakan cepat dia masuk kedalam mobil dan tanpa jeda langsung menginjak pedal gas kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh meninggalkan tempat itu. Melihat hal itu Mayra kembali meronta dan melihat kearah Aaron yang masih sibuk membereskan para penjahat.
"Aaron...tolong aku..!"
Jerit Mayra tertahan karena mulutnya yang terhalang lakban. Air matanya semakin deras meluncur membasahi wajah dan pakaiannya.
Aaron yang melihat Mayra dibawa pergi wajahnya terlihat semakin menyeramkan, dengan kemarahan yang sudah mencapai puncak dia dengan cepat membereskan sisa para penjahat tersebut hingga
kini semua terkapar di aspal dengan kondisi yang cukup mengerikan.
Setelah berhasil membereskan semua nya, dengan cepat Aaron naik keatas motornya dan langsung melesat mengejar mobil yang tadi membawa Mayra.
.... .....
Pemimpin pasukan yang tadi membawa Mayra menghentikan mobilnya di sebuah pelabuhan kecil.
Dengan cepat dan tergesa-gesa dia keluar dari mobil, membuka pintu belakang kemudian menyeret Mayra keluar. Mayra berusaha meronta ingin melepaskan diri, tapi tenaganya sudah melemah.
__ADS_1
Penjahat tadi mengeluarkan senjata dari balik jas nya di todongkan ke kepala belakang Mayra membuat Mayra semakin gemetar ketakutan. Kemudian pria penjahat itu membuka paksa lakban yang menutup mulut Mayra dan dia kembali menyeret tubuh Mayra di bawa berjalan menyusuri jembatan kayu menuju ke tengah laut. Di mana di sana sudah menunggu sebuah kapal kecil yang sudah bersiap pergi.
"Lepaskan aku..tolooong....toloong...!!"
Teriak Mayra sambil tak henti meronta, namun penjahat itu terus saja berjalan menyeretnya hingga tubuh Mayra terjatuh, kakinya berdarah karena gesekan dengan kayu jembatan.
Aaron tiba di ujung jembatan dan segera melompat mengejar Mayra yang kembali di seret mendekat kearah kapal.
"Hei..lepaskan dia..!"
Bentak Aaron dengan suara singa nya. Penjahat yang tadi menyeret Mayra berhenti seketika, dia mengapit leher Mayra kemudian membalikan badan, menyandra Mayra di depan badannya , tangan Mayra di kunci di belakang dan kepalanya di todong oleh pistol. Mayra menatap Aaron dengan sorot mata penuh ketakutan, tubuhnya gemetaran.
Melihat hal itu Aaron terkesiap, wajah Mayra yang begitu ketakutan membuat matanya menyala dan berkilat iblis. Tubuhnya bergetar menahan ledakan angkara murka yang menguasai jiwanya.
"Aaron...tolong aku.."
Desis Mayra masih berusaha meronta walau kini tenaganya semakin hilang.
"Kau ingin mendapatkannya..!! hahaa..coba saja..!
Bergerak sedikit maka kepala wanita ini akan meledak..!!"
Ucap penjahat tadi sambil menekankan senjatanya ke kepala Mayra.
"Kau akan mati sekarang juga..!"
Geram Aaron dengan pandangan mata yang berkilat tajam. Namun tba-tiba beberapa anggota black Hunter yang ada di dalam kapal melepaskan tembakan ke arah Aaron dan mengenai dada atas sebelah kanannya.
"Aaron...!"
Melihat hal itu penjahat yang menyandra Mayra panik dia menembakan senjatanya ke arah Aaron, tapi Mayra dengan sisa kekuatan menendang senjata keperkasaan penjahat itu hingga dia terhuyung ke belakang memegangi tubuh bagian bawahnya yang terasa bagaikan pecah telur, dia melihat marah ke arah Mayra yang mulai bergerak menjauh, dengan cepat dia menarik kembali tubuh Mayra, tapi satu tembakan telak datang menembus jantungnya dari senjata yang diarahkan Aaron.
Penjahat tadi mengejang di tempat, matanya melotot sekarat, tapi di sisa napas terakhirnya dia mendorong tubuh Mayra ke pinggir jembatan hingga terpelanting jatuh kedalam air.
Aaron yang baru saja bangkit terlihat membelalakan matanya melihat Mayra jatuh ke dalam air. Dengan gerakan cepat dia melompat masuk ke dalam air menyusul Mayra yang sudah mulai masuk semakin dalam.
Mayra mencoba menahan keseimbangan badannya dan mengatur pernapasannya. Namun karena tangannya terikat dia tidak bisa bergerak leluasa, tubuhnya semakin jatuh meluncur ke bawah dan napasnya juga semakin sesak. Air laut semakin
masuk memenuhi paru-paru dan sistem
pernapasannya.
Mayra semakin kesulitan bernapas
dan tenaganya semakin hilang, dia mulai pasrah..
penglihatannya semakin kabur kesadarannya pun mulai hilang. Ada lintasan bayangan wajah Dirga dan juga Ayahnya dalam pandangannya yang semakin buram. Tuhan..apakah ini akhir dari hidupnya..??
Namun sesaat sebelum kesadarannya benar-benar hilang, dia melihat ada sesosok bayangan Aaron yang datang menyongsong dan menyambar tubuhnya.
..... .....
Aaron mengangkat tubuh Mayra yang lemas dan sudah memucat keluar dari air. Kemudian membawanya keatas jembatan dan membaringkan Mayra di atas pangkuannya. Dengan segenap tenaga dan kemampuannya dia memberikan pertolongan pertama pada Mayra. Mengeluarkan cairan dari hidung dan telinganya. Kemudian menekan dada kirinya berulang kali mencoba memompa detak jantung nya.
__ADS_1
Tapi Mayra bergeming dia masih terkulai lemas dan terpejam sempurna. Tak putus asa Aaron terus kembali melakukannya. Tapi hasilnya tetap sama, Mayra masih terpejam dengan kulit yang semakin pucat dan suhunya yang semakin dingin.
Aaron terlihat panik, dia mengusap kasar wajahnya dan mengacak rambutnya. kemudian menatap lekat wajah Mayra yang pucat pasi sedikit membiru.
"Mayra..tolong bangun!..Kamu harus kuat..!"
Bisik Aaron dengan gemetar mengelus wajah Mayra.
Dengan ragu dia perlahan membuka hijab yang di kenakan Mayra yang sudah tak berbentuk agar sedikit leluasa dalam memberikan pertolongan. Saat hijabnya terlepas, mata Aaron terlihat terpaku pada sosok cantik di hadapannya ini. Dalam keadaan genting seperti ini detak jantung nya masih saja berkejaran berpacu kencang antara rasa panik dan rasa aneh yang bergejolak dalam dadanya saat melihat wajah Mayra seluruhnya.
Aaron seakan tidak perduli pada kondisinya sendiri.
Darah merembes membasahi kemeja putih yang di pakainya. Luka tembakan di dadanya hanyalah masalah sepele baginya. Sekarang yang terpenting adalah nyawa wanita yang ada di pangkuannya.
Nyawa wanita yang nyata-nyata adalah milik sahabatnya sendiri. Dan itu adalah kenyataan yang teramat pahit bagi dirinya.
Tak ada jalan lain lagi, Aaron harus melakukan ini walau semua ini terlarang baginya. Tapi hanya tinggal ini cara terakhir yang bisa di cobanya untuk bisa menyelamatkan nyawa Mayra.
Dengan perlahan dan badan yang gemetaran,
Aaron mendekatkan wajahnya , menatap dalam
wajah cantik nan pucat di hadapannya ini. Hatinya
begitu bergejolak dan tidak terkendali.
"Maaf Dirga..ini terpaksa harus aku lakukan..!"
Bisiknya berat, kemudian dia menutup lubang hidung Mayra dan menempelkan bibirnya diatas bibir Mayra. Aaron membeku sesaat, ada semacam sengatan listrik yang tiba-tiba merambat ke seluruh aliran darahnya. Tubuhnya menegang seketika, tapi dia harus menguatkan tekadnya dan kini berusaha mengendalikan dirinya, kemudian memejamkan mata dan mulai melakukan pemberian napas buatan.
Dia tidak menyadari sama sekali ada satu sosok bayangan yang mengabadikan moment darurat itu.
Beberapa kali Aaron melakukannya hingga akhir nya..
"Uhuukk...uhuukk.."
Mayra terbatuk kemudian reflek bangun dan mengeluarkan cairan dari mulutnya.
Mata Aaron terlihat berbinar senang melihat Mayra sadar. Dia menepuk halus punggung Mayra mencoba membantu mendorong Mayra mengeluarkan semua cairan yang masuk ke organ vital pernapasannya.
Beberapa saat kemudian tubuh Mayra kembali terkulai lemas bersandar di lengan kokoh Aaron.
Aaron menatap lekat wajah Mayra yang mulai kembali berdarah. Tidak lama Mayra membuka matanya perlahan dan yang ada dalam pandangannya kini adalah wajah Aaron yang terlihat begitu khawatir. Mereka terdiam saling berpandangan kuat.
"Terimakasih..sudah menyelamatkanku.."
Ucap Mayra lemah sambil kemudian berusaha bangun di bantu oleh Aaron. Sesaat kemudian dia terkejut saat menyadari dirinya tak berhijab. Mayra menutup mukanya panik. Kemudian melirik sekitar mencari hijabnya. Tangan Aaron terulur pelan menutupkan hijab ke kepala Mayra dan menatapnya canggung.
"Maaf tadi aku terpaksa melakukannya..!!"
Ucap Aaron yang di balas tatapan tajam tidak suka dari Mayra dan segera memasang kembali hijabnya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
TBC......